Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Persiapan Pernikahan


__ADS_3

Esok paginya, James menghubungi sekolah untuk meminta nomor telepon Tuan Prawira. Setelah mendapatkannya, James segera melakukan panggilan dari HP-nya.


Ternyata yang mengangkat telepon adalah tuan Prawira sendiri. Tanpa berbasa-basi, James langsung melaporkan hasil pembicaraannya dengan pendeta Lukas.


"Apa tidak bisa lebih cepat? Apanya yang mau dibicarakan sampai butuh waktu 2-3 bulan?" Tuan Prawira menyatakan keberatannya dengan lama waktu Katekisasi Pra-nikah.


"Saya tidak tau, Pak. Saya hanya menyampaikan apa yang pendeta saya katakan berkenaan dengan persiapan nikah di gereja. Kalau Bapak keberatan atau ada yang ingin ditanyakan, bagaimana kalau kita bersama-sama menemuinya. Apakah Bapak ada waktu?" tanya James.


Tuan Prawira tampak berpikir sejenak. "Hari ini saya ada waktu sebelum jam 10. Atau kalau tidak sempat, setelah makan siang sekitar jam 2 siang. Bisa kamu atur pertemuan dengan pendetamu?"


"Saya tanyakan dulu, Pak. Nanti saya hubungi Bapak lagi."


Telepon pun ditutup. Lalu James menghubungi pendeta Lukas untuk menanyakan kesediaannya menerima kunjungan. James menceritakan keberatan tuan Prawira mengenai lamanya waktu katekisasi dan berharap hal tersebut bisa didiskusikan.


Untunglah pendeta Lukas cukup memiliki waktu senggang sampai pukul 10.00 nanti. Ia pun akan menerima kedatangan mereka dengan tangan terbuka lebar. Ia hanya menitip pesan agar Cindy juga ikut disertakan dalam kunjungan nanti, agar semua yang memang perlu dibicarakan dapat langsung didiskusikan bersama.


James mengucapkan terima kasih, menutup teleponnya, dan langsung menghubungi tuan Prawira kembali. Tuan Prawira setuju untuk membawa Cindy dan meminta alamat gereja agar mereka langsung bertemu di sana saja. Telepon diakhiri dengan kesepakatan bertemu di gereja pada pukul 09.00.


Ternyata mama Ratna memperhatikan James sepanjang pembicaraan tadi. Begitu James mematikan teleponnya, mama Ratna mengajaknya berbicara.


"Kamu yakin mau menikahi gadis bernama Cindy itu?" tanyanya.


"Mau gimana lagi, Ma? James harus bertanggung jawab, kan?" James balik bertanya.


"Bagaimana dengan Celine?"


"Terpaksa James putuskan." Wajah James berubah menjadi murung.


"Kamu sudah beritahu Celine tentang kejadian ini?"


James menggeleng. "Saat ini belum sanggup, Ma .... Angkat teleponnya aja, James belum bisa."

__ADS_1


Mama Ratna menghela napas panjang. Kemudian, ia melanjutkan perkataannya, "James, semalaman Mama berpikir. Waktu mabuk tingkahmu memang merepotkan. Tapi Mama ga yakin kamu bisa menodai wanita sekalipun kamu sedang tidak sadar. Mungkinkah ini hanya jebakan? Apalagi kamu bilang, anak itu dari awal sudah sering menyatakan cinta padamu, kan?"


Gantian James yang menghela napasnya. "James sempat terpikir demikian, Ma .... Tapi, apa ga kelewatan, kalau kita balik menuduh Cindy yang berbohong di sini? Apa gunanya ia melakukan ini sampai merusak nama baiknya sendiri?"


"Kenapa tidak? Siapa tau itu memang akal-akalannya untuk memilikimu?" tuding Mama Ratna.


"Kami sudah pernah membicarakannya, Ma .... Dan sejak saat itu, ia sudah tidak mengejar James lagi. Sepertinya ia sudah mengerti dan siap merelakan James dengan Celine, " bela James.


"Hati orang siapa yang tahu? Mungkin niat awalnya begitu. Tapi seiring dengan waktu, bagaimana kalau ia berubah pikiran? Jangan terlalu naif, James. Kalau semua selurus kamu, tidak ada istilah 'Cinta itu buta' !" tegur Mama Ratna makin keras.


James kembali menghela napasnya. "Okelah. Anggap demikian. Terus, Mama mau kita bagaimana?"


"Meminta visum?" usul Mamanya.


"Kalau terbukti semuanya adalah kebohongan. Kalau tidak? Bukankah itu hanya akan memperkeruh suasana, padahal sejauh ini sudah diusahakan penyelesaian secara kekeluargaan? Hal itu hanya akan menunjukkan kalau James mengelak untuk bertanggung jawab, kan?" James balik bertanya.


Mama Ratna terdiam. Karena itu James melanjutkan penjelasannya.


"Mama mengerti, James. Tetapi menerima begitu saja tanpa mencoba mengusahakan sesuatu, rasanya ...." Mama Ratna tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena sudah terisak.


James memeluk Ibundanya. "Pahit memang, Ma .... Sakit .... Tapi James percaya jika niat kita baik, kita akan menuai hal baik pula."


"Entahlah, James .... Entahlah .... Kadang batas antara naif dan baik, kebaikan dan kebodohan, bisa berbeda sangat tipis, " ucap Mama Ratna di tengah isakannya.


"Iya, Ma .... James ngerti. Makanya James memilih berserah aja, karena hikmat manusia bisa salah. James pasrah ...." James menutup pembicaraan mereka, membiarkan Mamanya mencurahkan perasaannya dalam pelukannya.


...****************...


Pukul 09.00 tepat, James sudah tiba di gereja. Di area parkir, ia bertemu dengan tuan Prawira dan Cindy yang baru turun dari mobil. Mereka pun kemudian memasuki gereja bersama.


Pendeta Lukas ternyata sudah menunggu mereka di pelataran gereja. Ia pun mengajak mereka untuk berbicara di sebuah ruang kecil yang sepertinya sering dijadikan tempat diskusi atau rapat.

__ADS_1


Setelah semuanya sudah duduk, Pendeta Lukas membuka pembicaraan, "Nak James sudah menceritakan persoalannya pada saya. Mungkin ada lagi yang ingin ditanyakan pada saya?"


"Kalau Pak Pendeta sudah mengerti persoalannya, harusnya pembicaraan ini jadi lebih mudah. Tidak bisakah katekisasi atau bimbingan apapun itu dipercepat, Pak? Saya merasa 2-3 bulan itu terlalu lama dan membuang waktu, " ujar Tuan Prawira langsung mengutarakan permasalahannya.


Pendeta Lukas tersenyum bijak. "Tujuan katekisasi ini sekalian melatih komitmen dalam pernikahan, Pak. Karena pernikahan adalah hal yang kudus, jadi pasangan yang menikah harus dipersiapkan dengan baik."


"Itu kalau kondisi biasa, Pak Pendeta. Masalahnya mereka sudah meloncati jalur yang semestinya. Saya setuju dengan adanya bimbingan agar mereka dipersiapkan dan tidak menganggap enteng sebuah pernikahan. Tapi, bisakah ada fleksibilitas dalam pelaksanaannya? Mungkin bisa diatur atau dimampatkan jadwalnya?" tanya Tuan Prawira.


"Memang Bapak ingin pernikahannya kapan?" Pendeta Lukas balik bertanya.


"Kalau bisa secepatnya. Bahkan saya inginnya hari Sabtu atau Minggu ini, " putus Tuan Prawira.


Pendeta Lukas terdiam. James jadi tidak enak hati dengan tuntutan tuan Prawira yang terkesan memaksa.


"Saya coba atur jadwal saya dulu kalau begitu. Waktu 2-3 bulan itu, mencakup 8-12 kali pertemuan setiap minggunya. Kalau Bapak memang mau dimampatkan jadwalnya, apa bersedia mengikuti bimbingan setiap hari dengan waktu pertemuan 2-3 kali lebih lama dari biasanya?" usul Pendeta Lukas.


"Saya tidak masalah. Pak Pendeta kabari saja jadwalnya. Anak saya toh sudah lulus. Pemuda ini juga baru saja dirumahkan dari tempat kerjanya. Jadi, harusnya mereka sangat memiliki waktu luang. Bukan begitu?" Tuan Prawira bertanya pada Cindy dan James.


Kedua pemuda-pemudi itu hanya bisa mengangguk setuju, karena faktanya memang demikian.


"Jadi, kalau mengikuti jadwal Bapak, kapan mereka bisa dinikahkan?" Tuan Prawira kembali bertanya pada Pendeta Lukas.


"Saya lihat jadwal gereja dulu, Pak. Seingat saya sih, tidak ada acara gereja dalam minggu-minggu ini. Selain itu, saya juga harus melihat kesiapan mereka. Kalau semua lancar-lancar saja, harapannya minggu depan mereka bisa dinikahkan. Bapak setuju dengan keputusan sementara seperti ini?" Pendeta Lukas balik bertanya.


"Baik. Kalau menunggu 1-2 minggu sih, saya masih bisa terima. Kepastiannya kapan, Pak Pendeta? Karena bagaimanapun, saya tetap butuh waktu untuk melakukan persiapan pernikahan, meskipun hanya mengundang segelintir orang, " tanya Tuan Prawira.


"Setidaknya tunggu mereka sudah menjalani setengah sesi, Pak. Kalau tiap hari bertemu, harusnya dalam minggu ini, kita sudah bisa memutuskan sesuatu, " jawab Pendeta Lukas bijak.


"Baik. Saya tunggu kabar Pak Pendeta saja."


Setelah itu, Tuan Prawira meminta nomor kontak Pendeta Lukas agar memudahkan dalam pengaturan jadwal dan persiapan pernikahan. Sedangkan James dan Cindy, hanya bisa duduk mengikuti alur yang sudah dibuat, tanpa bisa bertindak apa-apa. Bagaikan seekor kuda yang dipaksa memakai tali kekang dan berjalan menuruti arahan Sang Kusir.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2