
"Aku pulannnggg ..." seru Rebecca mewartakan kedatangannya ketika ia memasuki ruang keluarga.
Melihat sosok anaknya yang sudah muncul, kedua orang tuanya yang dari tadi memang sudah menunggu kepulangannya, segera bangkit berdiri dan menyambutnya.
"Bagaimana? Kok cepat sekali pulang dari pertemuannya?" tanya Samuel dengan cemas. Ia memang dari tadi sudah tak sabar untuk mengetahui hasil pertemuan putrinya kali ini.
"Menyebalkan! Dia cowok br*ngs*k! Saking menyebalkannya, Becky tadi sampe sirem mukanya pake minuman!" jawab Rebecca dengan berapi-api.
"Kenapa bisa begitu? Memang apa yang sudah anak teman Papa itu lakukan padamu? Apa dia melecehkanmu?" tanya Samuel bertubi-tubi, karena terkejut mendengar laporan Rebecca.
"Mana mungkin! Becky patahin tangannya kalo berani kayak gitu!" jawab Rebecca sambil mengepalkan tinjunya.
"Bagaimana kalau kita duduk dulu dan membahasnya dengan lebih santai?" ajak Mamanya berusaha menenangkan situasi. Mereka pun lalu duduk di sofa yang ada di sana.
"Jadi bagaimana? Apa yang sebenarnya sudah terjadi?" tanya Samuel mulai khawatir. Kalau bukan anak temannya itu yang bermasalah, jangan-jangan putrinya lah yang berulah.
"Dia dengan sombongnya memamerkan status Direkturnya di perusahaan! Bagaimana dia juga berprestasi di divisinya dan mengalahkan Sang Pewaris Sah sampai tiga kali berturut-turut! Karena itu, dia merasa berhak dipertimbangkan juga sebagai pewaris!" jelas Rebecca.
Mendengar penuturan putrinya, Samuel bengong. "Di bagian mana salahnya? Perebutan hak waris itu kan lumrah terjadi, Nak .... Apalagi kalau ia merasa lebih kompeten dari Si Pewaris Sah.
Lagipula, kalaupun ia terkesan menyombongkan statusnya di hadapanmu, bukankah itu justru hal yang bagus? Berarti ia tahu dengan siapa ia berhadapan. Kamu putri seorang pengusaha besar, Nak! Ia harus meyakinkan dirimu kalau ia layak untuk diperhitungkan sebagai pasanganmu.
Bukankah hal itu juga sering diutarakan oleh pasangan-pasangan perjodohanmu yang sebelumnya? Tetapi kenapa hanya yang ini yang sampai kamu siram?" Samuel balik bertanya.
Rebecca tidak dapat jujur mengutarakan alasan sebenarnya. Ia tahu kalau penolakannya ke Darrell tidak bersifat rasional, melainkan karena terbiaskan dengan rasa kesetiakawanannya terhadap Celine. Karena itu, yang bisa ia lakukan hanyalah merengutkan mulut dan melipat tangannya di depan dada.
"Pokoknya Becky sebel aja liat sikapnya!" katanya, hanya bermodalkan kekeraskepalaan.
"Kamu tidak boleh begitu, Nak .... Hal ini tidak adil buat pria itu, " kata mamanya mencoba menasihati putrinya.
__ADS_1
"Betul! Kamu harus minta maaf pada pria anak teman Papa itu! Papa ga tahu harus bersikap bagaimana jika teman Papa tahu kalau putranya sudah kamu siram begitu saja!" keluh Samuel.
"Ga mau! Biarkan aja! Toh nasi uda jadi bubur! Buat apa pula minta maaf? Apa dengan minta maaf perjodohan ini akan dilanjutkan? Memangnya dia masih bersedia? Kalo teman Papa protes dengan apa yang dialami putranya, salahin aja Becky. Bilang aja kalo anak Papa ini memang sering bikin masalah. Gampang, kan?" jawab Rebecca merentet seperti senapan mesin.
Kembali kepala Samuel berdenyut dengan kelakuan putrinya. Memang Rebecca bukan hanya sekali atau dua kali saja berulah. Banyak hal dimana Samuel harus turun tangan untuk menutupi atau menyelesaikan masalah yang ditimbulkan Sang Putri.
Ia sering berpikir, apakah ia dan istrinya terlalu memanjakan dan memberi kebebasan pada putrinya? Karena itukah Rebecca tumbuh menjadi gadis yang agak serampangan dalam bertutur kata atau bertindak?
Samuel menghela napas. Mungkin saja ia kurang keras dalam mendidik anak. Hal itu harus ia akui. Tetapi mau bagaimana lagi? Ini yang terbaik yang ia bisa. Ia tidak ingin terlalu memaksakan kehendaknya atau terlalu mengatur putrinya. Ia ingin putrinya bahagia. Bagaimanapun, Rebecca adalah satu-satunya buah hatinya.
...****************...
Malam tiba. Pertemuan Geng Princess lewat Group Video Call kembali dibuka. Kali ini yang menginisiasi adalah Cecilia. Pasalnya ia tahu, sore tadi salah satu dari mereka mengikuti perjodohannya yang ke sekian. Sebagai pakar cinta di grup, Cecilia merasa perlu untuk mencari tahu bagaimana kemajuan teman-temannya dalam hubungan percintaan mereka.
Setelah semua wajah terlihat sudah bergabung, tanpa basa-basi, Cecilia langsung menodong Rebecca untuk menceritakan perihal perjodohannya hari ini. "Ayo cerita!" katanya.
Muka Rebecca yang tadi sempat ceria karena bertemu dengan teman-temannya, langsung merengut kembali. "Ga ada cerita! Perjodohannya bubar!"
"Cowok br*ngs*k itu kusiram dengan minuman!" jawab Rebecca ketus.
Semua temannya melongo. Mereka memang tahu karakter Rebecca yang emosian. Tetapi biasanya Rebecca tidak sampai main fisik. Paling-paling sebatas kata-kata tajam nan beracun yang ia keluarkan dari bibirnya. Jadi, kalau pria itu sampai disiram minuman, pasti ada kesalahan cukup fatal yang dilakukannya di mata Rebecca.
"Memang apa yang ia lakukan, Bec?" Priscillia ikut penasaran.
Rebecca menghela napasnya panjang. Wajahnya terlihat lesu seolah ia akan mengatakan sesuatu yang berat. "Dunia itu memang kecil yah ..." katanya sok berfilosofi. Mendengar itu, tentu saja teman-temannya makin bingung.
"Pria anak teman papa itu ... ternyata sepupunya Celine. Tetapi berbeda dengan Celine yang baik dan manis, pria itu menyebalkan! Dengan bangga ia memamerkan prestasinya yang sudah mengalahkan Celine tiga kali berturut-turut. Ia bahkan berusaha mengguncang posisi Celine sebagai pewaris sah. Karena ga tahan dengan mulut besarnya itu, kusiram aja dia, lalu kutinggal!" Rebecca menceritakan kisahnya.
Ketiga temannya terdiam. Mereka tahu benar kalau Rebecca memiliki rasa kesetiakawanan yang tinggi. Tetapi untuk kasus ini, sepertinya reaksi Rebecca agak berlebihan.
__ADS_1
"Sikapmu itu ... ga terlalu ganas ya, Bec?" tanya Sharon hati-hati.
"Aku mengerti sih kamu melakukannya untuk membela Celine. Kami semua juga sayang sama Celine. Tapi .... Hal perebutan kekuasaan itu kan, masalah internal mereka. Dan kalau mau jujur, itu hal yang sering terjadi. Jika ia berhasil mengalahkan Celine dengan cara yang sportif, kurasa sah-sah aja kan, Bec?" terang Priscillia.
Rebecca cemberut. "Iya! Aku tau! Papa juga bilang gitu! Aku terlalu terbawa perasaan pribadi!"
"Jadi apa saran papamu dalam hal ini? Apalagi katanya pria itu anak teman papamu, kan?" tanya Priscillia lagi.
"Papa suruh aku minta maaf pada pria itu. Tapi aku ga mau! Kalau perjodohannya harus batal, ya batal aja! Kalau sampe temannya itu protes karena perlakuan yang diterima anaknya, aku uda bilang salahin aja aku sebagai anak yang sering bikin masalah. Salah sendiri di pertemuan pertama uda bikin kesan negatif!" Rebecca membela dirinya.
Ketiga temannya terdiam. Mereka semua sudah tahu, Rebecca sedang menunjukkan sikap keras kepalanya.
"Bagaimana dengan Celine? Mungkinkah ia akan tersinggung kalau ia tahu kamu menyiram sepupunya?" tanya Sharon.
Gantian Rebecca yang terdiam. Hal itu tidak pernah terlintas di pikirannya. Ia memang membela Celine, tetapi apakah Celine senang dengan tindakannya? Mungkinkah Celine malah balik membela sepupunya itu? Karena apa yang kita pandang baik, belum tentu dipandang baik juga oleh orang lain, kan?
"Sepertinya ... kalau Celine ... harusnya ga gitu yah? Dia pasti mengerti kalau itu bentuk pembelaanku padanya, " jawab Rebecca agak ragu.
"Entahlah ... kita tak tahu. Sebaiknya kita diamkan saja kejadian ini sambil menunggu perkembangan lebih lanjut. Buat apa kita memusingkan hal yang belum pasti terjadi, kan?" jawab Priscillia.
"Iya. Kita liat saja apakah ada tanggapan-tanggapan berikutnya baik dari papamu ataupun Celine. Kalau tidak ada, kan bagus! Berarti masalahnya ga membesar. Belum tentu juga cowok itu berani menceritakan kejadian yang bisa jadi aib bagi dirinya ini ke ayahnya atau ke Celine, kan? Apalagi sepertinya hubungannya dengan Celine ga seakrab itu.
Perihal perjodohanmu yang gagal lagi ... ya sudah ... anggap aja belum jodoh. Masih banyak cowok lain. Jadikan ini pembelajaran buatmu, Bec. Lain kali hati-hati .... Jangan terlalu ganas, biar cowok-cowok ga lari!" ujar Cecilia berusaha memperbaiki suasana.
"Bukan jodoh yang kupikirin! Ga nikah pun aku ga masalah kok!" sahut Rebecca mulai tersenyum.
"Hush! Jangan asal ngomong! Kalo kejadian, nanti nyesel lho ..." sanggah Sharon. Mereka pun tertawa bersama.
Hal seperti ini lah yang disukai Rebecca ketika berada bersama teman-temannya ini. Bagaimana mereka saling menghibur dan menasihati di dalam kejujuran demi kebaikan satu sama lain.
__ADS_1
Bagaimana dengan kamu sendiri? Apakah kamu juga mengalami persahabatan yang indah seperti Rebecca?
...****************...