Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Misteri di Balik Pertanyaan


__ADS_3

Hari ini hari Kamis. Seperti halnya hari Selasa lalu, James membawa baju ganti untuk berjaga-jaga. Ia juga mengulangi aksinya di depan pintu kelas XI IPA sebelum ia memasuki kelas tersebut.


Ia sudah tidak peduli lagi dengan anggapan orang-orang atau murid-murid yang melihatnya. Lebih baik berhati-hati daripada menyesal, bukan?


Tidak ada benda yang jatuh. Tidak ada benda apapun di sekitar pintu yang sepertinya bisa mencelakainya. Karena dirasa aman, ia memasuki kelas.


Penyerangan fisik seperti ini tak lama, kok. James teringat perkataan dokter Lusi kala itu. Mungkin memang penyerangan fisik sudah berlalu. Terbukti dengan tidak ada lagi kejadian-kejadian dengan ember pel, tali, atau telur. Mungkin sudah digantikan dengan penyerangan mental, pikir James.


Yah ... Semenjak kejadian Selasa lalu, Ia memang sudah menyiapkan hati dengan kemungkinan-kemungkinan munculnya pertanyaan aneh yang menguras pikiran dan emosinya. Apapun itu, ia harus berani menghadapinya! Akan ia buktikan kalau dirinya tidak semudah itu terintimidasi!


James menarik napas panjang, lalu mulai memaparkan materinya. Judul materi hari ini adalah Sikap Sopan Santun. Ia membahas apa itu sopan santun, mengapa kita harus bersikap sopan, dan contoh-contoh sikap sopan santun dalam kehidupan sehari-hari.


"Berbicara juga harus sopan, apalagi kepada orang yang lebih tua dari kalian. Perhatikan pilihan kata dan sikap kalian! Jangan teriak-teriak! Itu menunjukkan kalian kurang beretika. Kalian paham?" tanya James.


"Pahaaammm ..., Pak." Sebagian besar siswi menjawab dengan ogah-ogahan dan muka masam. Mereka sadar sudah 2 kali ini, topik yang dipilih James sengaja diberikan untuk menyindir perilaku-perilaku mereka yang sebelumnya.


"Bagus kalau kalian paham, ada yang mau bertanya?" tanya James dengan harap-harap cemas. Sesungguhnya, ia tidak berharap ada yang bertanya. Ia takut mendapat pertanyaan yang membuat jantungnya berolahraga.


Satu tangan terangkat. Kali ini Sharon yang bertanya. Di antara Geng Princess, Sharon terlihat paling pendiam dan tidak menonjol. James jarang sekali mendengar Sharon bersuara.


"Silakan, Sharon," kata James.


"Bagaimana kalau orang yang lebih tua tersebut, bukan merupakan orang yang pantas dihormati?" tanya Sharon dengan muka datar.

__ADS_1


James tertegun. "Maaf, Sharon. Boleh diperjelas pertanyaannya? Apa maksudnya orang tersebut tidak pantas dihormati? Boleh langsung berikan contoh konkretnya?"


"Misalnya saja seorang guru seperti Bapak, tapi sikapnya tidak menunjukkan sebagai guru yang baik. Bukankan seorang guru harusnya dapat memberi teladan dalam sikap, perilaku, maupun perkataan bagi kami yang lebih muda? Tidak adil kan kami dituntut untuk menghormati mereka jika mereka sendiri tidak memberi contoh yang baik untuk kami?" jelas Sharon dengan nada dingin.


James terdiam untuk beberapa saat. Lalu ia mulai membuka mulutnya setelah menarik napas panjang.


"Kalau dibahas dari sisi ketidakadilan, ya, kesannya memang tidak adil. Selalu orang yang lebih muda dituntut menghormati orang yang lebih tua, terlepas bagaimanapun sikap orang yang lebih tua tersebut. Memang beginilah tatanan etika dan budaya Timur yang kita anut.


Tapi, Saya tetap akan menyarankan kalian untuk bersikap sopan. Jangan kalian menurunkan standar kalian untuk meladeni orang seperti itu! Jangan ambil pusing dengan sikapnya! Ia akan mendapat pengadilannya sendiri dari masyarakat. Sedangkan kalian, tidak akan merugi dengan menyandang penilaian sebagai anak-anak berbudi pekerti luhur," jelas James.


Sharon mendengar jawaban James dengan alis berkerut, lalu menundukkan kepala.


"Ada apa, Sharon? Apakah ada orang yang lebih tua atau mungkin guru di sekolah ini yang demikian dalam pandanganmu?" tanya James hati-hati.


Sharon masih bergeming. Sampai beberapa detik kemudian ia baru membuka mulutnya untuk menjawab kembali pertanyaan James dengan nada dingin, "Tidak ada, Pak. Saya hanya bertanya."


"Baiklah. Ada lagi yang ingin bertanya?" tanya James kepada seisi kelas.


Saat itu bel berbunyi, tanda kegiatan belajar mengajar hari itu sudah berakhir. Pelajaran BK memang menjadi mapel terakhir di kelas XI IPA.


"Karena bel pulang sudah berbunyi, kita sudahi sampai sini saja yah. Kalau ada yang masih ingin bertanya, silakan menemui Saya di ruang BK atau kita bahas di lain kesempatan. Goodbye, students !" tutup James.


"Goodbye, Sir ! Thank you, Sir !" balas seluruh siswi sambil berdiri.

__ADS_1


James keluar dari ruang kelas dengan napas lega. Satu hari dilewati dengan cukup baik. Hari ini ia tidak merasa mendapat serangan apapun seperti yang dikhawatirkannya. Apa mungkin para siswi terutama Geng Princess sudah bosan bermain-main dengannya? Kalau iya, baguslah.


Memang pertanyaan Sharon tadi termasuk pertanyaan yang agak sulit dijawab. Tapi ia merasa hal tersebut tidak ditanyakan hanya untuk menyusahkannya. Ada nada dan sorot mata kebencian yang tersirat ketika Sharon menanyakan hal tersebut.


Tiba-tiba James terdiam. Ia terpikirkan satu kesimpulan yang mungkin agak terburu-buru, tapi cukup masuk akal untuk menjadi alasan. Apakah pertanyaan Sharon ada hubungannya dengan perpeloncoan yang dilakukan Geng Princess? Hmm ... Tidak ada salahnya ia mencari tahu, bukan?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


FORUM Q and A


Hai ... Hai ... readers - ku thayank. Terima kasih masih setia mendukung dan mengikuti novel ini 🥰🙏


Dion : Hello readers ! Kita berjumpa lagi di forum Q and A. Pertanyaan kali ini berasal dari reader GF. Tapi sepertinya pertanyaan ini ditujukan ke author deh. Biar author yang jelasin aja. Jujur, karena aku juga baru sadar. Thor, ada pertanyaan buat lo nih!


Pertanyaannya adalah: Kakaknya bernama Dion. Adiknya bernama Celine. Apakah author penggemarnya penyanyi Celine Dion? Apa sengaja dibikin begitu?


Author : Wah ... Pengamatanmu tajam! Hebat ... Hebat ...!! 👏👏 Author memang suka sama Celine Dion, tapi belum termasuk fans beratnya. Jadi itu murni ketidaksengajaan. Author juga baru sadar setelah beberapa episode selesai dipublish. Karena sudah terlanjur, jadi author terusin aja 😬


Kalau nama Celine, author memang sudah suka dari awal. Tapi kalau Dion, sebenarnya awalnya author ingin memakai nama Dylan. Tapi karena namanya mirip dengan tokoh Dilan yang sudah melekat di hati para penggemarnya, author pilih ganti nama tersebut dengan nama yang agak mirip. Jadinya Dion deh! Eh baru sadar setelah digabung malah jadi Celine Dion! 😅


Dion : Ternyata begitulah asal usul pemberian namaku. Hayo, selain reader GF, apa ada lagi di antara readers sekalian yang sadar akan nama tersebut? 😉

__ADS_1


Untuk readers yang lain, ditunggu pertanyaan dan komentar kalian selanjutnya... Sampai jumpa lagi!! Bye-bye! 👋


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2