
Sewaktu James tiba di ruang BK, Priscillia sudah menunggu di depan pintu. Dalam hati James harus mengakui keberanian dan konsistensi perkataan Sang Putri. Ternyata Si Putri bukan tipe orang yang besar mulut, yang hanya bisa sok berani di depan teman-teman, tapi melarikan diri di belakang. Atau ... justru Sang Putri berani karena yakin kalau dia akan dibeking oleh orang tuanya?
Terserahlah, mau yang mana juga. Que sera sera ... Yang akan terjadi, terjadilah. Sekarang hadapi dulu aja! Aku hanya melakukan tugas sebagai seorang pendidik, kata James dalam hatinya.
"Ayo masuk! " kata James sambil membuka pintu ruang BK.
Lalu James memasuki ruang BK diikuti Priscillia di belakangnya. Ia menyalakan lampu ruangan dan pergi ke arah jendela untuk membuka gorden agar sinar matahari dapat masuk.
"Jangan dibuka gordennya! " seru Priscillia tiba-tiba.
Mendengar itu, langkah James terhenti. Ia hanya membalikkan badannya dan menatap Priscillia dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Sa- Saya ... tidak suka sinar matahari. " Priscillia menjawab dengan gugup. Dan untuk pertama kalinya dalam pengamatan James, Priscillia berbicara dengan memalingkan wajahnya. Selama ini Priscillia selalu berbicara dengan percaya diri menatap lawan bicaranya.
Hoh? Sang Putri menyatakan kelemahannya? Ada apa dengan sinar matahari? Apa karena masih jam 2 siang, sehingga cukup terik untuk menyakiti kulitmu? Atau merusak perawatan kecantikan yang selama ini sudah rutin dilakukan ? pikir James.
"Baiklah, " jawab James cuek. Lalu ia duduk di kursinya. Kemudian mempersilakan Priscilla duduk.
"Silakan duduk. " Priscillia pun menurut dan duduk di kursi yang berhadapan dengan James.
"Jadi ... harap jelaskan, apa alasanmu melakukan hal tersebut pada Saya? " tanya James sambil melipat tangannya yang sudah berada di atas meja.
Priscillia menghembuskan napasnya. Lalu kembali menatap James.
"Sebelumnya saya minta maaf, Pak. Sebenarnya Saya tidak bermaksud melakukan hal itu pada Bapak. Yang Saya incar adalah teman Saya yang lain, " jelasnya.
"Kamu pikir Saya bodoh? Pelajaran BK di kelasmu adalah pelajaran keenam. Jika kamu mengincar temanmu, kapan waktunya kamu menaruh telur tersebut? Saat istirahat? Mustahil! Karena akan banyak siswi keluar-masuk kelas, dan pada saat itu telur sudah pasti jatuh lebih dahulu mengenai mereka.
Setelah istirahat, pelajaran kelima dimulai. Jadi, kalaupun kamu meletakkan telur sesaat sebelum istirahat berakhir, telur itu akan mengenai guru mapel yang mengajar pelajaran kelima di kelasmu.
Jadi, satu-satunya waktu yang memungkinkan kamu meletakkannya adalah setelah pelajaran kelima berakhir. Dan targetnya jelas adalah Saya. Karena kamu tau, yang berikutnya pasti masuk ke kelas kalian adalah Saya. Bukan begitu?" James memaparkan analisisnya dengan panjang lebar.
__ADS_1
Priscillia terdiam sejenak. Lalu ia mulai membuka mulutnya untuk menyanggah pemaparan James.
"Bukan. Bapak salah paham. Setelah pelajaran kelima berakhir, teman yang Saya incar itu langsung keluar kelas dengan terbaru-buru. Mungkin ia ingin segera ke kamar mandi. Kesempatan itulah yang Saya manfaatkan untuk memasang jebakan telur tersebut.
Ternyata perkiraan Saya salah. Sebelum teman Saya kembali, Bapak sudah terlebih dahulu memasuki kelas. Akhirnya, jadi Bapak yang terkena jebakan tersebut. " Gantian Priscillia yang memaparkan penjelasannya.
Mendengar itu, giliran James yang terdiam. Tapi, ia belum hilang akal.
"Siapa nama teman yang kamu incar itu?" James menanyakan hal itu untuk memastikan apakah benar-benar ada siswi yang keluar kelas saat itu, seperti penjelasan Priscillia. Atau, jangan-jangan itu hanya sekedar cerita rekaan Priscillia saja.
"Saya tidak merasa perlu mengatakannya, " jawab Priscillia santai.
"Kamu berbohong! Makanya kamu tidak bisa menyebutkan namanya kan? Tapi tidak masalah. Saya akan menanyakan kebenaran hal itu pada guru mapel kelima kalian. Adakah siswi yang meminta izin keluar kelas padanya sesaat sebelum pelajaran kelima berakhir? "
"Tidak ada gunanya, Pak. Beliau tidak tahu. Karena seperti yang tadi Saya katakan, teman Saya itu keluar kelas SETELAH pelajaran kelima berakhir. Jadi saat itu, Bu Wina sudah terlanjur meninggalkan kelas. Kalau tidak percaya, Bapak tanya saja pada Bu Wina, guru kimia. Beliau yang mengisi pelajaran kelima tadi, " papar Priscillia sambil tersenyum.
James gemas. Susah sekali menyanggah perkataan siswi di depannya itu. Seperti mencoba menangkap belut dengan tangan kosong. Licin dan pintar sekali mengelak.
"Kalau perkataanmu benar, itu hal yang lebih tidak mungkin. Saya sudah ada di depan kelasmu pas ketika pelajaran kelima berakhir. Jika kamu tidak berbohong, pasti Saya akan berpapasan dengan teman yang kamu incar itu kan? Tapi Saya tidak melihat siswi mana pun yang keluar kelas tuh. " Gantian James yang tersenyum.
Sekarang senyum Priscillia yang menghilang. Tapi ia tetap menjawab dengan tenang.
"Mungkin saat teman Saya keluar kelas, Bapak belum tiba di depan kelas Saya, " katanya.
"Oh ya? Apakah menurutmu Saya selambat itu, sampai temanmu sudah keluar tapi Saya belum tiba di depan kelas? Atau temanmu yang secepat itu sampai mata Saya tidak bisa melihatnya? " tanya James dengan nada mengejek.
"Kalau begitu, apakah Bapak sempat berpapasan dengan Bu Wina saat Beliau keluar kelas kami? "
James terdiam. Ucapan Priscillia tepat sasaran. Ia tidak berpapasan dengan Bu Wina. Dan ia harus mengakui, kali ini ia kalah dalam perang adu mulut melawan gadis di depannya.
Melihat James yang diam, senyum Priscillia kembali mengembang. Ia tahu, ia sudah menang. Karena itu, ia segera menutup perkataannya.
__ADS_1
"Bapak TIDAK berpapasan dengan Bu Wina kan? Nah, saat Bu Wina keluar, teman Saya juga lansung keluar, Pak. Makanya, Bapak juga tidak sempat berpapasan dengannya.
Yah ... Balik lagi, terserah Bapak mau percaya perkataan Saya atau tidak. Yang jelas, Saya sudah meminta maaf dan sudah menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Kalau Bapak tidak puas, apakah Bapak ingin memberi hukuman pada Saya?" tanya gadis itu sambil tersenyum santai.
James sebal. Ia punya feeling yang kuat kalau teman yang diincar Priscillia tadi hanya rekaan semata. Ia yakin peristiwa ini dan dua peristiwa sebelumnya adalah kesengajaan untuk mempermainkan dirinya. Tapi apa daya ia tidak bisa mematahkan pemaparan Priscillia, walau tidak ada juga bukti dan saksi kuat yang mendukung pemaparannya.
"Tidak. Bapak tidak akan menghukummu. Bapak hanya ingin meminta penjelasan yang jujur. Jika benar katamu kalau itu hanya kesalahan target, ya sudah. Bapak minta maaf telah menuduhmu. Tapi Bapak rasa tindakanmu menargetkan teman seperti itu, bukanlah tindakan baik. Jangan lakukan lagi yah..." sahut James memaksakan diri berpura-pura bijak.
"Iya, Pak. Tidak akan Saya lakukan lagi. Terima kasih atas kelapangan hati Bapak untuk tidak memperpanjang masalah ini, " balas Priscillia dengan senyum manis yang dibuat-buat.
"Jadi, apakah pembicaraan kita sudah selesai, Pak? Apakah Saya sudah bisa pulang? " Priscillia lanjut bertanya.
"Ya, kamu sudah boleh pulang. "
"Baik, Pak. Saya permisi."
Tanpa berlama-lama Priscillia langsung meninggalkan ruangan tersebut. Terdengar suara gerombolan temannya menyambut Priscillia di luar. Rupanya solidaritas mereka cukup kuat juga.
"Gimana? Aman? " Entah suara siapa itu. James tidak tahu.
"Aman dong. Seperti biasa. " Terdengar Priscillia menjawab.
"Emang hebat ketua kita. Princess mau dilawan."
"Sstt.. Pak James masih di dalam lo. Kita lanjutin bahasnya di tempat lain! " kata Priscillia lagi.
"Ow.. gitu yah? Oke deh. Kami pamit, Pakkkkk ... !"
Lalu terdengar suara tawa mereka bersama yang makin lama makin menjauh, tanda mereka sudah meninggalkan tempat itu.
Tinggal James yang masih mendongkol di kursinya. Awas saja eel princess! (baca: Putri Belut, eel\=belut). Sepandai-pandainya tupai melompat, sekali waktu pasti jatuh juga! Suatu saat pasti permainanmu akan terbongkar! Sabar James ... Kesempatan itu pasti akan tiba ! batin James menghibur dirinya sendiri.
__ADS_1
...****************...