Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Berikan Saja Pada Saya


__ADS_3

Setelah menghela napas panjang, dengan hati-hati dan perlahan, James mendekati Celine sambil memperhatikan respons Celine. Apakah Celine akan tampak ragu atau takut, seperti saat pertama kali bertemu dengannya?


Tetapi karena tidak terlihat respons seperti itu, James makin memberanikan diri. Setelah ada di hadapan Celine, James berlutut untuk menyejajarkan pandangan mata mereka, lalu memegang tangannya.


Tetap tidak ada respons apapun. Tidak ada penolakan, keengganan, keraguan, ketakutan, atau kegugupan. Matanya menatap lurus ke arah James. Tetapi James tahu, Celine tidak benar-benar melihatnya. Sepertinya Celine yang pemalu yang dikenalnya dulu, hilang entah ke mana.


"Hai .... Ini Bang James. Celine ingat?" tanya James dengan lembut.


"Percuma! Dia tidak akan menjawab atau memberi respons apapun!" Tiba-tiba terdengar suara bariton yang membuat semua orang di ruangan itu terkejut.


Begitu melihat Sang Empunya suara, Mbok Yani segera bangkit dari duduknya. Melihat itu, James ikut-ikutan berdiri. Kedua pelayan yang berdiri di sisi tangga, segera menundukkan kepala mereka.


Tampak seorang pria berumur sekitar 50 tahunan, memakai setelan jas formal berwarna abu-abu tua, menuruni tangga di depan mereka dengan gaya elegan dan penuh wibawa.


"Tuan Besar ..." panggil Mbok Yani, yang membuat James jadi tahu identitas pria tersebut.


Setelah tiba di anak tangga terakhir, Tuan Besar yang bernama Adrian Adipratama ini bertanya, "Siapa pemuda ini, Mbok?"


"Ini Nak James, temannya Tuan Muda waktu kuliah dulu, Tuan Besar ..." jawab Mbok Yani dengan penuh rasa hormat.


"Selamat sore, Om ...." James memberikan salam.


"Hmm .... Temannya Dion? Kalian satu angkatan?" tanya Tuan Adipratama pada James, sambil mengancingkan jasnya.


"Iya, Om, " jawab James pendek.


"Sudah lulus kuliah?"


"Tinggal menunggu wisuda, Om ...."


"Mengambil jurusan seni juga?"


"Tidak, Om. Saya mengambil jurusan Ilmu Pendidikan."


"Oh .... Lumayanlah .... Dibandingkan jurusan seni tidak berguna yang diambil anak kurang ajar itu." Mendengar itu, alis James langsung bekernyit.

__ADS_1


"Jadi, apa urusan kamu ke sini?" Tuan Adipratama melanjutkan pertanyaannya.


"Saya menjalankan amanat terakhir Dion untuk menjaga Celine, Om, " jawab James terus terang.


Jawaban itu membuat Tuan Besar Adipratama dan Mbok Yani tertegun. Mereka tidak menyangka ada pembicaraan seperti ini sebelum kematian Dion.


"Hoo .... Rupanya anak egois itu masih peduli pada adiknya di saat-saat terakhirnya. Tapi ... percuma saja. Seperti yang kamu lihat, keadaan Celine jadi seperti ini semenjak kembali dari pemakaman kakaknya.


Huh! Benar-benar menyusahkan! Sudah dari kecil punya masalah gangguan kecemasan sosial, sekarang malah berkembang jadi seperti ini! Sudah tidak ada bedanya dengan orang gila!" ketus Tuan Adipratama sambil melihat Celine.


"Tuan Besar .... Tolong ucapan Tuan ...." Mbok Yani mencoba mengingatkan.


"Apa maksudnya Celine punya masalah gangguan kecemasan sosial, Om?" James balik bertanya.


"Ooo .... Kamu belum tau kalau dulu, sebelum seperti ini, anak ini sudah punya sifat pemalu yang cukup parah?" tanya Tuan Adipratama kepada James.


"Kalau itu saya sudah tau, Om, " jawab James singkat.


"Kamu tau, kalau keparahannya sampai menyebabkan anak ini tidak bisa bersekolah seperti anak-anak pada umumnya?" Mendengar itu James terdiam. Jujur, ia tidak terpikir sampai sana.


Dan seolah belum cukup membuat malu nama besar keluarga Adipratama, sekarang anak ini malah jadi seperti ini! Dengan sikapnya yang tidak merespons apapun, terpaksa homeschooling pun harus dihentikan! Boro-boro untuk mengurus pendidikannya, untuk mengurus dirinya saja sekarang harus dibantu Mbok Yani! Benar-benar aib keluarga!" tambah Tuan Adipratama menumpahkan kekesalannya.


"Tuan Besar .... Tolong hentikan .... Nona Celine dengar ..." sahut Mbok Yani sambil menutup telinga Celine dengan kedua tangannya. Pilu hatinya mendengar ucapan itu, meskipun Celine sendiri tetap bergeming dengan muka datar dan tatapan kosong.


"Biar dia dengar!! Kayak dia bisa merespons saja! Lihat sikapnya yang dari tadi cuma seperti patung itu!! Jujur saja, sudah muak saya melihatnya!!" ujar Tuan Adipratama menanggapi ucapan Mbok Yani dengan gusar. Mendengar itu Mbok Yani hanya menundukkan kepala dan mulai terisak.


Orang tua macam apa, pria di depannya ini ?Hanya itu kalimat yang muncul di pikiran James.


Sungguh, meskipun mereka hanya dari keluarga sederhana, meskipun dirinya tidak sepintar dan tidak menonjol seperti abangnya, meskipun ia juga seringkali menyusahkan kedua orang tuanya, TIDAK SEKALIPUN orang tuanya pernah berkata sekasar itu padanya. Dalam hal ini, James sungguh bersyukur memiliki orang tua seperti Papa Heru dan Mama Ratna.


Entah keberanian dari mana, atau mungkin kesurupan setan yang lagi lewat, tiba-tiba James berkata, "Kalau begitu, berikan saja pada saya."


Semua yang di ruangan itu mendadak terdiam, sampai Tuan Adipratama akhirnya memecah keheningan dengan berkata, "Apa kamu bilang? Coba kamu ulangi!"


"Saya bilang, jika Om sudah muak melihat Celine, jika Celine hanya dianggap sebagai aib dan hanya menyusahkan Om, berikan saja pada saya, " jawab James lugas.

__ADS_1


"Maksudnya, kamu yang mau merawat dan mendidik Celine, menggantikan SAYA yang adalah PAPAnya?" tanya Tuan Adipratama perlahan menekankan kata demi kata.


"Kurang-lebih seperti itu, Om, " jawab James. Kalau Om masih layak disebut sebagai papa, tambah James dalam hatinya.


"Kamu mau mengajari saya cara mendidik dan merawat anak?" tanya Tuan Adipratama lagi. Mulai tersirat emosi dalam nada suaranya.


"Saya tidak berani, Om."


"Kamu tadi bilang, kamu baru mau lulus kuliah dan sedang menunggu waktu wisuda?"


"Benar, Om."


"Kamu yang seperti ini, mau mendidik anak saya dengan cara bagaimana? Ah .... Apa mentang-mentang calon guru, kamu jadi merasa cukup percaya diri dalam mendidik anak. Begitu hah?" sindir Tuan Adipratama.


"Jujur, saya belum tau harus bagaimana. Saya juga tidak punya kepercayaan diri seperti yang Om pikirkan. Tapi saya akan berusaha untuk tidak menyia-nyiakan Celine, seperti yang Om lakukan padanya, " jawab James tajam.


Mendengar itu, Tuan Adipratama tertawa terbahak-bahak. "Hahahaha .... Anak bau kencur seperti ini ... berani berkata seperti itu pada Tuan Besar Keluarga Adipratama??!! Hahahaha .... Luar biasa ... luar biasa ...."


"Baik! Saya ikuti kemauanmu, Anak Muda! Saya ingin lihat sejauh mana kamu bisa membuktikan perkataanmu pada saya!" Tuan Adipratama melanjutkan perkataannya.


"Kamu boleh membawa Celine. Tapi ingat .... Tunjukkan kejantananmu dengan membawanya kembali ke rumah ini, jika kamu sudah menyadari kesalahanmu! Jangan hanya karena ingin mempertahankan egomu, kamu merusak anak saya dan mencemarkan nama baik keluarga saya! Kalau sampai itu terjadi ... bukan hanya kamu, keluargamu pun akan merasakan akibatnya! Kamu paham??!!" ancam Tuan Besar Adipratama.


"Ya, Om bisa pegang omongan saya, " jawab James dengan berani.


"Bagus! Mbok Yani, segera persiapkan barang-barang Celine, lalu antarkan pemuda ini dan Celine sampai keluar pagar! Saya harus pergi, ada urusan!" perintah Tuan Adipratama, sambil mulai melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.


"Tu- Tuan Besar .... Tunggu dulu!! Janganlah Tuan mengusir Nona Celine dari rumah! Tolong Tuan pikirkan lagi!" Mbok Yani berusaha menghalangi keputusan Tuan Adipratama.


Mendengar itu, Tuan Besar Adipratama menghentikan langkahnya. "Mengusir?"


Lalu ia membalikkan badannya menghadap Mbok Yani dan berkata kepadanya, "Saya tidak mengusirnya, Mbok. Jangan menggunakan kata-kata yang menimbulkan prasangka negatif seperti itu. Kita semua tau, kalau saya sedang melepaskan anak saya untuk sementara demi kebaikannya. Dengan harapan, keadaan Celine menjadi lebih baik. Bukan begitu, Mbok?"


Mbok Yani terdiam mendengar ucapan Sang Tuan Besar. Begitu juga dengan semua orang di ruangan itu. Suasana menjadi sunyi, sampai Sang Tuan Besar tidak terlihat lagi sosoknya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2