
Akhir pekan pun tiba. Lima menit lagi waktu akan menuju pukul empat sore tepat. Seluruh anggota Geng Princess sudah berkumpul di depan pintu masuk taman ria D.
"Belum datang juga, Bec?" tanya Sharon.
"Belum. Belum keliatan batang hidungnya, " jawab Rebecca yang dari tadi sudah mengedarkan pandangannya memperhatikan sekelilingnya.
"Bener dia bilang mau datang?" Priscillia mengkonfirmasi.
"Dia sih bilang begitu di chat." Rebecca menjawab dengan memutar bola matanya. Pasalnya ia kembali teringat dengan percakapan menyebalkan di malam itu.
"Cuma gertak sambal kali .... Yakin dia cukup pede sendirian menghadapi empat cewek?" tukas Cecilia.
Rebecca menghela napas. "Entahlah, Cil .... Tapi menurutku, dia beneran pede sih .... Batas antara kepedean dan ga tau malu kan, kadang beda tipis!" terang Rebecca.
Tidak lama kemudian, sosok yang dibicarakan pun muncul. Pria itu sedang berjalan setengah berlari mendekati Rebecca. Rebecca yang sebenarnya juga sudah melihatnya, bersikap acuh tak acuh. Ia membiarkan Darrell yang datang menghampirinya. Jelas terlihat kalau ia tidak menyambut kedatangan Darrell.
"Sorry, kitty. Aku agak tersesat tadi. Apakah ini teman-temanmu?" tanya Darrell begitu sudah berada di dekat Rebecca.
Dengan malas-malasan, Rebecca berniat memperkenalkan teman-temannya demi kesopanan. "Ya. Perkenalkan. Dari sini ada ...."
Ucapan Rebecca terpotong dengan ucapan yang hampir menyerupai pekikan, yang ternyata keluar dari bibir Cecilia. "Kamu!!"
Otomatis setiap wajah jadi memandang ke arah Cecilia, termasuk Darrell. Dan pria itu juga tertegun dengan pertemuan tak diduga ini. "Fille qui bave ..." (arti: Gadis ileran) kata Darrell.
Rebecca jadi bingung. "Cil .... Kamu kenal Darrell?" tanyanya.
__ADS_1
"Ya. Ah ... hanya sepintas saja. Kami ... pernah ... sedikit berbincang saat dia duduk di sampingku dalam pesawat ketika kembali ke Indonesia, " jawab Cecilia dengan gugup. Ia berusaha menyembunyikan pertemuan terakhir mereka di mal dua minggu yang lalu. Entah mengapa ia merasa wajib merahasiakannya dari teman-temannya, khususnya Rebecca.
Kegugupan Cecilia tidak luput dari perhatian Priscillia dan Sharon yang memiliki kepekaan yang cukup tinggi. Tetapi mereka memilih menahan diri untuk tidak membahasnya saat ini.
"Oh, baiklah kalau sudah kenal. Kalau begitu kita lanjutkan saja perkenalannya. Yang ini Priscillia, dan yang ini Sharon." Rebecca memperkenalkan kedua temannya yang lain.
"Darrell, " sambung Darrell memperkenalkan dirinya kepada kedua wanita itu.
"Ya sudah. Cukup sekian perkenalannya! Cepat kita beli tiket dan masuk ke dalam!" ajak Rebecca.
Mereka pun mengantre di loket. Karena besok hari libur, banyak pengunjung yang datang ke taman ria sore ini. Mereka menghabiskan waktu hampir setengah jam hanya untuk mendapatkan tiket. Hal ini membuat perasaan Rebecca memburuk.
"Hah!! Gara-gara seseorang yang datangnya telat, kita jadi buang waktu begini! Bisa-bisanya hari gini pake alasan tersesat! Kan uda ada aplikasi penunjuk jalan online ! Gaptek (noted: Gagap tekhnologi ) kali yah tuh orang?!" Setelah mendapat tiket di tangan, Rebecca sengaja mengeluh dengan suara yang dibesarkan.
Mendengar itu, Rebecca hanya bisa memanyunkan mulutnya. Untuk memperbaiki suasana, Priscillia segera menggandeng Rebecca dan mengajaknya masuk. "Masih ada waktu untuk bersenang-senang kok, Bec .... Yuk, kita cepetan masuk!"
Rebecca yang digandeng Priscillia segera menuju pintu masuk. Sharon dan Cecilia mengikuti mereka dari belakang. Tinggal Darrell sendiri yang ada di barisan paling belakang, mengikuti keempat gadis itu dengan kedua tangan di saku. (habis ... ga ada yang bisa digandeng, kan?)
Satu-persatu wahana di taman ria tersebut, mulai mereka cicipi. Dari menggoes sepeda air di danau buatan, menaiki komedi putar, sampai memasuki bilik foto (photo booth) demi mengabadikan momen kebersamaan mereka.
Sesuai rencana, keempat gadis itu menikmati taman ria dengan mengabaikan Darrell. Tak ada satu pun dari mereka yang mencoba mengajak bicara atau mengajak Darrell untuk ikut bergabung. Darrell hanya mengekori mereka tanpa mengikuti satu pun dari wahana yang dari tadi mereka cicipi.
Sebenarnya Sharon dan Priscillia kasihan juga melihat Darrell yang tidak diindahkan sama sekali. Tetapi, yah ... mau bagaimana lagi? Memang rencana ini dibuat untuk membuat efek jera pada pria itu, kan? Semua ini mereka lakukan demi menolong Rebecca.
Begitu juga dengan Cecilia. Hatinya begitu gelisah dan khawatir. Dari tadi sebisanya ia mencoba melirik ke belakang untuk memantau kondisi Darrell. Namun hal itu ternyata sulit dilakukan. Pasalnya ia takut perhatiannya pada Darrell ketahuan oleh teman-temannya. Di sisi lain ia didera dengan perasaan bersalah, karena dialah pencetus ide pencuekan ini.
__ADS_1
Berkebalikan dengan Darrell, ia sudah mengerti kalau situasi pengabaian yang ia terima kali ini sudah direncanakan. Baginya, diperlakukan seperti ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang ia alami saat pertama kali sampai di Indonesia waktu ia kecil. Bagaimana ia merasa diasingkan dan selalu menerima tatapan dingin dari semua anggota keluarga selain ayahnya kala itu.
Sepanjang mengekori keempat gadis itu, ia hanya tersenyum dan membuntuti mereka dengan santai, bak seorang ksatria yang menjaga empat putri. Malah, ia sengaja membelikan minuman untuk keempat gadis itu ketika mereka sedang asyik berada di dalam photo booth. Wajah tertegun dan tidak enak hati keempat gadis itu menjadi hiburan tersendiri buat Darrell ketika ia menyerahkan minuman itu di hadapan mereka.
"Dari tadi kalian sudah banyak bermain. Pasti kalian cape dan haus. Ini kubelikan minuman. Maaf, karena ga tau selera kalian, aku pilihkan yang umum saja seperti lemon tea, " katanya.
"Ah .... Makasih yah ..." sahut Sharon dan Cecilia bersamaan dengan canggung, ketika mereka menerima minuman itu.
"Sama-sama, " jawab Darrell dengan senyum termanisnya.
"Yang dibelikan kok minuman paling murah sih?! Kalo pelit mah bilang aja! Kan masih ada jus, masih ada soda, masih ada kopi!" nyinyir Rebecca.
Priscillia menyikut Rebecca untuk menegur gadis itu. Baginya, respons Rebecca sudah sedikit keterlaluan karena tidak menghargai pemberian orang lain.
"Makasih yah .... Maaf sudah merepotkan ..." ujar Priscillia kepada Darrell.
"Ga repot kok. Santai aja. Kalo cat woman ga mau minum bagiannya, biar buat aku aja. Kamu beli minumanmu sendiri yah, kitty ..." ujar Darrell kepada Priscillia dan Rebecca. Kemudian, dengan santainya Darrell mengambil bagian Rebecca dan langsung menyeruput minuman tersebut.
Melihat itu, sontak amarah Rebecca kembali terpancing. "Emang itu mauku! Siapa yang sudi minum minuman pemberianmu! Yuk teman-teman! Temani aku cari minuman!" ajak Rebecca langsung menggiring teman-temannya kembali meninggalkan Darrell di belakang.
Kembali ketiga gadis itu merasa tidak enak hati dengan Darrell yang sejauh ini tidak sebrengs*k itu dalam penilaian mereka. Apalagi Cecilia, kembali ia mencoba mencuri pandang ke belakang untuk memastikan ekspresi Darrell demi mengetahui perasaan pria itu. Sedangkan Darrell, ia harus dengan bersusah-payah menahan tawanya melihat sikap kekanakan Rebecca.
Perjalanan keempat gadis itu belum selesai. Mereka masih melanjutkan petualangan serta aksi mereka sesuai rencana untuk menghalau Darrell. Bagaimanakah akhirnya? Siapakah pemenang dari aksi perseteruan ini? Ikuti terus ceritanya yah ....
...****************...
__ADS_1