
Seorang pemuda menemukan sebuah kursi kosong yang berada di bagian outdoor sebuah kafe dan duduk di sana. Ia lalu menyesap kopi hangat yang baru saja di pesannya.
Kafe ini sudah menjadi tempat nongkrong langganannya karena cukup dekat dengan kampusnya. Dan seperti biasa, ia sedang menikmati waktu-waktu bersantai setelah setengah hari terkurung di kampus untuk belajar.
Dering telepon di saku mengganggu dirinya. Dengan malas-malasan, ia pun merogoh HP-nya dan melihat siapa yang menelepon. Ternyata ayahnya.
Dengan sedikit keterpaksaan, ia pun menjawab panggilan tersebut. "Ya?" katanya.
"Kamu di mana?" tanya suara di seberang.
"Baru selesai ngampus, " jawabnya pendek.
"Sehat-sehat saja, kan?" tanya Sang Ayah.
"Sehat." Kalo ga sehat, gimana bisa ngampus? tambahnya dalam hati.
"Libur musim dingin kali ini bisa pulang?" Pertanyaan yang sama setiap tahunnya.
"Entahlah." Ia menjawab seadanya.
"Pulanglah, Nak .... Sudah lebih dari lima tahun kamu tidak menginjak kampung halamanmu. Papa tau keenggananmu. Tapi sampai kapan kamu mau melarikan diri? Cepat atau lambat, kamu harus kembali dan bekerja di sini, kan? Apalagi ini tahun terakhirmu kuliah di sana. Kamu butuh untuk mulai bersosialisasi dengan teman-teman dan kolega bisnis papa di sini, agar ketika lulus, kamu bisa langsung bekerja di perusahaan, " bujuk papanya lagi.
"Liat nanti lah ..." katanya setelah terdiam sejenak.
"Tidak perlu liat-liat lagi! Papa minta liburan kali ini kamu harus pulang .... Mulailah cari tiket dari sekarang! Apalagi liburan musim dinginmu kali ini bertepatan dengan acara pertunangan sepupumu. Keluarga besar akan berkumpul. Ini juga penting untuk masa depanmu kelak kalo kamu mau bekerja di perusahaan!" tegas papanya.
Kalo mau bekerja di perusahaan, kan? Kalo tidak ? Tetapi kalimat itu hanya bisa tersimpan di otaknya saja. Ia tidak memiliki keberanian terlebih tekad untuk melawan arus.
Karena tidak mendapat jawaban dari anaknya, suara ayahnya mulai meninggi. "Kamu dengar tidak?!"
__ADS_1
"Iya! Iya!" sahutnya sewot.
"Bagus! Baik-baik yah kamu di sana. Jika uangmu kurang, kabari Papa. Nanti Papa transfer."
"Ya."
Telepon pun dimatikan.
Pemuda itu kembali mengalihkan pandangannya ke pemandangan di hadapannya dengan tatapan kosong. Ia menghela napasnya. Pikirannya mengembara.
Kalau soal keuangan, ayahnya sangat peduli padanya. Semenjak ia bersekolah di sini, ia tidak pernah kekurangan. Kiriman ayahnya selalu datang tepat waktu, dalam jumlah yang berlebih.
Kalau soal perhatian dan kasih sayang dari Sang Ayah, tak dapat ia pungkiri kalau ia mengetahui dan merasakannya juga. Dalam hal itu ia cukup tahu diri untuk bersyukur.
Tetapi hal tersebut tidak bisa disamakan dengan permintaan ayahnya agar ia kembali. Ia tertekan berada di tengah-tengah keluarga itu. Ia lebih nyaman di sini, sekalipun harus hidup sendiri.
Namun ia juga tahu, ia tidak punya keberanian untuk melawan titah ayahnya. Ia tidak punya keberanian untuk menentukan hidupnya sendiri. Ia sudah nyaman dengan hidupnya yang sekarang. Serba ada dan serba berkecukupan. Tidak dapat ia bayangkan kalau ia harus kembali hidup seperti masa kecilnya yang serba kekurangan.
Kampung halamanku di mana? Bukankah negara ini lah kampung halamannya? Di sinilah ia dilahirkan dan melewati masa kecilnya bersama ibu dan neneknya.
Kembali pemuda itu menghela napasnya. Ia memutar kenangan samar-samar tentang masa kecil yang masih bisa diingatnya. Bagaimana ia dibesarkan dengan penuh kesederhanaan dari seorang ibu yang bekerja sebagai seorang pelayan restoran kecil untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan neneknya yang sakit-sakitan. Bagaimana payahnya kehidupan mereka sehingga terkadang ia harus menahan lapar karena hanya memiliki sepotong roti keras untuk dimakan.
Keadaan baru membaik ketika ia berumur lima tahun. Ibunya membawa seorang laki-laki ke rumah dan memperkenalkannya sebagai ayahnya.
Rupanya selama ini ayahnya tidak mengetahui kehadirannya di dunia. Alasannya baru ia ketahui kemudian setelah ia sudah sedikit lebih dewasa. Rupanya Sang Ayah sudah memiliki istri di negara asalnya. Ibunya yang dari awal sudah mengetahui fakta tersebut, sengaja menyembunyikan kehamilannya pada ayahnya karena tidak ingin menjadi perusak rumah tangga orang.
Bagaimanapun pertemuan itu membawa perbaikan dalam kehidupan mereka. Ekonomi mereka mulai membaik karena ayahnya mengirimkan uang secara rutin. Setiap enam bulan atau paling lambat setahun sekali, ayahnya pasti akan datang mengunjunginya. Itulah dua tahun paling berbahagia dalam hidupnya.
Sampai di tahun ketiga keadaan kembali berubah. Ibunya sakit entah sakit apa. Mungkin TBC atau pneumonia atau kanker paru, ia tidak tahu. Ia baru berusia tujuh tahun kala itu. Yang ia ketahui, ibunya demam tinggi, batuk-batuk, bahkan terkadang sampai mengalami batuk darah.
__ADS_1
Namun sayangnya, ibunya melarang dirinya dan neneknya untuk memberitahukan penyakitnya pada ayahnya. Alasannya beliau tidak ingin membuat ayahnya khawatir.
Dengan melakukan pengobatan seadanya, ibunya menanggung penderitaan tersebut sendirian, sampai akhirnya ia kehilangan nyawanya. Ayahnya baru mengetahui kematian ibunya setelah dua bulan ibunya telah tiada.
Peristiwa itu mendatangkan babak baru dalam hidupnya. Neneknya yang sudah tua dan sakit-sakitan, menyerahkan perawatan dirinya pada ayahnya. Ayahnya menyetujui hal tersebut dan membawa dirinya ketika ia pulang kembali ke negara asalnya. Saat itulah untuk pertama kalinya ia bertemu dengan istri sah Sang Ayahnya, yaitu ibu tirinya.
Tinggal di rumah baru nan besar, tidak mendatangkan kebahagiaan buat dirinya. Suasana yang asing, bahasa yang tidak dikenal, dan juga sikap kurang bersahabat, ia dapatkan dari setiap penghuni di rumah itu. Hanya ayahnya lah yang bersikap baik padanya.
Ia memang tidak diperlakukan dengan kasar. Kebutuhan pokoknya seperti sandang, pangan, dan pendidikan juga terurus dengan baik. Ia hanya merasa terasingkan. Tak ada teman main ataupun orang yang mengajak dirinya berbicara. Mereka selalu memandangnya dengan tatapan dingin. Hal itu wajar saja, apa yang bisa diharapkan dari kehadiran seorang anak di luar nikah?
Ayahnya lah satu-satunya penghibur dirinya di rumah itu. Bagaimana ia selalu menantikan kepulangan ayahnya agar ia dapat bercerita. Masalahnya, ayahnya selalu berangkat kerja pagi-pagi dan baru pulang ketika sudah malam.
Perjalanan pendidikannya juga mendatangkan kesulitan tersendiri baginya. Pertama-tama, ia tidak dapat langsung disekolahkan karena penggunaan bahasa yang berbeda. Ia hanya menguasai bahasa ibunya, yaitu bahasa Prancis. Untuk itu, sebagai pendidikan sementara, ia harus menjalani homeschooling sambil mempelajari Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional, dan juga Bahasa Indonesia, bahasa nasional di negara ini.
Setelah akhirnya ia dapat disekolahkan di Internasional School, ia mendapatkan kesulitan yang kedua. Wajah Eropa yang ia dapatkan dari ibunya, membuat dirinya jadi bulan-bulanan di sekolah karena tampilannya yang jarang ditemui di negara ini. Memang ia tidak sampai mengalami kekerasan fisik, tetapi ledekan-ledekan yang ia dapatkan dari teman sekelasnya cukup melelahkan mentalnya.
Sampai akhirnya setelah ia lulus SMP, ia memutuskan untuk kembali ke Paris, kota kelahirannya. Dengan alasan ingin meneruskan pendidikan di sana sekaligus mengenang masa kecilnya, ia meminta ayahnya menyekolahkannya di kota mode itu.
Dan di sinilah ia berada sekarang. Lima tahun lebih ia sudah menempuh masa SMU dan kuliahnya di sini. Ia juga sudah menyempatkan diri untuk mengais masa kecilnya, mengunjungi rumahnya yang dulu dan mencari neneknya. Namun semuanya sia-sia. Waktu yang bergulir sudah cukup lama. Keadaan sudah begitu banyak berubah dan tidak ada yang mengetahui kabar neneknya.
"QUOI?! Tu veux rompre parce que tu as trouvé une meilleure femme que moi?! (arti: APA?! Kamu mau putus karena sudah menemukan wanita yang lebih baik dariku ?!) Sebuah seruan dari arah sebelah menghamburkan lamunannya.
Ia pun melirik ke meja di sebelah kanannya. Seorang wanita Asia sedang duduk di sana sendirian dan melakukan pembicaraan di telepon dengan nada gusar.
"Bien! Je peux aussi trouver un homme meilleur que toi!" (arti: Baik! Aku juga bisa menemukan pria yang lebih baik darimu !) Wanita itu kemudian mematikan teleponnya.
"Br*ngs*k!! Lo kira cowok ganteng cuma lo doang?!!" Wanita itu memaki teleponnya dengan bahasa yang dikenalnya. Bahasa yang jarang ia dengar dalam kesehariannya di negara ini.
Pemuda itu pun bangkit dari kursinya dan memilih meninggalkan tempat itu. Perenungan dan suasana tenang yang didambakannya sudah hancur karena gangguan cewek berisik yang sepertinya baru diputuskan pacarnya itu.
__ADS_1
...****************...