
Semenjak melangkahkan kaki melewati pagar, James tidak berhenti membelalakkan mata. Dimulai dari halamannya yang luas, di mana kiri-kanannya dihiasi dengan taman bunga yang terlihat cantik dan asri. Di tengah halaman tersebut tampak air mancur dengan patung lumba-lumba di tengahnya.
Begitu memasuki rumah, James disajikan dengan pemandangan yang lebih mencengangkan lagi. Desain interior rumah ini sungguh sangat terlihat mewah dan elegan. Lantai rumah yang terbuat dari granit, furniture berkualitas tinggi, dan karya seni seperti patung dan lukisan yang terpajang di mana-mana.
Mereka berhenti di sebuah ruang tamu yang luas. James dipersilakan duduk di sofa. Sebelum ikut duduk menemani James, Mbok Yani memanggil pelayan untuk menyuguhkan minuman buat James. Melihat ini James baru menyadari, ternyata kedudukan Mbok Yani cukup tinggi di rumah itu. Mungkin seperti kepala pelayan.
"Jadi, ada urusan apa Nak James kemari?" tanya Mbok Yani setelah duduk.
"Saya ... saya ingin menjenguk Mbok Yani dan Celine. Gimana kabar Mbok? Sehat, kan?" jawab James agak gugup, takut salah bicara memilih kata.
"Sehat .... Puji Tuhan. Nak James sendiri bagaimana? Sehat?" balas Mbok Yani dengan senyuman hangat.
__ADS_1
"Sehat, Mbok. Ma- maaf ya, Mbok ... saya baru bisa menemui Mbok dan Celine sekarang, " sahut James dengan perasaan bersalah.
"Oh .... Jangan dipikirkan, Nak James .... Sudah syukur Nak James masih mengingat kami, sampai jauh-jauh mau datang kemari, " jawab Mbok Yani berusaha meringankan perasaan James.
"Ngomong-ngomong, Celine di mana, Mbok?" tanya James yang dari tadi tidak melihat Celine.
"Ngg ... Nona Celine ... Nona Celine ..." terlihat Mbok Yani agak ragu untuk menjawab.
Mbok Yani pergi menyusuri tangga untuk menuju lantai dua, lalu berbelok ke arah lorong yang ada di sisi kanan tangga, sehingga tidak terlihat lagi oleh James. James yang ditinggal sendirian di ruang tamu hanya bisa menghabiskan waktu dengan memperhatikan keadaan di sekelilingnya.
Di samping tangga menuju lantai atas, berdiri dua orang pelayan dengan sikap siap menerima perintah. Di atas kepala James nampak lampu chandelier besar yang terbuat dari kristal. Kiri-kanan dinding ruang tamu itu terpajang beberapa lukisan berukuran besar.
__ADS_1
Lantai ruang tamu itu ditutupi karpet berwarna krem, yang senada dengan gorden besar yang menutupi jendela-jendela di rumah itu. Melihat itu, kembali James berdecak kagum. Ia tidak pernah bermimpi bisa memasuki rumah yang menurut pandangannya hampir seperti istana.
Tidak lama kemudian, Mbok Yani muncul dengan menggandeng tangan Celine yang mengikutinya di belakangnya. Celine terlihat pucat. Pipinya tampak tirus. Ia terlihat jauh lebih kurus dibandingkan saat terakhir kali James melihatnya. Dan pandangan matanya, masih nampak kosong.
Setelah Celine duduk di sofa, Mbok Yani berbicara kepadanya dengan suara agak bergetar, "Nona .... Ini Nak James ... temannya Tuan Muda. Nona pernah bertemu dengannya waktu mengunjungi Tuan Muda saat ulang tahun Nona dan pergi ke kebun binatang bersama-sama. Nona ingat?"
Tetapi tidak ada tanggapan dari Celine. Matanya tetap menatap lurus ke depan, entah melihat apa.
"Beginilah keadaan Nona semenjak pemakaman Tuan Muda, Nak James. Mbok tadi ragu untuk menunjukkannya pada Nak James. Tapi Mbok pikir ... Mbok pikir ... mungkin kalau bertemu dengan Nak James yang merupakan teman Tuan Muda, keadaan Nona ... bisa sedikit membaik." Mbok Yani menjelaskan kepada James dengan suara tercekat menahan tangis.
James hanya bisa terdiam. Ia memang sudah merasa ada yang aneh pada Celine, semenjak ia melihat sikap Celine di pemakaman. Tapi ia tidak menyangka, hal ini berkelanjutan sampai sekarang. Ternyata dampak kematian Dion sangat besar bagi adik perempuannya.
__ADS_1
...****************...