Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Munculnya Raymond


__ADS_3

Hari Rabu tiba. Karena tugas Priscillia sudah harus dikumpul hari Jumat, sore ini ia sudah kembali berada di rumah Pak James ditemani Sharon. Rebecca tidak ikut karena masih ada kuliah di kampusnya.


Awalnya Priscillia tidak enak hati mengajak Sharon, karena ia tahu sahabatnya ini akan diabaikan sepanjang ia membahas penelitiannya dengan Pak James. Apalagi kali ini tidak ada Rebecca yang ikut menemani, Sharon pasti merasa kesepian.


Tetapi temannya ini juga mengetahui dilema Priscillia yang juga tidak nyaman jika mengunjungi rumah pak James sendirian. Karena itu, dengan besar hati Sharon meyakinkan Priscillia untuk berfokus pada tujuannya. Ia akan mencari kesibukan sendiri selama James dan Priscillia berdiskusi.


Dan hal inilah yang sudah terjadi selama hampir 30 menit ke depan. Priscillia menghabiskan waktu dengan serius membahas tugas bersama Pak James, sedangkan Sharon asyik membaca sebuah buku yang memang sudah dipersiapkannya. Sampai sebuah percakapan di depannya, membuat perhatiannya teralih.


"Yakin, sampai sini aja?" tanya James pada Priscillia.


"Yakin, Pak! Penutupnya bisa saya selesaikan sendiri. Terima kasih banyak atas bantuannya lho, Pak ..." ujar Priscillia dengan penuh rasa syukur.


"Permisiiii ...." Tiba-tiba terdengar suara panggilan dari pintu depan yang membuat ketiga anak muda ini menoleh. Seorang pemuda perlente tampak berdiri di depan pintu pagar rumah James.


Alangkah terkejutnya Priscillia melihat siapa yang datang. Tanpa sadar mulutnya mengucapkan kata yang nyaris seperti desisan. "Kak Raymond ...."


"Kamu kenal?" tanya James kepada Priscillia. Pasalnya ia sendiri merasa tidak pernah melihat pemuda itu.


"Bukan kenal lagi. Dia teman kecil saya. Biarkan saja dia masuk, Pak ..." jawab Priscillia.


Ada keheranan tersendiri di benak James melihat ketidaksesuaian antara ucapan dan raut wajah Priscillia. Bukannya harusnya seseorang akan bahagia jika dikunjungi teman kecilnya? Tetapi raut wajah Priscillia jelas sekali menunjukkan keengganan. Lalu, mengapa pula teman kecil Priscillia harus mencari Priscillia sampai kemari?


Karena James merasa tidak sopan jika membiarkan seseorang menunggu terlalu lama, ia memutuskan menangguhkan rasa penasarannya. "Ya .... Sebentarrr ..." sahutnya dari dalam rumah sambil bangkit berdiri. Priscillia dan Sharon pun ikut bangkit berdiri, namun mereka memilih tetap menunggu di ruang tamu.


Begitu melihat James keluar, pemuda itu langsung berkata lagi, "Saya datang untuk menjemput Priscillia. Apakah Priscillia ada?"


"Ya, ada. Silakan masuk, " kata James sambil membukakan pintu.


Setelah menutup pintu pagar kembali, James lalu mengarahkan pemuda itu menuju ruang tamu. Begitu melihat Priscillia ada di sana, pemuda itu langsung tersenyum manis.


"Maaf, saya terlambat memperkenalkan diri. Nama saya Raymond, tunangan Priscillia." Pemuda itu berkata sambil mengulurkan tangan sebagai tanda perkenalan.


Priscillia melotot. "Bukan tunangan! Hanya teman kecil!" sanggah Priscillia.


Dengan raut muka bingung dengan hubungan kedua orang tersebut, James memutuskan menyambut uluran tangan itu lebih dahulu. "Saya James, mantan guru SMU Priscillia."


"Kami sudah ditunangkan oleh keluarga kami sejak kecil, walaupun memang belum sah karena belum dipestakan secara resmi. Priscillia meminta saya menunggu ia menyelesaikan kuliahnya lebih dahulu," kata pemuda itu lagi menerangkan hubungannya dengan Priscillia, setelah jabatan tangannya dengan James ia lepaskan.


"Kalau belum sah, jangan ngaku-ngaku tunangan!" cetus Priscillia.

__ADS_1


James yang melihat suasana tidak bersahabat itu jadi bingung harus berbuat apa. Begitu pula dengan Sharon.


Namun pemuda yang mengaku bernama Raymond itu tetap tersenyum dengan santai, seolah tidak peduli dengan sikap Priscillia. "Orang tua Priscillia yang mengatakan pada saya bahwa Priscillia sedang ada di rumah Anda untuk mengerjakan tugas kuliahnya. Saya diminta untuk menjemputnya. Apakah tugasnya sudah selesai?" tanyanya lagi.


"Sudah. Baru saja selesai, " jawab James spontan.


"Buat apa dijemput? Mama-Papa tau kalo Priscil bawa mobil didampingi sopir kok. Tuh buktinya!" ujar Priscillia sambil menunjuk Mercedes Benz hitam yang masih terparkir rapi di depan pintu pagar rumah James.


"Untuk memastikan agar kamu pulang jangan kemalaman, Sayang ..." jawab Raymond sambil tersenyum manis pada Priscillia. Sikap dan panggilan penuh cinta dari pria itu sukses membuat Priscillia mencibirkan bibirnya.


"Ya sudah. Karena sudah selesai, boleh saya bawa Priscillia pulang, Pak?" Raymond meminta izin James.


Pemuda itu memang menunjukkan sikap sopan santun yang baik. Panggilannya pada James pun tidak bisa disalahkan. Umurnya memang terlihat lebih muda dibandingkan James. Tetapi entah bagaimana, James merasa Raymond sengaja menunjukkan kemudaannya, sedangkan ia serasa disetarakan dengan om-om.


"Ga usah dibawa pulang! Priscil bisa pulang sendiri! Kita jalan masing-masing! Priscil masih harus mengantar Sharon pulang!" Jawaban Priscillia mengembalikan James ke situasi di hadapannya.


"Pak .... Saya pamit dulu yah. Terima kasih sekali lagi atas bimbingannya selama ini. Maaf sudah banyak merepotkan Bapak ...." Priscillia kembali menunjukkan sikap yang biasanya di hadapan James.


James tersenyum. Ia berusaha mengenyahkan prasangka negatif yang ia rasakan dari pemuda itu. Toh baik Priscillia maupun Raymond sama-sama memanggilnya 'Bapak', kan?


"Gapapa. Santai aja. Saya juga jadi belajar banyak kok ..." balas James.


"Ya, silakan .... Hati-hati di jalan ..." kata James lagi.


Kedua gadis itu juga berniat untuk berpamitan pada Mama Ratna. Tetapi James mengatakan bahwa ia yang akan menyampaikannya, karena mendengar suara dari kamar mandi di belakangnya. Besar Kemungkinan Sang Ibunda sedang berada di dalam.


Setelah menitip salam pada James, Sharon dan Priscillia segera berbalik menuju pintu keluar. Raymond hanya menganggukkan kepala tanda permisi kepada James, lalu mengekori kedua gadis di depannya.


Di depan rumah, terlihat Priscillia dan Sharon memasuki mobil mereka yang terparkir di depan pagar. Sedangkan Raymond agak berjalan sedikit jauh ke ujung jalan, karena sepertinya ia kesulitan mencari tempat parkir di gang perumahan James yang memang tergolong sempit itu.


James hanya menyimpan keanehan itu di dalam hatinya. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan di benak James. Namun ia memutuskan untuk tidak memedulikannya. Toh itu bukan urusannya, kan?


...****************...


"Hello, My Dear .... Sudah selesai tugas penelitiannya?" sambut Mama Priscillia begitu melihat anak perempuannya memasuki rumah.


"Sudah, Ma ..." jawab Priscillia dengan muka muram, namun tetap mengecup pipi Sang Ibunda.


Sambil mengecup, Priscillia mengedarkan pandangan dari balik bahu mamanya. Setelah memastikan bahwa sosok yang dicarinya tidak ada di sana dan hanya ibunya yang ada di ruangan itu, Priscillia mulai melancarkan aksi protesnya.

__ADS_1


"Mama yah yang memberi tahu Kak Raymond kalo Priscil ada di rumah Pak James?" tanyanya dengan nada menuduh.


"Iya, Dear. Tadi Raymond ke sini untuk mengunjungimu, padahal kelihatan sekali dia juga cape baru pulang kerja. Dia rindu padamu, katanya. Karena kasihan, Mama kasih tau aja kamu di mana, biar dia ga usah menahan rindu terlalu lama, " jawab Mamanya tanpa merasa bersalah.


"Tapi kan Priscil bukan sedang main-main, Ma .... Priscil lagi kerjain tugas, lho .... Priscil jadi ga enak sama Pak James tiba-tiba ada orang asing main dateng-dateng aja!" protes Priscillia.


"Kenapa ga enak? Apa Raymond mengganggu pekerjaanmu? Mama rasa sih tidak mungkin yah .... Atau guru itu yang berkeberatan dengan kunjungan Raymond ke rumahnya?" Mama Priscillia balik bertanya.


"Tidak, Ma. Pak James biasa aja. Priscil sendiri yang ga nyaman dengan kehadiran Kak Raymond yang tiba-tiba. Mana dia langsung ngaku-ngaku tunangan di depan Pak James lagi!" gerutu Priscillia.


"So? What's wrong with that, Dear ?"


"Belum tunangan, Ma .... Masih teman kecil!" tukas Priscillia.


"No, Honey .... You are the wrong one here. (arti: Tidak, Sayang .... Yang salah di sini dirimu !) Raymond adalah tunanganmu. Kedua keluarga sudah menyetujuinya dari awal. Kami hanya tinggal menunggu peresmian pestanya saja! Itu pun kami tunda karena menghargai pendapatmu yang ingin fokus dengan kuliahmu dulu! Jadi tolong jangan bersikap begitu pada Raymond! Okay, Baby ?" balas Mama Priscillia mulai menaikkan nadanya.


"Priscil sudah bilang, Priscil ga mau, Ma .... Priscil ga cinta sama dia! Priscil cuma menganggapnya sebagai teman kecil, paling mentok sebagai kakak!" Priscillia mulai merengek.


"Cinta bisa datang belakangan, Dear .... See your mommy and daddy ..." ujar Mama Priscillia mulai menurunkan nadanya dan kembali mencoba membujuk putrinya.


Priscillia mengerutkan keningnya. Ia tahu kalau sudah begini, ia harus diam dan jangan mencoba membantah lagi. Ketika Mamanya sudah menurunkan nada setelah sebelumnya bernada tinggi, justru di situlah titik kritisnya. Jika dibantah lagi, Mamanya bisa meledak dan tiba-tiba merepet seperti petasan renteng.


"Terserah Mama lah .... Pokoknya tolong bilang sama Kak Raymond, jangan ikut campur dengan kehidupan pribadi Priscil! Priscil ga suka kalo dikuntitin ke mana-mana!" kata Priscillia sambil berbalik badan ingin kembali ke kamarnya.


"Hang in there, My Little Girl! Mom's not done yet! (arti: Tunggu dulu, Gadis Kecilku! Mama belum selesai bicara !) Raymond bukan penguntit! Dia berhak untuk melakukannya dan menjagamu dari laki-laki yang tidak jelas!" tegas Mama Priscillia.


"Pak James bukan laki-laki yang tidak jelas. Dia pernah menjadi guru di sekolah kita dan sekarang bekerja sebagai konselor di RSUD! Kalo Mama masih mengaitkan dengan tuduhan yang pernah dikenakan padanya, bukankah sudah dibuktikan kalau itu hanya fitnah?!" bela Priscillia.


"Mama tidak mau melebar ke arah tuduhan yang pernah diberikan kepadanya! Yang Mama tekankan di sini adalah kata PERNAH BEKERJA dengan kita dan sekarang SUDAH TIDAK LAGI! Jadi seharusnya dia sudah tidak ada hubungannya denganmu!


Sekarang berikan alasanmu mengapa kamu masih berhubungan dengan mantan guru yang sudah dipecat?! Jika kamu ingin mencari seorang guru pembimbing, Mama yakin Mama bisa menemukan yang lebih baik dari dia! Mama takut kamu salah langkah dan kembali mengulang KEJADIAN ITU!" jelas Mamanya sambil menekankan beberapa kata yang menurutnya penting.


Priscillia terdiam begitu KEJADIAN ITU mulai dibahas kembali. Ia tidak mau lagi mengingatnya dan tidak mau lagi membicarakannya. Hatinya masih sakit. Dengan segera ia membalikkan badan dan segera berkata, "Priscillia balik dulu ke kamar."


"Yeah .... I hope you can think about my words carefully, Dear ...." (arti: Mama harap kamu bisa merenungkan perkataan Mama baik-baik, Sayang ....)


Priscillia segera memacu langkahnya dan menaiki tangga. Perasaannya tidak karuan. Sedih, marah, kecewa, semuanya tercampur baur di benaknya. Padahal hari ini sudah berjalan dengan begitu baik, mengapa tiba-tiba jadi begini? Hanya satu alasan yang terlintas di otaknya, Semua gara-gara Raymond! Semenjak kedatangannya, semua kacau !


...****************...

__ADS_1


__ADS_2