
Hari Rabu kembali datang. James melewati jam pelajaran pertama dan kedua dengan tenang di ruang guru. Ia memang baru mengisi pelajaran di jam pelajaran ketiga sampai keenam.
Bel tanda istirahat pertama berbunyi. Tiba-tiba Cecilia dan Rebecca datang ke ruang guru dengan tergopoh-gopoh dan napas memburu. Mereka sampai menghadap James tanpa permisi atau memberi salam pada guru yang lain.
Tentu saja hal itu menarik perhatian orang dan membuat mereka penasaran akan apa yang terjadi. Tapi Cecilia dan Rebecca tidak peduli. Tujuannya hanya satu, mencari Pak James!
Sesampainya mereka di depan James, keduanya berebutan bicara dengan semrawut. Terlihat kepanikan dan kesedihan di wajah mereka berdua. James jadi bingung. Tidak biasanya mereka berdua sampai bersikap seperti ini.
"Tenang! Ada apa? Katakan pelan-pelan!" kata James kepada mereka berdua.
Mereka langsung diam, menghela napas panjang, lalu kembali bersuara dengan kalimat yang sama, "Priscillia pingsan, Pak!"
Tanpa banyak tanya, James lalu mengikuti Cecilia dan Rebecca ke ruang UKS. Sampai di sana, ia melihat pintu ruang UKS ditutup. Di luar ruangan nampak Pak Joseph dan dokter Lusi sedang berbicara. Melihat James datang, keduanya menghentikan pembicaraan mereka.
"Maaf mengganggu pembicaraan kalian. Tapi bolehkah saya mengetahui apa yang terjadi? Anak-anak ini panik dan mencari saya di ruang guru. Tapi mereka tidak bisa menceritakan kejadiannya dengan jelas," kata James menceritakan alasannya bisa berada di sana.
"Se- sepertinya saya yang salah, Pak James. Priscillia sudah meminta izin untuk tidak mengikuti praktek olahraga. Ia bahkan sudah menyertakan surat izin dari dokter. Tapi saya tetap memaksanya ke lapangan. Sa-saya tidak menyangka dan tidak mengerti mengapa ini bisa terjadi." Pak Joseph menerangkan dengan gugup. Terlihat ia sangat terguncang dan merasa bersalah.
"Jadi sekarang bagaimana keadaannya, Dok?" tanya James pada dokter Lusi.
"Priscillia sudah sadar. Saat ini sudah jauh lebih baik setelah saya menyuntikkan obat. Saya sudah mengabarkan kondisinya ke orang tuanya. Mereka sedang dalam perjalanan kemari. Besar kemungkinan setelah mereka tiba, Priscillia akan dibawa ke RS untuk pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut," jawab dokter Lusi.
"Ke RS? Separah itukah kondisinya? Memang Priscillia sakit apa?" tanya James yang tadinya mengira Priscillia pingsan karena pitam biasa akibat belum sarapan.
"Tidak bisa dibilang parah, tapi tidak bisa disepelekan juga. Yang jelas butuh pemantauan lebih lanjut untuk memastikan tidak terjadi hal yang membahayakan jiwa. Untuk penyakitnya tidak bisa saya katakan karena saya harus menjaga kerahasiaan pasien," tegas dokter Lusi.
Mendengar adanya kemungkinan membahayakan jiwa, semua yang berada di sana terkesiap. Cecilia dan Rebecca bahkan sudah mau menangis.
"Kalau begitu, boleh saya masuk untuk berkunjung, Dok?" tanya James.
__ADS_1
"Priscillia tidak menginginkan dikunjungi oleh siapapun. Hanya Sharon yang saat ini ada di sampingnya. Makanya akhirnya saya dan Pak Joseph pun keluar setelah saya memastikan kondisinya saat ini terlihat stabil," jawab Sang Dokter.
"Kenapa?! Kami kan juga Geng Princess?! Kenapa hanya Sharon??!!" Rebecca bertanya dengan histeris.
Tanpa sepengetahuan mereka yang di luar, Sharon dan Priscillia mendengar semua pembicaraan tersebut dari dalam ruang UKS.
"Pris, sepertinya kita ga boleh gini deh. Kasihan Rebecca dan Cecilia yang tidak tahu apa-apa dan tiba-tiba merasa tidak dianggap. Padahal mereka juga khawatir padamu. Gimana kalau kita cerita ke Pak James dulu? Siapa tau beliau bisa kasih solusi. Kalau kamu malu, biar aku yang cerita. Setuju?" bujuk Sharon.
"A- aku takut, Shar .... Aku tidak ingin mengalami kejadian itu lagi," jawab Priscillia.
"Waktu itu kan kita masih kecil, Pris. Dan kurasa Rebecca dan Cecilia tidak akan melakukan hal itu padamu. Tapi, kalau kamu ragu, coba kita tanya pendapat Pak James yah .... Kamu juga sudah mengakui kalau ia guru yang baik dan bisa dipercaya kan?" kata Sharon lagi.
Priscillia terdiam. Ia menyadari kebenaran kata-kata Sharon. Akhirnya dengan berat hati, ia menyetujui usul Sharon.
"Baiklah. Ajak Pak James kemari. Tapi kamu yang cerita yah ..." kata Priscillia.
Sharon tersenyum. Ia tahu Priscillia sedang memaksakan dirinya sendiri untuk mengumpulkan keberanian sehingga dapat membuka hal ini. Sesuatu yang ia sudah tutupi bertahun-tahun lamanya.
Pintu yang tiba-tiba terbuka membuat orang-orang yang di luar ruangan mendadak terdiam. Tak lama kemudian, terlihat sosok Sharon yang berkata, "Pak James, silakan masuk."
Melihat itu, spontan Rebecca memanfaatkan kesempatan itu untuk bicara.
"Kami, Shar? Aku dan Cecilia? Kami ga boleh masuk?" katanya dengan raut wajah kecewa, sedih, dan khawatir yang tercampur baur. Cecilia yang di belakangnya juga ikut maju ke dekat pintu.
Sharon tersenyum sedih. Ia mengerti perasaan Rebecca dan Cecilia. Tapi dirinya pun tak bisa berbuat apa-apa. Ia butuh izin Priscillia untuk memilah siapa yang ingin ditemuinya saat ini. Dan kondisi Priscillia pun juga bukan sesuatu yang mudah untuk dihadapi.
"Sabar ya, Bec. Biar Priscillia konsultasi dulu dengan Pak James. Tunggu sebentar yah ...." Sharon mencoba menenangkan Rebecca.
"Saya akan mencoba bicara dengan Priscillia. Biar saya mengetahui kondisi dan masalahnya lebih dahulu. Cobalah lebih mempercayai Priscillia. Dia sedang mengalami masa sulit saat ini. Beri dia waktu. Oke?" James ikut membujuk Rebecca dan Cecilia.
__ADS_1
Mendengar ucapan James, Rebecca dan Cecilia menganggukkan kepala, lalu mundur teratur. James lalu masuk ke ruang UKS dan pintu kembali ditutup.
Sesampainya di dalam, James melihat sosok yang terbaring di ranjang pasien. Tubuhnya ditutupi selimut dari ujung kaki sampai ujung kepala. Hanya beberapa helai rambutnya yang tampak keluar dari sela-sela selimut yang membuat James tahu kalau di dalamnya adalah sosok wanita, yang harusnya Priscillia.
"Hai, bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya James menyapa sosok di balik selimut.
"Sudah jauh lebih baik, Pak." Terdengar suara Priscillia dari dalam selimut.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kamu sakit apa?" tanya James dengan lembut.
"Biar Sharon aja yang cerita yah, Pak ..." jawab Priscillia.
James tertegun. Untuk pertama kalinya Priscillia justru mengandalkan orang lain untuk menjelaskan sesuatu. Bahkan orang yang dipilih adalah Sharon. Keadaan yang sangat bertolak belakang dengan kejadian waktu mereka membongkar kelakuan pak Santo.
Walau Priscillia berada di balik selimut, James dapat merasakan betapa rapuhnya Priscillia saat ini. Hal ini dapat ia ketahui dari nada suara Priscillia ketika menjawab pertanyaannya.
"Baiklah. Sharon, boleh saya tahu apa yang terjadi?" James mengulang pertanyaannya kembali, tapi kali ini ditujukan kepada Sharon.
"Priscillia mengidap alergi sinar matahari, Pak. Nama penyakitnya ... Por ... Ver ... entahlah saya lupa, yang jelas disebut juga dengan Vampire Disease," jawab Sharon. (noted: Sharon mau menyebut Variegate Porphyria atau vampire disease, yaitu sejenis penyakit genetik yang langka. Gejalanya dapat muncul berupa keluhan di kulit atau sistem saraf, atau bisa juga keduanya.)
Mendengar penyakit Priscillia, James terkejut. Ia tak menyangka penyakit seperti itu benar-benar ada. Selama ini dikiranya Priscillia menghindari matahari hanya karena alasan sepele, seperti kecantikan, tidak suka panas, ataupun lagi malas berolahraga.
"Pertama kali penyakit ini muncul saat kami duduk di kelas VI SD, Pak. Kulit Priscillia tiba-tiba merah dan membengkak, tapi untungnya Priscillia waktu itu tidak sampai pingsan. Tapi hal itu membuat Priscillia jadi bulan-bulanan di sekolah. Jujur saja, rupa Priscillia saat itu jadi buruk dan agak mengerikan. Teman-teman yang menyaksikan hal tersebut mengatai Priscillia sebagai anak monster.
Hal itu menjadi trauma sendiri buat Priscillia. Karena itulah, kami tidak melanjutkan SMP di sana agar kami bisa memulai awal yang baru tanpa seorang pun yang mengetahui fakta ini. Di SMP yang baru itulah kami bertemu dengan Rebecca dan Cecilia.
Makanya saat ini Rebecca dan Cecilia tidak mengetahui penyakit Priscillia, Pak. Mereka menganggap perilaku Priscillia selama ini hanya tingkah untuk menjaga kecantikan atau sekedar bermain putri-putrian saja. Tapi memang itu juga yang sengaja kami tonjolkan untuk menyembunyikan fakta yang sebenarnya." Sharon menjelaskan panjang-lebar.
"Lalu, bagaimana ceritanya sehingga hari ini bisa terjadi peristiwa ini?" tanya James.
__ADS_1
"Kalau kejadian hari ini, dimulai dengan begini, Pak ...." Sharon kembali memulai kalimatnya.
...****************...