
Setelah selesai mandi dan menjemur kembali handuknya, James berdiri di depan kamar Celine. Diaturnya napasnya, dibulatkannya tekadnya, lalu pintu kamar pun diketuknya.
"Lin .... Uda tidur?" tanyanya.
Tidak berapa lama, pintu kamar pun dibukakan Celine.
"Boleh Bang James masuk?" tanya James hati-hati.
Tanpa bicara, Celine undur diri dari depan pintu dan duduk di ranjangnya, meninggalkan pintu dalam keadaan terbuka. Hal itu diartikan James sebagai izin masuk.
Ia pun masuk ke dalam kamar tersebut dan membiarkan pintu yang terbuka untuk menjaga kenyamanan Celine. Bagaimanapun, tidak baik seorang laki-laki dan seorang perempuan yang belum menjadi suami-istri berada di sebuah kamar tertutup, bukan?
James ikut duduk di pinggir ranjang. Ia bingung bagaimana harus memulai pembicaraan.
"Lin .... Maaf yah .... Bang James mendiamkan Celine selama dua minggu ini." Hanya itu yang ada di kepalanya. Tetapi Celine diam dan terus memandangnya.
"Seperti yang Mama bilang, Bang James ga sanggup mengabarkan hal ini langsung pada Celine. Tapi Bang James tau, itu ga bisa dijadikan alasan. Bang James harus akui kalo Bang James cukup pengecut dalam hal ini.
Entah Mama uda cerita sejauh mana sama Celine, yang jelas Bang James sendiri ga percaya diri kalo Bang James ga bersalah. Bang James ga bisa membuktikan apapun. Masalahnya Bang James ga ingat apa-apa. Itu yang bikin Bang James tambah ga bisa ngomong ke Celine. Ga mungkin Bang James minta Celine percaya sama Bang James, kalo diri sendiri ga yakin tidak bersalah, kan?" lanjut James.
"Celine tau Bang James ga bersalah kok." Tiba-tiba terdengar kalimat keluar dari mulut Celine yang membuat James tertegun.
Lalu James melihat Celine mengambil HP-nya, menekan beberapa tombol, dan meletakkan HP tersebut di hadapan James.
"Jadi pada akhirnya kamu memutuskan untuk melanjutkan kebohongan ini ?" Terdengar suara wanita dari rekaman yang diputar Celine di HP-nya.
James terkejut. Apakah itu suara Wendy? Sepertinya begitu. Namun James masih belum yakin benar.
"Habis mau gimana lagi? Semua persiapan sudah dilakukan. Katekisasi sudah selesai, tanggal sudah ditentukan, kebaya pengantin dan cincin nikah sudah dibeli. Sudah terlambat untuk membatalkannya." Kali ini terdengar suara yang sepertinya suara Cindy.
"Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki sebuah kesalahan, Cin ...."
Dugaannya benar. Ini rekaman percakapan Cindy dan Wendy. James mendengarkan rekaman tersebut dengan dada berdegup kencang. Kalimat-kalimat yang diucapkan, ia dengarkan dengan saksama.
"Asal kamu tau, aku juga diliputi perasaan bersalah karena mendiamkan hal ini padahal aku tau kebenarannya. Aku merasa bersalah pada pak James dan keluarganya. Aku harap kamu juga mengerti perasaanku."
"Pulanglah." Rekaman ditutup dengan kalimat terakhir yang diucapkan Cindy.
James terdiam. Fakta di depannya membuatnya terperanjat. Yang dapat ia simpulkan sementara ini berdasarkan isi rekaman tersebut adalah bahwa Wendy sudah mengetahui kebohongan Cindy, dan saat rekaman itu dibuat, ia sedang membujuknya untuk membatalkan rencananya.
Ja- jadi ... Celine sudah tau dari awal? Bahkan sudah mendapat buktinya? Sejak kapan ? Bagaimana caranya ? Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan di otak James, sampai ia tidak sanggup lagi menahan rasa ingin tahunya.
"Se- sejak kapan Celine tau? Kapan rekaman ini dibuat?" tanyanya dengan wajah bingung.
"Rekaman ini dibuat hari Rabu tiga hari yang lalu. Malamnya, temannya ini yang mengirimkannya pada Celine, " jawab Celine masih dengan wajah datar.
"We- Wendy? Celine kenal Wendy?"
Celine menggeleng. "Awalnya tidak kenal. Celine baru tau tentang anak itu setelah Celine meminta seorang detektif menyelidiki keluarga Wijaya."
James melongo. "Me- menyelidiki kami?"
"Iya. Celine merasa aneh dengan sikap mama ketika Celine menanyakan mengapa Bang James tidak mengangkat telepon atau menghubungi Celine. Tidak seperti biasanya, mama menjawab dengan berputar-putar.
Lebih anehnya lagi, mama malah melarang Celine datang ke sini hari Sabtunya dengan dalih ada urusan. Itu bukan gaya mama. Kalaupun ada urusan, mama pasti menjelaskan urusannya apa. Jadi Celine yakin, keluarga ini pasti lagi ada masalah dan mama berusaha menyembunyikannya, " jelas Celine.
James membuang napas lewat mulut untuk mengatur perasaannya. Ia sungguh tidak menyangka kekasihnya bisa memata-matai keluarganya sampai menyewa detektif, seperti yang ada di film-film.
__ADS_1
"Lalu?" tanyanya kemudian.
"Beberapa hari setelahnya, laporan detektif tiba di meja Celine. Di situlah Celine tau kejadian yang menimpa Bang James di acara kamping, berikut solusi yang sudah Bang James pilih sebagai bentuk pertanggungjawaban.
Laporannya cukup detail. Di sana tertulis kronologi kejadian di pegunungan dan juga pihak-pihak terkait yang menjadi sumber acuan keterangan maupun saksi. Di sanalah Celine mendapat data tentang anak bernama Wendy ini.
Tidak ada yang benar-benar melihat langsung kejadiannya. Tuduhan hanya berdasarkan cerita dari korban. Semua saksi hanya menerangkan kondisi Bang James saat ditemukan pagi itu, yang mendukung keterangan korban. Karena itu, Celine memutuskan untuk melakukan pendekatan pada sahabat korban. Celine mendatangi rumahnya hari Minggu lalu."
"Jadi Minggu lalu, Celine sebetulnya datang ke kota ini?" tanya James memastikan keterangan Celine.
"Iya. Khusus untuk menemui anak yang bernama Wendy ini, " jawab Celine.
James benar-benar terkejut dengan sepak terjang Celine. Tidak disangkanya Celine yang seperti ini dapat mengabaikan anjuran mamanya, bahkan melakukan yang sebaliknya di belakang Sang Ibunda.
"Lalu? Apa yang terjadi?" tanyanya meminta Celine melanjutkan ceritanya.
"Tidak disangka anak itu masih mengenali Celine sebagai pembicara yang datang ke sekolahnya waktu itu. Anehnya lagi, bukan hanya kebingungan yang terlihat di wajahnya, tetapi juga ketakutan, kegelisahan, dan kecemasan. Seolah ia sedang menyembunyikan suatu kesalahan dan nyaris ketahuan. Hal itulah yang makin meningkatkan kecurigaan Celine.
Dan benar saja, hanya dengan dorongan beberapa pertanyaan, anak itu mengakui perbuatan temannya. Ia bersumpah kalau ia tidak terlibat dalam perencanaan untuk menjebak Bang James dan sesungguhnya ia sendiri tidak menyetujui tindakan temannya tersebut.
Dengan berpegang pada omongannya itu, Celine menawarkan kerja sama. Celine meminta ia datang kembali untuk membujuk temannya itu dan memancing obrolan ke arah penipuan yang dilakukannya, sambil merekam percakapan itu diam-diam.
Entah apa yang dipikirkan anak bernama Wendy itu sehingga ia setuju untuk mengkhianati temannya sendiri. Mungkin ia takut dianggap terlibat sehingga menyelamatkan dirinya sendiri, atau mungkin ia tidak ingin temannya makin tersesat dan merugikan orang lain. Yang jelas, ia setuju melakukan usul Celine dan inilah hasilnya, " kata Celine sambil menunjuk HP-nya.
"Kalau Celine sudah mendapat bukti ini dari tiga hari yang lalu, kenapa Celine masih diam saja?" tanya James tak mengerti.
"Anak ini yang minta agar Celine memberikan temannya ini kesempatan sampai saat-saat terakhir. Mungkin ia masih mencoba mempercayai temannya. Atau, ia masih ingin menyelamatkan pertemanan mereka sampai detik-detik terakhir. Karena tentu saja jika rekaman ini sampai diputar dan diangkat sebagai barang bukti, hubungan pertemanan mereka pasti hancur akibat pengkhianatan yang dilakukannya."
"Jadi ... kalau misalnya sampai detik terakhir Cindy tidak mengaku ...." James menggantung kalimatnya.
"Celine sendiri yang akan berdiri, menyatakan keberatan, dan menyeretnya ke penjara dengan bukti rekaman ini, " tegas Celine.
"Sepertinya Celine makin mirip dengan Tuan Adipratama yah ...." Hanya itu yang bisa disimpulkan James setelah mendengar apa yang dikatakan Celine.
"Celine anggap itu sebagai pujian, " jawab Celine pendek.
James menghela napasnya. Suasana kamar itu hening untuk sementara.
"Jadi ... apa yang akan Celine lakukan dengan rekaman ini sekarang?" tanya James lagi.
"Tidak ada. Disimpan aja untuk sementara buat jaga-jaga sampai keadaan benar-benar sudah aman. Toh anak itu sudah mengakui sendiri perbuatannya. Buat apa pula kita menghancurkan pertemanan mereka dengan membuka keberadaan rekaman ini? Anggaplah ini penghargaan Celine atas persahabatan mereka, " jawab Celine santai.
"Sekarang ... karena Celine uda tau Bang James ga bersalah, apa ... Celine masih marah sama Bang James?" tanya James hati-hati sambil tersenyum bodoh.
Celine kembali diam. Sikap santainya yang tadi sempat muncul, perlahan hilang. Sebaliknya, sorot matanya memandang James makin tajam.
James gelagapan, menyadari sepertinya ia salah bertanya. "Bang James salah ngomong yah?" tanyanya.
"Menurut Bang James, Celine marah sama Bang James karena Bang James difitnah begitu?" Celine balik bertanya. James tertegun.
"Sekalipun Celine ga dapat bukti rekaman ini, menurut Bang James, Celine ga percaya sama Bang James?" tanyanya lagi.
James terdiam. Ia tidak pernah memikirkan hal itu. Mungkin ia tidak berani mencari tahu jawabannya karena takut dengan jawaban Celine. Dengan kata lain, jika dipikirkan lebih dalam, bisa jadi yang dikatakan Celine benar.
"Karena itu kan, Bang James takut ngomong langsung ke Celine? Celine uda pernah nemenin Bang James pas mabuk lho ... Waktu itu aja Bang James ga macem-macem! Jadi dari awal Celine uda curiga ini cuma jebakan. Masalahnya, kenapa Bang James ga cerita? Bang James anggep Celine sepicik apa?!" Nada Celine mulai naik. Tanpa sadar air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.
"Bu- bukan begitu, Lin ..." sahut James mulai panik melihat Celine menangis. Diulurkannya tangannya untuk memeluk gadis itu, tetapi Celine malah memundurkan tubuhnya.
__ADS_1
Rupanya Celine belum selesai mengeluarkan uneg-unegnya. Kegelisahannya selama 2 minggu ini karena diabaikan oleh James, ditumpahkannya keluar.
"Jujur aja, Celine pengen liat sejauh mana Bang James akan terus menyembunyikan masalah ini sama Celine! Sejauh mana Bang James berusaha menyelesaikannya sendiri. Ternyata sampai akhir! Sampai pelaminan! Kalau Celine ga mempersiapkan rencana ini untuk menggagalkan pernikahan Bang James, entah apa jadinya!" seru Celine sambil memukul dada James. Air mata sudah mengalir di pipinya.
James trenyuh. Ia tidak memikirkan perasaan Celine segitunya. Perasaan diabaikan, perasaan tidak dianggap, perasaan tidak bisa diandalkan oleh orang yang menjadi kekasih hatinya.
"Maaf yah, Lin .... Maaf ..." sahut James merengkuh gadis itu dalam pelukannya. Ia tidak peduli tangan Celine yang terkadang masih menghantam dadanya. Ia tahu rasa sakit di dadanya tidak seberapa dibandingkan rasa sakit yang gadis ini sudah alami.
"Dan tau apa yang lebih menyebalkan lagi?! Bisa-bisanya Bang James sok jadi pahlawan dengan menjadi tameng gadis itu saat ditampar ayahnya!" Celine masih melanjutkan keluh kesahnya meskipun sudah di dalam pelukan James.
Untuk bagian ini, James nyengir. Entah kenapa ia merasa ada nada cemburu dalam perkataan Celine. Dan hal itu membuatnya senang.
"Yah .... Kan kasian, Lin .... Hitung-hitung ucapan terima kasih karena akhirnya dia mau jujur ..." ujar James.
"Kasian apanya?! Ia menuai apa yang ia tabur! Bang Jamesnya aja yang mau sok tampil keren!" gerutu Celine.
"Emang Bang James keren kok, " seloroh James.
"Amit!" sahut Celine sambil manyun.
"Uda ah .... Jangan marah dan nangis lagi .... Nanti jadi jelek lho!" bujuk James sambil melepaskan pelukannya dan memandang wajah gadis itu.
"Biar! Nanti kalo Celine jadi jelek dan Bang James uda ga suka, Celine ganti cowok lain aja!" jawab Celine.
"Ow ... ow .... Itu tidak mungkin terjadi, Sayang .... Karena buat Bang James, Celine selalu cantik! Jadi ga mungkin ga suka ..." sanggah James sambil tersenyum simpul.
"Gombal!" cetus Celine dengan pipi yang memerah.
James tertawa. "Gombal, gombal, tapi suka, kan?" godanya sambil menghapus air mata di pipi Celine.
Celine tidak menjawab. Ia hanya menatap James. Kedua mata mereka bertemu. Kerinduan terbias di manik mata keduanya.
James mendekatkan wajahnya mengecup pipi Celine yang masih basah karena air mata. Celine memejamkan mata, pasrah menerima apapun yang James lakukan.
James terus mengecupi pipi Celine dan kecupannya pelan-pelan makin bergeser ke arah tengah. Napas keduanya makin memburu menahan hasrat yang makin naik. Sampai akhirnya kecupan James sudah tiba di sudut bibir Celine dan ....
"Ehemm .... Ehemm ...." Suara orang berdeham menghentikan mereka dan membuat mereka langsung menoleh ke asal suara.
Di depan pintu sudah berdiri Mama Ratna. "Maaf mengganggu, Mama cuma mau tanya, besok kita mau ke gereja ga?" tanyanya.
"Oh .... Mau, mau .... Harus itu ..." kata James salah tingkah. Sedangkan Celine hanya bisa menunduk dengan muka merah seperti tomat.
"Kalau begitu, ayo tidur! Besok mau bangun pagi, kan?" ajak Mama Ratna.
"Oh iya iya .... Sudah malam .... Ya sudah, Bang James balik yah, Lin ..." ujar James langsung menghambur ke kamarnya tanpa menunggu jawaban Celine.
"Celine juga tidur yah .... Good night ..." kata Mama Ratna kepada Celine.
"Good night, Mama ..." jawab Celine.
Lampu kamar Celine pun dipadamkan Mama Ratna, lalu kemudian pintu kamar Celine ditutupnya. Mama Ratna kembali ke kamarnya.
Tadi ia keluar karena mendengar ribut-ribut dari kamar Celine. Ia tahu James dan Celine pasti sedang membahas masalah yang terjadi di antara mereka. Tetapi karena khawatir, ia akhirnya memutuskan keluar untuk memantau apa yang terjadi.
"Dasar, anak muda!" sahutnya sambil tersenyum, lalu kembali berbaring.
Sedangkan sepeninggal Mama Ratna, Celine belum bisa tidur. Pipinya masih panas dan jantungnya masih berdebar membayangkan apa yang nyaris terjadi. Begitu pula James yang berada di kamar sebelah.
__ADS_1
Akkkkhhh .... Ciuman pertamaku gagallll ... seru mereka dalam hati.
...****************...