Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Mabuk


__ADS_3

Esok harinya, James sengaja untuk berangkat kerja lebih awal untuk menghindari Celine. Jujur, ia takut mendengar keputusan yang akan Celine ambil. Hatinya belum siap.


Di sekolah, semua berlangsung seperti biasa sampai kegiatan belajar mengajar berakhir. Setelah bel berbunyi, Pak Joseph yang sudah kembali ke tempat duduknya di ruang guru, mengajak James bicara.


"Pak, habis pulang kerja ini, ada acara?" tanyanya.


"Tak ada. Kenapa, Pak?" James balik bertanya.


"Ada hal yang mengganggu pikiran saya dan saya butuh orang untuk saya tanyakan pendapatnya. Saya hanya terpikir Pak James. Mungkin Bapak bersedia menolong saya? Kita bicarakan di luar area sekolah saja, biar santai. Bapak bisa?"


"Bisa saja," jawab James pendek.


"Terima kasih, Pak James," ujar Pak Joseph.


"Sama-sama, Pak, " balas James.


...****************...


James dibawa ke sebuah kafe oleh Pak Joseph. Mereka lalu masuk dan duduk di salah satu kursi kosong yang ada di sana.


"Ini kafe milik teman saya, Pak James. Sudah pernah ke sini?" tanya Pak Joseph.


"Belum. Saya jarang nongkrong di kafe, " jawab James apa adanya.


"Kafenya memang sederhana, tapi menunya cukup lengkap, makanannya enak, dan yang penting ramah di kantong, Pak!" kata Pak Joseph mempromosikan kafe temannya.


"Hai, bro !"


James dan Pak Joseph menengok ke arah suara tersebut. Nampak seorang lelaki dengan badan yang cukup kekar menyapa mereka.


"Hai!" Pak Joseph membalas sapaannya.


"Kenalin, bro, ini Pak James, teman kerjaku. Pak James, ini temanku, pemilik kafe ini." Pak Joseph memperkenalkan mereka berdua.


"Eddy," sapa lelaki itu sambil mengulurkan tangannya.


"James," balas James menyambut uluran tangannya.


"Jadi, bro, ada menu recommended ga?" tanya Pak Joseph sambil nyengir ke temannya.


"Ada dong! Kami punya menu koktail baru yang kadar alkoholnya rendah. Rasanya enak dan menyegarkan. Makanya jadi minuman favorit di sini. Mau coba?" tawar Pak Eddy.


"Pak James gimana? Mau coba? Mungkin mau ganti suasana dengan mencoba sesuatu yang baru?" Pak Joseph menanyakan pendapat James.


James ragu. Ia tahu dirinya tidak tahan dengan alkohol. Ia pernah mabuk hanya karena minum segelas bir saat SMU dulu. Dan semenjak itu, ia tidak pernah lagi menyentuh alkohol.


Tapi dengan kondisinya yang sedang galau seperti ini, tawaran itu terdengar cukup menggiurkan. Toh kadar alkoholnya rendah, kan? Siapa tau dengan mencoba sesuatu yang baru, dapat mengubah suasana hati. Begitu pikirnya.


"Sepertinya menarik. Boleh juga, " putus James.


"Oke! Pesan 2 ya, Ed! Sekalian bawa snacks juga buat gigit-gigit!" pesan Pak Joseph kepada temannya.


"Siap, bro ! Harap ditunggu yah ...." Kemudian Pak Eddy pun segera pergi.


"Jadi, Pak Joseph .... Apa yang mau ditanyakan?" tanya James memulai percakapan.

__ADS_1


Seolah kembali diajak melihat realita, raut wajah Pak Joseph yang ceria saat bertemu Pak Eddy tadi hilang seketika. Ia kembali diingatkan dengan tujuan utamanya hingga ada di sini.


"Saya ... saya merasa kehilangan diri saya, Pak," katanya dengan kepala tertunduk.


"Saya pernah cerita ke Bapak kan, kalau saya selama ini lebih mengusahakan dilakukannya praktik olahraga outdoor daripada indoor karena sayang sinar matahari disia-siakan? Tapi semenjak kejadian Priscillia, saya jadi bingung menentukan materi olahraga saya, Pak. Saya merasa tidak adil untuknya kalau saya cenderung memilih praktik outdoor daripada indoor." Pak Joseph menceritakan isi hatinya.


"Kalau Bapak merasa tidak adil, diselang-seling saja, " saran James pendek.


"Iya. Saya sudah terpikirkan solusi itu. Tapi tetap saja, kalau memikirkan praktik olahraga outdoor, saya jadi bingung bagaimana harus bersikap pada anak itu. Memikirkan dia hanya di kelas 2 jam menunggu teman-temannya yang lain berolahraga, rasanya tidak adil untuknya. Tapi, tidak mungkin menyuruhnya turun ke lapangan dengan penyakitnya itu."


James tertegun, lalu berkata, "Pak Joseph kasihan pada Priscillia? Atau masih trauma karena kejadian sebelumnya?"


"Entahlah kalau dibilang trauma. Mungkin juga, setelah melihat langsung apa yang terjadi dengannya. Kalau saya mencoba berpikir di posisinya, saya pasti juga merasa tidak adil."


"Saran saya, lebih baik Bapak hentikan pola pikir seperti itu. Jangan membuat Priscillia merasa perlu dikasihani atau menyesali keadaannya. Saya rasa, Priscillia sedang belajar menerima dirinya sendiri. Kalaupun ia harus berdiam di kelas karena tidak bisa praktik olahraga, saya rasa dia cukup bisa berbesar hati. Jadi, Pak Joseph bersikap seperti biasa saja."


Mendengar ucapan James, Pak Joseph terdiam. Ia menyadari kebenaran kata-kata James. Ia tahu teorinya, tapi sulit untuk dipraktikkan. Ia menyadari betapa dirinya mati kutu jika berhadapan dengan Priscillia.


Ia tidak tahu bagaimana harus bersikap. Antara gemas dan geram, karena dirinya masih menjadi target perpeloncoan Geng Princess. Tetapi ada juga kasihan, mungkin juga trauma. Setiap melihat Priscillia, ia selalu terbayang kembali bagaimana keadaan dan rupa Priscillia saat anak itu pingsan. Ia jadi merasa serba salah.


Saat itu, pesanan mereka tiba. Tanpa banyak bicara, Pak Joseph langsung mengambil salah satu minuman yang tersaji di depannya.


"Minum, Pak!" katanya pada James dan langsung menenggaknya sebelum James sempat menjawab.


James yang melihat perilaku Pak Joseph hanya bisa terdiam. Terlihat bahwa guru di depannya ini sedang banyak pikiran. Mungkin banyak hal di dalam hatinya yang belum bisa ia ungkapkan.


Tapi James tidak berniat mencari tahu lebih lanjut. Toh keadaannya saat ini tidak jauh berbeda. Karena itu, James hanya bisa melakukan hal yang serupa. Ia ikut mengambil gelas yang tersisa lalu menenggaknya.


...****************...


Waktu menunjukkan hampir pukul lima sore. Mama Ratna dan Papa Heru sudah siap untuk meninggalkan rumah.


"Iya. Gapapa, Ma. Toh bentar lagi Bang James atau Bang Alex mungkin pulang kan?" jawab Celine sambil tersenyum.


"Iya. Tadi James telepon, katanya cuma mau bincang-bincang sebentar sama temannya setelah pulang kerja. Harusnya bentar lagi juga pulang. Kalau Alex, Mama ga tau, Lin. Bisa bentar lagi, bisa juga malam baru pulang. Yang jelas, kami baru bisa kembali agak larut malam yah. Maklum, rumah tante Linda agak di luar kota. Kami mau jenguk, karena kabarnya sakit."


"Iya. Mama fokus aja sama tante Linda. Celine bisa jaga rumah sendiri kok. Celine kan sudah besar." Kembali Celine meyakinkan Mama Ratna dengan senyuman termanisnya.


Melihat itu, Mama Ratna dan Papa Heru tersenyum. Mereka memang sedikit khawatir karena kali ini untuk pertama kalinya Celine dibiarkan sendiri di rumah. Tapi kondisi Celine jelas sudah jauh berbeda dibandingkan dulu. Mungkin memang sudah waktunya Celine diberi kepercayaan lebih.


"Ya sudah. Kami pergi yah .... Jaga rumah baik-baik, " sahut Papa Heru sambil mengelus kepala Celine.


"Telepon kalau ada apa-apa ya, Lin! Jangan lupa kunci pintu! Makanan sudah Mama siapkan di meja makan yah ...." pesan Mama Ratna sekali lagi.


"Iya, Ma, Pa. Hati-hati di jalan!" jawab Celine. Tak lama kemudian, mobil pun melaju meninggalkan Celine sendirian di rumah.


...****************...


Dua jam sudah berlalu. Malam sudah datang. Tapi James ataupun Alex belum ada yang pulang. Celine mulai merasa ketakutan. Dinyalakannya TV untuk mengalihkan pikiran dan mengusir kesunyian yang ia rasakan.


Tidak lama kemudian, terdengar suara mobil di depan rumah. Celine segera berlari untuk mengintip dari balik tirai. Ternyata sebuah mobil merah yang tidak dikenalnya berhenti di depan pagar. Dari kursi belakang mobil, keluar seorang pria yang juga tidak dikenalnya.


"Permisiiii ..." kata pria itu menghadap ke dalam rumahnya.


Celine tidak berani menjawab. Ia hanya terdiam sambil mengamati situasi dari balik tirai. Tangannya yang menggenggam tirai mulai berkeringat. Ia takut.

__ADS_1


"Permisiii .... Apakah ada orang di rumah?!!! Saya temannya Pak James, mengantarkan Pak James pulang ..." seru pria itu lagi.


Mendengar nama James disebut, Celine segera keluar dari persembunyiannya dan menghadap pria tersebut.


"Bang James? Bang James mana? Bang James kenapa?" Celine yang khawatir langsung mencecar pria tersebut dengan pertanyaan.


Pria di depannya itu tersenyum melihat sikap Celine. "Tenang, Nona. Bang James-nya masih ada di kursi belakang. Ia baik-baik saja. Boleh Nona bukakan pintunya dulu, biar saya bisa langsung mengangkatnya masuk ke rumah?"


Celine masih terdiam dengan muka ragu. Pria itu bisa membaca gelagat Celine.


"Saya bukan orang jahat. Saya temannya Pak James. Nama saya, Joseph. Kami mengajar di sekolah yang sama." Pria itu memperkenalkan dirinya.


Celine masih terdiam dengan mata penuh selidik. Lalu ia kembali membuka mulutnya, "Bang James kenapa?"


"Dia mabuk. Sekarang lagi tertidur di kursi belakang. Saya ga menyangka ada orang yang serentan itu dengan alkohol," kata Pak Joseph sambil tertawa kecut, mengingat perjuangannya membawa James sampai ke tempat ini.


"Maaf, Nona. Bisa tolong segera dibukakan pintunya? Ini taksi online soalnya. Saya ga enak sama sopirnya kalo lama-lama, " pinta Pak Joseph lagi.


Dengan terpaksa dan sikap penuh waspada, Celine membukakan pintu. Pria itu langsung kembali masuk ke kursi belakang. Dan tak lama kemudian ia membopong James keluar dari sana.


"Terima kasih ya, Pak!" kata Pria itu pada Sang Sopir. Tak lama, sopir pun segera melaju meninggalkan penumpangnya yang sudah turun dari mobilnya.


Pak Joseph langsung membawa James masuk.


"Tolong tunjukkan kamarnya. Jangan lupa tutup dulu pintu depan," katanya pada Celine.


Celine segera melakukan apa yang dikatakan pria itu. Setelah menutup pintu depan, ia segera berlari mendahului Pak Joseph dan mengarahkannya ke kamar James. "Di sini, Pak!"


Celine membukakan pintu kamar James. Setelah itu, Pak Joseph masuk dan membaringkan James ke salah satu ranjang yang ada di sana. Kemudian, ia membukakan sepatu yang James kenakan. Terlihat ia melakukan hal itu sambil mengatur napasnya yang agak memburu setelah membopong James.


Melihat itu, Celine segera membawakan minuman untuk pria tersebut dan mengarahkannya ke kursi di ruang tamu, "Duduk dan minum dulu, Pak!"


Pak Joseph lalu duduk dan meminum air putih yang diberikan Celine sambil melihat sekeliling. "Kamu sendirian di rumah?"


Celine terdiam dan dengan berat hati mengangguk.


"Ya sudah. Saya segera pergi. Jaga rumah baik-baik! Titip Pak James yah ..." kata Pak Joseph sambil bangkit dari tempat duduknya. Ia mengerti situasi yang dihadapi gadis itu sekarang. Betapa tidak nyamannya berdua saja dengan pria asing di rumahnya sendiri. Karena itu, dengan penuh kesadaran, ia segera pamit.


Celine mengangguk dan mengantar pria itu ke luar rumah. Sebelum pria itu pergi, Celine menyempatkan diri berkata, "Te- terima kasih, Pak. Maaf sudah merepotkan."


Pria itu hanya tertawa dan berkata, "Santai saja. Nanti kalo Pak James sadar, bilang padanya, jangan coba-coba minum alkohol lagi. Saya permisi yah .... Jangan lupa kunci lagi pintunya!"


Lalu Pak Joseph pun pergi meninggalkan Celine. Celine kembali masuk ke rumah dan mengunci pintu. Lalu ia ke ruang tamu untuk membereskan gelas bekas minum Pak Joseph tadi. Dan tiba-tiba ia mendengar namanya dipanggil oleh James.


"Lin ...."


"Iya, Bang James .... Sebentar ..." serunya sambil buru-buru menaruh gelas ke tempat cuci piring yang ada di dapur.


Betapa kagetnya Celine ketika ia berbalik James sudah ada di depannya. Muka James merah, begitu pula dengan matanya. Berdirinya pun masih tidak stabil.


"Bang James duduk dulu yuk. Nanti jatuh," kata Celine yang cemas melihat James terbangun dengan kondisi seperti itu. Ia segera mendekati James dengan tujuan mau menyanggah James agar jangan sampai terjatuh.


Tetapi kembali Celine dikejutkan karena tiba-tiba James memeluk dan mendekapnya erat.


"Lin .... Jangan pergi .... Jangan tinggalin Bang James, Lin .... Bang James sayang sama Celine. Bang James cinta sama Celine ..." kata James di tengah ketidaksadarannya.

__ADS_1


Mendengar itu, Celine hanya bisa terdiam dan membatu di pelukan James.


...****************...


__ADS_2