
Setelah semuanya duduk, Sonia bertanya untuk membuka pembicaraan. "Katanya keluarga kalian berdomisili di kota B. Bagaimana kalian berdua bisa bertemu?"
"Bang James adalah teman seasrama Kak Dion waktu kuliah. Kami bertemu waktu aku mengunjungi Kak Dion di hari ulang tahunku yang ke-15, " jawab Celine.
"Ah .... Tapi bukannya itu tidak berlangsung lama? Kak Dion kan meninggal sebelum dia lulus. Terus katanya kamu sendiri sempat mengalami depresi. Jadi bagaimana kalian bisa dekat?" tanya Sonic menyambung pertanyaan saudara kembarnya.
Deg ! Sebuah kenyataan menghantam dada James. Perlahan amarahnya mulai naik, sama seperti ketika ia pertama kali bersinggungan dengan Tuan Adipratama.
Rupanya kalian tau kejadian yang menimpa sepupu kalian .... Kalian tau peristiwa meninggalnya Dion, namun kalian tetap memilih untuk tidak datang saat pemakamannya .... Kalian tau betapa terpukulnya Celine sepeninggal kakaknya, namun kalian tetap tidak peduli. Saudara macam apa kalian ini ?! James memaki dalam hati.
Alex menyadari perubahan pada raut wajah Celine dan James. Celine terlihat sedikit terpukul dengan pertanyaan yang membuka kembali kondisi terberat dalam hidupnya. Dan James, Alex kenal betul raut muka yang menahan amarah itu. Jadi sebelum terlambat, lebih baik ia mendahului mereka menjawab.
"Iya. Celine sangat terpukul saat itu. Untunglah keluarga kami pendidik. James sendiri merupakan lulusan prodi bimbingan dan konseling. Jadi untuk pemulihannya, Tuan Adipratama menitipkan Celine pada keluarga kami untuk sementara. Karena pasti sulit bagi Celine untuk move on jika tinggal di rumah yang banyak kenangan pada kakaknya ini, kan?" jawab Alex berusaha menyembunyikan kejadian yang sebenarnya.
Hal ini dilakukan Alex bukan karena ia loyal pada papanya Celine. Bukan pula karena ia takut dengan ancaman Tuan Adipratama yang diutarakannya melalui James saat itu. Tetapi lebih karena memandang masa depan. Bagaimanapun hal ini menyangkut kebahagiaan James dan Celine, dua adik yang sangat ia kasihi.
Jawaban Alex membuat James dan Celine tersadar. Mereka tidak boleh terlarut dalam perasaan. Saat ini, mereka masih harus menjaga sikap di hadapan keluarga besar Adipratama. Celine pun memandang Alex dengan penuh rasa syukur, karena sudah membantu menjaga nama baik ayahnya dan dirinya.
Tetapi, seperti tidak cukup dalam memberi pertanyaan yang penuh cobaan dan mengguncang perasaan, Sonic malah menanggapi jawaban Alex dengan terbahak-bahak. "Berarti siasatmu berhasil dong, Bang? Maaf, boleh kan aku ikut memanggilmu dengan sebutan 'Bang James' ?" tanyanya kepada James di tengah derai tawanya.
Alis James bekernyit. "Boleh saja. Tapi maaf, apa maksudmu dengan 'siasat yang berhasil' ?" tanya James.
"Ah .... Abang ini pura-pura polos! Abang kan sudah menjalankan siasat 'Membesarkan Anak Domba'. Pelihara dulu dombanya, setelah besar ... Abang nikmati sendiri dagingnya." Sonic kembali tertawa terbahak-bahak.
Darah James mendidih. Mukanya merah menahan amarah. "Maksudmu apa? Menurutmu aku sengaja membantu pemulihan Celine dengan motivasi terselubung. Begitu?" tanya James dengan perlahan dan penuh penekanan di setiap katanya. Suaranya mendesis menahan kegeraman yang hampir membuncah keluar.
"Tentu saja! Buktinya Abang berhasil sampai ditunangkan dengan .... Hmmph!!" Belum sempat Sonic menyelesaikan kalimatnya, mulutnya sudah dibungkam oleh Sonia.
"Maaf, Bang .... Maaf, Lin .... Anak ini kepekaannya memang agak tiarap, bahkan hampir mendekati jongkok. Jangan dimasukin hati yah ..." kata Sonia.
Sonia menyadari kedua pria dari keluarga Wijaya di hadapannya, terutama James, tersinggung akibat perkataan saudara kembarnya. Raut wajah Celine juga berubah, meskipun terlihat sepupunya ini masih berusaha mengendalikan dan menyembunyikannya. Namun tetap saja, jika dibiarkan bisa mengakibatkan keributan.
Kalau kemudian ditelusuri siapa dan apa yang memantik keributan di acara besar seperti ini, hal itu pasti berdampak buruk bagi keluarganya, terutama dirinya dan Sonic. Tak bisa ia bayangkan apa yang akan dilakukan pamannya terhadap mereka yang sudah berani mengusik tamunya dan merusak acaranya.
Status Celine sendiri sebagai pewaris, tidak bisa diabaikan. Ia adalah calon yang akan duduk di kursi pemimpin keluarga Adipratama kelak. Karena itu, lebih baik ia segera mengusahakan perdamaian demi keamanan.
"Ngomong-ngomong, katanya sekarang Adipratama Grup sedang mengembangkan produk kosmetik yah?" tanya Sonia lagi, buru-buru mengalihkan topik.
__ADS_1
"Ya, " jawab Celine pendek.
"Kapan launching produknya? Boleh aku yang jadi Brand Ambassador ? (noted: Brand Ambassador atau BA adalah orang yang diajak bekerja sama oleh sebuah perusahaan, untuk mempromosikan merek dan produknya.)
Sonia memang sudah memiliki ketertarikan dengan dunia panggung sejak kecil. Dengan bantuan koneksi ayahnya, ia bahkan sudah melakukan debut sebagai model cilik.
Perawakannya yang cantik dan sifatnya yang periang, memudahkannya bergelut di bidang tersebut. Bahkan saat ini, ia sedang menjalani pendidikan di Fakultas Seni Pertunjukkan dan mengambil Jurusan Seni Teater untuk mendukung cita-citanya menjadi artis.
Semenjak ia mulai berkecimpung sebagai model profesional, salah satu target yang ingin ia peroleh untuk menaikkan popularitasnya adalah menjadi BA salah satu produk Adipratama Grup. Produk dari Perusahaan Adipratama selalu memiliki kualitas terbaik, bahan yang ramah lingkungan, serta desain yang elegan, sehingga meningkatkan kepuasan masyarakat dan menjadi merek terkenal.
Namun selama ini, ia tidak berani bertanya dan meminta kesempatan pada pamannya yang memimpin perusahaan dengan tangan besi. Orang tuanya sendiri tidak berani mengajukan dirinya karena sadar akan kemampuannya yang masih di tingkat rata-rata. Masih banyak model lain yang lebih profesional dan memiliki nama besar dibanding dengan dirinya.
Dan sekarang, bisa jadi ini kesempatan yang ditunggunya. Celine adalah pewaris yang diakui. Mungkin melalui Celine, ia dapat mencapai salah satu target impiannya. Tentulah Celine tidak sekeras dan sekaku ayahnya, bukan?
Namun jawaban Celine di luar dugaannya. Dengan dingin dan wajah datar, Celine menjawab, "Untuk bagian itu, kami harus mendiskusikannya terlebih dulu."
Sonia tertegun. Ia sudah terbiasa mendapat tawaran pekerjaan dengan mudah lewat koneksi ayahnya. Dan jawaban Celine sekarang ini adalah keanehan dalam pemikirannya.
"Harus didiskusikan? Bukankah statusmu sebagai pewaris akan memudahkanmu dalam membuat keputusan? Orang-orang pasti tidak akan ada yang berani membantahnya dan menghormati keputusanmu, kan?" tanya Sonia keheranan.
Celine tersenyum tipis. Begitu tipisnya sehingga hanya orang-orang yang peka sajalah yang akan menyadari ada kesinisan terkandung dalam senyuman itu.
Mendengar nama Sang Pemimpin Keluarga Besar sudah disebut, Sonia hanya bisa tersenyum kecut dan mundur teratur. "Tentu saja boleh. Tapi kalo bisa, tolong nanti kamu bujuk-bujuk ayahmu yah ..." katanya dengan senyum yang dipaksakan. Celine menanggapinya hanya dengan senyuman yang sulit dicari tahu apa maknanya.
Obrolan mulai berlanjut lagi ke arah yang ringan dan mencari topik aman. Setiap orang masih berusaha menjaga sikap dan mengatur perasaan untuk menghindari konflik.
Beberapa mulai terlihat bosan dan gelisah menanti kapan acara ini berakhir. Dan yang paling terlihat bosan dan tidak bisa menutupinya adalah Rico. Bocah ini mulai tidak bisa duduk diam ataupun tenang dalam pangkuan orang tuanya. Dari tadi ia sudah tidak sabar menjelajahi ruang yang besar itu.
Alex dan Sherly memang memutuskan untuk menjaga Rico dengan ketat agar jangan sampai merusak acara itu. Mereka bergantian meladeni Rico agar bocah itu tidak berulah, sambil berusaha tetap melibatkan diri dalam acara ramah tamah keluarga.
Namun dalam suatu kesempatan, Rico pernah mencoba melarikan diri ke arah kolam karena tertarik dengan air kolam yang memantulkan warna-warna cantik dari lampu-lampu hias di sekitarnya. Untung saja hal itu segera disadari oleh Alex dan Sherly yang memang tidak pernah melepaskan pengawasan dari putra tercintanya.
Menyadari Rico sudah terlalu bosan, Alex dan Sherly memutuskan untuk mengalah. Salah satu dari mereka bergantian memisahkan diri dari pembicaraan untuk menemani Rico menjelajah.
Awalnya Sherly yang mengalah, karena merasa Alex lebih berkepentingan untuk menjaga keluarganya. Apalagi ia juga tahu, yang di hadapannya adalah orang-orang bukan dari kalangan biasa.
Ia menemani Rico bereksplorasi di sekitar meja makan. Melihat-lihat makanan ringan dan mencicipinya bersama. Rico bahkan sempat merengek untuk memegang pahatan es angsa.
__ADS_1
Sherly terpaksa menggendong putranya agar Rico bisa menjulurkan tangannya menyentuh Si Angsa. Untuk sementara, Rico terlihat menikmati kebersamaan dengan teman barunya yang anggun dan beku itu. Sensasi dingin di telapak tangan mungilnya, menjadi pengalaman baru yang mengasyikkan buat dirinya.
Alex yang menilai suasana pembicaraan mulai aman dan kondusif, menyadari istrinya yang juga mulai lelah menjaga Rico. Akhirnya, ia mendekati Sang Istri dan menawarkan diri untuk menggantikan menjaga Rico agar istrinya dapat duduk beristirahat.
Kali ini, ia mengajak Rico ke arah kolam renang yang dari tadi memang sudah menjadi incaran Rico. Dalam gendongan, Alex membiarkan Rico mencelupkan tangannya yang berusaha menggapai sinar warna-warni yang terpantul di permukaan kolam.
Saat itu, dengan ujung matanya, Alex menangkap ada seseorang yang juga keluar dari ruang keluarga untuk memisahkan diri. Orang itu adalah Darrell.
Pemuda itu berjalan ke arah halaman belakang dan duduk di salah satu kursi yang tersedia di sana. Dalam pandangan Alex, pemuda itu terlihat seperti serigala penyendiri yang ingin mendapatkan kenyamanan mengandalkan kesunyian dan kegelapan malam. Tempat duduk yang ia pilih pun merupakan tempat duduk yang agak tersembunyi dan hanya mendapat pantulan cahaya temaram dari lampu taman.
Rupanya bukan hanya Alex yang menyadari hal itu. Celine sebagai salah satu tuan rumah, melihat bagaimana Darrell memisahkan diri dari keluarganya dan berjalan ke halaman belakang. Ketika ada kesempatan, Celine meminta izin untuk pergi sebentar dan meninggalkan grup ngobrolnya.
"Salut Darrell. Cela fait longtemps qu'on ne s'est pas vu. Comment allez-vous?" (arti: Hai, Darrell. Lama tak berjumpa. Bagaimana kabarmu ?) sapa Celine ketika ia sudah berada di belakang pemuda itu.
Darrell terkejut dan segera membalikkan badannya ketika mendengar ada orang yang mengajaknya bicara dan memanggilnya dengan bahasa ibunya. Rasa terkejutnya bertambah ketika melihat sosok yang mengajaknya bicara tersebut.
Gadis kecil pemalu yang hanya bisa bersembunyi di balik punggung Sang Kakak, kini tampil dan memulai pembicaraan dengannya. Ia tertegun menyadari bagaimana waktu dan kehidupan bisa merubah seseorang begitu rupa.
"Je vais bien, " (arti: Aku baik-baik saja) jawabnya pendek. Kembali ia melabuhkan pandangannya ke langit malam.
Tanpa dipersilakan, Celine mengambil tempat duduk di samping Darrell. "J'ai entendu, votre conférence sera bientôt terminée ?" (arti: Kudengar, kuliahmu akan selesai sebentar lagi ?) tanya Celine kemudian.
"Oui ...." (arti: Ya) Jawaban pendek khas Darrell kembali terdengar.
"Allez-vous rejoindre l'entreprise après cela?" (arti: Apakah setelah itu kamu akan bergabung dengan perusahaan ?)
Darrell tertawa sinis mendengar pertanyaan itu. "Ai-je un autre choix ?" (arti: Apakah aku punya pilihan lain ?) Darrell balik bertanya.
Sebuah uluran tangan yang diarahkan kepadanya membuat Darrell tertegun. Mau tidak mau ia mengarahkan pandangannya ke pemilik tangan yang sedang tersenyum ramah kepadanya.
"J'ai hâte d'y être. J'espère que d'ici là nous pourrons bien travailler ensemble, " (arti: Aku menantikannya. Kuharap saat itu kita bisa bekerja sama dengan baik) ujar Celine.
"Oui .... J'espère ..." (arti: Ya, semoga ...) jawab Darrell pendek sambil menyambut uluran tangan itu dengan gaya acuh tak acuh. Kemudian ia kembali mengalihkan pandangannya memandangi bulan yang bersinar di atas kepalanya.
Melihat sikap Darrell yang seperti ingin menikmati kesendiriannya, Celine berkata, "Je reviens en premier ...." (arti: Aku balik dulu yah ....)
"Oui ...." Darrell menjawab Celine tanpa mengalihkan pandangannya dari langit.
__ADS_1
Celine pun memutuskan untuk pergi dan kembali ke sisi James, membiarkan Sang Serigala kembali menyendiri di perasingannya. Menyadari orang di sampingnya sudah pergi, Si Pemuda tersenyum mengingat pembicaraan singkat yang baru saja terjadi. Inilah senyum pertamanya yang terbentuk di wajahnya semenjak ia berada di rumah ini.
...****************...