Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Kasus Pak Santo (2)


__ADS_3

Saat bel tanda istirahat pertama berbunyi, James menemui Pak Santo di ruang guru. Sebelumnya, seperti permintaan Priscillia, ia juga sudah menemui Kepala Sekolah untuk meminta kehadiran beliau di ruang BK saat istirahat pertama.


Ketika bertemu Pak Santo di meja kerjanya, James pun menyampaikan pesan Priscillia. Lalu mereka berdua berjalan bersama ke ruang BK.


Sesampainya di sana, belum ada satu orang pun yang datang. Hati James mendadak cemas, ia takut kalau ia kembali terkena jebakan Priscillia.


Tenang, James .... Tenang .... Mungkin belum datang. Coba ditunggu sebentar lagi! Kamu kan sudah janji mau mempercayainya! Sabar, James .... Sabar .... kata James dalam hati, menenangkan dirinya sendiri.


"Sebenarnya apa yang Priscillia ingin sampaikan pada saya?" tanya Pak Santo setelah mereka duduk.


"Saya tidak tahu, Pak. Mungkin mau menyelesaikan masalahnya dengan Bapak, sekalian dengan masalah teman-temannya juga. Itulah yang dikatakannya pada saya setelah kami sedikit berbincang-bincang," jawab James apa adanya.


"Hmmm .... Pak James percaya padanya?" tanya Pak Santo dengan alis berkernyit.


"Saya mencoba percaya, Pak. Kalau memang bisa menyelesaikan masalah, tentu harus saya dukung, kan?"


Pak Santo hanya diam saja. Ia tampak sedang memikirkan sesuatu.


"Saya dengar, tadi Bapak sempat bersitegang dengan teman-teman Priscillia di area kolam renang. Kalau boleh tahu, apa masalahnya, Pak?" tanya James hati-hati.


"Saya sedang mencari barang saya yang hilang. Tapi anak-anak nakal itu malah menuduh saya yang bukan-bukan! Tentu saja saya jadi marah!" jawab Pak Santo dengan nada yang tinggi.


"Bapak mencari ini?"


James dan Pak Santo menengok ke arah suara tersebut. Tampak Priscillia memasuki ruang BK bersama Sharon dan juga Kepala Sekolah. Di tangannya tergantung sebuah plastik transparan yang seperti sengaja ia pamerkan.


"Pak James, apa-apaan ini?!" tanya Pak Santo sambil bangkit dari kursinya. Ia terlihat panik.


"Tidak ada hubungannya dengan Pak James, Pak. Kebetulan saya bertemu Bu Kepala Sekolah ketika sedang menuju kemari, jadi saya ajak sekalian," jawab Priscillia santai.


Mendengar jawaban Priscillia, James tersenyum samar. Memang anak yang pintar bermain kata. Tidak jujur 100% , tapi tidak bisa dibilang berbohong juga, katanya dalam hati.


"Jadi, bisa tolong dijelaskan apa yang terjadi di sini sebenarnya?" tanya Bu Kepsek.


"Mau Pak Santo yang menjelaskan atau saya?" tantang Priscillia dengan senyum mengejek.


Pak Santo hanya bisa diam dan terduduk kembali dengan muka pucat.


"Kalau Bapak tidak mau, biar saya saja yang menjelaskan. Karena ceritanya agak panjang, silakan Bapak-Bapak dan Bu Kepala Sekolah duduk dan mengambil posisi yang nyaman. Untuk sementara, benda ini saya simpan dulu," kata Priscillia sambil tersenyum manis, lalu memasukkan plastik itu ke saku roknya.


Bu Kepsek mengambil kursi dan duduk. James bingung. Ia bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi. Pak Santo masih terdiam dengan muka pucat di posisinya semula. Priscillia berdiri di hadapan tempat duduk para guru, bersiap untuk menjelaskan. Sedangkan Sharon berdiri di belakang Priscillia.


"Kejadiannya dimulai beberapa bulan lalu. Pak James belum mengajar di sekolah ini, jadi kejadian ini sebenarnya tak ada hubungannya sama sekali dengan Pak James. Di sini biar Pak James jadi pihak netral," kata Priscillia sambil melihat ke arah James.

__ADS_1


"Saat itu, teman saya Sharon memergoki Pak Santo sedang bersembunyi di balik pepohonan taman, depan area kamar ganti wanita di sekitar kolam renang. Ketika ditanya sedang apa, Pak Santo dengan gugup mengatakan bahwa ia sedang mencari barangnya, persis seperti yang beliau katakan barusan.


Tapi tidak berhenti sampai sana. Pak Santo kemudian memarahinya, mengatakan kepadanya jangan salah sangka atau berpikir yang bukan-bukan, bahkan mengancamnya jika ia menceritakan kejadian itu pada orang lain.


Tentu saja hal ini malah membuat Sharon curiga sekaligus ketakutan di saat yang bersamaan. Beberapa saat lamanya peristiwa tersebut membuatnya stres dan tertekan. Karena ia tidak tahan lagi, akhirnya ia menceritakan hal ini pada saya, sesuatu yang patut kita syukuri. Sayalah yang menceritakannya pada teman-teman yang lain.


Kami sepakat kalau tindakan Pak Santo mencurigakan. Lalu kami membagi tugas. Ada yang memantau gerak-gerik Pak Santo dan ada juga yang mencoba mencari barang yang mungkin dicari beliau. Walaupun bisa jadi masalah barang itu hanya bualannya, untuk menutupi aksinya yang sedang mengintip kamar ganti wanita.


Dan setelah sekian lama, sesuai dengan teori kriminologi yang mengatakan 'pelaku akan kembali ke tempat kejadian perkara', hari ini Rebecca kembali mendapati Pak Santo melakukan hal yang serupa, seperti yang dilihat Sharon sebelumnya.


Bedanya, Rebecca bukan Sharon yang pendiam. Rebecca akan melawan. Makanya hari ini bisa terjadi keributan seperti ini. Bukan begitu, Pak Santo?" tanya Priscillia sambil melihat Pak Santo.


Pak Santo masih terdiam dengan kepala tertunduk. Maka dari itu Priscillia melanjutkan kalimatnya.


"Saya sengaja menghadirkan semua yang terlibat di sini agar bisa diklarifikasi jika ada kesalahan dalam cerita saya. Yang saya tidak bisa hadirkan adalah Rebecca, karena karakter teman saya itu emosian. Cecilia saat ini masih menemaninya dan menghalanginya memasuki ruang ini. Jika tidak, kita pasti saat ini tidak bisa berdiskusi dengan tenang," ucap Priscillia sambil tersenyum.


"Sampai sejauh ini, ada pertanyaan? Bu Kepsek mungkin mau bertanya langsung pada Sharon? Atau mungkin Pak James yang mau bertanya? Atau Pak Santo mau menyanggah?" tanya Priscillia pada setiap guru yang ada di ruangan itu.


Mungkin karena masih terkejut mendengar berita tersebut atau karena ceritanya masih menggantung, tidak ada satupun yang bertanya atau menyanggah. Karena itu Priscillia melanjutkan ceritanya.


"Baiklah, karena tidak ada yang bertanya, saya akan melanjutkan cerita saya. Rupanya Pak Santo tidak berbohong. Memang ada barangnya yang hilang atau terjatuh atau mungkin memang sengaja disembunyikan di sana. Tapi sayangnya, kami yang lebih dahulu menemukannya." Priscillia mengeluarkan kembali plastik transparan tersebut dari balik sakunya. Di dalamnya ada suatu alat elektronik kecil.


"Apa itu?" tanya Bu Kepsek.


"I- itu ... bu- bukan milik saya! Sa-saya bahkan tak tau itu apa!" sanggah Pak Santo.


"Percuma menyangkal, Pak. Saya sudah memeriksakan kamera ini ke pengacara keluarga saya. Di sana didapati sidik jari Bapak. Kalau Bu Kepsek tidak percaya, Ibu boleh tanyakan langsung pada beliau. Beliau masih menunggu di depan gerbang sekolah sampai sekarang. Barusan ia datang ke sini untuk mengantarkan barang bukti ini karena saya memintanya."


"Da-darimana kamu tahu itu sidik jari saya?" Pak Santo masih mencoba membela diri.


Mendengar pertanyaan Pak Santo, Priscillia tersenyum sinis.


"Bapak ingat, minggu lalu kita melakukan olahraga voli? Karena kita melakukan praktek di lapangan indoor, saya mengikuti pelajaran Bapak, kan?


Bapak ingat ketika Bapak memperagakan teknik servis atas di awal pelajaran? Bola yang Bapak pukul itu saya yang pungut lo .... Bola tersebut langsung saya sisihkan. Tujuannya agar saya dapat mengambil sidik jari Bapak untuk saya cocokkan dengan sidik jari yang ada di kamera." Priscillia menjelaskan dengan senyuman termanisnya.


Mendengar penjelasan Priscillia, Pak Santo langsung terdiam. Tubuhnya terkulai lemas di kursinya.


"Sepertinya sudah jelas. Ada lagi yang mau disanggah, Pak Santo?" tanya Kepala Sekolah tegas.


Pak Santo tidak menjawab. Ia hanya termangu di kursinya seperti orang yang kehilangan rohnya.


"Bu Kepsek, urusan setelahnya saya serahkan pada Ibu. Terserah mau Ibu apakan Pak Santo ini. Mau dihukum pribadi sesuai institusi atau mau dibawa ke ranah hukum juga tak masalah. Pesan orang tua saya hanya, kalau boleh jangan sampai tersebar di media. Kasihan para siswi di sini. Takut kalau mengetahui berita ini, mereka jadi mengalami paranoid saat belajar," kata Priscillia kepada Kepala Sekolah.

__ADS_1


"Orang tuamu sudah tau?" tanya Bu Kepsek.


"Sudah, Bu. Mereka kan bertanya alasan saya ketika saya mau menghubungi pengacara keluarga," jawab Priscillia sambil nyengir.


Bu Kepsek menghela napas. Tak lama kemudian ia berkata, "Baiklah, akan Ibu selesaikan kasus ini secepatnya. Ibu akan membawa Pak Santo ke Ruang Kepala Sekolah untuk memprosesnya lebih lanjut. Terima kasih sudah mengungkapkan kebenarannya, Priscillia. Sampaikan salam dan terima kasih Ibu juga kepada orang tuamu."


"Baik, Bu. Akan saya sampaikan. Tapi Bu, boleh Ibu tunggu dulu sebentar? Saya akan menghubungi pengacara keluarga kami untuk menemani Ibu demi keamanan. Karena bisa saja terjadi sesuatu selama perjalanan dari sini ke Ruang Kepsek. Entah Pak Santo mungkin akan melarikan diri atau bisa saja Ibu malah diserang. Bagaimanapun Ibu juga hanya seorang wanita.


Selain itu, Pak Fadel juga bisa memberi masukan pada Ibu dalam mengajukan tuntutan. Atau menggali bukti-bukti lain yang mungkin masih tersisa di rumah Pak Santo. Kita harus waspada agar bukti-bukti yang bisa mempermalukan siswi-siswi yang sempat diintip Pak Santo, tidak sampai beredar di media," jelas Priscillia panjang-lebar.


"Terima kasih atas kepedulianmu. Ibu akan perhatikan masukkanmu," sahut Bu Kepsek.


Priscillia lalu segera mengeluarkan HP-nya dari saku roknya. Ia menekan beberapa tombol, lalu mulai menelpon.


"Halo? Pak, pembicaraan kami sudah selesai. Bisa Pak Fadel segera ke ruang BK untuk menemani Bu Kepsek mengurus penyelesaian kasus ini? Iya, Pak, menurut saya juga lebih aman demikian. Oke, Pak. Kami tunggu di sini yah .... Terima kasih, Pak ...." Pembicaraan pun terputus.


Tak berapa lama kemudian, orang yang dipanggil Pak Fadel itu memasuki ruang BK. Priscillia memperkenalkan pengacara keluarganya pada Bu Kepsek. Lalu Priscillia menyerahkan plastik transparan berisi kamera tersebut pada Pak Fadel. Setelah itu Bu Kepsek undur diri dan meninggalkan ruangan bersama Pak Fadel dan Pak Santo, bersamaan dengan bunyi bel tanda dimulainya pelajaran ketiga.


Priscillia dan Sharon juga pamit kepada James untuk kembali ke kelas. James memberikan izinnya di tengah kebingungan dan kegalauan hatinya. James memang agak terguncang setelah mengetahui kebenaran kasus ini. Ia sungguh tidak menyangka Pak Santo yang terlihat baik itu dapat melakukan tindakan demikian.


Tetapi samar-samar ia mulai bisa merangkai kasus ini dari mulanya. Ia teringat ketika ia merasa jengah saat Pak Santo menggoda Miss Evi, teringat pertanyaan Sharon saat materi sopan santun, sampai pembicaraan terakhirnya tadi dengan Priscillia. Semuanya ternyata berhubungan. Dan tiba-tiba ia terpikirkan satu kesimpulan yang ingin ia konfirmasi pada Priscillia.


"Tunggu sebentar, Priscillia!" seru James menghentikan langkah Priscillia yang sudah sampai di pintu.


Priscillia pun membalikkan badannya menghadap James, diikuti Sharon.


"Ada apa, Pak?" tanyanya.


"Satu pertanyaan saja, tolong kamu jawab dengan jujur. Apakah ini alasannya sehingga Gengmu melakukan perpeloncoan terhadap guru, terutama kami, guru laki-laki?" tanya James dengan nada serius.


Priscillia terdiam. Ia membalas lurus tatapan James. Lalu dengan nada yang sama seriusnya, Priscillia menjawab, "Mungkin cara kami kurang beradab atau bahkan bisa digolongkan kurang ajar. Tapi inilah cara kami menyeleksi guru-guru yang kami anggap benar-benar punya hati untuk mengajar kami. Karena jujur saja, Pak, SMU khusus putri seperti sekolah ini, surganya lelaki muda seperti Bapak dan Pak Santo, kan?"


Gantian James yang terdiam mendengar jawaban Priscillia.


"Terima kasih atas jawaban dan kejujuranmu. Kamu boleh kembali," kata James akhirnya.


"Kami permisi." Lalu Priscillia dan Sharon pergi meninggalkan James sendirian di ruang BK.


James masih termenung di tempat duduknya. Pikirannya masih berseliweran. Ia memang sudah mengerti garis besar dari kasus ini. Ia juga mengerti pola pikir yang diutarakan Priscillia barusan. Ia merasa ada yang salah di sana, tapi ia tidak punya kemampuan menyanggahnya saat ini, mengingat peliknya kasus yang barusan terjadi.


James lalu mengangkat tubuhnya, memaksakan diri untuk kembali mengajar. Ia ingat kalau ia harus mengisi kelas dari jam pelajaran ketiga sampai keenam. Hanya ini yang bisa ia lakukan sekarang, membuktikan diri menjadi seorang guru yang baik dan bisa dipercaya oleh murid-muridnya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2