
Hari ini James menghadap Kepala Sekolah untuk meminta izin membawa Celine melihat-lihat sekolah. James memang menunggu perpeloncoan terhadap dirinya reda dulu, supaya Celine tidak melihat dirinya dalam kondisi menjadi bulan-bulanan di sekolah.
Dengan mudah, James mendapatkan izin tersebut. Hanya saja, Celine diizinkan masuk setelah jam pelajaran selesai.
Tentu saja hal ini disambut baik oleh James. Setelah sampai di rumah, James segera menyampaikannya pada Mama dan Celine.
"Izin sudah didapat. Jadi Celine kapan mau ke sana? Biar Mama antar. Besok?" tanya Mama Ratna pada Celine.
Celine tampak tegang sambil memegang dadanya yang berdebar.
"Santai aja. Sampai Celine siap. Jangan dipaksa. Sekolahnya ga lari, kok," ujar James mencoba menenangkan Celine dengan mengajak bercanda.
"Gapapa. Besok aja," putus Celine.
Melihat itu, Mama Ratna dan James tersenyum tipis. Mereka melihat Celine benar-benar berusaha menggapai apa yang ia inginkan, untuk lebih berani menghadapi orang. Suatu langkah awal mempersiapkan diri dalam menapaki masa depannya.
"Oke. Besok Mama antar. Tapi nanti Celine pulangnya bareng James yah ..." ucap Mama Ratna sambil mengelus kepala Celine.
"Iya," jawab Celine singkat.
"James, HP-mu harus stand by yah .... Jadi, kalau kami sudah di depan sekolah, Mama akan kabari. Nanti kamu jemput Celine di gerbang," ucap Mama Ratna lagi, tapi kali ini kepada James.
"Siap, bos!" kata James sambil memberi hormat bak tentara militer.
Pembicaraan pun diakhiri. Masing-masing menantikan datangnya hari esok dengan semangat di hati.
...****************...
Hari esok tiba. Semenjak pelajaran keenam, James sudah bolak-balik melihat HP dan jam tangannya. Ia ikut tegang menantikan kedatangan Celine ke sekolah.
Sampai akhirnya terdengar bunyi bel tanda kegiatan belajar mengajar berakhir. Tak lama kemudian, HP-nya pun ikut berbunyi. Ada sebuah pesan singkat dari mamanya yang mengatakan mereka sudah di depan gerbang sekolah. James segera menuju keluar dengan hati berdebar.
Di gerbang, James melihat mamanya dan Celine sedang menunggu dirinya. Celine terlihat manis dengan kemeja biru dan rok putih yang dikenakannya.
"Nah, James sudah datang. Titip Celine ya, James. Mama tinggal yah .... Celine harus semangat dan berani! Santai aja, anggap aja jalan-jalan biasa. Oke?" Mama Ratna menyampaikan pesan-pesannya sambil mengecup pipi Celine.
"Iya, Ma." Celine menjawab dengan senyum tipis di wajah. Ia tidak bisa menyembunyikan ketegangannya.
"Aman, Ma. Tenang aja. Bang James siap sedia di samping Tuan Putri." James menjawab Mama Ratna sambil menepuk dadanya.
Mama Ratna tersenyum mendengar jawaban James dan Celine. Tak lama kemudian, ia pun meninggalkan lokasi.
"Yuk, Lin." James mengajak Celine masuk sambil menggandeng tangannya.
James lalu melapor pada security, bahwa ia sudah diberi izin Kepsek untuk membawa orang luar masuk ke dalam area sekolah. Tanpa banyak tanya, security pun mengizinkan James dan Celine masuk.
"Celine mau liat-liat apa dulu?" tanya James.
"Terserah Bang James aja," jawab Celine yang masih agak takut-takut. Matanya melihat ke sekeliling seperti sedang memindai sesuatu yang mungkin bisa menjadi ancaman bagi dirinya.
"Oke. Satu-satu kita jelajahi yah .... Anggap aja seperti sedang berpetualang ke negeri antah berantah," ucap James sambil nyengir.
Melihat sikap James yang mencoba mengajaknya bercanda, Celine tersenyum. Ia tahu James sedang berusaha membuatnya santai. Tapi rasa gugup itu tidak kunjung hilang, malah bertambah.
Celine menyadari bahwa semenjak memasuki area parkir, banyak pasang mata dari siswi-siswi yang memperhatikannya. Bahkan ada yang langsung berbisik atau cekikikan kepada teman di sebelahnya, setelah melihat mereka berdua.
"Jangan dipedulikan, Lin. Mereka biasa gitu kalo liat orang baru. Bang James dulu waktu pertama kali masuk sini pas wawancara, juga digituin. Cuekin aja!" sahut James yang tahu apa yang membuat Celine makin gugup.
Celine mencoba mengikuti saran James dengan lebih memfokuskan diri menikmati pemandangan di area sekolah tersebut. Ia melihat beberapa lapangan olahraga, memasuki lorong dan atrium, sampai melihat-lihat kelas, perpustakaan, dan ruang lab.
Suasana sekolah masih tergolong ramai. Terlihat beberapa grup siswi yang sepertinya sedang berjalan menuju pintu keluar atau area parkir sambil mengobrol atau bercanda. Banyak juga siswi yang masih mengikuti kegiatan ekskulnya di masing-masing bidang, yang terlihat di tempat-tempat yang mereka lewati.
Beberapa di antaranya ada yang menyapa James atau sekedar menganggukkan kepala ketika mata mereka bertemu. James pun membalas perlakuan mereka dengan ramah.
Sampai akhirnya mereka tiba di ruang BK. Dengan bangga James memamerkan ruang kerjanya itu pada Celine.
"Nah ... ini ruang BK, Lin. Singgasana Bang James ada di sini nih..." kata James sambil duduk di kursi kebesarannya.
Celine melihat tingkah James sambil tersenyum simpul. Ia lalu melabuhkan pandangannya mengelilingi ruangan tersebut, "Iya, Bang James membuka persidangan di sini yah ...."
"Bukan sidang aja sih. Konsultasi juga," tambah James.
__ADS_1
"Hmm ...." Celine merespons perkataan James hanya dengan gumaman. Matanya masih asyik menjelajahi ruangan yang tergolong kecil itu.
James membiarkan Celine menikmati pemantauannya. Setelah puas melihat-lihat, Celine lalu membuka gorden dan membiarkan matahari masuk lewat jendela. Kemudian ia menikmati pemandangan sekolah dari lantai 2. (noted: ruang BK terletak di lantai 2. Jendelanya menghadap ke arah lapangan tenis dan basket, tempat James kesambit bola - eps 46).
James tersenyum melihat Celine yang seolah menikmati waktu pribadinya. Celine terlihat nyaman berada di sini. Mungkin karena ini ruang pribadi James, sehingga ia merasa lebih leluasa bereksplorasi. Atau mungkin juga karena lantai 2 yang mulai sepi, karena banyak siswi yang sudah meninggalkan sekolah.
Entah berapa lama waktu berlalu, sampai akhirnya Celine kembali menutup jendela dan gordennya ke posisi semula. Setelah itu, ia menghampiri James.
"Sudah?" tanya James sambil tersenyum.
"Sudah," jawab Celine.
"Habis ini mau ke mana?"
"Terserah Bang James."
"Mau liat-liat kantin? Sambil cari makanan dan minuman buat iseng-iseng?" usul James sambil nyengir.
"Gas!" Celine menjawab dengan senyum manis.
Lalu mereka pun meninggalkan ruangan tersebut dan kembali menyusuri lorong-lorong sekolah.
Di tengah jalan ketika mereka mau berpindah gedung, mereka berpapasan dengan Geng Princess yang datang dari arah sebaliknya.
"Heiiii, halo, Pak!" sapa Rebecca. Priscillia dan yang lain hanya menganggukkan kepala untuk menyapa James.
"Hai, hei, hai, hei! Ngomong sama siapa kamu, Rebecca?! Sopan dikit kalo bicara sama guru!" tegur James.
"Eh .... Siapa ini, Pak?" tanya Rebecca tanpa memedulikan teguran James.
Sontak Priscillia, Cecilia, dan Sharon jadi ikut mengarahkan pandangannya ke belakang James.
James yang tadinya berada di depan Celine dan menutupi Celine dari pandangan mereka, segera memundurkan badannya sehingga Celine jadi terlihat.
"Ah, ayo sini, kenalan! Lin, ini Geng Princess. Ini Priscillia, Sharon, Cecilia, dan yang ini Rebecca," kata James sambil memperkenalkan anggota Geng Princess satu persatu pada Celine.
"Haiiii .... Salam kenal ..." sahut mereka berempat hampir bersamaan.
"Dan ini Celine, sepupuku." James melanjutkan perkenalannya.
"Maaf yah, Celine agak pemalu," terang James.
"Gapapa, santai aja ..." kata Priscillia sambil tersenyum ramah pada Celine.
"Kamu sekolah di mana? Apa sedang melihat-lihat sekolah kami sebelum masuk kemari?" tanya Cecilia.
Mendengar pertanyaan itu, Celine tertunduk. James melihat Celine tampak tidak percaya diri menjawab pertanyaan tersebut.
"Karena pemalu, selama ini Celine homeschooling. Sekarang ia sedang melatih diri belajar berani untuk persiapan kuliah nanti," jawab James mewakili Celine.
Priscillia tertegun mendengar keterangan James. "Kamu hebat, berani mengambil langkah untuk mengubah diri dalam mempersiapkan masa depan. Tetap semangat yah!"
"Te-terima kasih!" jawab Celine menanggapi pujian Priscillia.
"Nanti kalau sudah lebih berani dan ingin bersekolah di sini, kamu boleh bergabung bersama kami," undang Sharon.
"Iya, apalagi namamu sudah memenuhi syarat sebagai anggota Geng Princess," sambung Cecilia.
Celine terbengong-bengong tidak mengerti arah pembicaraan mereka. James yang menyadari hal tersebut langsung memberi penjelasan.
"Nama Geng Princess itu diambil dari gabungan huruf konsonan nama mereka, Lin. P dari Priscillia. R dari Rebecca. C dari Cecilia, dan S dari Sharon," jelas James.
"Tapi, Bang .... Huruf depan Celine kan C. Sedangkan tulisan Princess hanya punya 1 huruf C. Gapapa?" tanya Celine.
Mendengar itu, James dan Geng Princess jadi terdiam. Mereka tidak terpikir sampai sana.
"Gapapa. Nanti nama Geng-nya kita ganti jadi Princecess!" celetuk Rebecca ngasal.
"Ogah, ah! Jelek banget! Nanti kita dikira tukang ngeces lagi!" protes Cecilia.
Sontak mereka semua jadi tertawa bersama, termasuk Celine.
__ADS_1
"Kok kalian belum pulang?" tanya James mengganti topik pembicaraan.
"Ini mau pulang, Pak. Tadi menunggu Priscillia selesai ekskul melukis," jawab Rebecca.
"Oh .... Kamu ikut ekskul melukis?" tanya James yang agak terkejut dengan pilihan ekskul Priscillia. Tadi mereka memang belum sempat menyusuri ruang seni.
"Iseng aja, Pak. Ikut ekskul kan wajib," jawab Priscillia santai.
"Hmmm ... Baiklah ..." jawab James yang bingung mau bagaimana menanggapinya.
"Ya sudah, kami pamit ya, Pak! Mau pulang dulu! Yuk, Celine!" kata Priscillia menutup pembicaraan.
"Ya, Silakan. Hati-hati!" jawab James.
"Iya," Celine ikut menanggapi.
"Yuk, Pak, Celine, kami permisi!" kata Sharon dan Cecilia bersamaan.
"Dadah, Celine .... Semoga kita bisa ketemu lagi yah .... Kalo Pak James mah ga usah, besok juga ketemu lagi!" kata Rebecca sambil mulai ngeloyor pergi.
Teman-temannya pun tertawa bersama sambil mengikuti Rebecca. Sebelumnya mereka kembali menganggukkan kepala tanda permisi.
Celine melambaikan tangan dan James menganggukkan kepala, mengantar kepergian Geng Princess. Setelah mereka hampir tidak terlihat lagi, James berkata, "Benar-benar deh Si Rebecca itu. Jangan ditiru ya, Lin!"
Celine tidak menanggapi James. Matanya masih mengarah pada Priscillia dan teman-temannya.
"Lin? Lin ...?" panggil James lagi.
"Eh, Iya, Bang James. Kenapa?" jawab Celine yang baru sadar dipanggil.
"Gapapa. Bang James cuma tanya, jadi kita ke kantinnya?" tanya James.
"Jadi. Yuk, Bang!" ajak Celine sambil melanjutkan langkahnya.
James tahu ada yang Celine pikirkan, sesuatu yang berhubungan dengan Priscillia atau Geng Princess. Tapi saat ini ia memilih membiarkannya dulu.
"Gas!" jawab James. Lalu mereka pun menuju ke kantin sekolah.
...****************...
Malam itu di PKW, Mama Ratna menodong Celine untuk menceritakan pengalamannya tadi di sekolah. James dilarang keras untuk membantu atau mewakili Celine. Mama Ratna ingin mendengar dari mulut Celine sendiri.
Pelan-pelan Celine menceritakan apa yang ia lihat dan ia rasakan. Betapa besarnya sekolah tersebut, fasilitas-fasilitas sekolah yang cukup lengkap, sampai pertemuannya dengan Geng Princess. Semua anggota keluarga Wijaya fokus mendengarkan penuturan Celine.
Setelah Celine selesai bercerita, Papa Heru bertanya pada Celine dengan nada lembut, "Celine sudah mau bersekolah? Tertarik sekolah di sana?"
Semua yang mendengar pertanyaan tersebut agak terkejut, terutama Celine.
"Kalau Celine mau, nanti Papa Mama usahakan," tambah Papa Heru.
"Karena sekolah elit, uang masuk dan uang sekolahnya memang mahal, Lin. Tapi kalau Celine mau, nanti coba Bang James nego sama Kepala Sekolahnya. Mungkin karena Bang James guru di sana, bisa dapat diskon," tambah James.
"Iya, Lin. Kalau masih kurang juga, Bang Alex bisa bantu sisihin gaji juga kok." Alex ikut mendukung usul papanya dan James.
Celine terdiam sambil memperhatikan raut wajah seluruh anggota keluarga Wijaya dengan raut wajah tidak percaya. Mama Ratna langsung merangkul Celine.
"Jangan sungkan .... Celine sudah kami anggap anak kami sendiri," katanya pada Celine.
Celine terdiam cukup lama. Sampai akhirnya ia tersenyum dan menggeleng. "Ga usah Papa, Mama, Bang James, Bang Alex. Terima kasih. Tapi Celine pilih begini dulu."
"Benar kamu maunya begitu?" tanya Mama Ratna sambil menangkupkan kedua tangannya di wajah Celine.
"Iya, Mama," jawab Celine tegas.
Karena Celine sudah memutuskan demikian, seluruh keluarga Wijaya terdiam. Setelah membicarakan beberapa topik lain, PKW malam itu ditutup dan setiap orang masuk ke kamar masing-masing.
Di dalam kamar, ketika sudah berbaring di ranjang masing-masing, Alex bertanya pada James, "James, bokapnya Celine ga ada tanya kabar anaknya atau mungkin kirimin sesuatu untuk biaya hidup atau biaya pendidikan anaknya?"
"Mana ada! Kan emang itu tujuannya, Bang! Biar gua nyerah! Secara dia liat kan waktu itu gua baru mau lulus, jadi dia pikir mana mungkin gua sanggup ngempanin anaknya dan biayain pendidikan anaknya. Apalagi waktu itu kondisi Celine kayak gitu! Asli doski lepas tangan, Bang!" jawab James ketus.
"Ish .... Tega banget yah .... Ada ya orang tua kayak gitu?" celetuk Alex.
__ADS_1
"Emberrr .... Tuh, buktinya ada di sono! Udah, ah! Gua ngantuk! Tidur dulu yah, Bang!" James menutup pembicaraan singkat itu. Ia malas mengingat-ingat Tuan Adipratama dengan sikap arogannya. Itu hanya mencetuskan emosinya saja. Kalau diteruskan, takutnya nanti malah memunculkan mimpi buruk, pikir James.
...****************...