Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Persidangan di Sekolah


__ADS_3

Hari Senin pagi, James berangkat ke sekolah seperti biasa karena kegiatan belajar mengajar untuk siswi kelas X dan XI masih diadakan. Tetapi kali ini ia datang bukan untuk mengajar, melainkan untuk diminta pertanggungjawaban perihal kejadian yang terjadi di acara kamping kemarin.


Orang tua Cindy menuntut pihak sekolah untuk turut bertanggung jawab atas peristiwa tersebut, karena kejadiannya terjadi manakala acara sekolah diselenggarakan. Karena itu lah pagi ini, pihak-pihak yang bersangkutan langsung diminta datang ke sekolah untuk diminta keterangannya dan dicari solusinya bersama secara kekeluargaan.


"Permisi ..." kata James memasuki ruangan kepala sekolah.


"Silakan duduk, Pak James." Bu Kepsek mempersilakan James duduk.


Di sofa yang berada di ruang kepsek tersebut, sudah duduk Cindy diapit kedua orang tuanya, Pak Roy, dan guru pengawas kelompok Cindy di acara kamping.


Cindy tampak tertunduk dan terlihat ketakutan. Tidak seperti biasanya, kali ini ia tidak melihat James sama sekali.


"Jadi ini guru yang bernama James?" tanya Tuan Prawira, ayah Cindy.


"Iya, Pak, " sahut Bu Kepsek menjawab pertanyaannya.


Belum sempat James duduk, Tuan Prawira sudah bangkit dari tempat duduknya dan melayangkan sebuah tonjokan ke pipi James, yang membuat James jatuh dengan sudut bibir berdarah.


"Papa!!!" teriak Cindy langsung menuju ke arah James, berusaha melindungi gurunya agar tidak lagi terkena sasaran pukulan ayahnya.


Sedangkan Bu Kepsek dan Pak Roy berusaha menenangkan ayah Cindy yang sudah terlihat kalap. "Sabar, Pak .... Sabar .... Kita coba bicarakan pelan-pelan ..." kata mereka hampir bersamaan.


"Bagaimana bisa sabar?!! Ayah mana yang bisa sabar menerima, ketika putrinya izin pergi mengikuti acara sekolah, sekarang pulang sudah dalam keadaaan ternodai??!! Lebih parah lagi pelakunya adalah guru sekolah tersebut!! Coba!! Katakan pada saya, ayah mana?!!!" Tuan Prawira berseru dalam kemarahannya.


"Cindy sudah bilang ke Papa, Pak James ga sadar, Pa! Pak James mabuk! Dan itu gara-gara Cindy juga, yang menawarkan coklat brandy oleh-oleh teman Papa itu ke Pak James!" bela Cindy.


"Bisa-bisanya kamu masih membela orang yang menodaimu!!" seru Tuan Prawira tak habis pikir dengan kelakuan anaknya.


"Alasan saja! Mana ada orang yang makan coklat kecil begitu saja bisa mabuk? Memang dari awal akhlaknya saja yang harus dipertanyakan. Kalau laki-laki sudah tinggal berdua saja dengan wanita di tempat sepi, mana mungkin tidak memanfaatkan kesempatan memuaskan nafsunya?!" Mama Cindy menyindir James.


"Mohon Bapak dan Ibu sabar sedikit. Jangan main hakim sendiri. Boleh kita bicarakan satu-persatu agar jelas duduk perkaranya? Karena pihak sekolah belum mengerti betul kejadiannya, " ujar Bu Kepsek berusaha mengendalikan situasi.


Kedua orang tua Cindy pun berusaha menahan emosi mereka. Tuan Prawira segera kembali ke tempat duduknya.


"Pak James bisa bangkit dan duduk agar kita bisa mulai pembicaraannya?" tanya Bu Kepsek.


"Bisa, Bu, " jawab James sambil mengusap darah di ujung bibirnya. Sedangkan Cindy mencoba membantu James bangkit, kemudian memilih duduk di samping James.


Setelah semua duduk dan keadaan cukup tenang, Bu Kepsek memulai pembicaraannya. "Mungkin kita bisa mulai dari Bu Lani? Boleh diceritakan kejadiannya, Bu?" tanyanya kepada guru pengawas kelompok Cindy.


"Baik, Bu, " jawab Bu Lani pendek.

__ADS_1


Ia pun mulai menceritakan kejadiannya. Diawali dari sekitar jam 3 sore, di mana Cindy meminta izinnya untuk pergi ke air terjun bersama anak-anak IPA dan belum kembali sampai jam 5 lewat. Sampai akhirnya ia mendapat kabar bahwa hanya anak-anak IPA yang bersamanya yang kembali, sedangkan Cindy sendiri entah menghilang ke mana.


Pencarian pribadi dilakukan dengan membagi menjadi beberapa kelompok, karena bagian pengawas pegunungan dan perkemahan menolak melakukan pencarian saat itu juga dengan alasan hari mulai gelap. Dan akhirnya Wendy sahabat Cindy yang tergabung dalam kelompok Pak James lah, yang melapor kepadanya bahwa Cindy sudah ditemukan, walau pak Jamesnya sendiri tidak kembali bersamanya.


Rupanya Cindy terjatuh ke area curam seperti tebing. Dan entah bagaimana kejadiannya, pak James mengalami hal yang serupa sehingga tanpa disengaja dapat menemukan Cindy.


Karena hari sudah gelap sempurna dan turun hujan, Wendy bercerita kalau pak James menyuruhnya kembali lebih dahulu dan melapor kepadanya agar menghentikan pencarian demi alasan keamanan. Pak James juga berpesan agar mereka kembali untuk menolong ia dan Cindy besok pagi saja.


"Karena kami percaya pada perkataan pak James, kami baru kembali ke tempat itu esok harinya. Tanpa disangka begitu kami berhasil turun ke bawah dengan tali pengaman, Cindy langsung menangis memeluk saya dan mengadu bahwa Pak James telah menodainya." Bu Lani mengakhiri ceritanya.


"Br*ngs*k!! Guru bi*dab!! Rupanya memang kamu telah merencanakan untuk melampiaskan nafsumu malam itu! Kenapa kalau sudah ketemu tidak langsung ditolong saja?! Alasan saja bilang demi keamanan!!" tuding Tuan Prawira pada James.


James hanya bisa terdiam mendengar tudingan itu. Sesuatu yang dilakukannya dengan tujuan baik, sekarang diragukan dan disalahartikan.


"Tenang, Pak! Jangan dipotong dulu. Biarkan masing-masing berbicara lebih dahulu agar semuanya terbuka di sini, " kata Bu Kepsek kepada Tuan Prawira.


Karena Tuan Prawira diam, Bu Kepsek melanjutkan pernyataannya, "Mungkin Pak Roy mau menambahkan?"


"Seperti yang diceritakan Bu Lani, kami kembali ke tempat yang ditunjuk Wendy keesokan paginya. Melihat Cindy yang sudah menangis, Bu Lani dan Wendy segera menenangkan Cindy. Sedangkan saya pribadi, masuk ke ceruk batu yang dikatakan Cindy tempat mereka berdua berteduh semalam. Di sana saya mendapati pak James masih tertidur dengan celana yang ... maaf ... sudah merosot sebagian, " cerita Pak Roy.


Mendengar itu, Nyonya Prawira menangis tersedu-sedu, sedangkan Tuan Prawira mengetatkan rahangnya. Ingin rasanya ia kembali melayangkan pukulan ke guru bi*dab itu. Keterangan dari pak Roy semakin memperjelas apa yang terjadi pada Cindy.


"Seperti yang saya katakan tadi, Bu.... Setelah kami menemukan ceruk untuk berteduh, kami kelaparan. Maklumlah, kami belum sempat makan malam. Saya pun teringat kalau saya membawa coklat brandy di tas pinggang saya. Rencananya coklat itu akan saya pamerkan dan bagikan ke teman-teman. Coklat itu lah yang saya tawarkan ke pak James untuk mengganjal perut. Saya tidak tau kalau pak James tidak tahan alkohol, " ujar Cindy.


"Kamu tertipu, Nak! Itu hanya akal-akalannya saja!" seru Nyonya Prawira di tengah-tengah isak tangisnya.


"Tidak, Ma .... Pak James beneran mabuk! Cindy kan bisa bedain orang mabuk beneran atau pura-pura! Sama kayak papa yang mabuk kalau habis minum sama teman-temannya! Muka pak James merah kayak kepiting rebus. Ngomongnya uda ngawur kayak orang ngelindur. Pokoknya Cindy yakin itu bukan sesuatu yang direncanakan pak James!" ujar Cindy kembali membela James.


Mendengar itu, kembali orang tua Cindy terdiam. Bu Kepsek menghela napasnya.


"Bukan maksud membela guru kami, Pak, Bu. Tetapi sepanjang bekerja di sini, pak James memang tidak pernah bermasalah. Bahkan bisa dibilang ia guru yang baik dan disukai murid. Mungkin kejadian ini murni terjadi di luar kesadarannya, " ujar Bu Kepsek ikut membela James.


"Dari Pak James sendiri, mungkin mau mengatakan sesuatu sebagai pembelaan?" Bu Kepsek melanjutkan pembicaraannya.


"Tidak ada, Bu. Saya tidak akan membela diri, karena sejujurnya saya tidak ingat sama sekali kejadiannya. Saya sungguh mabuk. Saya memang tidak kuat dengan alkohol. Untuk bagian itu, terserah Bapak-Ibu sekalian mau percaya atau tidak, " ujar James.


"Karena kamu tidak mengelak, berarti kamu siap jika diminta untuk bertanggung jawab?" Tuan Prawira bertanya pada James.


"Ya. Selagi saya bisa melakukannya, Pak, " jawab James.


"Baiklah! Saya minta kamu nikahi Cindy. Saya tidak mungkin menjodohkannya dengan kondisinya yang tidak lagi suci. Hal itu bisa mendatangkan aib bagi keluarga kami. Kamu setuju?" tanya Tuan Prawira lagi.

__ADS_1


James hanya bisa menelan kenyataan pahit yang terpampang di depannya. Dengan berat hati seperti diiris sembilu, James berkata, "Ya, Pak. Saya akan menikahi Cindy. Tetapi mohon izin, bolehkah saya melakukannya sesuai dengan keyakinan saya sebagai seorang Nasrani?"


"Terserah saja. Keluarga kami tidak fanatik pada agama tertentu. Yang penting Cindy setuju. Jadi gimana, kamu bersedia dinikahkan dengan pak James sesuai keyakinannya, Cin?" tanya Sang Ayah kepada putrinya.


"Iya, Pa .... Cindy menurut saja, " jawab Cindy dengan kepala tertunduk.


"Tentu saja dia bersedia bertanggung jawab! Jangan-jangan memang itu tujuannya, menaikkan status dari guru miskin menjadi menantu seorang pengusaha!" nyinyir Ibunda Cindy.


James hanya bisa pasrah menerima tuduhan yang diarahkan padanya. Sepicik itu kah pandangan orang kaya terhadap seseorang dengan status yang lebih rendah darinya? Seluruh pikiran yang penuh prasangka negatif dihujamkan padanya, seolah ia tidak ada baik-baiknya.


"Tidak, Ma! Pak James sudah punya kekasih seorang direktur! Jadi ia tidak punya motivasi seperti yang Mama tuduhkan padanya." Kembali Cindy membela pak James.


"Direktur? Mana mungkin? Itu hanya bualannya saja! Bisa-bisanya kamu senaif itu, Cindy?! Sesudah kamu mengalami hal seperti ini, kamu masih saja membela guru b*jat itu?!!" Nyonya Prawira menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Terserah lah kamu mau jujur atau bohong tentang kekasih direkturmu itu. Yang saya ingin tanyakan, bagaimana nanti hubunganmu dengan dia? Karena saya tidak mau Cindy menderita karena diduakan. Tidak ada ayah yang menikahkan putrinya tanpa memastikan kebahagiaannya, " ujar Tuan Prawira.


Kembali James menelan ludahnya. Ia terpaksa mengatakan sesuatu yang tersirat pun tidak pernah dalam pikirannya.


"Saya mengerti, Pak. Saya akan putuskan hubungan saya dengannya, " ujar James penuh kepahitan.


Tuan Prawira terdiam. Sedikit-banyak ia mulai menghargai pemuda di depannya. Sepertinya pemuda ini memang pemuda yang lurus, yang sayangnya tidak menyadari apa yang dilakukannya saat mabuk. Dan untuk peristiwa ini, bisa jadi memang murni kecelakaan di mana pemuda ini pun tidak tahu bahwa dirinya akan mabuk karena coklat.


"Baiklah. Sepertinya sudah disepakati jalan keluarnya yah, Pak, Bu. Seperti janji kami, kami akan kawal masalah ini sampai selesai sebagai bukti tanggung jawab kami. Jadi nanti kami tinggal tunggu kabar dari Pak James kapan pelaksanaan pernikahannya, begitu?" tanya Bu Kepsek berusaha menyimpulkan pembicaraan.


"Iya, Bu. Nanti saya kabari. Saya akan bicarakan dahulu dengan pendeta saya, " jawab James.


"Jangan terlalu lama! Saya takut jangan-jangan Cindy hamil gara-gara kejadian ini dan anaknya jadi anak haram!" seru Nyonya Prawira.


"Saya usahakan secepatnya, Bu. Ibu dan Bapak boleh simpan nomor kontak saya jika takut saya melarikan diri dari tanggung jawab, " kata James pada orang tua Cindy.


"Nomor HP mah bisa dibuang dan diganti kapan saja!" sindir Nyonya Prawira.


"Kami akan bantu mengawasi pak James agar tidak lepas tanggung jawab, Bu. Dan berkenaan dengan itu, mohon maaf Pak James .... Demi nama baik sekolah, Bapak kami rumahkan dahulu. Mulai besok, Bapak tidak perlu mengajar lagi. Tetapi kehadiran Bapak tetap saya tunggu untuk tindak lanjut penyelesaian kasus ini. Begitu yah, Pak?" tanya Bu Kepsek lebih untuk menegaskan keputusannya pada James.


"Iya, Bu. Saya mengerti, " ucap James dengan kepala tertunduk.


Ibu Kepala Sekolah hanya bisa menghela napas melihat James. Jujur, ada rasa kasihan melihat nasib pemuda itu. Tetapi, mau bagamana lagi? Walaupun hal itu dilakukannya tanpa sadar, ia tetap harus bertanggung jawab terhadap apa yang sudah dilakukannya.


Demikianlah pembicaraan pagi itu diakhiri dengan keputusan sementara yang sudah dibuat. Keluarga Prawira pun izin pamit meninggalkan sekolah. Begitu pula dengan James. Ia dipersilakan meninggalkan sekolah dalam kurun waktu entah sampai kapan baru ia boleh kembali untuk mengajar.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2