Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Sebuah Konfrontasi


__ADS_3

Sudah hampir dua minggu berlalu semenjak kejadian itu. Priscillia sudah mengumpulkan tugasnya dan sekarang saatnya ia menikmati hasilnya. Nilai tugas sudah keluar dan jerih payahnya tidak sia-sia. Ia mendapat nilai A+ untuk tugas metode penelitiannya.


Tentu saja ia sangat berbahagia. Ia ingin membagikan kebahagiaan ini dan merayakannya bersama orang-orang yang ia tahu sudah banyak membantunya.


Setelah kuliah hari ini selesai, Priscillia segera menghubungi teman-temannya dan tentu saja Pak James. Untunglah sore ini setelah pukul 16.00 tidak ada di antara mereka yang memiliki acara lain. Mereka pun janjian untuk bertemu di kafe yang berada di dekat kampus Sharon, sebagai orang terakhir yang baru menyelesaikan kuliah di waktu tersebut.


Priscillia akan dijemput oleh Rebecca, kemudian mereka akan bersama-sama menuju ke tempat janjian dengan mobil sport Rebecca. Sedangkan James akan pergi sendiri ke sana dengan sepeda motornya setelah ia menyelesaikan tugasnya di RSUD.


Pukul 15.43, James sudah memarkirkan motornya di depan kafe tersebut. Di area parkir, ia melihat mobil sport Rebecca sudah ada di sana, yang menandakan pemiliknya juga sudah tiba di lokasi.


Begitu ia membuka pintu kafe, sebuah seruan menyambutnya, "Pak James, disini!"


James melayangkan pandangannya untuk mencari asalnya suara. Di sudut ruangan, ia melihat Priscillia dan Rebecca sedang melambaikan tangannya. Rupanya mereka memilih tempat duduk di dekat jendela kaca besar, yang memperlihatkan lalu lintas jalan di seberang kafe. Tanpa ragu ia pun segera menuju ke sana.


Setelah duduk, James bertanya pada Priscillia, "Jadi, ada alasan apa kamu sampai mengumpulkan kami begini?"


"Ada deh .... Nanti tunggu Sharon datang aja, biar sekalian. Sekarang pesan minum dulu, Pak!" kata Priscillia sambil menyerahkan buku menu.


Setelah James memesan minuman, mereka pun mengobrol ngalor ngidul hingga Sharon tiba. Sekitar pukul empat lewat, baru terlihat batang hidung Sharon. Sharon pun diminta untuk segera duduk.


"Ada apa, Pris?" Pertanyaan yang sama dengan yang diajukan James, diajukan Sharon saat ia menumpukan tubuhnya ke kursi kafe.


"Pak Guruku yang baik .... Teman-temanku yang setia .... Terima kasih banyak!!! Berkat dukungan kalian, tugas metode penelitianku mendapatkan A+ !!!" jawab Priscillia.


Pengumuman tersebut langsung mendapat sambutan yang meriah, bahkan ada yang sampai bertepuk tangan.


"Wah .... Selamat yah ...."


"Hebat!!"

__ADS_1


"Karena itu, untuk merayakannya dan sebagai ucapan syukur, aku ingin membagi kesenangan ini bersama kalian. Silakan pesan makanan dan minuman yang kalian suka. Kutraktir!!" Priscillia melanjutkan pengumumannya yang kedua. Tentu saja pengumuman yang ini pun kembali mendapat sambutan hangat.


"Asyikkk ...."


"Thank you, Bestie ...."


"Beneran nih, Pris?" tanya James yang baru sekarang mendapat perlakuan seperti ini dari mantan anak didiknya.


"Bener! Jangan malu-malu ya, Pak! Walau belum kerja, kalau masih level segini, masih bisa kebayar dengan uang jajan kok, " jawab Priscillia santai.


"Oke deh kalau memang dipaksa begitu .... Saya ga akan ragu yah ..." ujar James.


"Alaaa .... Si Bapak sok sungkan. Modus aja itu! Tau-taunya nanti jadi orang yang makan paling banyak!!" celetuk Rebecca.


"Sstt .... Rebecca!! Jangan buka kartu dong!" sahut James pura-pura menegur Rebecca, yang langsung disambut dengan tawa dari ketiga gadis cantik di hadapannya.


Setelah itu mereka memesan makanan dan menikmatinya bersama. Mereka menghabiskan waktu itu dengan penuh tawa, keceriaan dan kebahagiaan. Mereka tidak sadar kalau ada sosok laki-laki yang memperhatikan kebersamaan mereka dari balik kaca mobilnya yang sengaja ia parkir di seberang jalan.


...****************...


Di dekat pintu keluar, ia melihat sosok yang baru-baru ini dikenalnya sedang duduk seperti menunggu seseorang. Rupanya sosok tersebut juga melihat James. Pemuda perlente itu pun segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri James.


"Boleh minta waktunya sebentar, Pak?" tanya Raymond.


"Ya. Ada apa?" James balik bertanya. Sejujurnya ia tidak dapat memperkirakan topik apa yang akan dibahas pemuda di depannya ini, karena satu-satunya topik yang berhubungan dengan mereka adalah Priscillia. Tetapi dari pertemuannya dengan Priscillia baru-baru ini, sepertinya tidak ada masalah dengan gadis itu.


"Bisa kita pindah ke tempat yang lebih tenang?" tanya Raymond lagi. Tempat mereka saat ini memang cukup banyak dilewati orang berlalu-lalang, baik yang baru datang, maupun yang meninggalkan RS.


"Boleh. Mau menuju ke kafe RS?" tawar James.

__ADS_1


Diberi tawaran seperti itu, menimbulkan senyum miring di bibir Raymond. "Saya tidak berniat bersantai bersama Anda. Waktu saya terbatas. Saya hanya akan bicara singkat saja. Bagaimana kalau kita ke area parkir mobil? Di sana cukup ramai, namun setidaknya tidak sepadat di sini, " usulnya.


Alis James bekernyit. Ada rasa permusuhan yang ia tangkap dari pilihan kata dan sikap pemuda ini. Sangat halus, tetapi dapat ia rasakan. Pasalnya ia tidak tahu alasannya.


"Terserah Anda saja, " jawab James, mulai mengikuti gaya bahasa yang digunakan Raymond padanya.


Mereka berdua pun menuju area parkir mobil yang tergolong luas itu. Di sana ditumbuhi beberapa pohon besar yang menghalangi teriknya matahari. Raymond berhenti di depan sebuah mobil BMW hitam yang terparkir di bawah sebuah pohon besar.


"Di sini saja, " katanya sambil berbalik kembali menghadap James.


"Jadi apa yang mau Anda bicarakan?" tanya James tanpa basa-basi.


Mata Raymond menatapnya tajam. Hilang sudah sikap manisnya yang kemarin ia perlihatkan di depan Priscillia. "Sebagai pria beretika ataupun seorang mantan pendidik, bukannya seharusnya Anda dapat menunjukkan keteladanan dalam membatasi pergaulan?" tanyanya dengan nada penuh sindiran.


James yang merasa tidak memiliki pergaulan di luar batas, mengernyitkan alisnya. "Maksudnya?" Ia balik bertanya.


"Sudah saya katakan, Priscillia adalah tunangan saya. Bukankah seharusnya Anda membatasi hubungan Anda dengannya?"


"Sepertinya Anda salah paham. Kami tidak memiliki hubungan seperti yang Anda pikirkan, " sanggah James langsung.


Senyum miring kembali muncul di bibir Raymond. Tangannya ia masukkan ke saku celananya. Tidak ada lagi sikap hormat yang ia tunjukkan pada James yang bagaimanapun berusia lebih tua darinya.


"Baguslah KALAU saya benar SALAH PAHAM. Saya cuma khawatir, akhir-akhir ini sepertinya kisah seorang guru atau mantan guru menjalin kasih dengan anak didiknya sedang tren. Siapa tahu Anda IKUT-IKUTAN tren seperti itu, bukan?" ujar Raymond sambil menekankan beberapa kata kepada James. Alis James bekernyit semakin dalam mendengar ucapan Raymond.


"Baiklah. Hanya itu yang ingin saya pastikan. SEMOGA UCAPAN ANDA DAPAT SAYA PEGANG! Saya izin undur diri dulu, Pak ...." Raymond kembali menunjukkan sikap sopan kepada James, setelah menekankan sebuah kalimat yang terdengar seperti peringatan daripada sebuah harapan.


"Ya, silakan ..." tanggap James lebih untuk menunjukkan basa-basi etika kesopanan. Tidak peduli apakah Raymond benar-benar mendengar balasan itu atau tidak.


Sama halnya dengan Raymond, tanpa menunggu jawaban James, ia pun segera berbalik memasuki BMW hitam di sampingnya. Dan begitu mesin mobil dinyalakan, mobil tersebut langsung berjalan meninggalkan James yang masih berdiri di area parkir.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2