Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Izin dan Kepercayaan


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Priscillia menghubungi James untuk melaporkan hasil perenungannya.


'Malam, Pak. Sedang sibuk?' tulisnya di chat.


'Tidak. Ada apa?' balas James.


'Mau laporan sekaligus curhat. Berhubung ceritanya panjang, saya telepon aja, boleh?' tanya Priscillia meminta izin.


'Boleh.'


Tidak lama kemudian, HP James pun berbunyi. Setelah James mengangkat panggilan tersebut, percakapan yang cukup panjang pun dimulai.


Priscillia mengaku bahwa perkataan James yang mengatakan bahwa perjuangan hidup juga dibutuhkan untuk seseorang yang mengalami tekanan mental, membuatnya banyak berpikir. Bukan hanya menyangkut dengan pendidikannya, tetapi juga ia menarik korelasinya dengan hidupnya sendiri. Hal itu yang membuatnya mulai tertarik dengan bidang psikiatri (Ilmu Kesehatan Jiwa).


Ia berkaca dengan pengalaman hidupnya yang rendah diri dengan penyakitnya. Untungnya hal itu tidak sampai membuatnya putus asa sampai berpikiran untuk mengakhiri hidup.


Tetapi ia yakin di luar sana pasti banyak orang yang mengalami masalah yang jauh lebih berat daripada yang ia alami, yang dapat membuat seseorang mengalami depresi. Hal inilah yang ia ingin angkat sebagai topik penelitiannya. Ia ingin melakukan sesuatu untuk menolong mereka.


"Bagaimana menurut Bapak, alasan saya untuk mengambil bidang psikiatri?" tanya Priscillia.


"Bagus. Motivasi yang terbentuk dari pengalaman pribadi didorong dengan keinginan untuk menolong orang lain, akan menjadi dasar yang kuat untuk mengarahkanmu mengambil langkah ke depannya, " puji James.


Priscillia tersipu mendengar pujian dari mantan gurunya itu. Karena berdasarkan pengenalannya teehadap karakter James selama ini, beliau termasuk kategori guru yang memuji seseorang dengan tulus, bukan seperti kebanyakan guru lain yang memuji hanya dengan tujuan mencari muka.


"Jadi, setelah menentukan bidang kedokteran dan kasus yang membuat saya tertarik, ada ide untuk judul penelitiannya ga, Pak?" tanya Priscillia lagi.


"Kalau masalah judul, sepertinya agak di luar kemampuan saya, Priscillia. Karena seharusnya ada perbedaan sudut pandang antara jurusan Kedokteran sepertimu, jurusan Psikologi, dan jurusan Bimbingan dan Konseling seperti saya, walaupun topik yang kita bahas sama-sama mengenai depresi.


Coba kamu cari tahu lebih lanjut tentang penelitian kedokteran mengenai depresi yang pernah ada. Saya juga akan mencari topik depresi yang terjadi di RS. Nanti akan kita bahas bersama. Setuju?" usul James. Bagaimanapun ia sendiri juga tertarik untuk membahas kasusnya dengan Priscillia yang ia tahu berpikiran kritis. Ia yakin hal itu pasti akan menambah wawasannya dan tentu saja membantu pekerjaannya juga.


"Setuju!" jawab Priscillia bersemangat. "Jadi untuk ke depannya, mohon sabar-sabar menerima gangguan dari saya yah, Pak .... Saya akan banyak merepotkan Bapak, " katanya lagi sambil tertawa.


James ikut tertawa. "Dari dulu juga uda sering merepotkan. Kok baru sadarnya sekarang, Mbak?" sindir James.


"Sulit untuk mengubah kebiasaan buruk, Pak. Pasalnya tampang-tampang kayak Bapak gitu, tampang yang menggoda untuk di-bully, " jawab Priscillia selo.

__ADS_1


"Astagaaa .... Kok jadi makin beringas, Mbak?" seru James dengan kaget yang dilebay-lebaykan.


"Bakat dari lahir, Pak!" Yang langsung diikuti dengan suara tawanya.


James kembali tersenyum dengan suasana adu mulut yang terulang. Memang ada keseruan tersendiri jika menghadapi Priscillia. Jiwa gamer-nya tertantang, seperti sedang berhadapan dengan bos level atas dalam suatu permainan.


"Ya sudah. Saya tunggu kabar-kabar selanjutnya yah .... Sekarang saya mau lanjut telepon Celine dulu, biar ga kemalaman ..." ujar James.


"Duh ... yang lagi kasmaran. Tiap hari harus denger suaranya .... Iya deh, ga ganggu. Monggo dilanjut, Pak ..." goda Priscillia.


"Jelas! Makanya cepet cari pacar sono, biar ngerti rasanya!" balas James.


"Ga usah dicari aja uda banyak yang menawarkan diri, Pak! Ini aja ribet saya nolakinnya!" jawab Priscillia dengan penuh kepercayaan diri.


James tertawa. Sejenak ia lupa berhadapan dengan siapa. Seorang Priscillia dengan latar belakang keluarganya yang demikian, pasti akan memiliki permasalahan yang sama dengan Celine perihal masalah lamaran perjodohan atau pertunangan.


"Ya udah .... Sabar-sabar cari jodohnya yah .... Semoga segera dipertemukan dengan yang sesuai ..." ujar James mendoakan Priscillia.


"Aminnnn .... Ya udah, sana hubungin Celine, Pak! Kasian kelamaan nanti nunggunya, " ujar Priscillia mengingatkan James.


"Oke! Sorry yah, dimatiin dulu teleponnya, " pamit James.


"Good night, Lady ...."


Dan pembicaraan keduanya pun diakhiri.


...****************...


Semenjak kejadian itu, intensitas pembicaraan antara Priscillia dan James meningkat. Sekitar 3-4 hari sekali, Priscillia pasti menghubungi James untuk membahas kemajuan tugasnya. Terkadang hal tersebut juga dibarengi dengan kunjungan ke rumah Wijaya. Priscillia selalu didampingi teman-temannya saat melakukan kunjungan untuk menghindari kesalahpahaman, karena ia tahu James sudah menjalin hubungan dengan Celine.


Pernah dalam suatu kunjungan, mereka berencana datang di Sabtu sore. Tentu saja James mengatakan keberatan, karena ingin menjemput Celine di bandara.


Tetapi bukannya mundur, Rebecca malah bersikeras untuk tetap datang dengan alasan ingin bertemu dengan Celine. James jadi sulit untuk menolak. Akhirnya ia mengalah, dan menyampaikan hal tersebut pada Celine.


Untunglah Celine mengerti dan tidak berkeberatan dengan perubahan acara. Tidak seperti biasanya di mana mereka akan berjalan-jalan sebentar setelah menjemput Celine, kali ini mereka akan langsung kembali ke rumah untuk menemui Priscillia, Rebecca dan Sharon.

__ADS_1


Dan jadilah sore itu banyak anak muda berkumpul di kediaman keluarga Wijaya. Awalnya pertemuan mereka dibuka dengan percakapan dan saling bertukar kabar. Priscillia, Sharon, dan Rebecca banyak bertanya tentang perubahan drastis yang terjadi pada Celine.


Sampai akhirnya James mengingat tujuan awal kedatangan Priscillia. Priscillia sendiri tidak berani mengungkit penelitiannya karena takut mengganggu suasana nyaman yang sudah terjadi.


Dalam pertemuan sebelumnya, kunjungan akan berubah menjadi pembahasan eksklusif antara dirinya dan Pak James. Sharon dan Rebecca berubah hanya menjadi pendengar yang baik, karena kurang mengerti dengan isi pembicaraan mereka. Untunglah teman-temannya tidak terlalu mempermasalahkan hal itu, karena mereka ingin mendukung Priscillia menyelesaikan tugasnya.


Tetapi kali ini berbeda. Dengan kehadiran Celine, Priscillia tidak nyaman untuk melakukan pembahasan. Ia tidak ingin menimbulkan kesan memonopoli Pak James, apalagi sampai membuat Pak James mengabaikan Celine.


"Pris, ayo kita mulai saja membahas penelitianmu! Biar uda kelar sebelum makan malam, " ajak James.


Priscillia melihat ke arah Celine dengan keraguan yang jelas terlihat. Ia sebenarnya sungguh tidak nyaman mengganggu acara sepasang kekasih ini. Tetapi apa boleh buat, Rebecca memaksa untuk tetap berkunjung ke tempat Pak James dengan dalih ingin bertemu dengan Celine, yang membuat Priscillia kesulitan untuk menolaknya. Dalam hatinya, ia sudah bersiap merelakan kesempatan ini untuk tidak membahas penelitiannya.


James mengerti Priscillia merasa sungkan dengan Celine. Sesungguhnya ia pun merasakan hal yang serupa. Tetapi ia sudah bertekad untuk membantu gadis ini dan merasa kasihan jika kedatangannya kali ini sia-sia.


"Lin .... Bang James minta waktu untuk membantu tugas penelitian Priscillia yah ...." James meminta izin kekasihnya.


"Iya .... Celine sama kita aja. Temani kami ngobrol. Jangan mau jadi kambing congek di tengah pembicaraan mereka yang entah pake bahasa planet apaan!" celetuk Rebecca merujuk pada istilah-istilah kedokteran yang sering James dan Priscillia gunakan.


"Ga usah dibahas kali ini juga gapapa kok .... Masih ada waktu. Kasian Celine uda datang jauh-jauh ingin bersama Pak James, jadi terganggu dengan kehadiran kami, " kata Priscillia tidak enak hati.


"Masa iya Celine terganggu dengan kehadiran kami? Celine ga sepicik itu, Pris!" sanggah Rebecca yang kadang kadar kepekaannya agak tiarap.


Celine hanya tersenyum melihat perbantahan kedua sahabat itu. Lalu ia pun membuka mulutnya untuk menyelesaikan perdebatan yang tidak penting dan membuang waktu tersebut.


"Gapapa. Priscillia dan Bang James bahas aja. Biar Celine menemani Sharon dan Rebecca mengobrol, " putusnya.


"Nah .... Gitu kan enak! Yuk kita ke kamar Celine aja, boleh ga? Biar lebih nyaman. Mereka berdua tinggalin di sini aja biar fokus sama pembahasannya!" tanya Rebecca pada Celine.


James melihat ke arah Celine dengan rasa sungkan. "Ga lama kok, Lin .... Paling lama satu jam. Sebelum waktu makan malam, Bang James janji bakal udahan. Tapi, kalo Celine mau denger di sini juga gapapa, " sahut James.


"Gapapa. Celine temenin mereka ke kamar aja, biar ga ganggu Bang James dan Priscillia. Kasian Priscillianya kalo jadi ga fokus, " jawab Celine.


"Maaf yah, Lin .... Aku pinjam dulu Pak Jamesnya ..." sahut Priscillia sambil menyatukan kedua telapak tangannya seperti sedang memohon.


Celine tersenyum. "Gapapa. Santai aja, Pris ..." balas Celine.

__ADS_1


Celine pun mengantar kedua temannya itu ke kamarnya dan membiarkan James bersama Priscillia berdua di ruang tamu. James dan Priscillia pun memanfaatkan kesempatan dan kepercayaan itu dengan baik. Mereka bersungguh-sungguh berusaha menyelesaikan penelitian yang tenggat waktunya makin dekat itu. Dan tepat seperti waktu yang dijanjikan James, pembahasan itu disudahi sebelum waktu makan malam.


...****************...


__ADS_2