
"Jadi, proyek terakhirmu gimana? Sukses? Terus, hasil rapat pemegang sahamnya gimana? Kamu berhasil diakui sebagai pewaris?" tanya Mama Ratna.
"Puji Tuhan, Ma .... Proyek terakhirnya sukses. Kalo rapat umum pemegang sahamnya ... baru diadain seminggu yang lalu, Ma ..." jawab Celine sambil mengulum senyum.
"Seminggu yang lalu? Apa sekarang sudah ada keputusannya?" tanya Mama Ratna makin penasaran.
"Sudah, " jawab Celine pendek.
Mama Ratna tertegun. James sudah tersenyum lebih dulu. Ia sudah bisa melihat keisengan Celine di sini.
"Ehhh, nih anak!!! Uda bisa isengin orang tua rupanya!! Kalo uda ada keputusannya, kenapa ga langsung ngomong?!! Cerita pake dicicil-cicil segala kayak bayar tagihan!!" semprot Mama Ratna yang langsung disambut dengan tawa Celine.
"Habis ... Mama keliatan banget pengen taunya! Celine jadi iseng pengen godain, " ujar Celine di antara derai tawanya.
"Jelas Mama pengen tau dong! Kamu kan anak Mama! Mama mana yang ga pengen tau hal-hal yang menyangkut kesuksesan anaknya?!" sahut Mama Ratna mengucapkan pembelaannya.
Celine tersenyum, lalu memeluk Mama Ratna.
"Iya, Mama .... Makasih yah .... Celine tau, Celine bisa gini berkat doa dan didikan Mama .... Celine berhasil diakui sebagai pewaris, Ma ...."
Mama Ratna tertegun. Ia melepaskan pelukan Celine. Lalu Mama Ratna memegang bahu Celine dan menatap Celine dengan tatapan tidak percaya. Ia kembali bertanya untuk memastikan kalau dirinya tidak salah dengar. "Kamu ... berhasil?"
"Iya, Mama ... Celine berhasil !!" jawab Celine sambil nyengir lalu kembali mengalungkan lengannya memeluk leher Sang Ibunda.
"Selamat yah, Lin.... Selamat yah !!!" Mama Ratna bersorak mengucapkan selamat sambil menepuk-nepuk punggung Celine. Ia ikut bangga dengan kesuksesan yang Celine peroleh.
"Iya, Mama .... Makasih, Mama .... Makasih .... Maaf yah, Ma .... Maaf ..." ujar Celine dengan air mata yang sudah menetes.
"Heh, nih anak .... Diucapin selamat kok malah nangis-nangis minta maaf ?" tegur Mama Ratna yang mendengar Celine mulai terisak dan merasakan bahu Celine mulai bergetar.
"Habis ... Celine tau ... kalo Celine ..." Celine berusaha menjelaskan di antara isak tangisnya.
"Sshhh ... sudah ... sudah .... Ga usah dijelaskan. Ga usah dibilang. Mama tau .... Mama ngerti ..." ujar Mama Ratna berusaha meredakan tangisan Celine. Tanpa sadar air mata juga sudah menggenangi kedua pelupuk matanya.
James yang melihat adegan itu ikut terharu. Ia mengerti benar perasaan kedua wanita di depannya ini. Ia juga ikut bangga dengan keberhasilan Celine. Namun di sudut hatinya, ada perasaan lain yang merayap masuk. Perasaan tidak menyenangkan yang mau tidak mau harus ia terima dan hadapi.
...****************...
Berita kepulangan Celine segera disebarkan Mama Ratna sore itu juga. Ia ingin merayakan keberhasilan Celine dengan mengadakan makan-makan kecil-kecilan bersama keluarga.
Untuk itu, Mama Ratna memastikan suaminya bisa pulang lebih cepat atau minimal tepat waktu. Mama Ratna juga menghubungi Alex untuk mengajak keluarganya makan malam bersama. Untunglah semuanya tidak ada yang berhalangan malam itu. Pukul enam sore, seluruh anggota keluarga Wijaya sudah berkumpul di rumah Papa Heru.
Alex datang bersama istri dan anaknya. Anak Alex bernama Rico, umurnya sudah satu tahun lebih. Anak yang lucu dan menggemaskan. Pipi tembamnya mengundang hasrat untuk dicubit. Rico datang dalam gendongan Sherly.
Ini untuk kali kedua Celine bertemu dengan Sherly. Di kali pertama, tidak ada pembicaraan sama sekali di antara mereka. Celine masih merasa canggung ketika bertemu dengan Sherly.
"Selamat malam ..." sapa Sherly lebih dulu.
"Malam, Kak. Ayo, silakan masuk! Mama-Papa sudah menunggu di dalam, " kata Celine yang saat itu menjadi penerima tamu.
Alis Sherly bekernyit mendengar panggilan Celine ke Mama Ratna dan Papa Heru. Seingatnya, Celine adalah sepupu Alex. Kenapa Celine tidak memanggil dengan sebutan Om-Tante? Tapi saat ini, ia memilih untuk mendiamkannya saja.
"Nanti aja. Biar bareng sama Alex, " jawab Sherly. Alex memang sedang memarkir mobilnya. Jadi, tadi Sherly dan Rico yang memasuki rumah lebih dulu.
Keadaan hening sebentar. Kecanggungan sangat terasa di antara mereka.
"Ini anak Kakak? Sudah umur berapa?" tanya Celine sambil menunjuk Rico.
"Iya, sudah umur setahun lebih. Namanya Rico. Rico, ini Auntie. Ayo, coba panggil 'Auntie '. " Sherly memperkenalkan Celine ke Rico. Sherly sudah mendengar Celine kuliah di luar negeri. Jadi pikirnya mungkin Celine lebih terbiasa dipanggil dengan panggilan auntie daripada tante.
__ADS_1
"Tih ... Annn ... tih ..." Rico mencoba memanggil Celine dengan lidahnya yang masih cadel.
Mendengar itu, Celine tertawa. Kecanggungan di antara mereka mulai terurai.
"Haiii, Rico .... Salam kenal ..." sapa Celine sambil mengangkat tangan dan menyalami tangan Rico yang kecil.
"Aaa ... lamm ..." balas Rico.
Saat itu Alex baru memasuki rumah. Melihat Celine, Alex langsung memeluknya.
"Halo, adik Abang tercinta !! Welcome home ! Selamat yah .... Bang Alex uda denger sepak terjangmu dari Mama, " ujar Alex sambil melepaskan pelukannya.
Celine tersenyum, lalu berkata, "Makasih, Bang. Ayo, masuk dulu! Abang sama Kakak uda ditungguin dari tadi !"
Mereka pun masuk ke dalam rumah. Tak lama, mereka sama-sama sudah duduk mengitari meja makan untuk menikmati hidangan lezat nan hangat yang sudah tersaji di sana.
"Kita semua berkumpul di sini untuk sedikit mengadakan syukuran karena Celine bisa bersama-sama kita lagi di sini. Ia sudah lulus kuliah dan bukan hanya itu, ia berhasil diakui menjadi pewaris di perusahaan ayahnya. Sekali lagi, selamat yah, Lin ...." Papa Heru mengucapkan kata-kata pembuka sebelum mereka menyantap makanan.
Semua yang ada di situ bertepuk tangan dan sekali lagi mengucapkan selamat atas keberhasilan Celine.
"Makasih, Papa .... Makasih semuanya ..." ucap Celine.
"Hebat! Semuanya diganyang dalam waktu tiga tahun! Gimana ceritanya, Lin?" tanya Alex yang kagum dengan sepak terjang Celine.
"Nanti yah ceritanya. Kita makan dulu! Perut uda laper!" sahut Mama Ratna.
Semuanya tertawa. Lalu setelah berdoa, semuanya menyantap makanan dengan lahap. Suasana kekeluargaan yang hangat sangat terasa di antara mereka.
Setelah makan, mereka berkumpul di ruang keluarga untuk berbincang-bincang. Mama Ratna sedikit mengulangi cerita Celine yang tadi siang.
"Wah .... Hebat! Memang perusahaan keluarga Celine, perusahaan apa? Kali-kali suatu saat perusahaan kita mau bekerja sama dengan perusahaan Celine atau buka cabang di kota J. Kamu kan Manajer Pemasarannya, babe ! Kok jadi aku yang aktif tanya-tanya sih?" ujar Sherly sambil menyikut Alex.
"Yah .... Masa baru ketemu langsung ngomongin bisnis. Kan ga enak, Sher ..." tegur Alex.
"Gapapa. Urusan rezeki memang harus gerak cepet. Ga boleh sampai ketinggalan!" sahut Mama Ratna membela Sherly.
"Iya, Kak. Gapapa kok. Santai aja. Perusahaan keluarga Celine, Perusahaan Adipratama Grup, Kak. Kami bergerak di beberapa bidang, " jelas Celine.
Sherly melongo. "A- Adipratama Grup? Keluarga Papa-Mama ada hubungan saudara dengan keluarga Adipratama?"
Semua keluarga Wijaya saling pandang-pandangan. Mereka baru sadar kalau Sherly belum tahu hubungan asli Celine dengan mereka. Apalagi waktu itu memang hal tersebut harus dirahasiakan mengingat ancaman dari papa Celine. Tetapi kalau sudah begini? Semuanya akhirnya melihat Celine untuk meminta pendapatnya.
Celine tersenyum dan berkata pada Alex, "Gapapa. Ceritakan aja, Bang."
Alex menghela napas. "Ceritanya panjang, Sher. Nanti aja di rumah kuceritakan yah, biar ga merubah suasana yang ada. Tapi kamu ga salah dengar kok. Nama panjang Celine memang Celine Adipratama."
Sherly terdiam. Ia masih tidak percaya kalau keluarga suaminya ada hubungan dengan keluarga terpandang di kota J itu. Apalagi sekarang pewaris perusahaan raksasa tersebut sedang duduk dan mengobrol santai dengannya. Seorang gadis yang berumur cukup jauh di bawahnya.
Keluarga besar Sherly memang ada yang tinggal di kota J. Dan ia mendengar cerita tentang perusahaan tersebut dari sepupunya. Sepupunya pernah melamar ingin menjadi sekretaris di sana, tapi gagal karena persyaratan yang ketat dan tingkat persaingan yang tinggi. Dari situ saja Sherly sudah tahu kalau tidak sembarang orang dapat diterima bekerja di perusahaan itu.
Dan sekarang, mengetahui Sang Pewaris Perusahaan Adipratama ada di sini, memanggil mertuanya dengan sebutan Papa-Mama, memang menimbulkan tanda tanya besar buat Sherly. Tetapi Sherly memilih menahan rasa ingin tahunya. Ia akan menunggu penjelasan dari Sang Suami di rumah mereka nanti.
"Oh ya, James. Ngomong-ngomong sudah dapat pengusaha yang bisa jadi pembicara?" tanya Alex memecah keheningan.
"Belum. Kan siang tadi baru kita bahas, Bang, " jawab James.
"Kenapa ga Celine aja, bro ?" usul Alex.
"Iya, James. Celine kurang memenuhi syarat apalagi sebagai narasumber?" Mama Ratna mendukung ide Alex.
__ADS_1
"Pembicara apa?" tanya Celine yang belum mengerti arah pembicaraan saat ini.
"Biar James aja yang jelasin, Lin. Proyek die soalnya, " jawab Alex.
Celine melihat ke arah James dengan tatapan penuh tanya. James membalas tatapan Celine. Kondisi Celine yang sekarang memang tidak diragukan lagi untuk menjadi narasumber yang ia cari. Celine pasti bisa jadi motivator yang baik untuk murid-muridnya.
James akhirnya menghela napas sebelum ia menjelaskan. "Sekolah tempat Bang James mengajar mengadakan penyuluhan bimbingan karir tiga hari lagi. Pengusaha yang jadi narasumber tiba-tiba membatalkan kesediaannya karena ada masalah di perusahaannya. Sampai sekarang Bang James belum menemukan penggantinya. Celine bisa tolong Bang James jadi pembicara?"
"Bisa, " jawab Celine tegas.
"Memang sampai kapan Celine diizinkan ada di kota ini?" Papa Heru ikut bertanya.
"Papa kasih Celine libur ga masuk kantor selama beberapa hari. Terserah Celine mau berapa lama. Hitung-hitung hadiah kebebasan buat Celine. Maklum lah, tiga tahun ini Celine kan belum pernah liburan. Yang penting jangan kelamaan katanya." Celine menjawab pertanyaan Papa Heru.
"Rencana Celine mau berapa lama?" tanya Mama Ratna.
"Acara Bang James berarti kan jatuh hari Jumat tuh. Jadi ... paling Celine pulang hari Sabtu atau Minggunya, " jawab Celine lagi.
Lalu Celine tiba-tiba tersadar akan sesuatu. "Ngomong-ngomong, Celine boleh tinggal di sini? Soalnya Celine belum pesan hotel."
"Tentu saja boleh!" jawab Papa Heru dan Mama Ratna bersamaan.
"Pertanyaan macam apa itu, Nak?" tegur Papa Heru.
"Kalau kamu sampai tinggal di hotel padahal kamu ada di kota ini, berarti kamu ga menganggap kami keluarga lagi, Lin!" sahut Mama Ratna agak ketus.
"Celine ga maksud gitu, Ma ... Pa ... Jangan marah .... Habis ... Celine pikir ..."
"Bang James siapkan kamar dulu ya, Lin. Soalnya sudah malam juga. Celine mau tidur di kamar Celine yang biasa, kan?" James memotong ucapan Celine, lalu bangkit dari tempat duduknya.
"Eh, iya, Bang James. Makasih, " sahut Celine yang masih agak bingung karena tak biasanya ucapannya dipotong. Setelah mendengar jawaban Celine, James langsung pergi ke kamar.
Tatapan Celine akhirnya jatuh kepada Alex yang memberi kode agar Celine tidak melanjutkan perkataannya yang barusan. Celine baru mengerti kalau ucapannya tadi menyinggung Papa Heru dan Mama Ratna. Perasaan bersalah dan tidak enak hatinya pada keluarga ini justru malah berbalik menyakiti kedua orang tua yang telah menggantikan peran orang tua kandungnya.
Celine lalu memeluk Papa Heru dan Mama Ratna, "Papa ... Mama ... Maaf .... Tadi Celine kurang bijak dalam memilih kata."
"Ya. Jangan berkata dan bersikap seperti itu lagi ya, Lin!" Papa Heru kembali mengingatkan Celine sambil membelai kepala gadis itu.
"Benar kata Papa, Lin. Jangan anggap kami ini orang asing! Sampai kapan pun, kami sudah menganggap Celine sebagai bagian dari keluarga ini. Celine ga boleh lupa!" Mama Ratna ikut mengingatkan.
"Iya, Papa .... Iya, Mama .... Maaf ...." Celine kembali terisak.
"Sudah ... sudah .... Kok jadi nangis lagi sih?" kata Mama Ratna sambil menepuk-nepuk punggung Celine.
"Omm ... mah .... Ann ... tih ... Cup cup ..." Tiba-tiba terdengar suara yang lucu menggemaskan berusaha menghibur mereka.
Ketika berbalik, terlihat Rico sudah berdiri di dekat mereka sambil mengulurkan tangannya, ingin ikut berpelukan. Melihat Rico seperti itu, suasana sedih tadi langsung buyar.
"Ukhhh .... Makasih yah, Rico sayang ..." sahut Celine gemas dan langsung mengulurkan tangan, menarik Rico dalam pelukannya.
"Iya nih .... Cucu Oma memang pintar dan baik hati." Mama Ratna juga ikut memeluk Rico, sedang tangan satunya masih merangkul Celine.
"Jelas! Dari mana dulu dong bibitnya?" sahut Alex dengan rasa bangga.
"Jelas dari Papa lah!" jawab Papa Heru yang langsung membuat Alex kicep, tak bisa melawan.
Melihat raut wajah Alex, semua yang ada di situ tertawa bersama. Suasana hangat dan ceria kembali menyelimuti keluarga tersebut. Sampai malam semakin larut dan acara keluarga harus dihentikan karena besok masih harus kembali bekerja. Alex dan keluarganya pun kembali ke rumahnya.
Setelah membantu Mama Ratna beres-beres dan mandi, Celine masuk ke kamarnya yang dulu. Ia melihat kamarnya tidak banyak berubah. Celine menghela napas lega. Ia benar-benar banyak belajar tentang arti keluarga di sini. Ia bersyukur ia bisa ada di sini kembali.
__ADS_1
"Celine pulang ..." katanya pada diri sendiri sebelum ia memejamkan matanya dan tertidur.
...****************...