Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Mengejutkan dan Dikejutkan


__ADS_3

Tidak terasa tiga bulan sudah James bekerja di RSUD. Ia sudah melalui masa orientasinya dengan baik. Kontraknya pun diperpanjang menjadi setahun.


Tentu saja James bahagia. Ia merasa lega luar biasa. Dengan demikian, ia sudah dianggap resmi bergabung sebagai karyawan di RSUD.


Orang pertama yang terpikirkan untuk ia bagikan kabar gembira ini selain kedua orang tuanya, tentu saja Celine. Gadis itu sudah bersabar cukup lama memantau perkembangan karir yang ingin ia capai dengan jeri payahnya sendiri. Celine dengan penuh pengertian menerima penangguhan pertunangan dan janji kunjungannya demi menjaga egonya tersebut.


Sekarang saatnya ia ingin menyenangkan gadis itu. Ia ingin memberinya kejutan. Ia akan mendatangi Celine di hari Jumat. Rencananya, setelah selesai bekerja, ia akan pulang ke rumah, menukar pakaian dan tasnya, lalu pergi ke bandara. Rencana tersebut sudah ia bicarakan kepada kedua orang tuanya yang tentu saja langsung mendukung James.


Demi kesuksesan kejutan tersebut, James sengaja bersikap seperti biasa di pembicaraan-pembicaraan malam sebelum mereka tidur. Topik yang mereka bicarakan masih seperti biasa, tentang keseharian dan cerita di tempat kerja.


Sejujurnya, James memang merasakan akhir-akhir ini hubungan mereka terlalu datar. Obrolan mereka hanya berputar di situ-situ saja. Bahkan bisa dibilang lebih banyak James yang bercerita dibandingkan Celine.


Celine cenderung menjadi pendengar yang baik. Jika dibalik untuk diminta bercerita, Celine hanya menjawab bahwa kesehariannya tidak ada yang spesial dan masih seperti biasa, yang tentu saja mematikan pembicaraan.


Karena itulah James sangat berharap kejutan kali ini bisa memberikan letupan-letupan yang dapat menggairahkan cinta mereka. Untuk itu, James sangat berhati-hati dalam menjaga sikap, ekspresi, dan tutur kata agar rahasianya tidak ketahuan.


Hari Kamis malamnya, mereka malah masih sempat membicarakan rencana kegiatan yang ingin dilakukan jika Celine datang ke kota ini di hari Sabtu dan Minggunya, tanpa Celine ketahui itu hanyalah sebuah kedok yang dibuat James. Sabar yah, Sayang .... Besok sore Bang James sudah ada di sisimu ... ucap James dalam hati.


...****************...


Esok harinya saat waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 tepat, James bergegas meninggalkan RSUD. Tiba di rumah, ia segera mandi dan langsung menyambar tas ransel berisi peralatan untuk menginap selama 2 hari yang telah ia persiapkan sebelumnya. Setelah berpamitan pada Sang Ibunda (noted: Papa Heru masih mengajar di kampus), James pun melaju ke bandara.


Sepanjang penerbangan selama kira-kira satu setengah jam itu, dilewati James dengan mengkhayal. Hatinya berdebar memikirkan respons Celine jika melihat ia tiba-tiba datang.


Pukul 17.50, James sudah berada di depan rumah keluarga Adipratama. Ia segera menghubungi Mbok Yani sebagai orang dari pihak keluarga Celine yang menurutnya paling dapat diajak bekerja sama.


Tentu saja Mbok Yani yang mendapat kabar James sudah ada di depan pagar, dengan tergopoh-gopoh langsung keluar dari rumah dan menyambut James.


"Oalahhh .... Nak James ini .... Jangan sering begini ah .... Mbok sudah tua lho ..." protes Mbok Yani begitu tiba di depan James.

__ADS_1


James hanya bisa memasang cengiran mautnya mendengar perkataan Mbok Yani. "Maaf, Mbok .... Namanya juga mau bikin kejutan .... Jadi sekarang Celine ada, Mbok?" tanya James.


"Nona dan Tuan Besar belum pulang, Nak .... Mungkin masih ada urusan di kantor, " jawab Mbok Yani.


James memang sering mendengar cerita Celine yang kadang jam pulangnya tak menentu. Hanya saja ia masih berharap Celine sudah pulang karena sudah hampir 2 jam lewat dari waktu pulang kantor biasanya.


"Ya sudah, Mbok. Saya coba susul ke kantornya aja. Perusahaan Adipratama Grup, kan?" James memastikan nama kantornya Celine.


"Iya, Nak. Tanya orang aja pasti tau kok, " sahut Mbok Yani.


"Oke, Mbok. Makasih .... Saya permisi dulu yah ...."


Tak lama kemudian, James pun melaju ke tempat Celine bekerja dengan menggunakan taksi. Saat itu langit mulai terlihat gelap, karena matahari perlahan mulai tenggelam.


Tidak sampai 10 menit, taksi berhenti di sebuah bangunan tinggi besar bergaya modern dengan lambang AG di atasnya. Lampu-lampu mulai dinyalakan, sehingga gedung tersebut semakin terlihat elegan dan mewah. Dengan penuh kekaguman, James memandangi gedung dengan nuansa futuristik tersebut. Menurut penaksirannya, gedung ini paling tidak terdiri dari 40 tingkat.


"Maaf, numpang tanya .... Apakah Bu Celine masih ada di kantor?" tanya James pada seorang wanita yang berjaga di sana.


"Anda siapa yah? Apakah sudah punya janji dengan beliau?" Wanita itu balik bertanya sambil melihat penampilan James yang saat itu memang tidak mengenakan pakaian formal. James mengenakan kemeja kotak-kotak dengan kancing terbuka, melapisi kaos putih di dalamnya. Ransel yang ia gendong semakin membuat ia terlihat seperti bolang (noted: bocah petualang), daripada seorang pekerja kantoran.


"Saya temannya. Saya belum memiliki janji dengan beliau, " jawab James apa adanya.


"Kalau begitu, coba saja Anda hubungi beliau. Bu Celine sudah meninggalkan kantor ini kurang lebih setengah jam yang lalu, " kata resepsionis tersebut dengan gaya acuh tak acuh.


James tertegun. Sudah meninggalkan kantor dari setengah jam yang lalu? Ia dari kediaman Adipratama sampai sini saja hanya membutuhkan waktu 10 menit, dan Celine belum tiba di rumah. Jadi, jika Celine tidak pulang ke rumah, Celine ke mana?


"Maaf, apakah Anda tahu Bu Celine pergi ke mana? Karena saya dari rumahnya, tapi beliau tidak ada di sana." James kembali bertanya.


Wanita itu melihat James dengan pandangan jengkel. "Yang mengaku temannya kan, Anda! Silakan Anda bertanya sendiri pada beliau! Seorang teman pasti punya nomor kontaknya, kan?! Anak buah rendahan seperti saya, mana berani bertanya tujuan seorang bos, Pak!" cetusnya. Terlihat jelas, bahwa resepsionis tersebut sebenarnya tidak meyakini kalau pemuda di hadapannya adalah teman dari atasannya.

__ADS_1


Mendapat perlakuan seperti itu, James segera menyadari keberadaannya. Dengan perlahan ia pun mundur dari meja resepsionis sambil bergumam, "Ah .... Maaf .... Terima kasih, Mbak." Entahlah Sang Resepsionis mendengar kalimat yang diucapkan James atau tidak. James pun tidak memedulikan hal itu.


Sambil berjalan ke arah pelataran gedung, James tersenyum kecut melihat penampilannya sendiri. Jelas ia tidak berpikir panjang untuk menyusul Celine sampai kemari. Mengaku teman Celine saja, ia tidak dipercaya. Bagaimana kalau ia mengaku sebagai kekasihnya? Atau calon tunangannya?


James mengenyahkan perasaan rendah diri yang mulai muncul di hatinya. Cukup! Jangan berpikir terlalu jauh! Saat ini kesalahannya hanyalah salah kostum! Ia berada di tempat yang salah dengan penampilan yang salah! Lebih baik fokus dengan tujuan semula, memberi kejutan pada Celine. Sekarang sebaiknya ia ke mana? Kembali ke kediaman Adipratama? Atau lebih baik menghubungi Celine dan membatalkan kejutannya sampai di sini saja?


Ketika James sedang asyik menimbang, terdengar seseorang memanggil namanya. "Pak James! Pak James, kan?"


James pun menengok ke arah suara yang memanggilnya. Seorang laki-laki berbadan tegap sedang menghampirinya. Setelah cukup dekat, James mengenali wajah familiar tersebut. "Pak Joseph?" tanyanya dengan nada tidak percaya.


Joseph tertawa. "Ya. Apa kabar, Pak? Lama tak berjumpa. Pasti mencari Bu Celine yah?" tanyanya sambil menyapa James dengan ramah.


James yang masih bingung dengan pertemuannya dengan Pak Joseph di sini, kembali bertanya, "Bapak sekarang kerja di sini?"


"Iya. Baru sekitar 6 bulan lah. Kan adik Pak James sendiri yang membantu saya sehingga bisa bekerja di sini. Memang Bu Celine tidak ada cerita?" Pak Joseph balik bertanya.


James terdiam. Celine tidak menceritakan apapun tentang Pak Joseph padanya. Dan sejak kapan Celine dan Pak Joseph sedekat ini? Ditambah lagi, sepertinya Pak Joseph salah paham mengenai hubungannya dengan Celine. Ia dikira sebagai abangnya Celine.


Joseph merasa ada yang aneh dengan sikap James. Tetapi ia tidak sempat memikirkannya lebih lanjut. Ia teringat ada hal mendesak yang masih menantinya. Namun, ia juga tidak enak meninggalkan mantan rekan kerjanya di sini sendirian tanpa kejelasan.


"Maaf, Pak. Saya harus pergi. Masih ada yang harus saya kerjakan. Apakah Pak James kemari mencari Bu Celine?" Joseph mengulang pertanyaannya.


"Iya. Tapi Celine tidak tau kalau saya di sini. Tadinya saya berniat memberikan kejutan padanya, " jawab James memutuskan menangguhkan pertanyaan-pertanyaan yang dari tadi bermunculan di otaknya.


Pak Joseph tertawa. "Oh .... Baiklah kalau begitu. Akan saya bantu! Kebetulan sekali sekarang saya akan menjemput beliau kembali dari tempat perjodohannya. Pak James tunggu aja diam-diam di sini yah! Tidak lama kok!" kata Pak Joseph sambil lalu. Dan ia pun segera pergi meninggalkan James yang masih terdiam kaku di tempatnya.


Sedangkan James, masih berusaha mengembalikan kesadarannya yang sempat hilang sekejap akibat kalimat seperti petir yang menyambarnya. Tadi Pak Joseph bilang apa? Celine dari ... tempat perjodohan? Salah dengarkah dirinya ?


...****************...

__ADS_1


__ADS_2