
Beberapa hari sudah berlalu. Suasana sekolah sudah kembali seperti biasa. Kejadian Priscillia hanya seperti hujan di musim kemarau saja. Basah sekilas, namun setelahnya kering tak bersisa. Bagaimanapun, siapa yang berani terang-terangan mencemooh Priscillia karena penyakitnya?
Kasus Pak Joseph juga seolah ditutup begitu saja oleh ketua yayasan. Konon kabarnya, Priscillia sendiri yang membujuk orang tuanya untuk tidak memperpanjang masalah ini.
Beberapa alasan yang diutarakan Priscillia antara lain karena tidak terjadi apa-apa dengannya. Sesuatu yang harus disyukuri. Dan hal tersebut bisa terjadi juga tidak terlepas dari kesigapan Pak Joseph yang langsung membawanya ke UKS untuk mendapatkan pertolongan pertama.
Yang kedua, karena menurutnya Pak Joseph guru yang baik dan kreatif. Berbeda dengan guru-guru olahraga sebelumnya yang tidak mau ambil pusing jika Priscillia hanya menghabiskan waktu di kelas menunggu teman-temannya melakukan praktek olahraga. Pak Joseph memikirkan bagaimana caranya agar Priscillia masih mendapat ilmu meskipun tidak mengikuti praktek.
Selain itu, Pak Joseph tidak berusaha membela diri ketika diminta pertanggungjawabannya. Ia mengakui kesalahannya dengan segera, bahkan tidak segan untuk meminta maaf langsung kepada Priscillia. Menunjukkan bahwa ia orang yang bertanggung jawab dan bersikap kesatria. Kesimpulannya, sekolah akan kehilangan seorang guru yang baik, jika yayasan memecat Pak Joseph begitu saja.
Dengan pembelaan seperti itu, orang tua Priscillia tidak dapat berkata apa-apa. Mamanya Priscillia juga melihat dan mendengar sendiri bagaimana Pak Joseph mengemukakan alasannya namun tetap mengakui kesalahannya. Sesuatu yang ia nilai baik saat itu. Akhirnya mereka setuju dengan usul Priscillia untuk menutup kasus tersebut begitu saja.
Hari ini hari Kamis. Hari di mana James kembali mengajar kelas XI IPA di jam pelajaran terakhir. Suasana kelas sudah kembali seperti biasa dengan kembalinya ratu jebakan Batman di tengah-tengah kaumnya. Dan bunyi bel tanda pelajaran selesai, kembali terdengar seperti nyanyian surga yang membuat James bersorak karena berarti olahraga jantungnya selesai.
Begitulah James melewati harinya di sekolah. Sesuatu yang ia syukuri, karena keadaan sudah berjalan seperti semula. Semua seakan baik-baik saja. Dengan hati damai, tepat pukul 15.00 ia pulang ke rumah.
...****************...
Sore ini James melewatkan istirahatnya di kamar dengan tidur-tiduran. Tiba-tiba HP-nya berbunyi. Diliriknya layar HP tersebut untuk melihat siapa yang menelepon. Tertulis di sana nama Mbok Yani.
Tumben Mbok Yani menghubunginya .... Biasanya sudah langsung kontak-kontakan sama Celine. Ah .... Mungkin karena Celine lagi belajar, sedangkan HP-nya ada di kamarnya, begitu pikir James.
James lalu mengangkat teleponnya. "Halo, apa kabar, Mbok? Sehat-sehat saja?"
"Sehat .... Puji Tuhan. Nak James sendiri bagaimana? Sehat?" balas Mbok Yani di seberang sana.
"Sehat, Mbok. Ada apa Mbok Yani telepon kemari? Kalau Celine lagi belajar di depan sama Bang Alex," kata James sebelum ditanya Mbok Yani.
"Mbok memang mau bicara sama Nak James, bukan dengan Nona Celine."
"Oh, mau bicara tentang apa, Mbok?"
"Ngg .... Anu .... Begini, Nak James. Sebenarnya Mbok ragu menyampaikannya. Mbok pikir nona perlu tahu. Tapi Mbok ga berani melangkahi Nak James. Bagaimanapun Nak James lah orang yang telah mengembalikan nona sehingga nona bisa kembali seperti ini."
"Menyampaikan apa memangnya, Mbok?" tanya James pada Mbok Yani yang bicaranya sudah berputar-putar.
"Ini, Nak. Tuan Besar, ayah Nona Celine, terkena serangan stroke siang tadi. Sekarang sedang dirawat di RS."
James terdiam. Beberapa detik kemudian, baru ia kembali bicara dengan nada dingin, "Lalu? Ia meminta Celine kembali untuk merawatnya?"
__ADS_1
"Bukan, Nak. Kondisi terakhirnya saja Mbok belum tau. Tadi pas terkena serangan, Mbok langsung menghubungi adik laki-laki beliau. Tak lama, pamannya Nona Celine datang dan segera membawa Tuan Besar ke RS. Mbok hanya dititipi untuk menjaga rumah, " jawab Mbok Yani.
"Ini keinginan Mbok sendiri untuk menyampaikan kabar ini pada Nak James. Bagaimanapun, Tuan Besar adalah ayah nona. Tapi untuk menyampaikan kabar ini ke nona, Mbok serahkan pada kebijakan Nak James saja baiknya gimana." Mbok Yani melanjutkan kalimatnya.
Kembali James terdiam sejenak. Lalu, akhirnya ia berkata, "Baiklah, nanti saya pikirkan. Terima kasih atas infonya, Mbok."
"Sama-sama, Nak. Salam buat keluarga semua yah ...."
"Iya, Mbok." Dan tak lama kemudian, telepon ditutup.
James kembali mencari posisi nyaman untuk menikmati waktu istirahatnya. Tapi pikirannya sudah mengembara kemana-mana. Emosinya mulai tidak stabil. Ketenangannya sudah hilang.
S*alan! Kenapa sih, lo, James?! Ngapain dipikirin?! Anggap aja telepon yang tadi ga pernah ada! 'Ayah'-nya Celine?! Ayah dari Hongkong!!! Selama ini pas sehat kemana aja ?!! James marah-marah sendiri dalam hatinya.
Mimpinya untuk menghabiskan waktu sore ini dengan menjadi kaum rebahan, sudah hancur dengan datangnya kabar yang seperti petir di siang bolong. Hidup damai yang baru saja sebentar dirasakannya, langsung lenyap berganti pergumulan batin.
Di hatinya sekarang ini memang sedang terjadi peperangan antara ego dan nurani. Egonya ingin membiarkan saja kabar Si Tuan Besar, seolah kabar itu tak pernah sampai kepadanya. Toh dia sendiri yang selama ini tak ada kabar dan memutuskan hubungan dengan Celine!
Selain itu, James juga takut berpisah dengan Celine. Ia sudah cukup nyaman dengan kondisinya sekarang, meskipun cintanya belum berbalas. Tapi nuraninya terus mendengungkan kalimat Mbok Yani. Bagaimanapun, beliau adalah ayah Celine.
Akhirnya James menyerah. Ia memutuskan untuk keluar kamar dan mencari mamanya. Ia butuh seseorang untuk berbagi perasaan dan beban pikirannya.
Mama Ratna yang melihat wajah anaknya tiba-tiba nongol di dapur, merasakan ada masalah yang terjadi. Dengan sigap segera ia lepaskan celemek yang dipakainya dan ia tinggalkan dulu bahan-bahan makanan yang masih menunggu untuk diolah.
"Ada apa?" tanyanya dengan lemah lembut pada anak bungsunya.
James melirik ke arah ruang keluarga dan segera memberi kode kepada mamanya untuk mengikutinya ke kamar. Ia tidak mau pembicaraan mereka didengar Celine. Melihat tingkah James yang penuh rahasia begitu, Mama Ratna jadi penasaran. Ia pun mengikuti keinginan anaknya dengan pergi ke kamar.
Sesampainya di kamar, James langsung menumpahkan kegalauannya pada Sang Ibunda. Ia menceritakan kabar yang diterimanya dari Mbok Yani tadi. Mama Ratna mendengar keluh kesah anaknya dengan sabar, tanpa berusaha menyanggahnya. Ia membiarkan James menumpahkan semua uneg-unegnya terlebih dahulu.
Sampai James berhenti bicara, barulah Mama Ratna membuka mulutnya. Dengan nada lembut dan penuh perhatian, ia berkata, "Mama tau perasaanmu. Sangat mengerti bahkan. Tapi sesungguhnya di dalam hatimu, kamu sudah tau apa yang seharusnya kamu perbuat kan, Nak?"
James terdiam. Mama Ratna pun melanjutkan kalimatnya, "Kamu harus memberitahu Celine yah .... Biarkan dia yang memutuskan. Itu haknya sebagai anak. Jangan sampai hal ini menjadi penyesalan buat Celine kalau kita tidak/terlambat memberitahukannya. Yah?"
James hanya bisa mengangguk. Mama Ratna pun membelai kepala anak bungsunya ini.
"Masih ada lagi yang ingin dibicarakan?" tanya Mama Ratna yang dijawab dengan gelengan oleh James.
"Mama kembali ke dapur untuk melanjutkan persiapan makan malam yah ...." James mengangguk sebagai jawaban.
__ADS_1
"Mama tau kamu cukup bijak. Dan Mama yakin kamu dapat melakukannya, karena kamu sangat menyayangi Celine dan ingin yang terbaik untuknya, " tutup Mama Ratna dan kembali mengelus kepala James.
Mama Ratna pun meninggalkan kamar sambil melihat James dengan sedikit kekhawatiran. Tapi ia memutuskan untuk mempercayai James. Ia tahu James membutuhkan waktu untuk merenungi perkataannya dan menyiapkan hatinya lebih lanjut.
...****************...
Malamnya di PKW, James memutuskan menceritakan telepon dari Mbok Yani kepada Celine di depan seluruh keluarganya. Celine dan seluruh keluarganya mendengarkan dalam diam. Sesekali Alex melirik James untuk mencoba membaca perasaannya. Ia khawatir pada adiknya ini, karena ia tahu perasaan James ke Celine.
Setelah James selesai berbicara, keadaan menjadi sunyi untuk beberapa saat. Tidak ada yang berniat untuk memulai pembicaraan. Sampai akhirnya Papa Heru angkat bicara.
"Menurut Papa, sekarang terserah Celine. Celine maunya gimana?" tanya Papa Heru.
Celine terdiam sejenak, lalu mengangkat kepalanya dan melihat Papa Heru, "Papa ada saran?"
Papa Heru tersenyum. "Menurut Papa, sebagai anak yang berbakti, Celine harus kembali. Celine harus merawat dan menemani Papa Celine di masa sulitnya. Tapi Celine jangan salah paham yah .... Papa ngomong begini bukan karena tak suka Celine ada di sini. Kapanpun Celine boleh kembali kemari. Kami akan selalu menerima Celine dengan tangan terbuka."
Celine lalu menengok Mama Ratna dengan tatapan bertanya.
Mama Ratna tersenyum dengan lembut. "Pendapat Mama sama dengan Papa, Lin. Walau Papa Celine seperti itu, Celine tidak boleh balas dendam. Justru ini kesempatan yang diberikan Tuhan untuk menunjukkan betapa salahnya dia selama ini bersikap demikian sama Celine. Kalau Celine tidak tahan, kapanpun Celine boleh kembali kemari. Celine harus ingat, Celine juga punya keluarga di sini."
"Menurut Bang James dan Bang Alex?" Kali ini gantian Celine menanyakan pendapat mereka berdua.
"Bang Alex sama kayak Papa Mama, Lin. Tapi balik lagi semua terserah Celine yah .... Ingat, ga ada yang memaksa Celine untuk melakukan ini/itu lo ..." jawab Alex.
"Bang James?" tanya Celine menatap James.
James terdiam. Ia tak sanggup membalas tatapan Celine. Akhirnya ia mengalihkan pandangannya dari Celine, lalu menjawab, "Sorry, Lin. Kali ini Bang James no comment."
Celine tertegun mendengar jawaban James. Baru kali ini ia mendapat perlakuan demikian dari James.
Mama Ratna yang melihat sedikit kekecewaan di raut wajah Celine, segera menengahi. "Maaf ya, Lin. Bang James lagi banyak pikiran dari tadi sore. Jangan diambil hati yah ...."
Celine mengangguk sambil matanya tetap melirik ke arah James yang masih membuang mukanya. Alex melihat James dengan tatapan khawatir. Ia mengerti benar perasaan James yang pasti sedang kacau saat ini. Namun ia juga khawatir sikap James yang demikian dapat membuat Celine salah paham.
"Ya sudah. Sekarang Celine pikirkan dulu baik-baik. Kami akan dukung apapun keputusan Celine. Kalau Celine sudah memutuskan, kabari kami yah," kata Papa Heru sambil mengelus kepala Celine. Celine pun kembali menjawab dengan anggukkan.
"Baiklah! Sampai di sini saja pembahasan kita malam ini. Sekarang ayo kita istirahat, karena besok masih harus bangun pagi." Papa Heru menutup PKW malam ini dan membubarkan pertemuan. Tak lama kemudian, Celine dan setiap anggota keluarga Wijaya kembali ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat.
Sebelum kembali ke kamarnya, Celine menyempatkan diri untuk melirik ke arah James. Ia kembali harus menahan kekecewaan, karena semenjak ia mengajukan pertanyaan sampai James masuk ke kamarnya bersama Bang Alex, tidak sekalipun James menatap dirinya.
__ADS_1
...****************...