
Waktu berlalu. Saat ini James sudah resmi menjabat sebagai konselor adiksi ahli pertama di unit rehabilitasi narkoba yang ada di RSUD.
Tugas-tugasnya cukup banyak. Tugas awalnya saat menerima klien dimulai dari identifikasi masalah adiksi yang terjadi pada klien, menentukan tingkat keparahan, memberikan penjelasan tentang rencana terapi, dan menyusun rencana konseling. Rencana konseling yang diberikan pada klien dibagi dua, ada konseling individu dan ada juga konseling kelompok.
Selain konseling, James juga harus memberikan pendampingan kegiatan mental spiritual, kegiatan kesenian, olahraga, vokasional, rekreasi, bahkan sampai kegiatan bakti sosial di masyarakat. James juga bertanggung jawab memperhatikan kebutuhan klien akan rujukan dan home visit.
Semua kegiatan James harus dilaporkan dan dikonsultasikan kepada koordinator konselor adiksi. Untuk itu, banyak sekali formulir dan laporan yang harus ia kerjakan. Mulai dari formulir hasil skrining, formulir hasil identifikasi permasalahan, laporan wawancara, laporan kegiatan konseling, pendampingan, dan home visit.
Tugasnya memang melelahkan, namun James dengan rajin dan sukacita mengerjakannya.Ia belajar banyak dari kasus-kasus yang ada. Selain itu, dengan kedudukannya sekarang, statusnya sebagai PNS lebih stabil dan menjanjikan untuk masa depannya. Asalkan jumlah angka kreditnya memenuhi, ia memiliki peluang untuk naik jabatan.
Keadaan hampir serupa tetapi tak sama juga dihadapi oleh Priscillia. Ia sedang dilelahkan dengan sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Saat ini ia sedang terpaku menatap pengumuman peserta wisuda di kampusnya. Bukan karena namanya tak ada di sana, itu hal yang bisa dibilang hampir tidak mungkin terjadi. Justru sebaliknya, ia termenung dengan kenyataan di depannya yang akan ia hadapi.
Sejauh ini, ia dapat menunda pertunangannya dengan Raymond memakai alasan kuliah. Namun dengan pengumuman ini, alasan itu sudah tidak lagi berlaku. Semenjak ia sudah di babak akhir penyelesaian skripsinya saja, ibunya sudah terus-menerus mendesaknya untuk membicarakan acara pertunangan. Sekarang, alasan apalagi yang harus ia utarakan?
Satu-satunya dalih yang tersirat di benaknya adalah ia ingin melanjutkan studi ke jenjang S2. Namun ia sadar, alasan itu cukup lemah untuk menggeser keputusan Sang Ibunda. Ia tahu, ibunya pasti tetap bersikeras mendahulukan pertunangannya sesuai perjanjian mereka sebelumnya. Malah bisa jadi, pertunangannya dengan Raymond akan dijadikan prasyarat jika ia ingin melanjutkan studi.
Priscillia menghela napas. Pikirannya buntu. Sejauh ini, hal terbaik yang bisa ia lakukan adalah mengundur pembicaraan pertunangan hingga hari wisudanya. Persiapan wisuda akan menjadi dalihnya. Dengan demikian, setidaknya ia masih memiliki waktu kira-kira sebulan untuk memikirkan alasan berikurnya. Dengan keputusan sementara seperti itu, Priscillia pulang ke rumah.
...****************...
Setibanya di rumah, keluarganya sedang berkumpul di ruang keluarga. Ayah dan kakaknya nampak sedang serius berdiskusi tentang sesuatu yang penting. Sedangkan ibunya, segera berdiri untuk menyambut kepulangan putrinya begitu melihatnya.
"Sudah pulang, Dear ? Bagaimana pengumumannya? Namamu pasti ada di sana, kan?" tanya Mama Priscillia yang tahu tujuan putrinya ke kampus hari ini.
__ADS_1
"Ada dong .... Tetapi ternyata persiapan wisuda banyak yah, Ma .... Priscil masih harus ukur toga, cari salon yang bagus untuk rias wisuda dan ada pelatihan untuk jalannya acara biar tertib gitu ..." ujar Priscillia sok sibuk.
"Yah .... Persiapkanlah dengan baik .... Tapi ingat .... Setelah ini, kamu harus mempersiapkan pertunanganmu dengan Raymond." Mama Priscillia mengingatkan putrinya.
Mendengar itu, Priscillia hanya bisa menahan diri agar keengganannya tidak terlihat oleh Sang Ibunda. Ia tidak ingin hal ini menimbulkan perdebatan lagi dengan ibunya. Ia sudah lelah. Karena itu, ia berusaha mengalihkan topik pembicaraan. "Ma .... Itu papa dan kak Jeremy lagi bahas apa sih? Kok serius sekali?"
Mama Priscillia menghela napas. "Belakangan ini, ada kecurigaan penggelapan dana yayasan. Namun karena banyak sekolah dan RS yang bernaung di bawah yayasan kita, sulit sekali untuk menemukan penggelapan tersebut bermula dari mana dan siapa pelakunya.
Beberapa tempat memang mengalami masalah manajemen keuangan. Tetapi hal itu tidak bisa kita jadikan alasan untuk menuduh adanya penggelapan di sana. Banyak faktor yang harus diperhatikan dan dikaji ulang.
Namun sebagai ketua yayasan, papa lah yang diminta pertanggungjawaban mengenai hal ini. Karena itu, saat ini papa sedang mendiskusikannya dengan Jeremy untuk mencari jalan keluarnya.
Tetapi itu bukan urusan kita. Bagianmu fokus dengan wisudamu, lalu segera urus pertunanganmu dengan Raymond. Okay, Dear ?" kata Mama Priscillia sambil mengarahkan putrinya ke tangga yang akan membawanya ke kamar putrinya.
Priscillia memandang ruang keluarga tempat ayah dan kakaknya masih duduk di sana. Suasana di sana begitu serius dengan aura-aura suram. Kening-kening dan alis-alis yang berkerut terlihat dari wajah dua pria yang berbeda generasi itu.
Namun dengan pemikiran kolot mamanya di mana perempuan tidak perlu mencampuri urusan bisnis lelaki, sepertinya sulit baginya untuk melibatkan diri. Karena itu, Priscillia hanya bisa melambatkan langkahnya menuju kamarnya dengan harapan dapat memperoleh informasi tambahan yang mungkin lolos dari pembahasan papa dan kakaknya.
Samar-samar ia mendengar nama sebuah RS disebut oleh ayahnya. Dengan otak pintarnya, mudah bagi Priscillia menduga bahwa RS tersebut merupakan salah satu tempat yang dicurigai ayahnya sebagai tempat dilakukannya penggelapan dana tersebut.
Sepertinya kakak dan ayahnya sedang kesulitan untuk melakukan invertigasi di sana tanpa diketahui direktur RS yang bersangkutan. Bagaimanapun, direkturnya adalah teman baik papanya dan Tuan Angkawibawa tidak ingin menimbulkan permasalahan yang tidak diperlukan jika ternyata perkiraan mereka salah.
Otak Priscillia berputar cepat. Ia menemukan solusi untuk ayahnya dan juga dirinya sendiri. Dengan segera ia membelokkan langkahnya dan segera mendekati ayah dan kakaknya. Mama Priscillia tidak sempat menghalangi putrinya, karena tidak siap dengan gerakan Priscillia yang tidak terduga.
"Papa .... Kakak .... Bukan bermaksud menguping. Tetapi karena Priscil prihatin dengan keadaan keluarga kita, Priscil ingin tahu tentang rencana Papa dan Kakak. Tadi samar-samar Priscil dengar Papa mencurigai sebuah RS dan butuh orang untuk dikirim ke sana agar dapat menyelidikinya secara diam-diam?" tanya Priscillia langsung.
__ADS_1
"Ya. Namun kita belum menemukan orang yang tepat untuk melakukan hal itu tanpa memicu kecurigaan mereka, " jawab Papa Priscillia.
"Kirim Priscil aja! Kebetulan, Priscil sedang mempertimbangkan untuk melanjutkan studi ke jenjang S2 jurusan Magister Administrasi RS (MARS). Priscil sadar dengan kondisi fisik Priscil, sepertinya sulit bagi Priscil untuk menjadi dokter klinisi (noted: dokter klinisi \= dokter yang melayani, memeriksa, dan memberikan terapi pada pasien). Makanya, Priscil ingin jadi dokter struktural aja.
Papa bisa memakai alasan itu untuk minta tolong ke teman Papa agar membimbing Priscil. Priscil juga diuntungkan karena dapat pengalaman untuk studi Priscil. Nanti Priscil bisa membantu investigasi secara diam-diam tanpa dicurigai. Ide yang bagus bukan?" Priscillia memaparkan idenya dengan bersemangat.
"Tapi situasi itu bisa cukup berbahaya untukmu lho, Dik ..." sahut Jeremiah.
"Betul! Lagipula tidak baik bagi perempuan ikut campur urusan bisnis seperti ini! Fokus saja dulu dengan urusan wisudamu dan pertunanganmu!" tambah Mamanya yang sudah pulih dari keterkejutannya dan gemas dengan tingkah laku anak perempuannya.
"Tetapi urusan ini kan lebih penting, Ma .... Ini menyangkut nama baik keluarga kita. Lagipula acara wisuda Priscil masih sebulan lagi. Sedikit-banyak Priscil ingin membantu Papa, Ma ..." bantah Priscillia.
"Lihat anakmu ini, Pa .... Tidak mau mendengarkan dan mulai berani membantah. Coba tolong Papa nasihati agar tidak ikut campur!" sahut Nyonya Angkawibawa kepada suaminya.
Papa Priscillia tidak langsung menjawab. Ia tampak berpikir sambil mengelus-elus dagunya. Setelah beberapa saat, barulah ia membuka mulutnya.
"Harus Papa akui, tidak ada lagi ide yang lebih baik daripada ide yang diutarakan Priscillia barusan. Hal ini juga bisa menambah pengalaman bagi Priscillia jika ia memang ingin memimpin RS ke depannya. Namun seperti yang dikatakan Jeremiah, kamu tetap harus berhati-hati. Jangan melakukan sesuatu yang berisiko. Kamu harus main aman. Paham?" Tuan Angkawibawa balik bertanya pada putrinya.
Senyum Priscillia melebar. Mukanya berseri-seri. "Paham, Pa ..." jawabnya mantap.
"Papa ini gimana? Uda tau kemungkinan bahaya malah mengirim putri kita ke sana! Terus .... Apa ini berarti Papa setuju dengan rencananya untuk melanjutkan studi ke jenjang S2 ? Kapan nanti ia sempat mengurus pertunangannya dengan Raymond, Pa??? Mama ga enak sudah menunda-nunda pertunangan mereka terus-menerus!!" protes Mama Priscillia.
"Papa yakin anak kita cukup cerdas untuk menimbang hal yang berisiko atau tidak. Masalah pertunangan, Papa rasa tidak masalah menunggu sedikit lebih lama sampai Priscillia lulus S2 nanti. Toh jurusan MARS dapat diselesaikan hanya dengan dua tahun. Priscillia belum terlambat untuk bertunangan atau menikah di umur segitu.
Harusnya Raymond dan keluarganya dapat mengerti. Urusan ini lebih penting dan waktu penangguhannya pun tidak selama itu. Jika selama ini mereka dapat bersabar menunggu Priscillia dari kecil hingga lulus sarjana, masakan menunggu dua tahun saja tidak bisa?!" putus Tuan Angkawibawa.
__ADS_1
Mendengar perkataan suaminya yang berbalik menyerang pendapatnya, membuat Mama Priscillia terdiam. Sebaliknya, hati Priscillia diliputi kegirangan. Ia sudah mendapat apa yang ia inginkan.
...****************...