
Hari Senin, awal minggu yang baru. James pergi bekerja dengan semangat yang dipaksakan. Batinnya belum siap untuk kembali berhadapan dengan realita.
Semenjak dari gerbang sekolah, pandangan para siswi terhunjam kepadanya. Mereka memandanginya sambil berbisik-bisik dengan temannya. Ia seperti mengalami deja vu.
Kali ini ada apa lagi? Okelah, kali pertama ia mendapat perlakuan seperti ini, karena waktu itu ia seorang asing yang datang untuk diwawancara. Kali kedua adalah kemarin Jumat lalu, ketika ia mengajar dengan mengenakan jas lab. Hari ini?
Hanya kekeras-kepalaan dan rasa tak mau kalahlah yang membuat James bisa berlagak cuek, walaupun pandangan dan bisik-bisik itu sungguh membuatnya tak nyaman. Tapi hari ini ia sudah siap! Ia memutuskan setiap hari akan selalu membawa baju ganti lengkap! Akan ia buktikan kalau Bang James ini bukan pria kaleng-kaleng! Serangan apapun akan ia hadapi!
...****************...
Setelah bel tanda selesai pelajaran pertama berbunyi, ada seorang siswi yang menemui James di ruang guru.
"Pak James, tadi saya bertemu dengan Kepala Sekolah. Bapak diminta menemui beliau di ruangannya," kata siswi tersebut.
"Baik. Terima kasih yah ...," jawab James.
"Sama-sama, Pak. Saya permisi." Lalu siswi tersebut segera berbalik dan pergi.
Setelah merapikan mejanya, James mengarah ke ruang Kepala Sekolah. Hatinya bertanya-tanya, kira-kira apa yang akan dibicarakan bu kepsek padanya?
Kembali ia melewati jalan yang dulu dilaluinya saat wawancara. Ia melewati lapangan basket, lalu kemudian lapangan tenis.
James terlalu fokus dengan pikirannya, sampai tiba-tiba ia dikagetkan dengan sebuah seruan, "PAK JAMES!!!! AWAS BOLA!!!!"
Belum sempat ia mencari dari mana arah datangnya bola atau suara tersebut, punggungnya sudah terhantam sesuatu.
Dugh!! Tuk ... Tuk ... Tuk ...
Sebuah bola tenis memantul-mantul kecil di lantai setelah mengenai James.
"MAAFFFF, PAK JAMESSS ... !!!" Seruan seperti sebuah kor datang dari arah lapangan tenis.
James melihat sekelompok siswi berdiri di pintu kawat yang membatasi lapangan dengan area pejalan kaki tempatnya berada. Ia tidak tahu mereka siswi dari kelas mana. Maklumlah, ia mengajar di sekolah ini belum sampai satu bulan.
Alisnya berkernyit melihat desain lapangan dan ekspresi para siswi tersebut. Ada sesuatu yang janggal di sana.
Selayaknya lapangan tenis pada umumnya, lapangan tenis itu dikelilingi pagar kawat untuk mencegah bola keluar dari lapangan. Jadi bagaimana mungkin dirinya bisa terhantam bola, jika bola tersebut dipukul dari dalam lapangan?
Ekspresi para siswi yang minta maaf tersebut juga mencurigakan. Banyak dari mereka yang senyum-senyum dan cekikikan bersama teman di sampingnya.
"Pak James, boleh tolong lemparkan bolanya kemari?" sahut salah satu siswi yang berdiri di bagian depan kelompok tersebut.
__ADS_1
James memungut bola tanpa berkata apapun. Setelah itu, bola dilemparkannya ke arah mereka.
"Terima kasih, Pak .... Sekali lagi, maaf yah, Pak. Kami tidak sengaja mengenai Bapak dengan bola," seru siswi yang tadi, masih dengan senyuman penuh artinya.
James hanya melambaikan tangannya sebagai jawaban. Ia sudah malas menanggapi mereka. Ia merasa peristiwa tadi adalah sebuah kesengajaan. Tapi bagaimanapun, ia tidak punya bukti apapun untuk membenarkan dugaannya.
James merasakan punggungnya yang terkena bola tadi sedikit berdenyut. Memang, hantaman bola tadi tidak terlalu keras. Tapi yah, tidak bisa dibilang lembut juga. Seolah bola tersebut sengaja diarahkan kepadanya hanya dengan tenaga sekedarnya. Bukan untuk mencederainya.
Dengan hati bertanya-tanya, James melanjutkan perjalanannya ke ruang Kepala Sekolah. Mengapa hal ini terjadi padanya? Apakah kali ini ada kelompok lain yang menargetkannya selain Geng Princess? Atau ini masih satu cerita yang sama dengan Geng Princess sebagai pelaku utamanya?
...****************...
"Silakan duduk, Pak James." Sang Kepsek mempersilakan James duduk.
Setelah James duduk, Bu Kepsek melanjutkan perkataannya, "Untuk mempersingkat waktu, kita langsung saja ya, Pak. Karena Pak James habis ini juga masih ada jadwal mengajar kan?"
"Iya, Bu. Apa yang ingin Ibu bicarakan dengan saya?" tanya James.
"Dari kejadian-kejadian yang Pak James alami, apakah Pak James ada masalah dengan Geng Princess?"
"Dari saya pribadi, tidak ada, Bu."
"Sudah berapa kali Bapak mengalami kejadian seperti kemarin Jumat?"
"Apakah Pak James tahu, apa kira-kira yang menyebabkan Pak James sampai mengalami hal seperti ini?"
"Saya tidak tahu. Tapi saya rasa, Ibu tahu kalau bukan saya saja yang mengalami hal seperti ini kan?" James balik bertanya.
"Betul. Saya juga mendengar beberapa guru laki-laki sebelumnya mengalami hal serupa seperti yang Pak James alami. Tapi kejadian-kejadian seperti itu hanya terjadi di kelas, Pak. Baru Pak Jameslah yang mengalami hal demikian sampai di luar kelas. Dan kali ini terlihat oleh siswi-siswi yang lain," jelas Bu Kepsek.
James terdiam. Karena itu, Bu Kepsek melanjutkan pertanyaannya, "Kalau boleh tahu, apa tanggapan Pak James mengenai kelakuan Geng Princess pada Bapak?"
"Jujur saja, saya merasa kejadian-kejadian ini memang disengaja. Tapi saya rasa Ibu juga sudah tahu bagaimana mereka membungkusnya sehingga terlihat seperti sebuah ketidaksengajaan. Yang saya bisa lakukan hanya mencoba mengajak mereka bicara, menegur dan mengingatkan mereka. Itu saja."
"Lalu, apa respons mereka?"
"Mereka minta maaf dan berjanji untuk lebih hati-hati."
"Pak James menerimanya dan percaya begitu saja?"
James tersenyum kecut. "Saat ini, cuma itu yang bisa saya lakukan kan, Bu? Mereka sudah minta maaf, jadi mana mungkin saya perpanjang. Tapi saya juga bukan orang bodoh yang menerima begitu saja. Mereka tidak akan saya biarkan melakukan hal yang serupa dua kali. Jadi, tinggal diadu mana yang lebih kuat antara ketahanan saya dan kekreatifan mereka berulah saja, Bu."
__ADS_1
Kali ini giliran Bu Kepsek yang terdiam mendengar jawaban James. Setelah menghela napas, barulah ia melanjutkan kalimatnya, "Saya rasa Pak James tahu kalau mereka adalah anak-anak dari orang-orang berpengaruh di kota ini. Saya berterima kasih atas kehati-hatian Bapak menyikapi kelakuan mereka. Saya di sini bukan untuk membenarkan perlakuan mereka pada Pak James. Saya harap Bapak mengerti maksud saya."
"Ya, saya mengerti, Bu. Kita tidak boleh menuduh tanpa bukti kan?"
"Ya. Terima kasih atas pengertian Pak James. Saya rasa sampai di sini dulu pembicaraan kita. Bapak boleh kembali ke ruangan Bapak." Bu Kepsek menutup pembicaraan.
"Baik, Bu. Saya permisi." James bangkit dari kursinya, lalu meninggalkan ruangan tersebut.
...****************...
Saat istirahat kedua, James pergi ke kantin. Di sana ia bertabrakan dengan seorang siswi ketika sedang mengantri makanan.
"Maaf, Pak," kata siswi tersebut sambil menundukkan kepala.
"Ya, tidak apa. Kamu juga tidak apa-apa kan?" tanya James.
"Saya baik-baik saja, Pak. Terima kasih. Saya permisi dulu, Pak," jawab siswi itu terburu-buru.
"Ya, silakan."
Saat itu, James tidak menaruh curiga apapun dengan sikap siswi tersebut. Ia berpikir mungkin anak itu terburu-buru karena sudah kelaparan atau ingin ke toilet.
Tapi setelah ia kembali dari kantin dan saat ia mengajar di mapel kelima, para siswi cekikikan sambil berbisik-bisik ketika melihatnya. Ia memang merasa ada yang aneh. Tapi ia tidak mau ambil pusing. Toh dari pagi semenjak di gerbang sekolah ia sudah mengalami perlakuan yang hampir serupa.
Sampai akhirnya James kembali ke ruang guru setelah mengajar. Di sana ia bertemu dengan Pak Santo yang juga sudah menyelesaikan jam pelajarannya hari ini. Pak Santo tertegun ketika melihat punggung James.
"Ada apa, Pak?" tanya James ketika melihat respons Pak Santo.
"Maaf, Pak James." Tiba-tiba Pak Santo memegang pundaknya dan menarik sesuatu dari punggung James.
Lalu Pak Santo memperlihatkan benda yang ditariknya tadi kepada James. Benda itu adalah sebuah kertas yang bertuliskan 'Saya guru bodoh'.
Muka James langsung memerah begitu membaca tulisan di kertas itu. Pantas saja, semenjak dari kantin, para siswi melihatnya dengan sikap yang berbeda dengan yang tadi pagi di gerbang. Mereka lebih terlihat cekikikan dan menertawakannya dibandingkan membicarakannya.
Pasti pelaku yang menempelkan kertas itu adalah siswi yang tadi bertabrakan dengannya! Tapi sayang, karena kejadiannya begitu cepat, ia tidak mengingat wajah siswi tersebut!
"Pak Santo, waktu Bapak menjadi target Geng Princess, apakah Bapak sampai mengalami hal seperti ini juga?" tanya James.
"Tidak, Pak James. Semua kejadian yang saya alami hanya terbatas di ruang kelas," jawab Pak Santo.
Berarti benar apa yang dikatakan Bu Kepsek tadi. Ada apa ini? Mengapa sekarang kejadiannya jadi bertambah besar seperti ini ? Sekarang seolah bukan Geng Princess saja yang menargetkannya, melainkan seluruh siswi di sekolah ! James hanya bisa bertanya-tanya dalam hati.
__ADS_1
...****************...