Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Belajar Bersahabat


__ADS_3

Sudah tiga hari berlalu dari peristiwa perdebatan antara Rebecca dan Cecilia. Semenjak saat itu, Rebecca merasa gelisah. Ia tahu Darrell bisa menghubungi Cecilia kapan saja dan takut kalau akhirnya pria itu mempengaruhi sahabatnya.


Ia sudah mencoba menenangkan dirinya dengan fakta bahwa sampai sekarang tidak ada kabar apapun baik dari Darrell maupun Cecilia. Mungkin pria serigala itu belum bergerak. Atau ... malah sesungguhnya sudah? Bagaimana jika Cecilianya yang tak terbuka pada mereka?


Memikirkannya benar-benar membuat Rebecca resah. Sesungguhnya ia ingin langsung menanyakannya pada Cecilia lagi. Tetapi ia ingat akan perkataan Priscillia untuk memberikan Cecilia waktu. Ia takut kalau ia terlalu maju, ia akan membuat hubungan persahabatan mereka malah makin memburuk.


Rebecca membuka HP-nya. Ia membaca kembali pesan singkat yang dikirimkan Priscillia kepadanya, sesaat setelah video call mereka waktu itu diakhiri.


'Beri Cecilia waktu yah, Bec .... Sambil menenangkan dirimu juga. Jika tidak tahan, jangan langsung hubungi Cecilia. Hubungi saja aku. Tumpahkan uneg-unegmu padaku. Aku siap menampungnya. Oke, bestie ? 😊' Demikianlah pesan yang ditulis Priscillia lengkap dengan emoticonnya.


Rebecca tersenyum. Sahabatnya itu benar-benar mengenalnya. Mungkin Priscillia sudah menduganya bahwa cepat atau lambat peristiwa ini akan terjadi. Dan kali ini ia benar-benar tidak tahan.


Ia pun menuliskan pesan untuk Sang Ketua. 'Pris .... Aku sudah tak tahan. Ada waktu?'


Tidak sampai lima menit, dering HP-nya berbunyi. Ada panggilan masuk dari Priscillia yang segera diangkat oleh Rebecca.


"Gimana, Bec?" tanya Priscillia.


"Aku sudah berusaha bertahan semampuku. Tetapi sekarang aku sudah ga sanggup. Kalau tidak ingat laranganmu untuk menghubungi Cecilia, aku pasti sudah mengontaknya!" lapor Rebecca.


"Syukurlah kalau kau masih bisa menahannya dan malah menghubungiku. Apa sebenarnya yang kaupikirkan sampai makin gelisah, Bec?" tanya Priscillia lagi.


"Aku takut kalau jangan-jangan Darrell sudah menghubungi Cecilia, Pris! Bagaimana kalau itu benar sudah terjadi, tapi Cecilia yang menyembunyikannya dari kita?" Rebecca mengutarakan kekhawatirannya.


Priscillia terdiam sejenak. "Kalau benar Cecilia bermaksud menyembunyikannya dari kita, kita bisa apa? Mungkin kita tidak terlalu dipercayainya, sehingga ia memilih tidak terbuka, Bec ..." jawab Priscillia pada akhirnya.


"Jadi kita biarkan saja Cecilia mengkhianati kita?" Emosi Rebecca mulai menanjak.


"Jangan memilih kata-kata negatif seperti itu .... 'Tidak terbuka' tidak sama artinya dengan 'mengkhianati'. Mungkin dia perlu waktu. Lagipula belum tentu juga Cecilia memilih Darrell, kan? Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan sehingga kita menghakiminya, " ujar Priscillia bijak.


Rebecca terdiam. Ia sadar kalau dirinya sudah bermain dengan prasangka. Namun karena kedongkolannya masih tersisa akibat ketidaktegasan Cecilia, Rebecca pun melanjutkan mengeluarkan uneg-unegnya.


"Aku tidak mengerti dengan pola pikir Cecilia, Pris! Apa susahnya memutuskan memilih Celine dan kita dibandingkan pria serigala itu? Dia kan baru saja mengenal Darrell! Kenalnya pun hanya karena kebetulan duduk berdampingan di pesawat! Tapi kok bisa-bisanya mempertimbangkan dan mempercayai pria itu dibandingkan kita yang sudah lebih lama mengenalnya?!" protes Rebecca.


"Pola pikir dan prioritas tiap orang beda-beda, Bec .... Mungkin buat Cecilia kedua hal itu tidak dapat disejajarkan sebagai sebuah pilihan, makanya ia tidak dapat memilih. Mungkin baginya persahabatan dan percintaan adalah dua ranah yang berbeda. Bisa terjadi gesekan, jika sahabatnya mencintai pria yang sama. Tapi ini tidak, kan? Apa kau juga mencintai Darrell?" Priscillia balik bertanya.


"Ikh .... Amit-amit!" seru Rebecca spontan.


"Nah? Tidak, kan? Jadi dia mungkin berpikir, bukanlah sebuah masalah jika ia menerima Darrell, karena tidak ada di antara kita yang bersinggungan langsung dengannya. Yang paling mungkin bersinggungan hanya Celine. Tetapi sekali lagi, itu pun bisa dikategorikan ranah yang berbeda, karena sebenarnya merupakan masalah internal perusahaan dan keluarga mereka, " terang Priscillia.

__ADS_1


Rebecca terdiam. Perkataan Priscillia pelan-pelan dicernanya, walaupun ia belum bisa menerimanya bulat-bulat.


Priscillia pun melanjutkan penjelasannya. "Jika di antara kita mendukung dua orang yang berbeda dalam sebuah pertarungan yang adil, kurasa tidak ada yang salah, Bec. Anggap saja kayak kita sedang melihat sebuah pertandingan yang sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan kita.


Beda cerita kalau Darrell menggunakan cara curang, mungkin kita bisa menasihati Cecilia tentang perangai pria yang disukainya. Namun balik lagi, jika dia tetap suka, kita bisa apa? Itu kebahagiaannya, kan? Bukankah itu yang kita inginkan sebagai seorang sahabat yang baik?"


Rebecca terdiam untuk beberapa saat, sampai akhirnya ia pun membuka mulutnya. "Entahlah, Pris .... Aku mengerti penjelasanmu, tetapi tetap aku tidak bisa menerimanya. Kalaupun Cecilia berbahagia bersama dengan Darrell yang haus kekuasaan seperti itu, dan merebut hak Celine sebagai pewaris sah, bukankah itu sama saja dengan berbahagia di atas penderitaan orang lain?"


"Sebuah pertarungan pasti ada pihak yang kalah dan menang. Tidak dapat dipungkiri pihak yang kalah pasti akan terluka. Di situlah gunanya sportivitas, kan? Beda cerita kalau kemenangan itu diperoleh dengan cara curang. Di situlah Cecilia harus belajar. Kalau kita tidak dapat mendukung langkahnya bersama Darrell saat itu, Cecilia harus mengerti alasan kita melakukannya," jawab Priscillia.


Karena Rebecca masih diam, Priscillia pun menutup kalimatnya, "Yang kuminta padamu, Bec ... coba hargai keputusan Cecilia jika kamu benar menyayanginya sebagai sahabat. Dukung kebahagiaannya. Jika ia salah langkah bersama Darrell, bagian kita untuk menegurnya. Tetapi ingat, pilihan akhirnya pun tetap di tangan Cecilia. Kita tidak bisa memaksanya.


Kalaupun kamu tidak setuju dengan pilihan yang diambil Cecilia nanti, jangan langsung disanggah di depan orangnya yah .... Tahan dulu. Kamu bisa mengeluarkan uneg-uneg saat bersamaku nanti. Oke, Bec? Demi keutuhan persahabatan kita, bisa kamu melakukan demikian?"


"Ya .... Kucoba, Pris ..." jawab Rebecca dengan lesu.


"Terima kasih, bestie .... Aku percaya padamu ..." ujar Priscillia.


Tidak lama kemudian, pembicaraan pun diakhiri.


...****************...


Sebenarnya ia ingin sekali bercerita dan meminta pendapat para sahabatnya. Namun ia takut jika respons mereka tidak sesuai dengan harapannya. Bagaimana jika teman-temannya malah berburuk sangka dengannya?


Hal itu mungkin saja terjadi, mengingat dua kali acara jalan-jalan bersama Geng Princess dengan Darrell, ditujukan untuk memutuskan perjodohan Darrell dan Rebecca. Dan Geng Princess, termasuk dirinya sendiri, mendukung tujuan tersebut. Mereka bersepakat untuk mengabaikan Darrell untuk melelahkan pria itu, dan siasat mereka terbukti berhasil. Darrell putus dengan Rebecca.


Menjadi sebuah hal yang agak lucu, jika Darrell yang diabaikan di kejadian sebelumnya, kini ia gandeng kembali menjadi pasangannya. Bagaimana tanggapan teman-temannya jika mengetahui hal itu? Bisa jadi ia malah menerima hujatan.


Tetapi menurut penalarannya, bukankah sebenarnya itu sah-sah saja? Ibarat jadian dengan mantan kekasih sahabat. Mungkin hal tersebut akan membuat kecanggungan tersendiri saat kedua mantan pasangan itu bertemu kembali. Namun hanya itu. Tidak ada yang disakiti di sini. Ia toh tidak menikung sahabatnya. Mereka putus secara baik-baik sesuai kesepakatan bersama.


Masalah lain yang justru sepertinya merupakan masalah utama dalam pertimbangannya dengan Darrell adalah Celine. Rebecca saja memilih memutuskan perjodohannya dengan Darrell tanpa memberi kesempatan pada pria itu dikarenakan alasan ini.


Jika ia memilih Darrell, bagaimana ia harus bersikap di depan Celine nanti? Mungkinkah gadis itu akan membencinya karena merasa dikhianati? Tetapi ... Celine kan tinggal di kota yang berbeda. Jadi seharusnya mungkin hal itu tidak terlalu bermasalah. Ia akan jarang bertemu dengan Celine, bukan begitu?


Cecilia menghela napasnya. Lelah dengan perdebatan yang terjadi di otaknya sendiri. Andaikan Darrell bukan sepupu Celine dan tidak terlibat dalam perebutan pewaris, mungkin ia dan teman-temannya tidak perlu memusingkan hal ini. Bukankah selama ini juga begitu? Para sahabatnya tidak pernah mengomentari apapun urusannya dengan para pria yang pernah dipacarinya.


Di tengah kepusingannya di mana kepalanya mulai terasa sakit, terdengar nada dering dari HP-nya yang menandakan adanya panggilan masuk. Cecilia pun mengambil HP-nya untuk melihat siapa yang menelepon. Pada layarnya tercantum nama Sharon.


"Halo?" jawab Cecilia mengangkat panggilan tersebut.

__ADS_1


"Halo, Cil .... Bagaimana kabarmu? Apakah sudah lebih tenang?" tanya Sharon di seberang sana.


Mendengar suara sahabatnya, Cecilia hampir menangis. Bisa-bisanya sahabatnya menghubunginya di waktu yang sangat tepat, di saat ia sudah hampir putus asa mencari jawaban terhadap permasalahannya. Namun ... bisakah ia jujur menceritakan isi hatinya pada sahabatnya ini?


"A- aku ... baik-baik saja." Cecilia memutuskan untuk berbohong. Boro-boro lebih tenang, justru sebenarnya ia makin resah. Namun ia terpaksa berbohong karena lebih takut mendapatkan respons yang tidak dikehendaki dari sahabatnya itu. Hatinya sungguh belum siap menerimanya.


Namun Sharon yang peka, jelas menyadari kebohongan Cecilia. Dengan lembut ia berkata, "Cil ... bukankah kalian yang mengajariku untuk mempercayai kalian dan jangan memendam masalahku sendiri? Apalah kami tidak lagi bisa dipercaya sampai kamu tidak mau terbuka?"


Mendengar itu, pertahanan Cecilia pecah. Ia pun terisak dan memilih untuk jujur. Dalam pertimbangan singkatnya, mungkin kalau cerita dengan Sharon tidak apa-apa. Bagaimanapun, Sharon adalah anggota Geng Princess yang paling pendiam.


Cecilia pun menceritakan semua yang pernah ia alami bersama Darrell termasuk tawaran Darrell yang terakhir untuk menjadi pasangannya. Ia juga mengutarakan apa yang ia rasakan terhadap pria itu dan bagaimana hal tersebut memperkeruh kebimbangannya. Sharon mendengarkan semua penuturan Cecilia dalam diam.


"Jujur ... aku ga ngerti pola pikir Rebecca, Shar ....


Mengapa ia sangat membela Celine dan menuduhku bermaksud mengkhianati gadis itu? Bukankah seperti yang dikatakan Priscillia sebelumnya, kalau itu urusan internal perusahaan mereka? Masalah pertikaian pewaris itu merupakan hal yang lumrah terjadi dalam sebuah perusahaan. Seperti layaknya pertandingan, kalah-menang adalah hal yang biasa. Tak ada urusannya dengan persahabatan kita.


Lagipula ... seperti yang kamu katakan waktu kita di perjalanan pulang dari taman ria, bukankah kamu juga sependapat kalau Darrell ga sejahat itu, Shar?" Cecilia mengakhiri ceritanya dengan pertanyaan.


Sharon tidak langsung menjawab. Ia butuh berpikir sejenak untuk memilah kata-katanya. Setelah beberapa saat, barulah gadis itu menjawab pertanyaan yang diajukan padanya.


"Memang, itulah kesanku setelah beraktivitas seharian bersama Darrell di taman ria saat itu. Namun balik lagi, dirimu dan Rebecca lah yang harusnya lebih mengenalnya, karena kalian yang lebih sering berinteraksi dengannya. Jika pendapat kalian saling bertolak belakang, mana mungkin aku yang dapat menilai pendapat siapa yang paling benar mengenai Darrell di antara kalian, kan?" jawab Sharon mencoba bersikap netral.


"Masalah Rebecca, bukankah kita tahu sama tahu bagaimana dia memandang kesetiaan dalam persahabatan? Ia bersikap sekeras itu padamu karena ia menyayangimu, Cil .... Ia tidak ingin dirimu memilih pria yang salah. Ia ingin hubungan kita semua baik-baik saja, termasuk hubungan kita dengan Celine.


Bukankah selama ini ia juga tidak pernah mencampuri urusanmu dengan pacar-pacarmu sebelumnya? Mungkin dari sudut pandang Rebecca, ia juga ingin bertanya padamu, mengapa dari sekian banyak pria di dunia ini, kamu harus memilih Darrell? Jika pasanganmu bukan Darrell, bukankah hubungan kita akan tetap baik-baik saja?" Gantian Sharon balik bertanya.


Cecilia hanya bisa terdiam. Sesungguhnya Ia sudah tahu dan dapat menduga pola pikir Rebecca. Pikiran itu pun sudah sempat tersirat dalam benaknya. Namun ... bagaimana dengan perasaannya? Haruskah ia membohongi dirinya sendiri? Bukankah selama ini ia juga selalu mengikuti kata hatinya jika ia berhubungan dengan pria, seburuk apapun akhir yang harus ia alami dari hubungan tersebut?


Karena Cecilia hanya diam, Sharon pun memutuskan untuk mengakhiri perkataannya. "Jika kamu masih bingung, tolong ingat satu hal ini, Cil .... Kami sangat menyayangimu sehingga menginginkan yang terbaik untukmu agar kamu selalu berbahagia. Ikutilah kata hatimu. Pilihlah keputusan yang tidak akan kausesali di kemudian hari. Kami akan berusaha menghormati apapun keputusanmu itu.


Mengenai Rebecca, beri ia waktu. Kita semua tahu bagaimana ia bermasalah dengan temperamennya. Walaupun saat ini kalian bersitegang akibat berbeda pendapat, percayalah kalau sesungguhnya ia sayang padamu.


Terakhir ... kalau ada masalah yang membebani pikiranmu, jangan pendam sendiri yah, Cil .... Kamu bisa menghubungiku ataupun Priscillia kapanpun. Jangan lupakan pengajaranmu sendiri padaku. Nanti aku balik jadi tertutup lagi lho, kalo gurunya aja kayak gitu ..." ujar Sharon setengah bercanda untuk meringankan suasana.


Cecilia tertawa. Walaupun masalahnya belum terjawab, setidaknya perasaannya sudah sedikit lebih lega. "Iya. Thank you yah, Shar ..." jawab Cecilia.


"You're welcome, bestie ..." jawab Sharon.


Mereka pun memutuskan pembicaraan mereka sampai di sini.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2