Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Galau


__ADS_3

Sabtu sore, Celine sudah berada di bandara kota B. Ia melihat papa Heru dan mama Ratna sudah menunggunya di area kedatangan penumpang.


Tanpa sadar, ia tersenyum pahit. Orang yang ia kasihi, yang biasanya selalu ada untuk menjemput dan menyambut kedatangannya, kali ini tidak dilihatnya.


Celine menghela napas dan melanjutkan langkahnya. Ia harus menyembunyikan perasaannya di depan papa-mama Wijaya. Ia tidak ingin kedua orang tua ini memikirkan yang tidak-tidak dan salah paham kepadanya.


Ia sudah bertekad mengkhususkan kedatangannya kali ini untuk mereka. Ia juga sudah berjanji menggantikan kekasihnya menjaga mereka minggu ini. Pokoknya, target kedatangannya kali ini adalah membuat acara bersama yang dapat membahagiakan mereka.


Setelah berada di dekat papa-mama Wijaya, Celine meminta rekomendasi restoran yang enak dan diminati, agar mereka dapat menikmati makan malam sebelum pulang. Papa Heru menyarankan restoran Barat yang terkenal dengan steiknya. Sedangkan mama Ratna lebih memilih Chinese food yang terkenal dengan menu Bebek Pekingnya.


Mendengar saran keduanya yang bertolak belakang di mana yang satu ke Barat dan yang lain ke Timur, Celine tertawa. Akhirnya biar adil, Celine memutuskan mengunjungi keduanya secara bergiliran. Malam ini mereka akan mengunjungi yang satu, dan besok siang mereka akan mengunjungi yang lain.


Setelah berdiskusi, malam ini mereka memutuskan mengunjungi restoran Chinese food terlebih dahulu. Hal ini dikarenakan nuansa restoran Chinese food akan lebih memukau jika dinikmati pada malam hari. Lampu lampion-lampion berwarna merah akan dinyalakan, bergantungan berjajar menghiasi restoran tersebut dari area parkir sampai ke pintu masuk seolah menyambut kedatangan mereka.


Di sana, mereka memesan Bebek Peking yang menjadi menu andalan restoran tersebut. Di tambah sayur capcay dan ikan asam-manis, hidangan yang disajikan sukses meningkatkan selera makan mereka.


Setelah makan, mereka pun pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, masing-masing mengganti pakaian yang tadi dikenakan dengan pakaian yang lebih santai, lalu mengobrol sebentar di ruang keluarga. Setelah bersih-bersih, mereka masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat.


Celine menatap langit-langit kamarnya. Ia tidak bisa tidur. Perasaannya galau. Suasana rumah begitu berbeda tanpa kehadiran James. Biasanya, hanya dengan mengetahui Sang Kekasih tidur di kamar sebelah sudah membuatnya tenang. Sekarang, kamar itu kosong.


Celine lalu bangkit dari tempat tidurnya dan mengambil telepon genggamnya yang ia taruh di atas meja. Ia melakukan panggilan ke nomor James. Tidak lama kemudian, terdengar suara operator yang berbunyi, Nomor yang Anda tuju sedang berada di luar jangkauan.


Celine terdiam dan hanya bisa memandang telepon genggamnya. Ada perasaan sedih dan kecewa mengalir dalam dadanya. Ia bisa mengerti kalau kekasihnya berada di area pegunungan yang sangat mungkin sulit terjangkau sinyal. Tetapi tetap saja perasaan sedih itu hadir begitu saja.


Celine tersenyum tipis menyadari kesensiannya. Sejak kapan ia termasuk kategori orang bucin begini?


Kembali ia membaringkan tubuhnya di ranjang dan memejamkan matanya. Lebih baik ia mencoba tidur lagi. Sabar .... Besok Bang James pulang. Sorenya kami sudah bisa bertemu. Hanya tinggal sebentar, tidak sampai 24 jam lagi .... Sekarang tenang lah dan tidur lah .... katanya kepada jiwanya.


...****************...


Esok paginya, Celine dan papa-mama Wijaya pergi ke gereja untuk beribadah. Setelah ibadah, mereka lanjut ke restoran steik yang sudah ditargetkan kemarin.

__ADS_1


Papa Heru memesan Rib Eye Steak with Blackpepper Sauce. Sedangkan mama Ratna dan Celine memesan Beef Tenderloin with Mushroom Sauce. Daging yang empuk dan rasanya yang gurih benar-benar memanjakan lidah.


Setelah makan, mereka berjalan-jalan sebentar di mal untuk menurunkan perut. Sekitar pukul tiga sore, mama Ratna menyarankan mereka untuk kembali agar Celine dapat beristirahat sejenak sebelum pulang ke kotanya.


Di mobil, Mama Ratna menasihati Celine, "Dua kali berturut-turut, kamu mentraktir kami makan enak di restoran mahal, Lin .... Kami sih senang-senang saja. Tapi jangan sering-sering yah, Lin. Kamu juga harus belajar berhemat."


Celine tersenyum. "Gapapa, Ma .... Kapan lagi bisa memanjakan Mama-Papa? Kalo ada Bang James, mana mungkin Celine dikasih bayar?" katanya sambil nyengir.


Mama Ratna ikut tersenyum mendengar alasan Celine. Ia tahu benar sifat anaknya yang tidak mau kalah masalah harga diri pria. Karena itu, Mama Ratna memilih mendiamkan tindakan Celine. Ia bersyukur gadis ini tidak berubah meskipun sekarang status sosialnya sudah jauh di atas keluarga mereka.


"Justru Celine yang berterima kasih, bisa dapat rekomendasi makan enak dari Mama-Papa. Hebat! Mama-Papa bisa tau dari mana sampe bisa merekomendasi restoran itu?" tanya Celine.


"Dari rekan-rekan dosen, Lin. Kadang kalau ada acara menyangkut orang penting atau merayakan peristiwa penting, suka diajak makan di sana, " jawab Papa Heru.


"Kalo Mama ... jelas tau dari medsos, dong!" sambung Mama Ratna, yang disambut derai tawa ketiganya.


Mobil pun sampai di depan rumah. Setelah masuk ke dalam, Mama Ratna kembali menyarankan Celine istirahat.


"Iya, Ma, " jawab Celine pendek.


"Pesawatmu yang jam berapa, Lin?" tanya Papa Heru.


"Sebenarnya Celine belum pesan tiket sih, Pa. Karena pengen nunggu Bang James pulang dulu. Jadi, rencananya nanti langsung beli tiket di bandara aja, " jelas Celine.


"Berdasarkan pengalaman, biasanya paling lambat James sudah pulang sekitar jam 5-an kok. Pasti masih sempat lah sebelum pesawat penerbangan terakhir, " tambah Mama Ratna.


"Tapi tetap aja kita harus punya target waktu. Kalau James belum pulang sampai jam 6 sore, kita tinggal aja yah, Lin. Biar kamu ga kemalaman sampai sananya, " putus Papa Heru.


Celine tersenyum melihat kedua orang tua yang memikirkannya ini. "Iya, Pa ..." jawabnya.


"Yah, sudahlah .... Istirahatlah ..." kata Mama Ratna menutup pembicaraan mereka.

__ADS_1


Celine pun masuk ke kamarnya. Ia langsung membaringkan tubuhnya di ranjang. Lelah rasanya. Bukan tubuhnya, tetapi lebih ke jiwanya. Ia baru menyadari kalau menahan rindu dapat sebegitu melelahkannya.


Dilihatnya jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 15.25. Tanpa sadar bibirnya tersenyum. Sebentar lagi .... Sebentar lagi Bang James pulang, katanya menyemangati dirinya sendiri.


Suara pintu pagar yang dibuka, diikuti suara motor yang memasuki rumah, membuat Celine terjaga. Celine dapat menduga bahwa James sudah pulang dari suara motornya. Ia langsung keluar dari kamarnya, ingin segera menyambut kekasihnya tersebut.


Ternyata bukan hanya dirinya yang keluar kamar. Papa Heru dan mama Ratna juga keluar dari kamar mereka untuk menyambut James.


Terlihat James memasuki rumah dengan langkah gontai. "Pa .... Ma ..." sapanya begitu melihat kedua orang tuanya.


Ia pun langsung melanjutkan langkahnya dan terhenti begitu melihat Celine. Tetapi hal itu tidak berlangsung lama. James kembali melanjutkan langkahnya dengan wajah tertunduk. Begitu berada di depan Celine, James berkata, "Lin .... Maaf ...."


Tanpa menunggu jawaban Celine, James lewat begitu saja dan langsung masuk ke kamarnya.


Celine hanya bisa termangu melihat sikap James. Perasaannya tidak enak melihat ekspresi James tadi. Baru pertama kali ini, ia melihat ekspresi James yang demikian. Entah bagaimana menggambarkannya. Ada ekspresi sedih, kecewa, marah, dan hancur hati.


Mama Ratna juga menyadari ada yang aneh dengan putranya. Tetapi, demi menjaga perasaan Celine, ia mencoba bersikap biasa.


"James mungkin sangat kecapean, Lin .... Tahun lalu juga begitu. Langsung masuk kamar dan tidur. Mungkin karena hanya dua guru laki-laki di tengah kaum wanita, jadi sangat dipekerjakan tenaganya yah ...." Mama Ratna mencoba berpikir positif.


"Iya. Celine harap maklum yah .... Kita tidak tau apa saja yang dilakukannya di sana. Biarkan anak itu istirahat dulu. Celine biar Papa-Mama saja yang antar, gapapa kan?" Papa Heru bertanya sambil tersenyum.


Celine membalas senyuman tersebut. "Iya, Papa. Gapapa, " jawabnya.


Sebelum berangkat, Celine menyempatkan diri mengetuk kamar James untuk berpamitan. Namun tidak ada tanda-tanda pintu akan dibukakan. Bahkan tanda-tanda kehidupan di dalam kamar pun tidak terdengar dari luar.


Karena itu, Celine sekali lagi mengetuk kamar James sambil berkata, "Bang James .... Celine balik dulu yah ...."


Setelah menunggu beberapa saat, tetap saja tidak ada tanggapan. Celine menyerah. Mungkin kekasihnya sudah tidur saking lelahnya. Akhirnya Celine pun pergi meninggalkan kediaman Wijaya dengan sedikit kekecewaan dan sebuah tanda tanya yang tersimpan di hatinya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2