
Sekitar pukul 12.00, Andreas kembali memasuki ruang kerja putranya. Tanpa banyak basa-basi, ia langsung bertanya, "Bagaimana? Presentasinya sudah siap?"
"Sudah, Pa ..." jawab Darrell masih dengan berkas-berkas yang harus ia periksa di tangannya.
"Bagus. Nanti kita berangkat bersama dari sini sekitar jam empat sore, " lanjut Andreas.
"Oke." Jawaban singkat khas Darrell kembali terdengar.
Andreas tertegun melihat sikap anaknya yang terlalu fokus dengan pekerjaan seperti orang yang gila kerja. "Kamu sudah makan?" tanyanya.
"Belum, " jawab Darrell dengan matanya yang masih terpaku pada berkas.
"Makanlah, Nak .... Jangan sampai lupa makan terus kena sakit maag atau apa ...." Andreas menasihati putranya.
"Iya .... Habis ini ...."
Andreas menghela napasnya. "Terserah kau lah, Nak .... Kau pun sudah besar, sudah bisa mengurus dirimu sendiri. Yang harus Papa ingatkan di sini, Papa ga mau dengar presentasimu terganggu karena alasan sakit dan sejenisnya yah ...." Setelah berkata seperti itu, Andreas meninggalkan ruang kerja Darrell.
Gantian Darrell yang terdiam. Gerakan tangannya terhenti. Alasan itu lagi. Kembali dirinya diingatkan bahwa mimpi ayahnya begitu penting.
Semangatnya untuk melanjutkan pekerjaannya yang tanggung itu, jadi tergerus. Darrell pun membereskan mejanya. Ayolah .... Cari makan ... pikirnya mengajak dirinya sendiri dalam hati. Minimal ia tidak disalahkan kalau memang terjadi apa-apa yang di luar kehendaknya.
Rasa malas melandanya. Selera makan tidak ada. Asal makan, cukup kan? Yang tersirat di pikirannya adalah kantin kantor. Di sana ia tinggal mengambil menu yang disajikan hari ini, tanpa perlu memilih-milih lagi.
__ADS_1
Dengan pemikiran demikian, pergilah Darrell ke kantin kantor. Dengan gaya acuhnya ia mengantri mengambil makanan, lalu mengedarkan pandangan untuk mencari meja yang masih kosong.
Kehadirannya yang mencolok kembali membuat suasana kantin berubah. Apalagi ketika para karyawan mengetahui bahwa Si Direktur sedang mencari meja.
Para karyawan wanita ada yang berharap dalam hati, semoga Darrell mau bergabung dengan mereka. Namun banyak juga karyawan yang berharap agar mejanya jangan dihampiri Darrell demi ketenangan batinnya. Namun tetap saja tidak ada seorang pun yang berani menawarkan diri untuk mengajak Darrell bergabung.
Sampai akhirnya Darrell melihat sebuah meja kosong di sekitar pojok ruangan. Ketika menuju ke sana, di seberang meja itu terdapat Celine dan karyawan divisinya sedang menikmati makan siang bersama.
Mata mereka bertemu. Celine tersenyum dan menganggukkan kepalanya sebagai pengganti salam. Darrell pun menganggukkan kepalanya untuk membalas. Hanya sampai di situ interaksi yang terjadi di antara mereka. Celine tidak lagi mendatanginya ataupun mengajaknya bergabung di mejanya. Darrell tersenyum. Bukankah memang itu yang ia inginkan dari pembicaraan mereka terakhir di kantin?
Darrell pun duduk dan mulai menikmati makanannya. Dalam diam, ia mulai mendengar canda tawa dari seberang mejanya. Tanpa sadar ia melirik ke sana. Dilihatnya suasana kekeluargaan yang hangat terjadi di meja itu, antara Celine dan anak buahnya.
Refleks, ia pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling kantin untuk memuaskan rasa ingin tahu yang tiba-tiba tersirat di benaknya. Ia baru sadar, direktur yang ada di kantin saat ini hanya mereka berdua.
Mengingat suasana kantin yang tiba-tiba berubah saat kedatangannya, bisa disimpulkan para karyawan di sini sudah terbiasa dengan kehadiran Celine. Mungkin hanya Celine, direktur yang berbaur dengan karyawan untuk menikmati makan siang di sini.
Bandingkan dengan dirinya. Meskipun ia sudah duduk sendirian, tetap saja suasana meja-meja di sekitarnya terkena imbasnya. Para karyawan yang duduk di sana terlihat gugup saat menyantap makanan mereka. Lirikan mereka yang sesekali mengarah kepadanya, jelas memperlihatkan siapa yang menjadi penyebab mereka bersikap demikian.
Ia harus mengakui bahwa Celine gadis dan pemimpin yang baik. Sikapnya yang ramah membuat orang nyaman berada di dekatnya. Tidak heran ada saja orang yang loyal kepadanya. Bandingkan dengan dirinya, adakah di antara anak buahnya yang benar-benar loyal padanya?
Tiba-tiba ia teringat seorang yang loyal bahkan bisa dibilang fans fanatik Celine. Siapa lagi kalau bukan Si Gadis Kucing. Tanpa sadar Darrell tersenyum. Pantas saja gadis itu membela Celine mati-matian. Jika sikap Celine saja sudah begini kepada orang yang tidak terlalu dekat ataupun berbeda status dengannya, apalagi sikapnya terhadap para sahabatnya? Tidak heran Si Gadis Kucing jadi tergila-gila.
Ia tiba-tiba tertegun menyadari satu hal lagi yang mungkin terjadi ke depannya. Bagaimana sikap Si Gadis Kucing pada Cecilia jika ia akhirnya berhasil menggeser Celine? Padahal mereka baru saja berbaikan.
__ADS_1
Ia teringat wajah sendu Cecilia yang menyiratkan kepedihan saat ia mengetahui kalau ia tidak diajak teman-temannya pergi ke mal, dan bagaimana mereka melengos begitu saja seolah mereka tidak saling kenal. Ia juga teringat bagaimana kekasihnya berusaha menahan tangis bahagia ketika melihat ketiga temannya hadir di pesta pertunangan mereka.
Cecilia memang tidak mengadukan apapun padanya. Gadis itu memilih menahannya sendiri. Mungkin Cecilia tidak ingin membebaninya dan ingin menjaga perasaannya.
Namun ... bagaimana dengan dirinya? Apakah ia ingin menjaga perasaan gadis itu? Atau dia bersikap seperti sebelumnya saja dengan pura-pura tidak tahu? Toh sejak awal ia sudah memaparkan segenap konsekuensi yang harus Cecilia tanggung jika memilih dirinya, kan?
Jadi, apakah dirinya akan membiarkan kekasihnya terpuruk lagi karena persahabatan yang kembali meruncing? Kalau melihat gaya Rebecca, hal itu sangat mungkin terjadi. Ia masih mengingat dengan jelas ucapan ketus gadis itu di hari pertunangannya. Dengan tegas Rebecca menggunakan kata 'berdua' yang menandakan Cecilia pun akan terkena imbasnya (liat eps 172 - Pertunangan Darrell 2 ).
Darrell tersenyum getir menertawakan dirinya. Ia menyadari betapa egois dan pengecutnya dirinya. Ia membiarkan Cecilia berkorban demi dirinya dengan dalih hal tersebut merupakan pilihan gadis itu sendiri.
Namun sebagai laki-laki, apa yang sesungguhnya sudah ia berikan dan korbankan untuk gadis itu? Tidak ada! Ia hanya membuai Cecilia dengan sikap dan kata-kata manis.
Sebaliknya, yang ia sudah lakukan adalah mencatut nama keluarga gadis itu untuk kepentingannya sendiri. Di presentasinya yang ia persiapkan hari ini pun, nama keluarga gadis itu sudah ia libatkan. Bagaimana ia akan melebarkan sayap perusahaan sampai ke kota B, tempat di mana keluarga kekasihnya memiliki nama besar dan kekuasaan. Hal itu semata-mata ia lakukan untuk membuat para pemegang saham semakin meyakininya.
Sejujurnya, sepadankah apa yang sudah ia berikan dengan yang sudah ia terima dari Cecilia? Adilkah? Inikah hubungan yang ia inginkan? Hubungan yang hanya berdasarkan pertimbangan untung-rugi?
Hatinya nyeri. Andaikan ia memiliki keberanian lebih untuk menentang ayahnya. Andaikan ia memiliki keberanian lebih untuk memilih takdir dan hidupnya sendiri. Mungkinkah keadaan akan lebih baik? Mungkinkah tidak banyak orang yang akan terluka?
Sesungguhnya ia terlalu takut untuk kembali ke kehidupannya di masa lalu, di mana ia belum mengenal ayahnya dan hidup dengan penuh kekurangan. Ia takut jika ia mengecewakan ayahnya, ia akan dibuang.
Tiba-tiba Darrell tertegun. Benarkah? Sepicik itukah ayahnya? Benarkah ayahnya tega membuangnya? Bukankah selama ini hanya ayahnya yang mengasihinya? Tidak pernah sekalipun ayahnya melukai hatinya semenjak mereka diperkenalkan sebagai ayah-anak oleh ibunya. Mengapa ia meragukan cinta ayahnya kepadanya?
Darrell mengepalkan tangannya, mengatupkan rahangnya, dan menggertakkan giginya. Segera ia bereskan makanannya meskipun masih ada yang tersisa di piringnya. Ia harus bertindak selagi ia memiliki keberanian dan sebelum keputusannya berubah.
__ADS_1
Dengan tergesa, Darrell beranjak berdiri dan membawa nampannya ke tempat nampan. Ia tidak peduli walaupun tindakannya menarik perhatian orang di kantin, termasuk Celine. Di kepalanya hanya ada satu tujuan, menemui ayahnya.
...****************...