Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Pertemuan Kembali dengan Rebecca


__ADS_3

James pulang dengan perasaan yang tidak karuan. Semua kehidupannya serasa dijungkirbalikkan. Pekerjaannya, masa depannya, hubungannya dengan Celine. Entah bagaimana ia harus mengatakan kejadian ini kepada orang tuanya.


Untuk Celine, ia yakin ia tidak akan sanggup menceritakan hal ini secara langsung. Untuk melihat wajah Celine saja, ia tidak berani. Hatinya dipenuhi perasaan bersalah.


Dengan pikiran yang mumet itu lah James mengendarai sepeda motornya menuju rumah. Tentu saja hal itu membuat ia tidak terlalu fokus dengan kondisi jalan di depannya. Ia tidak sadar kalau ia salah mengambil jalur, sampai akhirnya terdengar suara yang mengembalikan kesadarannya.


Tiiiinnnnnnn !!!! Suara klakson dibunyikan oleh mobil yang hanya tinggal berjarak 100 meter di depannya.


Wajah James memucat. Jarak mobil dengan dirinya cukup dekat. Berhasil kah ia menghindari terjadinya tabrakan?


Ciiiiiitttttt .... James segera menginjak rem sambil mengubah arah motornya. Rupanya Si Pengemudi Mobil juga refleks menginjak pedal rem. Suara gesekan ban kedua kendaraan tersebut dengan aspal menimbulkan decitan yang cukup memekakkan telinga di jalan itu.


Sampai akhirnya kedua kendaraan tersebut berhasil berhenti sempurna dalam kondisi yang sedikit bersilangan. Terjadinya kecelakaan berhasil dihindari. James menghela napas lega dan memanjatkan puji syukur. Rupanya nyawanya masih diberi kredit oleh Sang Pencipta.


Tak lama kemudian, atap mobil sport berwarna putih itu terbuka. Dari sana muncul lah seorang gadis berpakaian modis mengenakan kacamata hitam.


"Wooiii!!! Kalo mau mati, jangan nyusahin orang dong!!" seru Si Gadis.


James segera membuka helmnya dan membalas seruan gadis itu. "Maaf .... Saya lagi kurang fokus."


Gadis itu terbelalak melihat pengemudi motor yang nyaris ia tabrak. Ia pun melepaskan kacamata hitamnya dan berkata, "Pak James?"


"Rebecca?" balas James tidak kalah terkejutnya.


...****************...


Rebecca dan James akhirnya memilih untuk nongkrong dulu di kafe sambil bertukar cerita. Rupanya Rebecca tadi sedang dalam perjalanan menuju kampus. Tetapi berhubung ada peristiwa seperti tadi, akhirnya ia merelakan diri (baca: malas) untuk tidak masuk kuliah demi menemani mantan gurunya.


"Gimana kabarmu, Bec? Sudah dua tahun tidak bertemu, tiba-tiba sudah tampil dengan membawa mobil sport. Padahal dulu kan selalu diantar sopir ke sekolah, " ucap James membuka pembicaraan.


Rebecca tersenyum menyadari bahwa ternyata gurunya memperhatikan datang dan perginya ke sekolah. Panggilan terhadapnya saat ini pun berubah menjadi lebih santai.


Ia masih ingat jelas bagaimana pak James dulu selalu memanggilnya dengan satu kata lengkap 'Rebecca', yang mengesankan ada jarak di antara mereka. Mungkin sekarang pak James tidak lagi menganggapnya sebagai murid, tetapi lebih ke seorang kenalan atau teman.


"Kabar saya baik, Pak. Sukses menjadi wanita mandiri seperti yang Bapak lihat. Saya memang langsung belajar naik mobil dan mengusahakan memiliki SIM begitu lulus SMU, Pak. Biar bisa ke mana-mana sendiri. Ga perlu tergantung orang!" jawab Rebecca sambil nyengir.


James terkagum dengan pola pikir mantan muridnya ini. Ia cukup bangga Rebecca menjadi seperti sekarang.


"Apa kesibukanmu sekarang?" tanya James.


"Kuliah semester empat di Jurusan Manajemen Bisnis, Pak. Tadi saya baru saja dalam perjalanan menuju kampus pas kejadian hampir tabrakan dengan Bapak. Gara-gara Bapak, saya jadi bolos deh, " jawab Rebecca ngasal.


"Ah, itu mah emang uda kamu niati aja. Kejadian sama saya cuma kamu jadikan alasan, " sindir James yang langsung membuat Rebecca cekikikan.

__ADS_1


"Gimana rasanya di bangku kuliah? Bisa mengikuti pelajaran dengan baik?"


"Aman, Pak. Cuma yang saya sayangkan, suasana kampus terlalu kaku, Pak. Dosen-dosennya uda pada tua. Ga ada yang masih muda dan lugu kayak Bapak, jadinya ga seru!" cibir Rebecca.


Mendengar itu James tertawa. Ternyata seperti ini lah anggapan Rebecca padanya. Pantas saja sikap muridnya ini bisa dikatakan hampir mendekati kurang ajar terhadapnya. Tetapi karena James tahu Rebecca tidak berniat demikian, ia memilih mendiamkannya.


"Bagaimana kabar Geng Princess yang lain? Ada yang satu kampus denganmu?" James jadi ingin tahu kabar Priscillia dkk.


"Tidak, Pak. Kami semua terpencar. Priscillia mengambil Jurusan Kedokteran. Sharon mengambil hukum. Yang paling jauh sampai kuliah di Prancis itu, Cecilia. Dia mengambil jurusan Fashion Design."


James manggut-manggut mendengar cerita Rebecca. Rupanya para muridnya mengambil bidang sesuai dengan cita-cita yang mereka tuliskan di formulir masa depan saat SMU.


Rebecca memperhatikan mantan gurunya sejenak sebelum akhirnya ia bertanya, "Gantian, Pak! Jangan tanya tentang kami mulu! Bagaimana dengan Bapak sendiri? Sebenarnya apa yang terjadi dengan Bapak sampai tidak fokus berkendara kayak tadi?"


James terdiam. Ketika mengobrol dengan Rebecca tadi, untuk sesaat pikirannya bisa teralihkan. Tetapi sekarang, pertanyaan Rebecca seperti memaksanya kembali menghadapi realita.


James menghela napas. Sulit rasanya ia menceritakan hal yang bisa menjadi aib dirinya. Apalagi kepada mantan muridnya.


Rebecca bisa membaca keraguan James. "Sudah .... Jujur aja, Pak. Bapak ada masalah apa? Kali-kali aja saya bisa bantu lho. Kalaupun ga bisa, hitung-hitung bisa meringankan hati lah .... Jangan ditahan sendiri, Pak! Jelas-jelas tadi Bapak sudah hampir celaka!" bujuk Rebecca.


James kembali menghela napasnya. Ia tahu perkataan Rebecca ada benarnya. Tetapi, apakah anak ini nanti akan balik menuding dan menghinanya jika ia sudah tahu permasalahannya?


James pasrah. Ia memilih untuk meringankan hatinya terlebih dahulu. Kejadian ini terlalu berat untuk ia simpan sendiri. Terserah lah bagaimana anggapan Rebecca nanti. Toh, dia bukan lagi gurunya, kan? Bahkan, ia bukan seorang guru lagi sekarang! Ia sudah dirumahkan! James tersenyum kecut mengingat kenyataan tersebut.


Rebecca mendengarkan dengan penuh perhatian sampai James selesai bercerita. Setelahnya, dengan harap-harap cemas, James menunggu respons Rebecca.


Rebecca hanya terdiam sambil mengernyitkan kening. Setelah beberapa lama, baru ia membuka mulutnya.


"Cindy itu ... kalau sekarang dia baru lulus, berarti kami sempat ketemu waktu saya kelas XII, kan?" tanya Rebecca.


James tertegun mendengar respons pertama Rebecca yang sungguh di luar dugaannya. Tidak ada tudingan, hinaan, atau bahkan sekedar perkataan simpati. Rebecca bahkan tidak menyinggung tuduhan yang ditujukan kepadanya sama sekali.


"Iya. Waktu kalian kelas XII, ia baru masuk kelas X. Kamu mengenalnya?" Gantian James yang bertanya.


"Tidak. Saya tidak banyak mengingat adik kelas. Yang saya ingat cuma Vivian, ketua Geng Princess Lovers itu, " jawab Rebecca.


James tersenyum. Ingatannya melayang sekilas ketika ia berhadapan dengan Geng Princess dan Geng Princess Lovers yang sempat membuatnya sakit kepala saat itu. Ia tidak menyangka hal-hal tersebut bisa menjadi kenangan manis untuknya sekarang ini.


Tetapi James tidak membiarkan dirinya terhanyut dalam kenangan. Kembali ia bertanya pada Rebecca terkait dengan responsnya yang tak terduga itu. "Kalau begitu, kenapa kamu menanyakan tentang Cindy?" tanya James penasaran.


"Walaupun saya tidak mengenalnya, dia pasti mengenal kami, kan?" jawab Rebecca dengan senyuman penuh arti.


James bingung. Ia tidak mengerti arah pembicaraan Rebecca. Tentu saja Cindy pasti mengenal Geng Princess yang sudah menjadi seperti legenda di SMU itu. Walaupun untuk siswi-siswi yang sekarang, mungkin hanya pernah mendengar kisahnya saja tanpa tahu wujud para personilnya.

__ADS_1


"Yah sudahlah. Saat ini saya tidak bisa berbuat banyak. Saya juga tidak tau harus berkata apa. Bapak tau sendiri kan lidah saya gimana? Lebih banyak keluar racun dan pisaunya daripada madu. Pesan saya banyak-banyak berdoa aja, Pak!" ujar Rebecca dengan gayanya yang khas.


James tersenyum simpul. Walaupun tidak ada kata-kata manis yang menjanjikan sesuatu, atau sekedar menghibur dan membangkitkan semangat, perasaan James lebih ringan mendapat perhatian seperti itu dari Rebecca.


"Sok tua kamu! Bisa-bisanya kamu yang mengingatkan saya banyak berdoa!" kata James mencoba bersikap santai.


Rebecca nyengir. "Kali-kali aja ini ujian buat Bapak agar Bapak diingatkan untuk rajin berdoa, kan?" jawabnya astul, asal-asal tapi kok betul.


James tertawa sambil menganggukkan kepala, menyadari ada kebenaran yang tersirat dalam ucapan asal Rebecca.


Melihat gurunya yang tidak sedepresi tadi, Rebecca pamit. "Saya balik ke kampus dulu ya, Pak. Ga niat bolos seharian juga. Kapan-kapan kita ngobrol lagi yah! Betewe (by the way, ngomong-ngomong), minta nomor Bapak dong! Boleh ga? Kali-kali saya kangen Bapak. Atau kalau Bapak kangen saya, Bapak boleh kok hubungin saya duluan, " ujar Rebecca ceplas-ceplos.


"Minta nomor saya buat apa? Jangan bilang kamu juga naksir saya, " tanya James sambil bercanda. Tetapi tetap saja ia menyebutkan nomor HP-nya.


"Wkwkwk .... Saat ini sih kaga, Pak. Tapi hari depan kan kita ga tau. Jangan-jangan malah Bapak yang naksir saya duluan." Rebecca balas menggoda James sambil tangannya memasukkan nomor James ke daftar kontaknya.


James tertawa lagi. "Sudah saya bilang, kalian bukan tipe saya!"


"Iya deh, yang udah cinta mati ama Celine!" ledek Rebecca.


Mendengar nama Celine disebut, senyum James langsung memudar. Ia teringat kalau ia akan menyakiti gadis itu dalam waktu dekat.


Menyadari kalau ia salah memilih kata, Rebecca memilih melarikan diri dan kembali pada fokusnya semula. "Saya balik dulu ya, Pak! Ngomong-ngomong, saya ditraktir, kan?" tanya Rebecca sambil menunjuk minuman dan makanan ringan di atas meja yang sudah mereka pesan dan habiskan bersama.


James tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat sikap mantan muridnya yang satu ini. "Iya. Saya yang bayar. Kamu kembalilah!" ucap James.


"Sippp! Bapak memang the best ! Tunggu saya bisa cari uang, baru gantian saya yang traktir yah ..." kata Rebecca sambil mengacungkan jempolnya.


"Iya. Aman itu. Saya tunggu ..." balas James.


Ketika Rebecca sudah mau melangkah meninggalkan meja mereka, James memanggil Rebecca. "Bec, apakah kamu percaya bahwa saya bisa melakukan hal seperti itu pada murid saya?" tanya James tiba-tiba.


Rebecca yang mendengar pertanyaan mendadak itu terdiam sejenak, seperti mencerna pertanyaan James dengan otaknya. Tidak butuh waktu yang lama, ia menjawab, "Kalau Bapak sadar penuh atau dituduh berniat demikian, saya 100% tidak percaya. Masalahnya Bapak dalam keadaan mabuk. Tidak ada yang bisa diyakini apa yang akan dilakukan orang mabuk, kan?"


James tersenyum pahit mendengar jawaban itu. Begitu lugas dan tidak memihak. Ada penghiburan sekaligus pernyataan yang tidak bisa dibantah. Entah apa tadi tujuannya menanyakan hal tersebut pada Rebecca, karena kenyataan tidak bisa diubah. Tetapi mendengar keyakinan mantan muridnya ini padanya, sedikit-banyak ia terhibur.


"Ya. Terima kasih atas kejujuranmu, " ucap James tulus.


Rebecca tersenyum. "Sama-sama, Pak. Saya duluan yah ..." pamit Rebecca.


Maka, pergilah Rebecca meninggalkan James yang masih termenung di meja kafe itu sendirian.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2