Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Hari sebelum Acara Pemberkatan


__ADS_3

Hari Jumat, setelah makan malam, keluarga Wijaya menaiki mobil untuk pergi ke gereja sesuai dengan kesepakatan. Setelah mendapat konfirmasi dari Cindy mengenai waktu pertemuan di Rabu malam, gantian James yang melakukan konfirmasi pada orang tuanya. Semuanya berjalan lancar sesuai perkiraan.


Pukul 18.50 mereka sudah sampai di gereja. Mereka harus menunggu sebentar karena ruang ibadah masih cukup ramai. Sepertinya ibadah Persekutuan Kaum Wanita sudah selesai, hanya saja kaum ibu masih bersilaturahmi bertegur sapa satu sama lain.


Tak lama pendeta Lukas keluar dari ruangan tersebut dan menemui mereka. Mereka diajak masuk dan duduk dulu sambil menunggu keluarga Cindy yang belum tiba.


Sampai akhirnya perlahan ruang tersebut menjadi sepi dan tinggal 2-3 orang ibu saja yang masih hilir mudik entah mengurus apa. Saat itu, Cindy tiba diikuti oleh kedua orang tuanya.


Mereka juga dipersilakan masuk oleh pendeta Lukas dan diajak duduk di kursi yang bersebelahan dengan keluarga Wijaya. Dalam diam keluarga Prawira mengambil posisi di kursi masing-masing.


Mata Nyonya Prawira melirik dengan tatapan ketus ke kursi di sebelahnya. "Oh .... Ini toh orang tua dari guru b*jat yang menodaimu? Tau cara didik anak ga sih?" sindirnya.


"Mama!" Cindy sontak menegur Ibunya.


James dan Papa Heru hanya bisa tertunduk menahan perasaan. Hanya Mama Ratna yang masih memberanikan diri menengadahkan wajahnya dan balas menatap Nyonya Prawira. "Kami memang masih kurang pengalaman dalam mendidik anak. Mungkin kapan-kapan Ibu bisa membagikan pengalaman Ibu untuk menambah wawasan saya?" katanya sambil tersenyum.


Mendengar balasan seperti itu, Nyonya Prawira membuang muka sambil menggerutu. Entah kata-kata apa yang ia ucapkan, keluarga Wijaya tidak mau tahu.


Tak lama kemudian, Pendeta Lukas muncul dan langsung mengambil posisi di hadapan mereka. "Selamat malam Bapak, Ibu, Saudara-saudari dalam Kristus. Kalau lah boleh saya membuka sedikit alasan kita berada di sini, adalah untuk mengajak Saudara-saudari membuka lembaran baru dalam Tuhan.


Kejadian ini memang diawali dengan kepahitan dan luka. Tetapi saat ini, baiklah kita sama-sama mengubur hal yang telah lalu dan mendoakan kebahagiaan kedua anak muda ini. Karena pernikahan bukanlah pernikahan antara 2 orang, melainkan 2 keluarga. Dan tidak ada yang lebih baik daripada mengusahakan sebuah keluarga yang rukun dan damai. Bagaimana? Apakah kita setuju?" ujarnya membuka pertemuan sambil tersenyum damai.


Kedua keluarga menjawab dengan terpaksa, lebih seperti bergumam, "Setujuuuu ...." Sangat terlihat ada ketidakikhlasan pada jawaban mereka.


Pendeta Lukas yang melihat dan mendengar sikap dan cara menjawab seperti itu, hanya bisa tersenyum penuh pengertian. Membuka lembaran baru memang sulit, tidak semudah mengucapkannya. Bayang-bayang masa lalu pasti selalu menghantui selama ingatan masih ada. Tetapi ia cukup puas, setidaknya kedua keluarga ini sudah berusaha menjawab.


"Pada pertemuan kali ini saya akan memberi pengarahan tentang acara pemberkatan. Awalnya kedua mempelai dan keluarga berbaris di depan pintu ruang ibadah untuk menjalani prosesi masuk.


Urutan paling depan barisan adalah orang tua mempelai pria, diikuti orang tua mempelai wanita, lalu kedua mempelai, baru keluarga. Setelah itu kedua mempelai akan duduk di kursi pengantin yang ada di area depan, sedangkan keluarga akan duduk di barisan depan pada kursi jemaat.


Kemudian, akan ada ibadah singkat. Seperti biasa, kita akan memuji Tuhan lalu mendengarkan Firman Tuhan. Baru kemudian kita akan melaksanakan pelayanan pemberkatan nikah. Sudah hafal janji nikahnya?" Pendeta Lukas bertanya pada James dan Cindy.


"Sudah, Pak." Keduanya menjawab dengan singkat.


"Baguslah kalau begitu. Jadi, apa kita perlu berdiri dan berlatih sejenak? Atau pengarahan tadi dirasa sudah cukup?" tanyanya kepada kedua keluarga yang hadir.


"Saya rasa sudah jelas dari pengarahan Pak Pendeta. Tidak perlu latihan berbaris segala. Nanti pada hari H-nya, ada pembawa acara yang memimpin ibadah, kan?" tanya Tuan Prawira.


"Ada, Pak. Nanti ada pemimpin ibadah yang mengarahkan acara. Kita tinggal mengikutinya saja. Alasan saya mengumpulkan keluarga lebih dahulu, agar tidak bingung saat acaranya berlangsung nanti. Karena tidak semua diarahkan pemimpin ibadah dari atas mimbar, contohnya seperti urutan barisan ketika prosesi masuk ataupun tempat duduk keluarga mempelai, " jawab Pendeta Lukas.


"Ya. Saya mengerti. Dari keluarga kami, sudah cukup jelas, Pak, " ujar Tuan Prawira.


"Bagaimana dengan Keluarga Wijaya?" tanya Pendeta Lukas menghadap Papa Heru.


"Kami pun sudah cukup jelas, " jawab Papa Heru mewakili keluarganya.


"Baiklah kalau begitu. Jadi untuk besok, diharapkan pukul 9.30 segenap mempelai dan keluarga sudah hadir di gereja yah. Nak James, jangan sampai lupa cincin nikahnya besok dibawa, " ujar Pendeta Lukas mengingatkan.


"Iya, Pak, " jawab James.


"Baiklah. Untuk acara pemberkatan besok sepertinya sudah cukup siap. Apakah ada lagi yang ingin ditanyakan?" tanya Pendeta Lukas.


"Tidak ada, Pak Pendeta, " jawab Tuan Prawira.

__ADS_1


"Kami juga tidak ada, Pak, " sambung Papa Heru.


"Baiklah. Bagaimana dengan persiapan hati? Sudah siap juga?" Pendeta Lukas lanjut bertanya.


"Sudahhh ...." Semua menjawab hampir bersamaan dengan raut wajah yang tidak sesuai dengan jawabannya. Tidak ada wajah penuh sukacita atau antusiasme seperti yang umumnya terjadi pada pasangan atau keluarga yang akan melangsungkan pernikahan besoknya.


Kembali Pendeta Lukas menghela napas secara perlahan. Ia memang tidak bisa berharap terlalu banyak pada keluarga yang terpaksa mengadakan acara pernikahan seperti ini. Mereka sudah setuju mengikuti setiap tahapan saja sudah menunjukkan kesungguhan mereka. Ia hanya bisa berdoa agar segala sesuatunya berjalan dengan baik di dalam kedaulatan Tuhan.


"Baiklah kalau begitu, kita akan akhiri pertemuan malam ini. Sebelum kita berpisah satu sama lain, baiklah kita bangkit berdiri dan berdoa, " ajak Pendeta Lukas.


Segenap anggota keluarga pun berdiri. Mereka kemudian berdoa dipimpin oleh pendeta Lukas. Setelah doa ditutup, kedua keluarga ini pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat.


...****************...


Dalam perjalanan pulang, keluarga Wijaya menghabiskan waktu dalam diam. Sampai tiba di rumah, papa Heru langsung masuk kamar mandi untuk bersih-bersih. Setelah itu, ia masuk ke kamarnya dan tidak keluar lagi.


"Ma, Papa masih marah yah?" tanya James.


Mama Ratna hanya bisa tersenyum pilu sambil mengelus kepala anaknya yang lebih tinggi darinya.


"Papa masih belum bisa mengikhlaskan sepenuhnya, Nak .... Apalagi setelah peristiwa tadi, harga dirinya kembali tersinggung. Beri waktu yah ..." bujuk Mamanya lembut.


James terdiam. Ia sangat mengerti karakter papanya yang memang agak pendiam dan cenderung menahan perasaan di dalam hati.


"Abang dan keluarganya sudah dikasih tahu kan, Ma?" tanya James kemudian.


"Sudah. Besok jam 9 pagi, dia bilang sudah akan ada di sini agar bisa berangkat sama-sama ke gereja, " jawab Mama Ratna.


"Bagaimana dengan Celine?" tanya James ragu-ragu.


Mama Ratna menghela napas. Berat rasanya menjawab pertanyaan yang satu ini. "Sudah Mama ceritakan semuanya beberapa hari yang lalu. Termasuk acara pemberkatanmu besok, " jawabnya.


"Terus? Bagaimana responnya, Ma? Apa katanya?" tanya James penasaran dan penuh kekhawatiran.


"Jujur .... Saat bercerita, Mama ga tega .... Karena itu Mama menangis saat menjelaskan apa yang terjadi padamu. Ternyata anak itu ikut menangis. Dia tidak mengatakan apapun selain 'Jangan menangis, Ma .... Jangan menangis .... Mama ga salah, jangan menangis ....' Begitu katanya, James ..." lapor Mamanya.


Gantian James yang menghela napas. Begitulah Celine. Ia bisa membayangkan adegan itu dengan jelas seolah ia bisa melihat sendiri kejadian itu.


Anak itu pasti lebih mengedepankan perasaan mamanya daripada perasaannya sendiri. Celine pasti menyembunyikan perasaannya dan memendamnya rapat-rapat di hatinya. James hanya bisa berdoa semoga Celine kuat menerimanya dan nantinya bisa berbahagia dengan laki-laki lain yang lebih baik dari dirinya.


"Jadi .... Apakah dia besok akan datang?" tanya James lagi.


"Mama ga tau. Mama ga tanya itu, James. Tapi sepertinya tidak. Hari Sabtu biasanya saja ia baru mengunjungi kita dengan penerbangan sore, kan? Apalagi besok? Untuk menghadari acara pemberkatanmu yang menghancurkan hatinya? Mama ga yakin, " jawab Mamanya sedih.


James pun terdiam. Ya, mungkin memang lebih baik Celine jangan datang. Ia sendiri tidak yakin harus pasang tampang bagaimana jika melihat Celine. Mereka butuh waktu untuk menata hati masing-masing.


"Ya sudahlah, Ma .... Ayo kita tidur. Besok masih mau bangun pagi. Mama mau dianterin ke salon, kan?" tanya James mengalihkan fokus pembicaraan.


"Iya, Nak. Ayo kita istirahat. Besok adalah hari yang padat dan berat, " jawab Mamanya dalam kesenduan.


...****************...


Malam itu, bukan hanya dua keluarga yang bertemu untuk membahas sesuatu. Ada empat orang gadis yang juga mengadakan pertemuan jarak jauh dengan menggunakan gadget masing-masing.

__ADS_1


"Jadi bagaimana dengan besok? Kita akan hadir di acara pemberkatan pak James?" tanya Priscillia yang menjadi inisiator Video Call malam ini.


"Kalo aku jadi! Aku masih ingin menemui ular betina itu!" jawab Rebecca.


"Kalau aku di sana, aku juga bakal ikut! Aku ga rela menerima keadaan ini begini aja! Walaupun ga mungkin menghancurkan acaranya, minimal aku masih ingin meneror Si Cindy itu! Wakilkan aku ya, Bec!" tambah Cecilia yang masih berada di luar negeri.


"Siap, bestie !" jawab Rebecca terhadap permintaan Cecilia.


Hanya tinggal Priscillia dan Sharon yang belum berpendapat.


"Sejujurnya ... menurutku ... kedatangan kita akan percuma sih. Kalaupun kita menemui Cindy lagi dan menerornya, lalu apa yang terjadi? Kalau ia tetap bersikeras melanjutkan pernikahan ini, kita bisa apa? Apakah kamu akan merusak acaranya, Bec? Atau sebaliknya, kamu bisa menerimanya dan berbalik mengucapkan selamat dengan tulus kepada pak James dan Cindy?" tanya Sharon.


"Ga bakal bisa aku ngucapin selamat ke mereka berdua. Lebih mungkin kurusak acaranya sih ..." jawab Rebecca.


"Tapi ini bakal seperti 2 sisi mata pedang, Bec .... Tindakan kita yang terlalu ikut campur, bisa merugikan diri sendiri, bahkan pak James yang sesungguhnya ingin kita tolong, " terang Sharon.


Keadaan jadi hening sejenak. Semuanya terpaksa mengakui kebenaran dalam ucapan Sharon.


"Pris .... Menurutmu gimana?" tanya Rebecca dengan putus asa. Hanya Priscillia temannya yang dia akui paling bijak dan bisa diandalkan dalam situasi serba salah seperti ini.


Priscillia masih terdiam dan tampak berpikir keras. Tak berapa lama ia pun akhirnya membuka mulutnya, "Benar kata Sharon, kita harus hati-hati dalam memperhitungkan kemungkinan. Jika kita salah langkah, keadaan malah bisa berbalik merugikan kita. Kita malah bisa merusak nama baik sekolah. Jangan lupa, kita mewakili yayasan!"


"Jadi ... menurutmu ... kita harus menyerah?" tanya Rebecca dengan lemas.


"Menurut kalian, berapa persen kita memenangkan kasus ini?" tanya Priscillia masih dengan posisi berpikirnya.


"Tergantung apa definisi dari 'memenangkan'nya. Kalau tujuan kita menangguhkan acara pemberkatan, menurutku tingkat keberhasilan bisa mencapai 80%. Tetapi kalau sampai menang di pengadilan, mungkin hanya sekitar 40-50%, " jawab Sharon.


"Oke. Kuganti pertanyaannya. Berapa persen kita yakin kalau Cindy berbohong?" tanya Priscillia lagi.


"70-80%, " jawab Sharon.


"90% berdasarkan cerita kalian!" jawab Cecilia.


"1000% yakin pake cap jempol!" imbuh Rebecca.


Priscillia tersenyum mendengar jawaban teman-temannya. "Baiklah. Ini menurut pendapatku. Tolong bantu koreksi kalau aku salah. Kalau kita masih mau menerornya, buatku itu tidak masalah. Ada gunanya atau tidak, tetap lebih baik mencoba. Tetapi, kalau membuat keributan untuk merusak acaranya, jawabannya jelas tidak! Karena dapat merusak citra sekolah.


Aku mengajak kita bertaruh. Kadang di suatu acara pernikahan akan ditanyakan adakah pihak yang berkeberatan atau tidak. Jika pendeta menanyakan tersebut, kita akan ambil kesempatan itu dengan alasan menemukan sesuatu yang mencurigakan pada Cindy.


Setidaknya itu bisa membuat suatu keadaan yang memaksa Cindy untuk menjalani pemeriksaan. Sama seperti kalian, menurut pendapatku sikap Cindy yang menolak usul pemeriksaan kemarin sangat mencurigakan dan membuatku yakin bahwa ia berbohong.


Tetapi kalau kesempatan itu tidak ada, anggaplah memang takdir pak James untuk menikah dengan Cindy. Karena percuma menentang takdir, jika langit pun tidak memihak pada kita. Bagaimana? Kalian setuju?" Priscillia balik bertanya.


"Setuju! Aku mengerti jalan pikiranmu. Dengan demikian, yang dikhawatirkan pak James pun tidak terjadi, kan? Karena bukan beliau yang berkeberatan dengan pernikahan ini. Selain itu, kita tetap menjaga nama baik sekolah karena yang kita inginkan adalah penegakkan kebenaran. Kalau pihak Cindy dapat membuktikan kalau mereka benar, ya kita tinggal minta maaf karena sudah menunda acara, " tambah Cecilia.


"Aku juga setuju. Aku percaya adanya takdir dan tidak ada yang namanya kebetulan. Karena sebagai manusia, kita harus mengakui ada kuasa absolut yang tidak bisa ditentang oleh manusia, " timpal Sharon.


"Setuju! Apapun yang bisa kita lakuin buat menangkap ekor Si Ular, pasti aku dukung!" Rebecca tidak mau kalah.


Mereka pun tertawa puas mendengar kesimpulan pembicaraan mereka. Karena malam semakin larut, pembicaraan pun mereka hentikan demi menyambut esok hari dengan tubuh yang segar.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2