Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Sebuah Kepercayaan


__ADS_3

Hari Selasa kembali datang. Di waktu istirahat pertama, James sudah mendapat kejutan. Entah dari mana, sebuah kaleng minuman bersoda dengan posisi terbuka lengkap dengan cairan yang masih terkandung di dalamnya, terlempar ke kepala James dari lantai atas, ketika James sedang berjalan melewati atrium sekolah.


Tentu saja selain membuat kepala James agak benjol, minuman itu juga tumpah dan membuat James harus membersihkan diri di kamar mandi guru. Baju ganti James pun dikeluarkan dari tempat penyimpanannya.


Ketika memasuki kelas XI IPA, James tidak mengendurkan kewaspadaannya. Ia tetap melakukan rutinitasnya seperti biasa. Apalagi sekarang ia sudah tidak memiliki stok baju ganti. Ia harus ekstra hati-hati.


Setelah yakin aman, barulah ia memasuki kelas dan mulai mengajar. Materi kali ini bertema Stop Bullying !


Awalnya James menjelaskan arti bullying atau dalam Bahasa Indonesia disebut dengan perundungan. Lalu ia memaparkan jenis-jenisnya beserta contohnya dalam kehidupan sehari-hari, apa yang menyebabkan seseorang melakukan bullying, dampaknya buat Si Korban, dan bagaimana cara mencegah dan melawan bullying.


Seperti biasanya, terjadi diskusi yang alot di kelas XI IPA. Dari debat tentang batas perilaku mana yang masuk kategori bercanda dan mana yang sudah termasuk bullying, sampai melebar ke arah korban bullying yang playing victim.


Tentu saja pertanyaan-pertanyaan bak jebakan Batman tersebut sempat membuat James berdebar dan berkeringat dingin. Beberapa kali ia harus berdoa dalam hati sebelum menjawab pertanyaan mereka. Ia benar-benar meminta hikmat Ilahi supaya ia jangan sampai salah menjawab.


Sampai akhirnya bel istirahat kedua berbunyi yang menandakan pelajaran keempat berakhir. James pun bisa bernapas lega kembali.


Sebelum meninggalkan kelas, James menyempatkan diri berkata pada Priscillia, "Kamu ada waktu istirahat ini? Kalau boleh, saya ingin bicara."


Kalimat itu membuat para anggota Geng Princess saling lihat-lihatan. Beberapa bahkan ada yang mengernyitkan alis dan melotot ke arah James, menunjukkan ketidaksukaan mereka.


"Baik, Pak," jawab Priscillia akhirnya.


Lalu mereka berdua meninggalkan kelas menuju ke ruang BK. Tinggal anggota Geng Princess yang lain mengkhawatirkan ketua mereka yang kembali digiring layaknya terdakwa di ruang sidang.


...****************...


"Apa yang ingin Bapak bicarakan ke saya?" tanya Priscillia begitu ia duduk di kursi dan berhadapan dengan James.


"Baiklah. Karena kamu juga tidak berbasa-basi, kita langsung ke intinya saja. Apakah kamu ada hubungannya dengan kejadian yang menimpa saya baru-baru ini?" tanya James langsung.


"Maksudnya?"


James memperhatikan raut wajah gadis di depannya, mencoba membaca ekspresinya. Apakah gadis ini pura-pura tidak mengerti, atau memang ia tidak tahu-menahu dengan kejadian yang menimpanya selama ini?


"Kejadian siraman Sharon, bola tenis, kertas tempel, dan yang terakhir tadi pas istirahat, minuman bersoda. Kamu benar-benar tidak tahu?" James menyebutkan satu-persatu kejadian tersebut tanpa melepaskan pandangannya dari Priscillia.


Priscillia tampak tertegun sejenak. Tapi tak lama kemudian, bibirnya membentuk sebuah senyuman.


"Bapak sedang menuduh saya?" katanya.


"Tidak. Saya sedang bertanya."


"Cara Bapak bertanya menunjukkan kecurigaan Bapak terhadap saya."


"Ya. Saya tidak menyangkal hal itu."


Priscillia lalu tertawa. "Kalau begitu, untuk apa Bapak bertanya pada saya? Kalaupun dugaan Bapak benar, menurut Bapak apakah saya akan mengaku dengan jujur?"


"Kita tidak akan tahu sebelum kita mencobanya," jawab James datar.

__ADS_1


"Jadi, Bapak akan mempercayai jawaban saya?" Kembali Priscillia bertanya dengan senyuman khasnya.


"Tergantung bagaimana kamu menjawabnya."


Priscillia terdiam. Ia harus mengakui guru di depannya ini tergolong unik. Baru kali ini ada guru yang berani menantangnya langsung dan berkata seterus terang ini.


Setelah tampak berpikir sejenak, Priscillia berkata sambil tersenyum tipis, "Kalau begitu, saya akan menjawabnya begini, saya tidak ada hubungannya dengan hal-hal yang tadi Bapak sebutkan."


James tetap bergeming di posisinya yang semula. Tatapannya tajam memandang Priscillia. Ia sedang berusaha keras mengartikan ekspresi gadis di depannya. Ia tahu dari gaya gadis ini menjawab pertanyaannya, Sang Gadis sedang bermain-main dengannya. Tetapi apakah gadis itu jujur atau bohong, ia sulit memperkirakannya.


James menyerah. Entah dari mana Si Gadis bisa mempelajari kemampuan mengendalikan ekspresi dan bahasa tubuhnya. Yang jelas, James tidak bisa menemukan apa yang ia cari. Ia hanya bisa mengikuti kata hatinya.


"Baiklah. Terima kasih atas jawabanmu. Kamu boleh kembali."


Priscillia kembali tertegun mendengar jawaban James. Ia tidak menyangka guru di depannya akan berkata seperti itu. Apalagi jika ia mengingat rekam jejak Sang Guru yang menunjukkan betapa tidak mau kalahnya guru di depannya ini.


"Bapak terima jawaban saya begitu saja?" tanya Priscillia penasaran.


"Ya."


"Jadi, Bapak memutuskan untuk mempercayai saya?" Priscillia bertanya lagi untuk memastikan.


"Ya." James mengulangi jawabannya.


Tidak butuh waktu lama bagi Priscillia untuk mengubah ekspresi kagetnya kembali ke ekspresi senyum jahilnya yang semula, "Bapak yakin tidak menyesal mempercayai saya?"


"Ya, saya yakin."


"Itu artinya kemampuan saya membaca orang masih kurang, sehingga bisa tertipu dengan ekspresi dari seorang bocah ingusan," jawab James sambil tersenyum tipis.


Priscillia tergelak dengan jawaban James.


"Baiklah kalau begitu. Jangan menyesal ya, Pak! Saya permisi dulu," kata Priscillia undur diri.


"Silakan. Terima kasih sudah meluangkan waktu istirahatmu untuk menemui saya," balas James tanpa bangkit dari tempat duduknya.


"Tak masalah, Pak." Lalu Priscillia pun pergi menuju pintu keluar.


Begitu Priscillia keluar dari ruang BK, terdengar suara teman-temannya menyambutnya di luar dengan rentetan pertanyaan.


"Jadi, kenapa kali ini kamu dipanggil, Pris?"


"Kamu baik-baik saja?"


"Si James emang mau ngomong apalagi sih, Pris?"


James tersenyum mendengar itu semua. Bagaimanapun perhatian dan kepedulian tiap anggota Geng Princess kepada ketuanya harus ia akui. Mereka benar-benar kompak.


"Ga ada yang penting. Aku baik-baik aja kok. Yuk kita ke kantin. Mumpung masih ada waktu," terdengar jawaban Priscillia.

__ADS_1


"Tapi aku curiga lo, Pris. Si James manggil kamu mulu, jangan-jangan dia naksir kamu?" Terdengar sebuah kalimat yang membuat kuping James panas.


"Woiii, Rebecca! Jangan asal ngomong kamu yah!" seru James dari dalam ruang BK.


Tidak lama kemudian, tampaklah sebuah kepala nongol dari balik pintu.


"Kok Bapak bisa tau barusan saya yang ngomong? " tanya Yang Empunya kepala.


"Bapak sudah hafal suara kamu," jawab James datar.


"Woo .... Kehormatan buat saya kalau gitu, Pak!" jawab Rebecca dengan ekspresi pura-pura terkejut.


"Baguslah kalau kamu merasa dihormati," balas James.


Bukannya pergi seperti rencana semula, Rebecca malah masuk ke ruang BK.


"Jadi, kecurigaan saya benar ga, Pak?" tanyanya langsung pada James.


"Salah," jawab James pendek.


"Kalau begitu, kenapa hanya Priscillia terus yang Bapak panggil? Geng Princess kan kami semua. Kalau Bapak mencurigai kami, panggil semua dong, biar adil!" protes Rebecca.


"Karena Priscillia ketua kalian kan? Tapi kalau kalian mau dipanggil juga, kalian langsung datang saja. Kita ngobrol bersama ... " jawab James santai sambil tersenyum.


Rebecca tertegun dengan sikap James. Tapi tidak lama kemudian, bibirnya tersenyum lebar.


"Benar nih, Pak?" tanyanya memastikan.


"Benar. Kamu boleh pegang omongan saya."


"Oke! Siap-siap aja ya, Pak!" kata Rebecca sambil keluar ruangan.


James hanya menggelengkan kepala melihat tingkah gadis itu. Kembali ia berdoa dalam hati, semoga ia tidak menyesali semua perkataan yang ia ucapkan tadi.


...****************...


Berita Pak James memanggil Priscillia kembali saat jam istirahat tersebar bak berita eksklusif. Hal itu menjadi pembicaraan di ruang guru.


Setelah mendengar hal itu, saat jam pelajaran keenam di mana Pak Santo dan James bertemu di ruang guru karena sama-sama sudah tidak ada jadwal mengajar, Pak Santo berkata pada James, "Pak James, maaf, boleh saya minta tolong?"


"Tentu saja selama saya bisa. Ada apa, Pak?" James balik bertanya.


"Besok saat pelajaran 1 dan 2, saya akan mengajar olahraga renang di kelas XI IPA. Seperti biasa, Priscillia pasti akan mencari alasan untuk tidak mengikuti kelas saya. Kalau benar itu sampai terjadi, boleh saya menyuruhnya menemui Bapak? Mungkin Pak James bisa menasihatinya atau mencari tahu alasannya dia melakukan hal itu?" jelas Pak Santo.


"Oh, tidak masalah. Minta saja agar dia menemui saya di ruang BK," jawab James.


"Terima kasih, Pak James," ujar Pak Santo dengan raut wajah lega.


"Sama-sama, Pak. Tidak perlu sungkan," balas James sambil tersenyum.

__ADS_1


Demikianlah James menutup kegiatan di sekolah hari ini. Setelah pukul 15.00, James kembali pulang ke rumahnya.


...****************...


__ADS_2