Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Masih Berusaha


__ADS_3

Waktu berjalan dengan cepat. Dua minggu hampir berlalu begitu saja. Seperti biasa, tidak ada kabar dari Rebecca. Darrell sudah menduga hal itu. Dan kembali, ia yang harus memulai percakapan.


Sesuai dengan yang ia ucapkan di hadapan ayahnya, Darrell masih mengusahakan hubungannya dengan Rebecca. Tetapi jika sampai kali ini tidak ada penerimaan atau perkembangan apapun dari Rebecca, mungkin ia akan memilih mundur. Setidaknya, ia sudah memberikan kesempatan dan sudah berusaha sebisanya.


'Aku akan menemuimu akhir pekan ini. Berikan waktumu. Kabari aku waktu dan tempatnya.' Demikian pesan yang ia kirim ke Rebecca.


Balasan Rebecca datang. Pesan yang sangat singkat dan datar. 'Di kafe yang pertama, hari Sabtu jam 4.'


Begitulah akhirnya kedua insan ini bertemu kembali. Kali ini sama seperti saat pertama kali mereka berjumpa, satu lawan satu.


Darrell yang sudah tiba di tempat pertemuan lebih dahulu, menyambut kedatangan Rebecca. "Silakan duduk, " katanya sambil menarik kursi untuk gadis itu.


Rebecca tidak menjawab juga tidak menolak. Raut wajahnya dingin dan datar. Dengan acuh tak acuh, ia duduk di kursi yang disiapkan Darrell untuknya.


Setelah Darrell kembali duduk di kursinya, pria itu mencoba membuka pembicaraan. "Apa acara kita hari ini?"


"Tidak ada, " jawab Rebecca singkat sambil memberi kode ke pelayan agar diberikan menu.


Setelah memesan minuman dan makanan ringan, Darrell kembali mencari topik. "Bagaimana kabarmu selama dua minggu ini?"


"Biasa aja." Jawaban datar kembali keluar dari mulut Rebecca.


Darrell mulai lelah. Si Gadis Kucing benar-benar tidak memberikan celah untuknya. Jika tidak bisa dengan cara baik-baik, lebih baik disulut saja sekalian. Toh ia sudah sempat berpikir kalau kali ini adalah usahanya yang terakhir untuk mendekati Rebecca.


"Hari ini tidak ada acara dengan temanmu?" tanyanya dengan nada menyindir.


"Tidak ada. Mereka sibuk." Rebecca masih berusaha mempertahankan sikap dinginnya.


"Kalau kau tidak nyaman berdua saja denganku, kau boleh menghubungi mereka lagi. Mungkin kau memang membutuhkan bantuan mereka untuk menghadapiku, " tantang Darrell.


Mendengar kalimat itu, ekspresi Rebecca berubah. Matanya menatap tajam ke arah Darrell. "Aku masih bisa menghadapimu sendiri, " desisnya.

__ADS_1


"Oh ya? Yang kuliat tidak seperti itu tuh. Kau tidak bisa mengobrol dengan santai denganku. Pilihan katamu lebih sedikit daripada aku yang notabene memiliki darah orang asing. Kalau memang tidak bisa bersikap natural layaknya orang dewasa, akuilah dengan jantan, kitty ..." ujar Darrell sambil tertawa mengejek.


"Maumu apa sih?! Kamu minta aku menyiapkan waktu, sudah kusiapkan. Kamu minta kita bertemu, di sinilah aku sekarang. Ga cukup?! Kurang puas?! Sekarang ingin mengatur sikapku?! Aku harus bersikap manis padamu?! Tolonglah yah .... Jangan mimpi! Aku bukan orang yang munafik! Atau sekarang kamu mau bawa-bawa papaku lagi?" Rebecca merentet seperti senapan mesin. Emosinya tersulut.


Darrell mendengar rentetan Rebecca dengan santai. Ia membiarkan Rebecca menyelesaikan kalimatnya. Ia tersenyum. Yah .... Memang sepertinya lebih baik begini. Setidaknya ada kejujuran dan dapat lebih mengenal isi hati masing-masing. Daripada menghabiskan waktu hanya dengan perang dingin seperti tadi.


Setelah ia melihat Rebecca terdiam, Darrell bertanya untuk memastikan Rebecca sudah mengeluarkan seluruh kalimatnya. "Sudah?" tanyanya sambil menyeruput minuman yang sudah datang.


"Sudah!" jawab Rebecca gemas, kembali berusaha menahan amarahnya. Inginnya sih pria ini sudah ia tendang keluar ruangan. Namun, pasti ia makin berseteru dengan papanya. Dan pria busuk ini kembali mendapat nilai lebih dari Sang Papa, karena tetap bersabar dan menerima kelakuannya. Oh .... Hal itu jelas harus ia hindari.


"Bagus. Sekarang gantian aku yang berbicara yah, kitty .... Tolong dengarkan dan jangan dipotong. Tau sopan-santun, kan?" tanya Darrell, lebih untuk memojokkan Rebecca.


Rebecca hanya bisa terdiam dan makin mengatupkan bibirnya untuk menahan amarah yang meluap. Tangannya ia kepalkan erat-erat di samping kursi. Ia tahu, menghadapi pria ini tidak dapat menggunakan kekerasan. Hal itu hanya akan makin menguntungkan Darrell. Yang ia bisa lakukan sekarang hanyalah meningkatkan batas kesabarannya.


Melihat Rebecca yang terdiam, Darrell melanjutkan kalimatnya. "Aku tidak berniat bawa-bawa papamu kalau memang kamu bisa diajak berbicara baik-baik. Pada dasarnya aku memang tidak suka bawa-bawa orang tua untuk menyelesaikan masalah pribadiku.


Masalah sikap, aku tidak memintamu untuk bersikap manis padaku. Aku hanya memintamu untuk bersikap natural layaknya orang dewasa. Kamu berkata kalau dirimu bukan orang yang munafik. Namun sikapmu sekarang justru menunjukkan kemunafikanmu, kitty ...."


Melihat Rebecca yang tidak mengerti dan tidak menerima ucapannya, Darrell berusaha menjelaskan kalimatnya. "Kalau tidak bisa bersikap santai, akui saja. Kalau tidak suka dengan pertemuan ini, katakanlah. Kalau dirimu lebih nyaman dengan menghadirkan teman-temanmu, undanglah. Kenapa kamu harus memaksakan dirimu menghadapiku sendirian dan membohongi dirimu sendiri, kitty ?"


Rebecca sudah membuka mulutnya untuk menyanggah perkataan Darrell, namun ia langsung menghentikannya. Dalam benaknya tiba-tiba tersirat untuk memanfaatkan perkataan tersebut, daripada memaksakan diri menentangnya. Toh sebenarnya perkataan Darrell ada benarnya. Dan jika ia terus menentang hanya bermodalkan kekeraskepalaan, bukankah makin mempermalukan dirinya sendiri?


"Ya. Aku tidak suka! Aku tidak nyaman! Aku terpaksa karena kau mengancam dengan bawa-bawa papaku! Tentu saja aku lebih senang bersama dengan teman-temanku, daripada berdua saja denganmu. Jadi kalau aku boleh mengundang mereka, pasti kulakukan!" aku Rebecca.


"Ya sudah .... Undang saja mereka ..." jawab Darrell santai.


Rebecca tertegun. Ia kira Darrell hanya omong besar. Gadis itu pun bertanya untuk memastikan jawaban Darrell sekali lagi. "Serius aku boleh mengajak temanku lagi?"


"Serius. Undanglah ..." tegas Darrell.


Rebecca terdiam, tidak mengerti jalan pikiran Darrell. Apa Darrell memang tipe laki-laki yang suka kalau dikerubungi wanita? Kalau dikerubungi karena digemari, okelah .... Kalau ini? Bukankah ia cuma diabaikan dan dianggap tidak ada?

__ADS_1


"Kau tidak masalah dicuekin seperti itu lagi oleh kami?" Karena heran, Rebecca akhirnya bertanya.


Darrell tertawa. Ternyata Si Gadis Kucing cukup polos. "Jadi sekarang kau mengkhawatirkanku, kitty ?" tanyanya di tengah-tengah derai tawanya.


"Monyong! Siapa yang mengkhawatirkanmu?!" semprot Rebecca dengan sedikit tersipu. Ia tidak menyangka kalimatnya bisa diputar sehingga dapat dimaknai demikian.


"Kalau begitu, ya sudah .... Buat apa kau berpikir terlalu jauh? Anggap saja aku sedang mengetes persahabatan kalian. Tadi kamu bilang, temanmu sedang sibuk. Sekarang, jika saat ini kau meminta mereka datang untuk menolongmu, apakah mereka akan datang?" tantang Darrell dengan senyum miring.


Emosi Rebecca yang sempat menurun, kembali terpompa. Pria ini sungguh br*ngs*k! Bisa-bisanya ia tadi sempat berpikir, kalau Darrell menawarkan agar ia mengundang temannya karena peduli dengan ketidaknyamanannya. Ternyata hanya untuk mengetes persahabatannya!


Dalam gusar, Rebecca segera mengeluarkan HP-nya. Ia segera menekan tombol conference, untuk melakukan panggilan kepada ketiga temannya sekaligus.


Begitu semua panggilannya terhubung, Rebecca langsung mengutatakan tujuannya. "Teman-teman .... Tolong bantu aku menghadapi pria br*ngs*k ini lagi! Bisa-bisanya ia meragukan persahabatan kita! Kalau kalian tidak berhalangan, bisakah kalian segera datang kemari, ke kafe tempat biasa kita nongkrong? Aku tunggu kedatangan kalian!"


"Ah .... Ya ...."


"Oke. Tunggu sebentar ya, Bec ...."


"Tolong beri 15-30 menit. Aku segera ke sana ...."


Demikianlah suara-suara jawaban yang dapat Darrell dengar langsung, karena Rebecca sengaja menggunakan loudspeaker. Setelah itu, panggilan pun diputus.


Rebecca tersenyum penuh kemenangan, sedangkan Darrell bertepuk tangan. Ia harus akui, persahabatan keempat gadis ini sangat kuat. Bukan hanya satu atau dua orang. Tetapi ketiganya langsung bersedia hadir untuk menolong sahabatnya.


Namun, kemenangan Rebecca belum dianggap sah jika ketiganya belum benar-benar hadir di kafe itu. Yang namanya janji dan sekedar berkata-kata manis untuk mendukung, bisa dilakukan siapa saja. Yang sulit adalah menemukan seseorang yang bersedia mendampingi kita di saat kita sedang kesusahan. Bukan begitu?


Dalam diam Darrell dan Rebecca menunggu kedatangan ketiga anggota Geng Princess yang lain. Mereka menikmati minuman mereka dan menghabiskan makanan ringan yang dari tadi belum sempat disentuh.


Apakah Priscillia dan kawan-kawan benar-benar dapat menepati perkataannya untuk menemani Rebecca? Apakah Geng Princess dapat membuktikan kekuatan persahabatan mereka di depan Darrell? Ikuti terus ceritanya yah ....


...****************...

__ADS_1


__ADS_2