
Pertanyaan Celine sungguh di luar dugaannya. Ia mencoba mengingat-ingat apa yang ia bicarakan pada Celine saat itu.
"Maksud Celine, yang Bang James minta maaf karena sudah merepotkan Celine gara-gara Bang James muntah di mana-mana?" James mencoba menebak berdasarkan ingatannya.
"Bukan. Bukan yang itu. Yang itu kan uda dibahas. Celine uda jawab gapapa, " jawab Celine.
James kembali mencoba mengais ulang ingatannya. Yang dapat ia ingat, ia mencoba minuman beralkohol bersama Pak Joseph di sebuah kafe. Setelah itu ... sadar-sadar ia sudah ada di kamarnya. Begitu keluar kamar, ia dijewer oleh mamanya karena sudah merepotkan Celine. Ia pun meminta maaf kepada Celine.
Hanya itu satu-satunya pembicaraannya dengan Celine saat ia mabuk. James ingat betul karena langsung setelah itu, papanya menyuruhnya duduk dan mengatakan Celine memilih kembali ke kotanya untuk merawat papanya.
Jadi, jika bukan pembicaraan yang itu yang dimaksud Celine, omongannya yang mana lagi? James mencoba mengingat-ingat hingga alisnya bekernyit.
Tiba-tiba James teringat dengan mimpi buruk yang dialaminya malam itu. Mimpi buruk tentang Celine yang menghilang. Di sana memang ada adegan di mana ia mengutarakan perasaannya pada Celine ketika ia mendekapnya.
James langsung terdiam. Jangan-jangan .... Jangan bilang kalau ...
BOOMMM!!! Muka James langsung merah padam.
Melihat itu, Celine langsung tersenyum manis. "Sudah ingat?" katanya.
"Bang- Bang James beneran ngomong gitu ke Celine pas mabuk?" tanya James dengan terbata-bata. Ingin rasanya ia membenamkan wajahnya ke tanah atau menggali lubang dan bersembunyi di sana.
"Iya, " jawab Celine pendek.
"Bang- Bang James be- beneran meluk Celine dan bi- bilang suka?"
"Iya." Celine menjawab masih dengan senyum manisnya.
James hanya bisa terdiam dengan muka yang memerah seperti tomat. Hatinya benar-benar kacau persis seperti yang digambarkan di lagu 'Balonku'. Ia sungguh tidak menyangka kalau selama ini Celine sudah mengetahui perasaannya.
"Ja- jadi, ja- jawaban Celine apa?" James akhirnya menanyakan pertanyaan krusial tersebut. Rasa penasarannya mengalahkan rasa malunya. Toh isi hatinya sudah ketahuan, hajar saja lah ....
"Kan Bang James ngomongnya pas mabuk .... Jadi Celine bingung, sebenarnya arah Bang James itu ke mana? Mumpung sekarang Bang James lagi sadar penuh, boleh diulang omongannya?" tanya Celine polos.
"U- ulang, Lin? Kan uda jelas itu!" James tak habis pikir dengan permintaan Celine.
"Jelas apanya? Karena Celine bingung, makanya Celine tanya, kan? Bisa diulang?" sanggah Celine bersikeras mengajukan permintaan yang sama.
James mati kutu. Ia hanya bisa menutup mulutnya dan menyiapkan hati. Sepertinya, kalimat pusaka itu terpaksa ia ulangi. Masalahnya kali ini, ia harus mengatakannya dalam keadaan sadar di depan orangnya langsung.
James menarik napas panjang lalu menghembuskannya. Ia mencoba menenangkan hatinya meskipun jantungnya sudah berolahraga. Matanya ia pejamkan. Keberanian mulai ia kumpulkan. Ketika ia membuka kembali kelopak matanya dan menatap Celine, ia sudah siap.
Ia kemudian memegang bahu Celine dengan kedua tangannya. Matanya menatap lurus mata Celine. Lalu dengan perlahan namun pasti, ia mengucapkan kalimat itu. "Lin .... Bang James suka sama Celine."
Celine hanya terdiam memandang James sambil mengerjapkan matanya beberapa kali. Mukanya datar.
Beberapa detik berlalu dalam kebisuan. Ketenangan James mulai hilang. Rasa malu kembali menjalarinya membuat wajahnya kembali memerah. Pasalnya Celine tidak merespons apapun. Ia merasa adegan ini sudah tidak sanggup ia lanjutkan.
Baru saja ia berniat melepaskan pegangannya dari bahu Celine, Celine menjawab dengan senyum polosnya, "Celine juga suka sama Bang James."
James terdiam. Ia tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu. Celine mengucapkannya dengan ringan, membuat James ragu dengan apa yang didengarnya.
"Lin .... Bang James sayang sama Celine ..." ulang James menggunakan kata yang berbeda, lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri.
"Iya. Celine juga sayang sama Bang James, " jawab Celine masih dengan ringan dan senyum polos yang sama.
__ADS_1
James menghela napas. Ia baru sadar dengan sikap yang ditunjukkan Celine dari tadi. Tidak ada tanda-tanda Celine menyukainya sebagai lawan jenis seperti yang pernah diperlihatkannya saat bersama Alex. Celine juga mungkin salah mengartikan sikap dan ucapannya ini sebagai rasa sayang antar anggota keluarga atau kakak-adik.
James tersenyum pahit. Dilepaskannya pegangannya dari bahu Celine. Lalu dibelainya puncak kepala gadis itu.
"Ya sudah. Ga bingung lagi, kan? Makasih atas jawaban Celine yah, walaupun sepertinya arahnya ga sama."
"Maksudnya ga sama itu apa? Memangnya arah Bang James ke mana?" tanya Celine keheranan.
James kembali menghela napas. Berat rasanya menjelaskan hal ini kepada gadis polos di depannya, karena menyangkut perasaannya sendiri.
"Celine ingat perasaan Celine ke Bang Alex waktu itu?" kata James berusaha menjelaskan.
"Ingat."
"Beda kan dengan perasaan Celine ke Bang James sekarang?"
"Kaga. Sama kok."
James melongo. Gantian dirinya yang kebingungan.
Melihat James yang terbengong-bengong ria, Celine melanjutkan perkataannya, "Makanya kalo ngomong tuh sampai selesai. Bang James motong kalimatnya sih ...."
"Kalimat apaan?" tanya James tak mengerti.
"Coba ulang lagi kalimat yang Bang James omongin pas mabuk, " pinta Celine.
"Bang James suka sama Celine?"
"Persisnya sih bukan gitu.Tapi gapapa. Terus?"
"Terus?"
"Bang James sayang sama Celine?"
"Habis itu?"
"Bang James cinta sama Celine?"
"Nah .... Itu ingat!" sorak Celine.
James masih bingung tak mengerti. "Apa bedanya sama omongan Bang James dari tadi?"
"Bedanya yang ini belum Celine jawab. Iya, Celine juga cinta sama Bang James. Kalo cinta, ga mungkin salah arah, kan?" ujar Celine sambil memeluk pria yang ada di hadapannya.
James membatu. Otaknya masih belum menerima kenyataan di hadapannya. Ia harus akui kalau ia sangat bahagia dengan keadaan ini. Terlalu bahagianya, sampai ia takut jangan-jangan ini hanya mimpi.
"Tu- tunggu! Tunggu!" katanya sambil melepas pelukan Celine.
Celine melihat James dengan tatapan bingung.
"Jadi Celine merasakan hal yang sama ke Bang James, persis dengan Bang Alex dulu?" tanya James memastikan.
"Iya. Tadi kan Celine uda bilang gitu."
"Ini beneran cinta? Bukan karena Celine merasa hutang budi?"
__ADS_1
"Bang James ngomong apa sih? Emang menurut Bang James Celine ga bisa bedain?" Alis Celine bekernyit.
"Memang sejak kapan Celine suka sama Bang James?" James menggeser topiknya.
"Celine sadarnya pas di luar negeri. Tapi kalo ditanya sejak kapan ... ngg ... kayaknya sejak Bang James banyak cerita tentang Priscillia deh."
Mendengar itu, James tersipu. Rupanya kegeerannya waktu itu memang beralasan. Celine benar cemburu saat itu.
"Kok ga langsung bilang ke Bang James pas Celine sadar?" tanya James lagi.
"Celine pengen jadi orang dulu, Bang James. Pengen sukses dan mandiri, biar ga malu-maluin Bang James."
James tertegun mendengar alasan Celine. Tetapi di saat bersamaan, hatinya tersindir karena keadaan yang sudah berbalik.
"Sekarang malah Celine yang lebih sukses dan punya kedudukan yang lebih tinggi dari Bang James. Celine ga malu sama Bang James yang cuma guru?" tanyanya.
"Kenapa bisa dibilang begitu? Kita kan ga di satu struktur organisasi. Beda cerita kalo Bang James kerja di perusahaan yang sama dan jadi anak buah Celine, baru kedudukan Celine di atas Bang James, " ungkap Celine atas pernyataan James yang tidak sepaham dengannya.
"Maksud Bang James bukan struktur organisasi, Lin .... Tapi di masyarakat, " ralat James.
"Justru bukannya karena di masyarakat, makanya semua pekerjaan sama kedudukannya? Yang membedakan itu orangnya, kan? Sejauh mana ia dengan profesinya bisa berguna buat masyarakat. Bukannya begitu?" Celine mengemukakan cara pandangnya.
James terdiam. Ucapan Celine menyadarkannya. Ia terlalu fokus dengan perbedaan antara dirinya dengan Celine hingga merendahkan profesinya sendiri.
Ia lupa bahwa tinggi-rendahnya kedudukan seseorang tidak hanya dinilai dari kekuasaan dan kekayaan secara materiil. Bukankah lebih baik jika kedudukan tinggi itu diperoleh dari besarnya sumbangsih yang telah diberikan ke masyarakat?
James tersenyum memandang Celine. Ia bangga pada gadis yang dicintai dan mencintainya ini. Rupanya Celine benar-benar memiliki hati yang setulus dan selurus itu.
Diulurkannya kembali tangannya untuk merengkuh Celine kembali ke dalam pelukannya. Tetapi baru saja tangan itu terulur setengah jalan, gerakannya mendadak terhenti.
"Ah, ada satu lagi! Kalo selama ini Celine mencintai Bang James, kok Bang James ga tau? Padahal waktu Celine suka Bang Alex, Bang James bisa langsung tau!" tanya James penasaran.
Celine terdiam. Ia menutup mulutnya dengan satu tangan dan memutar bola matanya. Setelah memutuskan untuk menjawab pertanyaan James, ia menurunkan tangannya dari mulutnya dan melirik James.
"Mungkin ... itu tandanya kalo Celine uda bisa mengontrol ekspresi dan bahasa tubuh dengan baik? Bang James bilang, Priscillia juga susah ditebak, kan?" ujar Celine menutup perkataannya dengan cengiran.
James melongo.
Ralat! Gadis yang kucintai memang memiliki hati yang setulus itu. Tapi ternyata tidak SELURUS itu! Hatinya sudah agak bengkok! Celine yang sekarang tidak sepolos dulu ! ujar James dalam hati sambil menepuk jidatnya. Ia sekarang seperti berhadapan dengan Priscillia generasi kedua.
...****************...
"Di mana Celine dan pemuda itu sekarang, Mbok?" Tanya Tuan Adipratama pada Mbok Yani.
"Baru saja pergi meninggalkan rumah, Tuan. Tadi Nona pamit mau makan malam di luar, sekalian mengantarkan Nak James ke bandara, " jawab Mbok Yani.
Tuan Adipratama tersenyum miring. "Dasar bocah ingusan! Tabiat jeleknya belum berubah sampai sekarang!"
"Maksud Tuan?" tanya Mbok Yani bingung.
"Pemuda itu, Mbok ... harus disudutkan dulu baru bergerak! Hahahaha .... Memang ... sekali bocah tetap bocah!" Tuan Adipratama bangkit dari kursinya dan meninggalkan ruang tamu sambil tertawa.
Mbok Yani hanya tersenyum melihat tuan besarnya tampak bahagia, walaupun ia tidak mengerti apa yang sudah dilakukan tuannya. Tadi ketika nonanya berpamitan pun, Sang Nona dan pemuda itu menunjukkan raut wajah yang sama. Raut wajah penuh kebahagiaan.
Memang jika sudah setua dirinya, apalagi yang diharapkan dalam hidup ini. Asalkan semua rukun dan bahagia, situasi berjalan dengan baik dan damai, itu sudah cukup. Mbok Yani berdoa semoga keadaan ini bisa berlangsung selamanya.
__ADS_1
...****************...