
Setelah membaca pesan peringatan dari Darrell, Rebecca dongkol setengah mati. Baru kali ini mulut berbisanya tidak membuat seseorang gentar. Malah yang terjadi adalah kebalikannya. Pria b*r*ngs*k itu sekarang yang mengancamnya dan mengatainya kekanakan. Benar-benar kurang ajar!
Sebenarnya ia ingin sekali memaki pria itu lagi. Namun hal itu ditahannya. Ia tahu bahwa hal tersebut adalah sebuah kesia-kesiaan. Bisa jadi malah makian tersebut akan dimanfaatkan Si B*r*ngs*k itu untuk mengatainya lebih parah.
Andaikan saat ini ia tidak sedang mengikuti kuliah, ingin rasanya ia mengumpat dan membanting HP-nya. Namun yang saat ini ia bisa lakukan adalah menahan kemarahannya dan mencoba berpikir tenang.
Tetapi Rebecca bukan Priscillia yang memiliki kemampuan pengendalian diri yang tinggi. Dia bisa menahan tidak memaki di tengah kelas saja, sudah memerlukan usaha yang cukup keras.
Boro-boro berpikir tenang dan mencoba mencari jalan keluar masalahnya, saat ini ia bahkan tidak dapat mengikuti kuliah dengan baik. Pikiran dan perasaannya awur-awuran. Penjelasan dosen berlalu begitu saja tanpa sempat singgah di telinganya.
Akhirnya Rebecca menyerah. Ia mengirimkan sebuah pesan singkat kepada ketiga sahabat karibnya. 'Teman-teman .... Tolong aku! Aku butuh kalian untuk memberikanku masukan. Kuharap sore ini kita bisa berkumpul dan bertemu. Kabari aku tempat dan waktunya.'
Dalam waktu singkat, waktu dan tempat pertemuan sudah ditetapkan. Seperti biasa, mereka janjian untuk bertemu pada pukul 16.00 di kafe dekat kampus Sharon, sebagai orang terakhir yang baru menyelesaikan kuliah di waktu tersebut.
Setelah mereka berkumpul dan memesan minuman, Rebecca langsung menceritakan kelanjutan peristiwa perjodohannya. Bagaimana cowok itu kembali menghubunginya, sampai pesan ancaman yang ia minta agar Rebecca mengatur pertemuan mereka akhir minggu ini.
"Aku marah! Aku kesal! Aku dongkol! Baru kali ini aku ketemu cowok yang segitu ga tau malunya! Sudah kusiram, sudah kuabaikan, bisa-bisanya dia balik mengancam! Bahkan dengan terus terang, dia bilang ini semua dia lakukan untuk memenuhi keinginan papanya! Bukan karena tertarik padaku! Gilanya lagi, setelah seenaknya mengataiku liar, dia memanggilku dengan julukan-julukan. Yang cat woman lah .... Yang kitty lah .... Dia pikir aku apaan!" Rebecca menumpahkan amarahnya.
Tetapi bukannya bersimpati, teman-temannya malah tersenyum mendengar cerita Rebecca. Pasalnya mereka merasa julukan yang diberikan pria itu cukup pas dengan karakter Rebecca. Rebecca bisa terlihat liar dan kejam seperti tokoh antagonis di kisah Batman itu. Namun buat yang mengenalnya, kadang sikap Rebecca dapat terlihat lucu dan menggemaskan seperti anak kucing yang galak.
Kali ini Rebecca benar-benar kena batunya. Selama ini, Rebecca terbiasa membuat orang gentar dengan status orang tuanya. Belum lagi ditambah dengan mulut tajam Rebecca dan gayanya yang agak jauh dari kata elegan. Jika ditambah dengan sabuk biru taekwondo yang menjadi hiasan di pinggangnya, jelas membuat orang semakin enggan bersinggungan dengan Rebecca.
Hal ini juga berlaku bagi para pria yang sudah dijodohkan dengannya. Mereka semua memilih tampil dengan sikap manis dan kata-kata seorang penjilat. Rebecca tahu, mereka semua tidak mencintainya dan menerima dirinya apa adanya. Mereka hanya mencari muka agar dapat meningkatkan status keluarga masing-masing.
Sebagai putri pengusaha besar, sudah menjadi rahasia umum untuk tidak berharap dengan cinta sebagai dasar perjodohan. Ia tidak seromantis dan seidealis itu dalam memilih pasangan.
Tetapi bukan berarti ia bisa menerima begitu saja sikap cowok yang blakblakan mengatainya liar dan berterus terang kalau pendekatan yang dilakukannya semata-mata demi memenuhi keinginan ayahnya. Perkataan itu membuat harga dirinya sebagai wanita agak terusik.
Belum lagi ancaman yang diberikan cowok itu dengan melibatkan papanya. Bagaimana dengan percaya diri cowok itu membanggakan kemampuannya untuk bermuka dua. Benar-benar cowok culas bak serigala berbulu domba!
"Yah .... Berarti dia tidak mempermasalahkan sikapmu, kan? Mungkin dia benar-benar serius dengan perjodohan ini. Setidaknya dia jujur dengan motivasinya. Bukankah selama ini kamu menolak pria yang dijodohkan karena menganggap mereka munafik?" kata Priscillia.
__ADS_1
"Tentu saja dia serius! Dia sendiri yang mengaku membutuhkan latar belakang keluargaku untuk mendukung karirnya! Tetapi bukan berarti ia harus setidak tahu malu itu, kan?!" ujar Rebecca.
"Kalo bersikap manis, dikatai penjilat. Jujur begini, dikatai tidak tahu malu. Jadi yang baik menurutmu harusnya gimana, Bec?" tanya Sharon yang bingung dengan sikap Rebecca.
"Aku bukan bermasalah dengan kejujurannya! Tapi lebih ke sikapnya! Ia balik menantangku dan mengancamku, Shar! Aku kesal! Aku ga mau menuruti keinginannya begitu aja! Tapi aku ga tau apa yang harus kuperbuat!" rengek Rebecca.
"Jadi kamu benar-benar tidak menyukainya? Tidak ingin memberinya kesempatan? Tidak ingin menghargai usahanya untuk menerimamu?" ujar Cecilia penuh selidik.
"Tidak! Toh aku tau, dia tidak benar-benar menerimaku! Pokoknya sebisa mungkin aku ga mau berurusan dengannya! Semenjak dia mengaku ingin mengguncang status Celine sebagai pewaris sah perusahaan, dia sudah kutolak!
Aku tahu ini masalah internal keluarga mereka. Aku juga tahu itu haknya untuk mencoba merebut posisi itu selama persaingannya cukup sehat. Tapi buatku tetap berbeda antara persaingan untuk memperebutkan posisi yang kosong, dan usaha untuk menggeser seseorang dalam rangka merebut posisinya!" jelas Rebecca.
Ketiga temannya terdiam. Jelas sudah Rebecca meletakkan kesetiaan di atas segala pertimbangannya.
"Ya sudah .... Intinya, kamu ingin membatalkan pertemuan kalian, tapi tidak ingin ia sampai melibatkan papamu, kan?" Priscillia mengembalikan topik utama pembicaraan mereka.
"Iya!" jawab Rebecca cepat.
"Memang dia bisa menerima alasan begitu semudah itu?" alis Rebecca bekernyit meragukan usul Cecilia.
"Kalau dia tidak terima, suruh ikut aja. Emang betah cowok sendirian menemani urusan cewek? Nanti kita asyik-asyik sendiri dan cuekin dia gitu. Liat aja mentalnya sekuat apa!" Cecilia menjabarkan pengetahuannya dalam menghadapi pria.
"Bagus juga usulmu, Cil! Kalau ia mundur dengan sendirinya, dia tidak mungkin berani melibatkan papa Rebecca lagi, kan?" Priscillia menyimpulkan.
Melihat ada harapan, mata Rebecca mulai berbinar. Akhirnya mereka kembali berunding untuk memutuskan waktu yang tepat untuk beraktivitas bersama di akhir pekan, jika pria itu tetap bersikeras bertemu dengan Rebecca. Setelah rencana mereka tersusun, mereka mengakhiri pertemuan itu dan pulang ke rumah masing-masing.
Malamnya, Rebecca mengirimkan pesan kepada Darrell sesuai arahan teman-temannya tadi sore.
'Maaf. Akhir minggu ini kita tidak ketemu. Aku ada urusan.' Rebecca menuliskan pesan itu tanpa basa-basi.
Lima belas kemudian, balasan dari Darrell datang. 'Urusan apa?'
__ADS_1
Rebecca memutar bola matanya setelah membaca pesan itu. Tuh kan .... Mana mungkin pria itu menerima alasannya begitu saja. Ia pasti merasa kalau alasannya itu dibuat-buat, walaupun memang ada benarnya.
'Ada janji ketemu teman. Kami sudah lama tidak bertemu, jadi mengertilah!' balas Rebecca.
'Temanmu perempuan?'
Rebecca mendelik membaca pesan itu. Apa maksud pria ini bertanya demikian? Apakah pria ini mau mulai membatasi pergaulannya?
'Iya. Memang kenapa?' Rebecca memutuskan untuk jujur.
'Ya sudah. Nanti kamu tinggal memperkenalkan kami. Gampang, kan?'
Alis Rebecca bekernyit. 'Temanku cewek semua! Kami akan berkumpul berempat! Kamu ga risih jadi cowok sendiri apa?' pancing Rebecca.
'Kaga tuh. Malah bagus kalo kita memperluas pergaulan. Teman-temanmu dari keluarga berpengaruh juga, kan?'
Amarah Rebecca mulai terpancing. Benar-benar cowok tak tahu malu! Segitu haus kekuasaannya kah dia?
'Jangan ganggu teman-temanku! Tak akan kubiarkan mereka bertemu pria busuk sepertimu!' tukas Rebecca.
'Aku tidak mengganggu mereka. Apa salahnya berkenalan untuk memperluas pergaulan? Kamu menghalangi pertemuanku dengan teman-temanmu, apakah karena kamu cemburu, kitty ?'
'Cemburu gigi kau! Sudah kubilang untuk melindungi mereka dari pria busuk, culas, bak serigala sepertimu! Masih ga ngerti juga??!!' Amarah Rebecca meledak.
'Mereka sudah dewasa, kan? Biar mereka menilai sendiri. Tetapi kalau kamu terus menghalangi pertemuanku dengan para temanmu begini, aku tidak bisa terpikir alasan lain selain dirimu cemburu, cat woman ....'
'Baik, kalo kamu masih maksa juga! Aku percaya teman-temanku bisa melihat dan menilai sendiri, betapa b*r*ngs*knya kamu, dasar pria tak tau malu!! Kita bertemu hari Sabtu jam 4 sore di depan pintu masuk taman ria D !' Rebecca mengeluarkan rencana terakhir yang ia susun bersama teman-temannya.
'Oke. See u there, kitty ....'
Dan chat itu pun diakhiri. Kali ini HP Rebecca sukses dibanting pemiliknya ke ranjang.
__ADS_1
...****************...