
Tidak terasa satu bulan sudah hampir berlalu, semenjak James terakhir meninggalkan asramanya untuk pergi menjenguk Celine. Sekarang sudah waktunya kembali ke sana untuk menghadiri acara wisudanya dan membereskan barang-barang di asramanya.
Hari ini, satu hari sebelum wisuda, keluarga Wijaya + Celine - Alex (kalimat matematika sekaleee), akan pergi ke kota S dengan mengendarai mobil.
Rencananya, setelah tiba, mereka akan bersama-sama membereskan barang-barang James dan Dion, lalu menyusunnya di mobil. Malamnya mereka akan menginap di hotel, karena akan melelahkan sekali jika mereka harus kembali ke rumah yang berjarak 2 jam dari sini dan harus kembali esok harinya untuk menghadiri acara wisuda.
Untuk persiapan hari ini, Papa Heru dan Mama Ratna sudah mengatur jadwal mengajar mereka jauh hari sebelumnya. Sedangkan Alex, tidak bisa ikut karena pekerjaan kantor yang tidak bisa dialihkan ataupun ditunda.
Dua jam perjalanan sudah mereka lewati, dan sekarang James sudah berdiri di depan pintu kamar asramanya. Ada perasaan mengharu biru, karena bagaimanapun ini bisa jadi terakhir kalinya ia menginjak tempat ini setelah menghabiskan 4 tahun hidupnya di sini.
James memasuki kamarnya, diikuti kedua orang tuanya dan Celine. Setelah duduk dan melihat-lihat sebentar, barulah mereka mulai bekerja. Kardus-kardus kosong mulai disiapkan dan barang-barang mulai dirapikan.
James memilah barang-barang, baik barang miliknya maupun milik Dion. Barang-barang yang mau dibawa, disusunnya di dalam kardus. Sedangkan barang-barang yang tidak berguna, dikumpulkannya untuk dibuang nanti.
__ADS_1
Mama Ratna dan Papa Heru ikut membantu mengepak barang-barang. Kardus yang sudah dipak rapi akan dibawa ke mobil. Sedangkan Celine, hanya menunggu dengan duduk manis di atas salah satu ranjang yang ada di kamar itu. Tanpa ia ketahui, yang ia duduki adalah ranjang yang dulu dipakai almarhum kakaknya.
Dengan situasi yang sudah berkembang menjadi seperti ini, mereka sepakat untuk tidak mengembalikan barang-barang Dion ke rumah keluarga Adipratama, mengingat sikap Tuan Besar Adipratama yang sepertinya masih menyimpan kepahitan pada Dion. Barang-barang itu rencananya akan ditaruh di kamar Celine.
Ukuran kamar yang tidak terlalu besar, dengan kehadiran 4 orang dewasa di dalamnya, serta barang-barang yang sedang dalam proses penataan dan pengepakan, membuat suasana kamar terlihat padat, sesak, dan berantakan. Hampir tidak ada tempat yang dibiarkan kosong di dalam kamar.
Susunan barang terlihat ada di mana-mana, sesuai jenisnya masing-masing. Buku dengan buku, baju dengan baju, dan berbagai susunan barang-barang lain yang tidak termasuk dalam kedua kategori tersebut. Tidak terkecuali ranjang Dion, tempat di mana Celine duduk. Kiri-kanan Celine dipenuhi tumpukan barang-barang Dion.
James memang sengaja mengaturnya demikian untuk memudahkan pengaturan barang saat dipak nanti. Ranjangnya sebagai tempat untuk menata barangnya, sedangkan ranjang Dion sebagai tempat sementara ditumpuknya barang-barang Dion. Lantai sengaja dibiarkan agak longgar agar memudahkan orang berlalu-lalang.
Gerakan kepala Celine yang minimalis ini tidak luput dari perhatian James. "Itu gambar-gambar hasil karya Dion. Celine kenal yah?" katanya.
Celine diam saja sambil terus memperhatikan gambar-gambar itu satu demi satu. Sampai pandangannya terhenti di salah satu gambar dan tanpa sadar tangannya meraih kanvas tersebut.
__ADS_1
"Iya, itu gambar Celine. Dion menggambarnya sebagai karya pertamanya di sini. Bagus yah .... Mirip ga sama Celine, waktu Celine kecil?" kata James lagi, menambahkan keterangannya.
Tiba-tiba sebulir air mata menetes di pipi Celine. Dan tidak lama kemudian, terdengar suara keluar dari bibirnya yang mungil, "Kakak ...."
James tertegun mendengar itu. Begitu juga dengan Papa Heru dan Mama Ratna.
"Kakak ..." katanya lagi.
Seperti awan hitam yang sudah tidak kuat lagi menampung kandungan air di dalamnya, atau seperti tanggul yang sudah tidak kuat lagi menahan tekanan air yang mendesaknya, perasaan Celine tumpah keluar.
Celine menangis tersedu-sedu sampai sekujur tubuhnya bergetar hebat. Air mata mengalir deras di pipinya. Tangannya memeluk kanvas itu erat-erat. Dan mulutnya, terus-menerus mengulang kata yang sama, "kakak".
Semua kegiatan di ruangan itu terhenti. Setiap orang hanya bisa terdiam menyaksikan pemandangan yang memilukan itu. Tanpa sadar Mama Ratna juga ikut meneteskan air matanya.
__ADS_1
...****************...