
Kembali lagi ke peristiwa yang terjadi sekarang ini.
"Saya akan ke sana, Mbok. Kabari saya kalo ada kabar selanjutnya." Demikian kalimat terakhir James sebelum menutup telepon.
Setelah itu, hal pertama yang James lakukan adalah melihat saldo tabungannya. Syukurlah! Walaupun pas-pasan, masih cukup untuk beli tiket pesawat pulang-pergi, ia membatin.
Tadinya, ia berencana meminjam uang dari orang tuanya untuk membeli tiket bila tabungannya tidak mencukupi. Tetapi untungnya ternyata ia tidak perlu melibatkan orang tuanya.
Dengan kecepatan tinggi, ia segera memasukkan peralatan yang dibutuhkan untuk menginap ke ranselnya dan memesan taksi online dengan tujuan ke bandara. Setelah itu, ia menggendong ransel dan keluar dari kamarnya.
Melihat anaknya yang kembali berpenampilan seperti bolang, tentu saja menarik perhatian Mama Ratna. Belum lagi gaya James yang seperti sedang dikejar sesuatu.
"Mau ke mana, James? Buru-buru amat, " tanyanya.
"Mau ke tempat Celine, Ma .... Mau kejar pesawat. Uda pesan taksi, tinggal tunggu taksinya datang, " jawab James seadanya. Ia memang tidak ingin memberitahukan kejadian yang menimpa Celine kepada ibunya, sebelum memastikan sendiri bagaimana keadaan Celine. Ia tidak ingin membuat mamanya kepikiran. Apalagi ia tahu, hubungan mamanya dan Celine cukup dekat.
Tetapi intuisi seorang ibu memang tidak bisa diremehkan. Melihat wajah James yang sedikit pucat dan gelisah, Mama Ratna kembali bertanya dengan nada menyidik, "Ga ada kejadian apa-apa di antara kalian, kan?"
"Ga ada, Ma .... Semua baik-baik aja. James cuma rindu sama Celine, jadi pengen cepet ketemu dan menyelesaikan masalah, " katanya mencoba tersenyum bodoh dan bersikap santai. Toh, tidak sepenuhnya ia berbohong, kan? Lagipula, ada pepatah yang mengatakan ucapan adalah doa, dan inilah yang sedang ia lakukan.
Tak lama, sebuah mobil biru berhenti di depan pagar rumah. "Ma, taksinya uda sampe. James pergi dulu yah .... Nanti tolong pamitin ke papa kalo papa uda pulang ..." ujar James sebelum meninggalkan rumah.
Mama Ratna sejenak terdiam, seolah mencoba menyelisik lewat ekspresi James. Namun setelah itu, ia hanya menghela napasnya dan berkata, "Ya sudah. Hati-hati yah .... Doa Mama selalu beserta kalian."
"Amin. James pergi dulu yah, Ma ...."
Taksi pun meninggalkan kediaman Wijaya.
...****************...
Sepanjang perjalanan menjadi suatu penyiksaan bagi James. Baru kali ini ia merasakan waktu bergerak dengan sangat lambat, yang terasa seperti menggerus separuh hidupnya. Rasa cemas, gelisah, khawatir, takut, menderanya begitu rupa.
Apalagi dalam penerbangan yang harus dilalui selama kira-kira satu setengah jam, di mana HP harus dinonaktifkan. Hal ini membuat kabar dari Mbok Yani tentang Celine dapat dipastikan tidak akan datang. Akibatnya, James harus berjuang mengusir pemikiran-pemikiran negatif yang menghantuinya hanya bermodalkan kekuatan iman.
Tidak! Celine tidak apa-apa. Celine pasti baik-baik saja. Tuhan pasti masih memberi dirinya kesempatan. Bukan begitu? Masakan kami dipisahkan dengan perpisahan abadi dalam kondisi kami masih bermusuhan seperti ini? Memang, suatu saat manusia pasti akan dijemput maut ... tapi ... kalau boleh ... jangan dengan kondisi seperti ini, God .... Berikan aku kesempatan untuk memperbaikinya.
__ADS_1
Lagipula ... masakan Tuhan begitu kejam mengambil kakak dan adik dengan cara yang sama? Tidak! Tuhan pasti jaga Celine, kan?
Aku salah, Tuhan .... Aku salah karena tidak memberinya kesempatan menjelaskan! Aku salah karena membuang-buang waktu dimana seharusnya aku bisa memperbaiki keadaan! Tolong Tuhan .... Beri aku kesempatan .... Jaga Celine. Jangan dulu bawa dia ke sisiMu ... jerit James dalam doanya yang terus menerus ia lantunkan dalam hatinya.
Ternyata sedikit banyak, peristiwa kecelakaan yang menimpa Dion cukup membekas dalam dirinya. Peristiwa kehilangan seseorang yang hadir secara alami dalam kehidupan, yang terkadang kita tidak terlalu menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang berharga saking terlalu terbiasanya. Dan kita baru merasa kehilangan ketika orang tersebut tidak ada lagi di sekitar kita.
Atau peristiwa yang mengingatkan kita tentang maut yang bisa datang kapan saja tanpa memberi aba-aba. Terkadang kita lalai, karena merasa kesempatan dan waktu kita masih panjang. Kita jadi suka membuang-buang waktu atau menunda-nunda untuk melakukan sesuatu yang seharusnya kita lakukan.
Dan inilah yang James rasakan sekarang. Ia hanya bisa menggantungkan harapannya pada kasih karunia Ilahi. Berharap ia masih diberikan kesempatan.
Sebuah kelegaan sedikit menyusup di hatinya ketika ia keluar dari pesawat. Ia langsung mengaktifkan HP-nya dengan harapan ada kabar baik yang akan dikirimkan oleh Mbok Yani mengenai Celine. Namun sayang, kabar yang ditunggunya tidak ada.
Dengan taksi bandara, James melanjutkan perjalanan ke rumah Celine. Dikuatkannya hatinya untuk menerima kabar apapun yang mungkin terjadi pada Celine pascatabrakan mobil tersebut.
Namun selain bersiap untuk pasrah, ia juga tidak memadamkan harapannya dan terus memanjatkan doa pada Sang Pencipta. Semoga Celine tak apa-apa dan semoga ia masih diberi kesempatan, itu saja harapannya.
Taksi pun tiba di depan kediaman Adipratama. Setelah membayar taksi, James berkata pada Si Sopir, "Pak, boleh tunggu sebentar? Siapa tau saya masih membutuhkan Bapak untuk melanjutkan perjalanan. Jadi saya ga perlu cari taksi lain lagi. Bisa?"
"Bisa. Asal jangan lama-lama yah, Pak ..." jawab Sang Sopir.
Seperti biasa, Mbok Yani dengan tergopoh-gopoh langsung keluar dari rumah dan menyambut James. "Nak James ..." sapanya begitu ia berada di dekat James.
"Mbok, Celine di mana? Bagaimana keadaannya?" tanya James tanpa basa-basi.
"Nona masih ada di RS A. Keadaannya ... keadaannya ...." Mbok Yani tampak kesulitan untuk menceritakannya.
James sedikit kalut melihat sikap Mbok Yani. Tetapi ia berusaha tetap tegar. "Ya sudah, jangan dipaksa kalo Mbok sulit mengatakannya. Saya langsung ke sana saja untuk menemui Celine. Permisi yah, Mbok ...." James pamit.
"I- iya, Nak ..." sahut Mbok Yani.
Taksi pun langsung melanjutkan perjalanannya ke RS. A, meninggalkan Mbok Yani yang memandangi kepergian James dengan kekhawatiran dan rasa bersalah.
...****************...
Setelah membayar taksi, dengan sedikit berlari James memasuki RS. Ia baru menyadari kebodohannya kalau ia lupa menanyakan Mbok Yani di mana Celine dirawat. Tetapi tanpa menyerah James menuju ke lobby, dan bertanya di bagian customer care.
__ADS_1
"Permisi, Mbak .... Pasien bernama Celine Adipratama dirawat di ruang mana yah? Ia masuk sekitar 2 jam yang lalu karena kecelakaan, " tanyanya pada seorang wanita yang bertugas di sana.
"Sebentar yah, Pak ...." Wanita itu mulai mengetikkan sesuatu di komputer.
"Atas nama siapa tadi? Boleh dieja?" tanyanya lagi.
"Celine Adipratama. Celine C-E-L-I-N-E. Adipratamanya penulisan biasa dan disambung, " jawab James.
Tak lama kemudian, wanita itu melaporkan hasil pencariannya. "Tak ada pasien yang bernama Celine Adipratama dirawat di sini, Pak."
James terdiam. Kebingungan mulai melandanya. "Ini RS. A, kan?" tanyanya memastikan kalau ia tidak salah tempat.
"Iya, benar." Wanita itu menjawab dengan singkat.
"Apakah di kota ini ada RS. A yang lain?" tanya James lagi.
"Tidak ada, Pak. Hanya ada satu RS. A di kota ini."
"Kalau begitu, bisa tolong diperiksa nama pasien yang terdaftar di UGD? Mungkin saja Celine masih mendapat perawatan atau pemeriksaan di sana dan belum masuk ruang bangsal, " kata James mencoba mencari kemungkinan. Di sini ia bersyukur dengan pekerjaan barunya. Sedikit banyak ia jadi mengetahui jalur pendaftaran dan pelayanan pasien di RS.
"Semua komputer kami terhubung dengan sistem informasi RS. Jadi, semua informasi dari tiap unit dapat kami periksa di sini, Pak. Dan nama pasien yang Bapak sebutkan tadi juga tidak terdaftar di UGD kami, " kata wanita itu tetap menjelaskan dengan ramah.
Melihat raut wajah James yang bingung dan seakan tidak percaya dengan informasi yang diberikannya, membuat wanita itu tersenyum dan melanjutkan perkataannya. "Lagipula, apakah nama Adipratama yang Bapak sebutkan tadi, sama dengan nama keluarga Adipratama yang merupakan keluarga ternama di kota ini?"
"Ya, betul! Celine adalah anggota keluarga Adipratama yang itu!" jawab James dengan bersemangat, berharap mendapatkan petunjuk yang bisa membuatnya keluar dari keadaan yang membingungkan ini.
"Apalagi kalau ada anggota keluarga Adipratama yang dirawat di sini, masakan kami bisa tidak tahu, Pak!" katanya sambil menahan senyum, mengajak James berpikir logis.
James terdiam menyadari kebenaran kata-kata wanita itu. Suatu keanehan besar jika RS tidak mengetahui jika salah satu anggota keluarga Adipratama yang terkenal itu dirawat di sini.
Hanya ada satu kemungkinan lain yang bisa terjadi. Peristiwa kecelakaan Celine terpaksa disembunyikan oleh pihak RS sesuai permintaan, untuk menghindari pemberitaan media yang mungkin bisa merugikan perusahaan. Apalagi Celine adalah calon pewaris perusahaan.
Tetapi, melihat sikap petugas customer care tersebut, sepertinya ia benar-benar tidak tahu kalau Celine benar dirawat di sini. Apakah keadaan Celine hanya diketahui oleh petinggi-petinggi RS saking harus dijaga kerahasiaannya? Kalau itu yang terjadi, bagaimana ia bisa mencari tahu keadaan Celine?
Celine, sebenarnya kamu di mana? Keadaanmu gimana? Baik-baik kah ? James hanya dapat menjerit dalam hatinya. Keputusasaan, kebingungan, dan kekhawatiran yang dari tadi melanda dirinya, sudah hampir mencapai puncaknya. Ia sudah tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan agar dapat bertemu dan mengetahui keadaan Celine.
__ADS_1
...****************...