Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Kematian Dion


__ADS_3

Entah sudah berapa lama James terduduk di kursi Ruang Tunggu ICU, sampai akhirnya ia mendengar suara perawat memanggil namanya.


"Apakah ada yang bernama James disini?"


"Saya, Suster, " sahut James sambil bangkit dari tempat duduknya.


"Saudara Dion sudah sadar dan menanyakan kehadiran Anda. Jika Anda ingin menemuinya, tolong ikuti saya, " kata perawat itu lagi.


James lalu mengikuti perawat tersebut ke sudut ruangan. Di sana ada sebuah wastafel dan bilik kecil yang sepertinya merupakan ruang ganti.


"Silakan cuci tangan dengan sabun, lalu gantilah baju dan alas kaki Anda dengan baju pengunjung dan alas kaki khusus ruang ICU, yang ada di dalam ruang ganti." Perawat itu memberi arahan pada James.


James melakukan tepat seperti apa yang dikatakan Si Perawat. Setelah keluar dari ruang ganti dengan baju dan alas kaki khusus tersebut, tangan James disemprot dengan alkohol, lalu baru ia diizinkan mendekati ranjang di mana Dion terbaring.


"Pasien jangan terlalu banyak diajak bicara dulu yah ..." kata perawat mengingatkan, sebelum ia meninggalkan mereka untuk kembali mengerjakan tugasnya.


Ketika tatapan mereka berdua bertemu, Dion berusaha mengangkat tangannya dan menggerakkan jari-jarinya seraya mengucapkan salam.


"Hai ..." katanya dengan suara lemah.


"Hai .... Kenapa lo bisa jadi begini, bro ? Makanya, jangan sok jadi Superhero yang ngerasa kuat adu badan ama mobil !" James berusaha menjaga sikapnya agar terlihat santai.


Mendengar itu, Dion sedikit nyengir. Lalu ia mencoba kembali berbicara, "James ..."


"Yo?" jawab James.

__ADS_1


"Tolong ... jaga ... adikku ..." sahut Dion lemah.


"Aman. Tapi jangan keenakan lempar tanggung jawab ya, bro ! Lo harus jaga Celine sendiri! Makanya, lo harus cepet sembuh yah!" sahut James. Mendengar itu, Dion hanya tersenyum dan mengangguk lemah.


"Ngomong-ngomong ini HP dan beberapa barang lo yang diambil dari loker lo di kafe. Beberapa temen lo tadi berusaha mencari nomor kontak keluarga lo lewat HP lo. Tapi sia-sia, karena HP lo terkunci dan mereka ga tau password -nya. Jadi sampe sekarang, keluarga lo belum tau keadaan lo. Mau gua yang ngabarin?" tanya James sambil mengulurkan sebuah kantong.


Dion menjawab dengan menggelengkan kepalanya perlahan. Dia tidak ingin membuat adiknya dan Mbok Yani khawatir.


James menangkap maksud Dion tersebut. "Ya udah .... Kalo gitu HP dan barang lo, gua yang pegang dulu yah ...."


"Maaf, Pak .... Mengingat pasien baru saja sadar, bisa disudahi sampai di sini saja pembicaraannya? Biar pasien bisa beristirahat," kembali perawat mengingatkan James.


"Iya .... Sebentar, Suster ..." jawab James. Lalu kembali berbicara kepada Dion.


"Gua pulang dulu ya, bro. Gua belum mandi dan makan malem nih. Besok pagi gua rencana ke fakultas lo untuk kasih kabar lo ke pihak fakultas, biar mereka memaklumi alasan lo ga bisa mengikuti kuliah sementara ini. Habis itu, gua bakal langsung ke sini. Jadi, lo tenang-tenang aja. Fokus sama kesembuhan lo! Oke, bro ?" tanya James kepada Dion sambil mengacungkan ibu jarinya.


...****************...


Esok paginya, sekitar pukul 07.30, James sudah ada di Fakultas Seni Rupa. Karena kampus masih sepi, Ia membutuhkan waktu yang cukup lama, sampai akhirnya ia bisa menemukan teman seangkatan Dion.


James menceritakan peristiwa kemarin dengan singkat dan mengatakan apa tujuannya datang ke kampus ini. Teman tersebut lalu membantu James untuk mengurus perizinan tersebut di Bagian Akademik dan Kemahasiswaan. James diminta untuk melampirkan Surat Keterangan dari RS tempat Dion dirawat, agar surat izin tidak masuk kuliah tersebut dapat diakui oleh pihak fakultas.


Sekitar pukul 09.00, James sudah menyelesaikan urusannya di kampus Dion. Ia berpikir untuk langsung ke RS. M, meskipun Dion baru bisa dibesuk pada pukul 10.00 sesuai ketentuan jam kunjungan pagi di ruang ICU. Minimal ia bisa mengamati keadaan Dion dari balik kaca atau ia sudah dalam keadaan stand by, jika Dion membutuhkan bantuannya. Begitu pikirnya.


Baru saja James hendak meninggalkan kampus Dion, tiba-tiba HP-nya berbunyi. Rupanya telepon dari RS. M. Firasat buruk langsung menerpanya. Dengan perasaan cemas, ia segera mengangkat panggilan tersebut. "Halo?"

__ADS_1


"Halo, Selamat pagi. Ini dari Ruang ICU RS. M. Apakah saya berbicara dengan keluarga/kerabat dari Saudara Dion?" sahut suara di seberang sana.


"Ya, saya sendiri, " jawab James.


"Kami ingin mengabarkan bahwa kondisi Saudara Dion mengalami perburukan. Apakah Anda bisa segera ke sini?"


"Ya. Saya segera ke sana sekarang," jawab James pendek.


Dalam waktu kurang dari 15 menit, James sudah tiba di RS. M dan bergegas menuju ruang ICU. Setelah tiba di Ruang Tunggu ICU, James segera mengamati keadaan di balik kaca.


Tampak di sana dokter dan beberapa perawat sedang mengelilingi ranjang Dion. Jika James tidak salah, sepertinya mereka sedang melakukan pijat jantung pada Dion. Tampak juga perawat lain beberapa kali menyuntikkan sesuatu ke selang infus Dion. Suasana di sana diliputi ketegangan, yang terlihat jelas dari raut wajah mereka.


Melihat itu, firasat buruk yang tadi dirasakannya makin bertambah kuat. Tapi James tetap berharap dan berdoa agar firasatnya tidak terjadi.


Tetapi jantungnya makin berdebar kencang ketika setelah beberapa saat, ia melihat dokter menghentikan usaha pijat jantung tersebut dan menggelengkan kepalanya. Kemudian perawat mulai membereskan peralatan medis yang melekat di tubuh Dion.


Tidak lama kemudian, dokter tersebut keluar dari ruangan ICU dan berkata, "Ada keluarga/kerabat dari Saudara Dion?"


"Sa- saya, " sahut James dengan segera.


"Kami sudah melakukan yang terbaik. Namun rupanya komplikasi perdarahan tetap terjadi. Hal inilah yang membuat kondisi Saudara Dion tiba-tiba mengalami perburukan, hingga mengalami henti napas dan henti jantung.


Kami sudah berusaha mengembalikan napas dan detak jantungnya, dengan melakukan pijat jantung dan dengan menyuntikkan obat-obatan. Tetapi rupanya Saudara Dion tetap tidak tertolong. Dengan berat hati, kami menyatakan Saudara Dion telah meninggal dunia."


Deg! Rupanya firasat buruknya menjadi kenyataan !

__ADS_1


...****************...


__ADS_2