Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Acara Pemberkatan (1)


__ADS_3

James sudah berdiri di urutan ketiga dalam barisan prosesi masuk. Di barisan terdepan adalah kedua orang tuanya, dan di depannya persis adalah kedua orang tua Cindy. Keluarga Alex berdiri tepat di belakangnya.


Tidak lama kemudian Cindy muncul dengan wajah yang agak berbeda dibandingkan terakhir kali James melihatnya di ruang tunggu. Entah bagaimana James tidak dapat menemukan kata yang tepat untuk mendeskripsikannya. Ia terlihat lebih murung, tertekan, gugup, bingung, dan kacau.


Tetapi ia tidak berniat mencari tahu lebih lanjut, toh perasaannya sendiri juga belum stabil benar. Jadi dibiarkannya Cindy datang menghampirinya dan berdiri di sampingnya begitu saja. Tidak ada percakapan apapun yang terjadi di antara mereka berdua.


Setelah memastikan barisan prosesi siap, seorang petugas ibadah kembali memberikan sedikit pengarahan di depan barisan.


"Acara akan dimulai dengan dibunyikannya lonceng gereja sebanyak tiga kali. Setelah itu, pemimpin ibadah akan mengajak jemaat bangkit berdiri untuk menyambut mempelai dan keluarganya memasuki ruang ibadah. Kemudian, barulah barisan ini berjalan masuk dipimpin Bapak dan Ibu Wijaya. Sampai di sini bisa dipahami?" tanyanya.


"Bisaaa ..." ujar setiap orang dalam barisan.


"Baik. Lonceng akan dibunyikan lima menit lagi. Saya permisi dulu, " kata petugas itu lalu pergi.


Sambil menunggu, James melihat-lihat sekitar. Tadi ia melihat Geng Princess datang memenuhi undangannya. Wendy juga datang. Hal itu tidak mengherankan karena ia sahabat Cindy. Jadi, pasti lah Cindy yang mengundangnya.


Ia juga melihat kedatangan pak Roy dan bu Lani. James tahu kalau kedatangan kedua guru tersebut bukan untuk mengucap selamat kepadanya atau Cindy, melainkan sebagai perwakilan sekolah untuk memastikan James menuntaskan pertanggungjawabannya.


Ada juga beberapa tamu undangan yang lain yang ikut hadir, seperti beberapa tetangga, teman sesama jemaat, dan mungkin kenalan Cindy atau orang tuanya yang ia tidak ketahui. Jumlahnya memang tidak banyak, karena mereka memang tidak mengundang banyak orang.


Sampai tiba-tiba ia melihat sosok yang membuat darahnya serasa berhenti mengalir. Seorang gadis cantik mengenakan blus hitam dan rok batik bernuansa serupa sedang berjalan dari pelataran gereja menuju ruang ibadah. Celine datang!


Rupanya bukan hanya dirinya yang melihatnya. Seluruh anggota keluarga Wijaya juga melihatnya dan sama-sama terkejut. Tidak ada yang menyangka bahwa Celine akan hadir, karena tidak ada sejarahnya Celine sudah ada di kota ini pada Sabtu pagi.


Mata Celine dan mata James bertemu. James tidak bisa mengerti arti pandangan Celine, dan itu justru membuatnya makin cemas.


Namun hal itu tidak berlangsung lama. Celine segera mengalihkan pandangannya dan menatap keluarga Wijaya yang lain. Ketika ia menyadari keluarga yang lain juga melihatnya, ia segera menganggukkan kepala sebagai ucapan salam. Lalu seperti layaknya jemaat yang lain, ia segera memasuki ruang ibadah.

__ADS_1


Mama Ratna hanya bisa membalikkan badan menghadap suaminya untuk menahan tangis. Papa Heru berusaha menenangkan istrinya dengan memeluk dan menepuk-nepuk punggungnya. James terguncang. Kesiapan hati yang selama ini ditatanya, luluh lantak dalam sekejap.


Cindy juga melihat Celine datang. Namun ia tidak memedulikan hal itu. Baginya, Celine bukan lagi ancaman. Bagaimanapun, status gadis itu sekarang tidak lebih dari seorang mantan kekasih. Ia lah yang sekarang akan bersanding dengan pak James!


Yang ia cemaskan adalah Geng Princess. Apakah mereka benar-benar akan merusak acara ini dan mempermalukannya? Ataukah itu hanyalah sebuah gertak sambal belaka? Beranikah ia mengambil resiko menentang mereka dengan tetap melanjutkan acara ini? Cindy belum bisa membuat keputusan.


Lonceng gereja pun berbunyi tiga kali. Acara akan dimulai. Keluarga Wijaya yang tadi sempat terguncang karena kehadiran Celine, berusaha membenahi perasaannya. Terlebih Papa Heru dan Mama Ratna yang berada di barisan paling depan.


Terdengar suara pemimpin ibadah berkata, "Saya mengundang jemaat sekalian untuk bangkit berdiri. Kita akan menyambut mempelai dan keluarganya memasuki ruang ibadah."


Tidak lama setelah itu, terdengar suara piano melantunkan "Bridal Chorus". Papa Heru dan Mama Ratna pun mengayunkan langkah mereka memasuki ruang ibadah diikuti barisan di belakangnya.


Kedua mempelai mengarah ke kursi pengantin yang ada di area depan, sedangkan keluarga mempelai mengarah ke kursi jemaat yang ada di barisan depan. Setelah menyanyikan satu lagu pujian, mereka pun dipersilakan duduk.


Tidak banyak orang yang hadir dalam ruang ibadah itu. Jika dihitung, acara tersebut paling banyak hanya dihadiri 50 orang.


James tidak fokus mengikuti acara yang sudah dijalani. Setiap lagu pujian dan Firman Tuhan yang diperdengarkan, hanya lalu lalang begitu saja di depan telinganya. Tidak ada yang berhasil menembus barier otaknya.


Pikirannya tertuju pada Celine yang ada di belakangnya. Ia tidak habis pikir mengapa Celine bisa ada di sini. Mengapa Celine memilih hadir? Tidakkah itu akan menyakiti dirinya sendiri?


Terlepas dari itu, yang paling ia khawatirkan adalah, sanggupkah ia mengutarakan janji nikah pada Cindy di hadapan Celine? Tidak! Ia tidak yakin! Sekarang saja kalimat-kalimat janji nikah itu sudah berhamburan di otaknya.


Apa jadinya jika ia tidak bisa mengutarakan janji nikah tersebut? Bukankah masalah akan jadi lebih besar? Keluarga Prawira sekali lagi akan menudingnya tidak benar-benar serius bertanggung jawab menikahi Cindy atau bahkan mempermainkan mereka.


Fokus, James! Fokus! Tenang! Kembalikan ketetapan hatimu! Pelan-pelan .... Ingat kembali kalimat per kalimat janji nikah tersebut .... Masih ada waktu .... Tenang .... James berbicara pada dirinya sendiri dalam hati.


Ternyata ... di bagian kursi jemaat pun, ada juga yang tidak dapat fokus mengikuti ibadah. Tiga orang gadis cantik yang sedang duduk berdampingan, mengikuti tahapan demi tahapan ibadah dengan tegang.

__ADS_1


Tadi sebelum ibadah dimulai, mereka sempat melihat kehadiran Celine. Tetapi sepertinya Celine tidak melihat mereka dan langsung duduk di kursi paling belakang.


Hal ini menambah kepedihan mereka. Mereka sungguh bersimpati dengan Celine. Tidak dapat terbayangkan di benak mereka bagaimana Celine menerima kejadian ini.


Karena itu, yang bisa mereka lakukan hanyalah fokus dengan rencana mereka. Mereka memperhatikan kata demi kata yang diucapkan baik pemimpin ibadah maupun Sang Pendeta dengan saksama. Mereka menunggu apakah kalimat pertaruhan mereka akan diucapkan atau tidak. Dan tentu saja, mereka tidak ingin kesempatan itu terlewatkan begitu saja.


Priscillia dan Sharon masih bisa mengontrol perasaan mereka. Tetapi tidak dengan Rebecca. Ia bukan seorang petaruh yang baik. Ia tidak terbiasa menunggu sesuatu yang hasilnya tidak jelas.


Ia terbiasa langsung bertindak mengikuti kata hatinya. Tetapi kali ini hal tersebut tidak bisa dilakukannya. Ia takut jika ia sembrono, hal ini bisa berbalik menyerang dirinya, terlebih Priscillia. Ia ingat tindakan mereka menyangkut nama baik yayasan juga.


Karena itu, ia benar-benar gelisah memastikan langit akan menyetujui rencana mereka atau tidak. Dengan resah ia menunggu kepastian kalimat tersebut akan diperkatakan atau tidak.


Yang bisa ia lakukan untuk menutupi kegelisahannya adalah mengirimkan sinyal-sinyal amarahnya pada Cindy. Dipelototinya punggung Cindy seakan ia bisa melubanginya dengan sinar matanya. Andaikan Tuhan ada, masakan Tuhan tidak memberikannya kesempatan menghalangi rencana ular betina ini ? imbuhnya dalam hati.


Sepertinya sinyal Rebecca dapat diterima oleh Cindy. Ia juga tidak dapat mengikuti ibadah dengan baik. Ia tegang dan gelisah.


Punggungnya terasa panas seperti sedang diperhatikan dengan intens oleh seseorang atau sekelompok orang. Dan ia tahu, hal itu bukan hanya firasat kosong. Ada beberapa orang di sana yang disadarinya memang berseberangan dengannya.


Untuk menenangkan hatinya, ia mencoba melirik ke samping, ke arah pujaan hatinya berada. Tetapi bukannya kedamaian yang ia dapati, perasaannya malah semakin galau.


Ia melihat calon suaminya tampak sangat pucat, seperti seorang pesakitan yang sedang menahan penderitaan begitu rupa. Terlihat bulir-bulir keringat dingin di kening dan pelipisnya. Alisnya bekernyit begitu dalam. Mulutnya tampak berkomat-kamit entah membaca mantra atau berdoa.


Beberapa kali ia melihat James melap keringatnya, menutup matanya, atau menutup mulutnya dengan tangan, seolah sedang menahan diri agar tidak berteriak. Ia dapat merasakan pujaan hatinya sedang tersiksa.


Sampai akhirnya Firman Tuhan diakhiri dan jemaat diajak berdoa.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2