
Sepuluh menit berlalu dalam keheningan. James masih mempertahankan posisinya dengan kepala terbaring di atas meja. Ia mengistirahatkan otaknya yang nyaris berasap. Hanya telinganya saja yang ia tajamkan untuk berjaga-jaga kalau-kalau bu Reny kembali. Ga enak kan kalau di pertemuan pertama sudah membuat kesan yang tidak menyenangkan?
Setelah hampir 15 menit berlalu, sakit kepala James mulai reda. Bu Reny belum datang juga. Karena itu, James berinisiatif menyudahi istirahatnya. Ia mengingat-mengingat kembali perkataan dr. Yuri dan dicatatnya di dalam HP. Nama-nama orang, nama-nama bangsal, tugas-tugasnya, sebisanya yang dapat ia ingat, ia catat.
Satu jam nyaris berlalu. Sekarang sudah pukul 10.50. Karena sudah tidak ada lagi yang bisa ia ingat, ia mencoba mengisi waktu dengan membaca-baca tugas konselor Rumah Sakit lewat artikel di google.
Sedang asyik membaca, pintu ruangan dibuka oleh seorang wanita dengan umur sekitar 35-40 tahun. James mematikan HP-nya dan langsung bangkit dari tempat duduknya.
"Pak James?" tanya wanita itu sambil mengulurkan tangannya tanda perkenalan.
"Iya, Bu." James menjawab sambil menyambut uluran tangan tersebut.
"Perkenalkan, Saya Reny, " katanya sambil tersenyum ramah.
Setelah bersalaman, Bu Reny mengarahkan James untuk duduk di sofa. James pun mengikuti arahan Bu Reny.
Setelah mereka duduk berhadapan di sofa, Bu Reny memulai pembicaraan. "Tadi saya bertemu dr. Yuri di bangsal. Ia mengatakan Pak James menunggu di ruang ini untuk diberi penjelasan tugas. Maaf yah, karena sudah membuat Bapak menunggu agak lama, " kata wanita itu.
"Tak apa, Bu ..." jawab James tersenyum sungkan.
Bu Reny tersenyum dengan sikap James. Lalu ia bertanya padanya, "Kalau boleh saya tahu, apa yang sudah dijelaskan dr. Yuri pada Pak James?"
James menjawab, "Dokter Yuri menjelaskan tugas konselor umum, yaitu mendampingi pasien atau keluarganya yang menghadapi kasus khusus. Misalnya jika mereka menghadapi penyakit yang sulit sembuh atau yang membutuhkan operasi dan rehabilitasi. Untuk konsultasi mengenai penyakit atau pengobatan, katanya akan dijelaskan langsung oleh Dokter spesialis Penanggung Jawab Pasien (DPJP) yang bersangkutan.
Tadi saya juga sudah diajak berkeliling ke bangsal-bangsal dan bertemu dengan para kepala ruang dan para kepala instalasi yang katanya akan berhubungan dengan pekerjaan saya. Saya sudah dijelaskan tentang pembagian ruang berdasarkan kelas pasien dan tipe kasusnya. Begitu juga pelayanan yang diberikan di instalasi-instalasi tersebut. Tetapi untuk lebih detail tentang pembagian tugas, saya diminta bertanya langsung pada Ibu saja."
__ADS_1
"Baik. Kalau sudah dijelaskan secara garis besar seperti itu, saya tinggal menambahi detail kecilnya saja yah ...." Bu Reny menyimpulkan.
"Jadi sebenarnya tugas kita sederhana. Persis seperti yang dr. Yuri katakan, kita melakukan pendampingan psikis jika ada permintaan, baik oleh DPJP ataupun dari pasien maupun keluarganya. Pak James juga boleh melakukan pendampingan pribadi jika tidak diminta berdasarkan nurani. Tapi ingat, harus bijak! Jangan sampai menimbulkan kesenjangan dengan pasien lain ataupun menimbulkan gosip!
Permintaan pendampingan diberikan kepada kita bisa secara lisan oleh DPJP-nya langsung, bisa juga lewat tulisan di rekam medis. Umumnya perawat ruangan nanti akan mengingatkan kita. Jadi kalau Pak James bingung, coba saja tanyakan kepada perawat bangsal yang sedang dinas, apakah ada pasien atau keluarganya yang membutuhkan pendampingan konseling?
Untuk instalasi-instalasi yang berhubungan dengan pekerjaan kita, apakah tadi Bapak ingat, instalasi apa saja yang dikenalkan dr. Yuri pada Pak James?" tanya Bu Reny lagi.
"Ngg .... Seingat saya aja yah, Bu .... Instalasi NAPZA, instalasi rehabilitasi, dan instalasi psikiatri, " jawab James sebisanya.
"Ya. Sebenarnya banyak instalasi yang ada di RSUD ini. Tetapi yang berpeluang berhubungan dengan pekerjaan kita adalah instalasi yang tadi Bapak sebutkan. Itu pun kita hanya diminta bantuannya jika mereka kekurangan tenaga. Jadi seperti yang dr. Yuri pikirkan, ada baiknya kita juga mengenali mereka, karena suatu saat kita bisa jadi bekerja di dalam tim bersama mereka," jelas Bu Reny.
James manggut-manggut tanda mengerti. Kemudian, Bu Reny bertanya lagi, "Apakah sebelumnya Pak James pernah bekerja di RS?"
"Belum, Bu. Selama ini saya bekerja sebagai guru BK di SMU, " jawab James.
"Baik. Terima kasih, Bu ..." sambut James.
Bu Reny lalu melihat jam tangannya. "Sekarang sudah pukul 11.25. Pak James mau lihat-lihat kantin karyawan? Apakah Pak James sudah diberikan kupon makan oleh bagian HRD?" tanyanya.
"Ah .... Sepertinya sudah, Bu. Tadi pagi pas saya datang ke bagian HRD, sebelum diajak bertemu dengan dr. Yuri, saya ada diberikan ini. Inikah kuponnya?" tanya James sambil memperlihatkan secarik kertas.
"Betul. Nanti Pak James gunting-gunting sendiri potongan kuponnya. Setiap makan, kita akan memberikan 1 potongan kupon untuk ditukarkan dengan makanan. Jam istirahat kita dari pukul 12.00 - pukul 13.00. Apa Bapak mau pergi ke sana bersama, sebelum saya membagi tugas saya dengan Bapak?" tanya Bu Reny sambil tersenyum jenaka.
James agak nyengir. "Iya, Bu. Ke kantin dulu aja. Selalu lebih baik hasilnya jika kita isi perut dulu sebelum bekerja, " jawab James.
__ADS_1
Bu Reny tertawa. "Ayo kita pergi!" Lalu mereka pun meninggalkan ruangan konselor itu bersama.
Di kantin, James diperkenalkan ke beberapa orang bagian gizi yang bertugas saat itu. Makanan di RSUD ini memang disiapkan oleh mereka, baik menu karyawan maupun menu pasien. James bersyukur sampai sejauh ini ia dipertemukan dengan rekan kerja seperti Bu Reny yang dengan ramah dan sabar membimbing serta membantu sosialisasinya di RS.
Setelah mereka makan siang di kantin karyawan, mereka kembali ke ruang konselor. Bu Reny mulai membagikan tugasnya pada James. "Mengingat ini kali pertama Pak James bekerja di RS, saya akan memilihkan beberapa pasien yang kooperatif untuk Pak James tangani, " katanya sambil membuka buku-buku catatan pribadinya.
"Sambil dicatat ya, Pak ... Pasien pertama adalah seorang kakek yang baru beberapa hari lalu kakinya harus diamputasi karena gangren akibat kencing manis yang tidak terkontrol (noted: gangren adalah kondisi matinya sebagian jaringan tubuh akibat jaringan tersebut tidak mendapatkan pasokan darah yang cukup dari sistem peredaran darah ). Nama kakek tersebut adalah Kakek Suroto, 63 tahun.
Saat ini ia dirawat di bangsal Bakung, yaitu bangsal bedah untuk pasien kelas III. Anak laki-laki satu-satunya tidak memperhatikan dia, dan selama ini ia selalu berusaha menghidupi dirinya sendiri. Sekarang setelah diamputasi, kakek ini mengalami depresi memikirkan hari depannya, bagaimana ia akan bekerja untuk hidupnya nanti." James mendengarkan sambil membuat catatan di HP-nya.
"Pasien kedua adalah Nenek Farida, 72 tahun, yang divonis menderita kanker usus stadium empat. Kankernya sudah menyebar sampai ke paru. Keluarganya menolak kemoterapi mengingat kondisi fisik Si Nenek dan sudah pasrah terhadap keadaan. Pasiennya sendiri belum tahu tentang kondisi penyakitnya. Nenek ini dirawat di bangsal penyakit dalam kelas III untuk wanita, yaitu bangsal Flamboyan.
Pasien ketiga adalah Tuan Herman, laki-laki berumur 56 tahun yang dua hari lalu baru masuk RS akibat stroke. Semangat hidupnya menurun akibat kondisi yang dialaminya. Sebelah kanan tubuh dan wajahnya mengalami kelumpuhan.
Keluarganya sudah berusaha menghiburnya untuk mengembalikan semangat hidupnya, tetapi pasien masih terpuruk. Saat ini pasien berada di bangsal saraf kelas II, bangsal Soka.
Nah, segitu dulu pengenalannya. Sebagai tahap perkenalan, apakah tiga pasien cukup? Atau mau ditambah?" Bu Reny bertanya sambil tersenyum simpul.
"Cukup, Bu. Segini dulu, " jawab James sambil tersenyum kecut. Masalahnya ada beberapa istilah medis yang James belum mengerti, seperti gangren, pembagian stadium dalam kanker, dan kemoterapi. Bagaimana mungkin ia bisa mendampingi pasien jika ia belum mengerti betul kondisi yang mereka alami, kan?
Bu Reny tersenyum. "Ya sudah. Yuk kita menemui mereka! Saya akan memperkenalkan Pak James kepada pasien dan keluarganya, agar mereka tidak kaget jika tiba-tiba Pak James yang datang memberikan pendampingan, " kata Bu Reny sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Baik, Bu!" James pun ikut berdiri dan mengikuti Bu Reny keluar dari ruangan tersebut.
Dengan bersemangat dan sedikit berdebar, James siap menghadapi tugas pertamanya di RS. Ada banyak hal baru yang harus ia pelajari. Tetapi ia cukup tertantang untuk bisa bertahan bekerja di lingkungan barunya ini.
__ADS_1
...****************...