
Banyak yang ingin Cecilia utarakan. Ia ingin mencurahkan semua hal yang selama ini ia pendam. Seolah kedatangan teman-temannya membukakan jalan untuk sebuah kejujuran. Sepertinya tidak ada lagi kesempatan yang lebih baik dari ini. Ia harus memanfaatkannya.
Setelah teman-temannya tidak terlihat, Cecilia mengarahkan fokusnya ke Darrell. "Mengapa kau tidak cerita padaku tentang pengunduran dirimu dari kompetisi perebutan pewaris?" tanyanya langsung.
Ditanya begitu, kecanggungan Darrell kembali. Ia mengalihkan pandangannya dan kembali menggaruk pelipisnya. "Kau tidak tanya, " jawabnya nyaris seperti bergumam.
"Kenapa kau akhirnya mundur? Bukankah kau bilang ini mimpimu dan ayahmu? Apakah beliau bisa menerima keputusanmu ini?" cecar Cecilia.
Darrell tidak langsung menjawab. Ia terlihat ragu. Ia tidak berani menatap kekasihnya. Ujung telinganya perlahan memerah.
Namun karena Cecilia tetap menatap intens menunggu jawaban Darrell, pria itu akhirnya menyerah. Dengan wajah yang sudah memerah sebagian, ia berkata, "Tentu saja beliau kecewa. Namun bagaimana lagi? Aku tidak bisa lagi membohongi hati nuraniku. Sebagian alasannya karena dirimu."
"Eh??? Aku??" Cecilia terkejut.
Dengan wajah tertunduk dan nada lesu, Darrell menjawab, "Iya .... Kamu .... Sebagai laki-laki, aku malu jika hanya menerima namun tidak memberi. Padahal dirimu sudah berkorban untukku, hingga bertikai dengan sahabatmu. Walaupun sebelumnya memang sudah kukatakan ini konsekuensi yang harus kau tanggung jika kamu memilih diriku, namun tetap saja ... aku tidak nyaman dengan situasi ini."
Cecilia tertegun. Tidak menyangka ia akan mendengar isi hati Darrell seperti ini.
Darrell memberanikan diri menatap Cecilia. Di wajahnya terukir senyum sendu. "Dan entah kenapa ... sepertinya aku tidak ingin melihat wajah ini bersedih lagi, " katanya sambil membelai wajah Cecilia.
Cecilia tersipu. Melihat itu, Darrell melanjutkan penjelasannya. "Seperti yang pernah kukatakan, aku tidak terlalu mengerti tentang cinta. Namun melihat sikapmu padaku, sepertinya aku mulai paham. Cinta itu memberi. Cinta itu menginginkan yang terbaik untuk pasangannya. Cinta itu tidak ada perhitungan untung-rugi. Dan entah kenapa, aku lebih suka hubungan yang seperti itu daripada hubungan kita sebelumnya.
Namun ada beberapa hal yang membuatku khawatir tentangmu, Cecile ...." Darrell mengantung kalimatnya.
"Apa itu?" tanya Cecilia penasaran.
Darrell kembali menundukkan kepala. "Setelah aku seperti ini, apakah kau rela tetap menerimaku walaupun aku bukan pewaris perusahaan Adipratama?"
"Tidak masalah. Dari awal aku tidak pernah menitikberatkan hal itu, " jawab Cecilia lugas.
Darrell tersenyum melihat Cecilia menjawab tanpa ragu. Namun itu tidak bertahan lama. Ia pun kembali menundukkan kepala dan mengungkapkan kegelisahannya selanjutnya.
__ADS_1
"Ada lagi. Mungkin kamu sudah curiga, atau jangan-jangan sebenarnya sudah tahu. Namun lebih baik aku mengatakannya langsung padamu. Aku anak di luar nikah dari hubungan ayahku dengan wanita lain. Karena itulah aku tidak mirip dengan ayah-ibuku yang kau lihat. Aku mirip dengan ibu kandungku yang berkewarganegaraan Prancis. Apakah itu tidak masalah bagimu?" tanya Darrell.
"Tidak masalah. Aku suka rambut hitam dan mata hijaumu. Aku tidak peduli darimana itu berasal. Karena itulah selama ini aku tidak pernah membahasnya, kan?" tegas Cecilia.
Darrell tersenyum kecut lalu menghela napasnya. "Sejujurnya ini yang paling membuatku cemas denganmu, Cecile. Aku tau kalau kau pencinta cowok tampan. Mungkin kau tidak ingat. Sebenarnya pertemuan pertama kita bukan di pesawat, namun di bagian outdoor sebuah kafe di Paris. Kau baru saja diputuskan cowokmu waktu itu."
Pipi Cecilia memerah. Ia ingat kejadian itu dengan jelas, romansa terakhirnya sebelum ia bertemu Darrell. Namun ia sama sekali tidak menyangka kalau Darrell menyaksikan, bahkan mengetahui salah satu kebiasaan buruknya yang memilih pria hanya dari parasnya.
"Jika nanti aku sudah tua, tidak lagi tampan dan berkeriput. Atau misalnya terjadi sesuatu yang melukai wajahku dan membuat tampilanku mengerikan, apakah saat itu ... kau masih mencintaiku?" tanya Darrell melihat Cecilia dengan tatapan ragu.
Cecilia terdiam sejenak, seolah membayangkan wajah kekasihnya berubah dan tidak lagi tampan. "Aku tidak tahu. Aku tidak bisa menjanjikannya, " jawab Cecilia tegas, membuat senyum kecut Darrell kembali. Bagaimanapun sedikit banyak ia memang sudah menduganya. Namun ia tidak menyangka Cecilia akan mengakuinya langsung.
"Yang jelas ... aku bangga dengan diriku yang sekarang. Aku bangga aku berani membayar harga untuk cinta, sesuatu yang tidak pernah kulakukan sebelumnya. Sama seperti yang kaurasakan, aku pun belajar sesuatu dari hubungan kita. Cinta itu butuh pengorbanan. Dengan berkorban, cinta jadi lebih berharga karena diperjuangkan.
Aku tidak tahu bagaimana hubungan kita ke depannya. Namun saat ini, aku senang dengan diriku yang begini. Aku ingin menghargainya. Aku ingin memperjuangkannya. Aku ingin menjaga hubungan kita selama aku sanggup. Bagaimana denganmu?" Cecilia balik bertanya dengan senyum manis di wajahnya. Tangannya membelai pipi Darrell.
Darrell tersenyum menatap gadis itu. Lalu ia memegang dagu Cecilia dan mendekatkan wajahnya kemudian mengecup ringan bibir gadis itu. "Aku pun ingin begitu, Fille qui bave .... (arti: Gadis ileran) Ayo kita belajar sama-sama ..." katanya sesudahnya.
"Kenapa panggilanmu padaku adalah sesuatu yang memalukan, tidak seperti panggilanmu pada Rebecca yang imut dan menggemaskan? Coba bandingkan arti 'Fille qui bave' dan 'Kitty-chan' ? Apakah kau sesungguhnya memiliki rasa pada Rebecca?" tuduh Cecilia.
Darrell tertegun. Tidak menyangka topik selanjutnya yang menjadi masalah adalah hal ini. "Apakah kau sedang cemburu, Fille qui bave ? (arti: Gadis ileran)" tanyanya sambil tersenyum simpul.
"Ya. Aku cemburu. Berapa kali kulihat kamu tertawa lepas ketika berhadapan dengan Rebecca. Padahal kamu tidak pernah begitu di depanku. Apakah kau tidak nyaman sehingga menahan diri ketika bersamaku?" tanya Cecilia dengan wajah tertunduk. Nada suaranya mulai sendu, menyiratkan kesedihan saat ia mengatakannya.
Senyum Darrell melebar. Lalu ia mencubit ringan pipi kekasihnya dan membuat Cecilia kembali menatapnya. "Apakah kamu ingin kita bertengkar sekarang?" tanyanya.
"Tentu saja tidak!" jawab Cecilia spontan.
"Ya sudah .... Seperti itulah hubunganku dengan Si Gadis Kucing. Ia lawan bertengkar yang cukup seru. Kuakui, kadang aku menikmatinya dan terhibur karenanya. Namun tentu saja aku tidak mau kita seperti itu. Cukup dengan dia saja aku memiliki hubungan yang melelahkan begitu. Itupun terpaksa kulakukan karena dia sahabatmu. Aku masih lebih memilih hidup damai, " jelas Darrell.
Cecilia terdiam. Ia menatap wajah Darrell untuk memastikan kebenaran ucapannya.
__ADS_1
"Aku lebih menyukai dirimu apa adanya, Cecile .... Aku nyaman bersamamu. Mungkin memang tidak terlihat dari luar, namun aku yang lebih mengenal hatiku. Pouvez-vous me donner une chance de vous convaincre davantage, Princesse ? (arti: Apakah Anda bisa memberi saya kesempatan untuk lebih meyakinkan Anda, Tuan Putri ?) " tanya Darrell sambil mengecup punggung tangan Cecilia.
"Oui ..." (arti: Ya) jawab Cecilia spontan sambil mengalungkan lengannya ke leher Darrell. Hatinya gembira dan ia sangat bahagia.
Pria itu pun membalas pelukan Cecilia. Melingkarkan lengannya mengelilingi pinggang ramping kekasihnya. Membenamkan wajahnya di antara rambut dan ceruk leher gadis itu. Hatinya merasakan kebahagiaan yang sama.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
FORUM Q and A
Halo readers - ku thayankk .... Terima kasih masih setia mengikuti karya author dan mendukung author hingga saat ini .... ☺🙏
Dion : Hello readers ! Ketemu lagi di forum Q and A .... Pertanyaan kali ini masih seputar Darrell. Dan pembahasannya, sepertinya pas banget untuk menutup episode Darrell-Cecilia kali ini. Namun untuk menjawabnya, kita tidak menghadirkan Darrell. Karena menurutku, paling pas kita tanya author langsung.
Pertanyaan kali ini tidak disebutkan siapa pengirimnya karena memang hal ini menjadi perdebatan di kalangan readers. Ada readers yang mendukung Darrell jadian dengan Cecilia sesuai jalan cerita. Namun banyak juga yang menyayangkan mengapa Darrell tidak sama Rebecca aja? Jadi ... mohon pencerahannya, Thor ....
Author : Sebenarnya konsep awalnya Darrell memang disandingkan dengan Rebecca. Konsep mereka adalah pasangan yang dari rusuh-rusuh bermusuhan, lalu akhirnya timbul rasa suka.
Author sendiri sangat menikmati ketika menuliskan adegan Darrell dan Rebecca. Seru dan asyik. Vibes-nya lucu dan menyegarkan. Apalagi terlihat Darrell menjadi kandidat pria yang sejauh ini bisa mengalahkan sikap Rebecca yang agak liar. Mungkin ini juga yang dirasakan para readers yang men-ship hubungan Darrell-Rebecca.
Namun setelah merenungkan lebih lanjut, sepertinya Darrell lebih cocok dengan Cecilia. Darrell yang punya luka penolakan sejak masa kecil, sulit diimbangi dengan Rebecca yang berwatak keras dan bersikap semaunya.
Selain itu, jika akhirnya Rebecca menyukai Darrell, karakter Rebecca seakan berubah menjadi seorang yang tidak konsisten. Dari seseorang yang tadinya memusuhi Darrell demi menjunjung persahabatan dengan Celine, sekarang malah berbalik menyukai pria tersebut. Dengan alasan tidak ingin merusak karakter Rebecca itu lah, author memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan Darrell-Rebecca.
Darrel membutuhkan seseorang yang lebih peka dan memiliki banyak cinta. Karena itu, pilihan jatuh pada Cecilia. Di sisi lain, author juga ingin Cecilia belajar mencintai dengan benar, belajar setia dan memegang komitmen. Author merasa hubungan Darrell-Cecilia lebih bernuansa positif dan akan lebih stabil ke depannya, karena mereka akan sama-sama terus belajar memperbaiki diri dan menghargai pasangan.
Dion : Nah .... Begitu penjelasannya. Semoga para readers bisa mengerti ....
Oke deh. Sampai di sini forum Q and A kali ini. Kita ketemu lagi di episode berikutnya. Ditunggu pertanyaan dan komentarnya yah .... Bye-bye.... 👋
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...