Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Percakapan dengan Tuan Besar


__ADS_3

"Pertama-tama, saya ingin mengucapkan terima kasih. Kamu dan keluargamu telah mengembalikan putri saya dalam keadaan yang jauh lebih baik dari sebelumnya." Tuan Adipratama mengawali topik pembicaraannya.


Mendengar itu, James tertegun. Ia tidak menyangka Tuan Besar yang arogan ini bisa mengucapkan perkataan yang manis seperti ini. (Tuan Adipratama be like : seburuk apa memangnya citra saya di mata bocah ini ?! ).


"Sejujurnya, saya tidak menyangka anak itu bisa tiba-tiba datang ke RS tempat saya dirawat dan menjumpai saya yang saat itu masih terkapar di ruang rawat inap. Masih jelas di ingatan saya bagaimana ia datang dengan kepala tertunduk dan tangan yang menggenggam roknya, sesuatu yang biasa dilakukannya ketika ia ketakutan atau cemas. Kalimat yang ia ucapkan saat itu sangat singkat, 'Papa, Celine pulang.'


Waktu itu sebenarnya saya sangat penasaran ingin bertanya, apa yang menyebabkan ia bisa kembali ke sini? Tetapi karena serangan stroke yang saya alami, saya tidak dapat berbicara dengan baik. Karena itu, saya hanya bisa menahan rasa ingin tahu saya saat itu.


Sampai akhirnya saya bisa dirawat di rumah, Celine tetap merawat saya seperti biasanya. Ia menyuapi saya, mengingatkan waktu saya minum obat, mendorong kursi roda saya, dsb. Semuanya ia lakukan dalam diam. Tak pernah ia menceritakan kehidupannya selama ini atau membicarakan tentang kalian. Tak pernah juga sekalipun matanya berani menatap saya langsung.


Setelah menjalani fisioterapi di luar negeri kira-kira sebulan, lidah saya akhirnya bisa saya ajak bekerja sama. Saya pun akhirnya berhasil menanyakan pertanyaan yang sudah membuat saya penasaran sekian waktu lamanya.


Saya bertanya, kenapa kamu bisa kembali ke sini? Apakah pemuda itu atau keluarganya mengusirmu?


Responsnya membuat saya kaget. Untuk pertama kalinya ia memandang saya. Ada sedikit kilatan amarah terlihat di matanya. Dengan tangan terkepal yang bergetar dan sedikit terbata-bata, ia berkata, 'Tidak, Papa. Ini keinginan Celine sendiri untuk pulang. Mereka tak pernah mengusir Celine. Bahkan mereka membuka tangan lebar-lebar jika Celine ingin kembali.' "


Sampai di situ Papa Celine memberi jeda dalam kalimatnya. Di wajahnya terukir senyuman lembut yang baru pertama kali James lihat. Matanya menerawang. Terlihat pikirannya sedang mereka ulang kejadian tersebut di kepalanya.


"Kali kedua anak itu membuat saya kaget ketika saya kembali harus dirawat inap akibat pengkhianatan adik saya yang ingin merebut perusahaan dari tangan saya. Setelah saya diperbolehkan pulang dari RS, tiba-tiba saja ia menghadap saya dan mengusulkan agar dirinya dipertimbangkan untuk menjadi pewaris.


Jujur, saat itu saya kaget mendengar ucapan anak itu. Entah apa yang ada di kepalanya hingga ia terpikirkan usul tersebut. Saya ragu kalau ia melakukannya karena ambisi pribadi seperti haus kekuasaan. Saya merasa ia melakukannya untuk saya, agar saya kembali mempunyai harapan. Mungkin anak itu mengetahui amarah dan kekecewaan di dalam hati saya.


Anak yang sependiam dan sepemalu itu, berani mengemukakan demikian dengan kepala tertunduk dan suara yang bergetar .... Sungguh hal yang mencengangkan bagi saya. Terlihat sekali kalau ia memaksa dirinya dan mengeluarkan seluruh keberaniannya hanya untuk mengatakan hal tersebut, " kata Tuan Adipratama sambil terkekeh, merasa yang diceritakannya adalah hal yang lucu.


"Awalnya saya tidak begitu yakin dengan usulannya. Tapi, daripada hanya menerima nasib ditusuk adik saya dari belakang, apa salahnya jika saya mencoba memperjuangkan usul tersebut?


Saya pun memastikan usulan itu sekali lagi dan mempertanyakan keseriusannya. Saat itu, baru lah anak itu berani menatap mata saya. Ia menjawab dengan penuh keyakinan bahwa ia mampu melakukannya asalkan saya setuju dan bersedia membimbingnya. Melihat keseriusannya, akhirnya saya menyetujuinya dan mengajaknya berjuang bersama.


Di luar dugaan, ternyata ia cukup serius dengan perkataannya. Kuliah sambil bekerja pun ia jalani. Ia juga tidak pernah mengeluh dengan didikan saya yang keras. Belum lagi berbagai tantangan dari pamannya yang harus ia hadapi. Kerap kali saya melihatnya tertidur di meja kerjanya saking kelelahannya.


Ternyata dia sama saja dengan kakaknya. Kalau sudah memutuskan sesuatu, kemauannya yang ditonjolkan. Bahkan bisa dibilang keras kepala. Harga apa pun akan dibayar demi mewujudkan keinginannya." Kembali Tuan Adipratama terkekeh.

__ADS_1


"Yang membuat saya lebih terkejut adalah bakatnya dalam ilmu bahasa. Kemampuan bahasa asingnya sangat luar biasa. Sepengetahuan saya sampai saat ini, Celine menguasai 4 bahasa asing selain bahasa Indonesia, yaitu Inggris, Mandarin, Jepang, dan Perancis.


Jurusan ilmu komunikasi yang dipilihnya, semakin mempertajam bakatnya tersebut. Dengan mudah ia dapat meyakinkan orang, terutama klien-klien yang berasal dari perusahaan asing. Ia dapat membuat suasana menjadi nyaman sehingga komunikasi jadi lebih lancar. Hal tersebut sangat berguna bagi perusahaan, terutama jika kita ingin melebarkan sayap ke luar negeri.


Kemampuan Celine berikutnya yang harus saya akui adalah kemampuannya dalam menilai orang. Mungkin karena karakternya yang pemalu dari kecil, ia jadi terbiasa memperhatikan orang. Ia jadi bisa membedakan mana orang yang bisa dipercaya, mana yang tidak. Mana yang berwatak tulus, mana yang berwatak culas. Hal ini sangat membantunya dalam memilih rekan kerja yang dapat ia percaya.


Tanpa diduga, anak itu menguasai ilmu yang sangat dibutuhkan untuk menjadi seorang pemimpin perusahaan. Hanya tinggal ilmu Manajemen Bisnis dan sifat naifnya yang masih harus diasah. Anak itu memiliki hati yang terlalu lembut dan cukup polos dalam menghadapi kejamnya dunia bisnis seperti ini.


Kalau saya tidak memberi tahu dirinya tentang trik yang dilakukan pamannya untuk menjegalnya, atau pun mewaspadai permainan pamannya di belakang layar, langkahnya tak akan semudah ini untuk diakui menjadi pewaris. Tanpa sepengetahuannya, saya bahkan membalas perbuatan adik saya itu dengan ikut bermain di belakang layar untuk proyek terakhir yang adik saya pegang sebelum rapat pemegang saham.


Akibatnya, proyek adik saya itu gagal. Lucunya lagi, yang menunjukkan kesalahan proyek tersebut adalah Celine sendiri di rapat direktur, tanpa saya beri bocoran apa pun. Ini lah yang mempengaruhi penilaian para pemegang saham. Mereka jadi lebih mempercayai kemampuan Celine daripada adik saya sebagai calon pemimpin perusahaan."


Tuan Adipratama menceritakan hal itu dengan nada puas, seolah sudah berhasil menuntaskan balas dendamnya ke Sang Adik. Sebaliknya, James hanya bisa terdiam mendengar sikap kakak-beradik yang dengan kejamnya bisa saling mengkhianati dan menjegal dari belakang. Ia sungguh tidak habis pikir dan sangat berharap hal itu jangan sampai terjadi di keluarganya.


"Sampai sekarang campur tangan saya ini tidak diketahui Celine. Dan saya harap, kamu pun dapat menyimpan rahasia ini. Biarkan Celine merasa keberhasilannya karena usahanya sendiri, karena memang ia layak mendapatkannya. Apakah kamu bisa melakukannya?" tanya Tuan Adipratama.


"Tentu saja, Om, " jawab James pendek. Untuk apa juga ia membocorkan rahasia yang bisa membuat Celine terpuruk, jika ia menyadari keberhasilannya ada campur tangan kotor ayahnya dari belakang?


"Terima kasih. Bagaimanapun, anak itu bisa menjadi seperti ini berkat campur tangan dan didikan dari kalian juga. Banyak hal yang saya yakini ia pelajari dari kalian. Saya harus akui, untuk perkembangan karakternya, kalian berhasil mendidik Celine lebih baik dari saya. Dan untuk itu, sekali lagi dengan tulus hati saya berterima kasih pada kamu dan keluargamu." Tuan Adipratama mengakhiri perkataannya.


Mendengar itu, Tuan Adipratama tertawa. "Kamu memang tajam, Anak Muda! Benar! Bukan itu tujuan utama saya memanggilmu kemari, walaupun cepat atau lambat saya memang harus berterima kasih padamu. Saya mengundangmu kemari untuk membahas masalah perjodohan Celine."


Jantung James langsung berdebar mendengar topik yang ingin dibahas Tuan Adipratama. Ini lah yang sebenarnya ingin dibahas oleh Tuan Adipratama sampai mengusir Celine. Tak mungkin kalau hanya berterima kasih, Celine sampai harus diusir segala, bukan?


"Dengan keadaan Celine sekarang sebagai direktur muda yang berhasil dan pewaris perusahaan Adipratama Grup, banyak lamaran perjodohan atau pertunangan yang telah saya terima. Hal itu sangat wajar terjadi di kalangan kami. Bagaimana pendapatmu tentang hal itu?" tanya Tuan Adipratama mengawali pembahasan tentang topik Celine.


James hanya bisa menelan ludah mendengar fakta tersebut. "Hal itu bukan bagian saya untuk menjawab, Om. Itu sepenuhnya menjadi otoritas Celine untuk memutuskan, " jawab James.


"Tentu saja saya juga sudah menanyakan hal yang sama pada putri saya. Tahukah kamu apa jawabannya? Ia meminta saya untuk menanyakannya padamu. Anak itu menunjukmu sebagai walinya. Tapi, kalau akhirnya kalian jadi main lempar-lemparan begini, apa harus saya yang memutuskan?" Kembali Tuan Adipratama bertanya dengan senyum miring di wajahnya.


James bingung harus menjawab bagaimana. Tidak mungkin ia yang memutuskan hal ini, apalagi tanpa membicarakannya pada Celine terlebih dahulu. Selain itu, bagaimana dengan perasaannya sendiri? Benar-benar harus diakhiri sesuai rencananya semula kah? Apakah harus dari mulutnya sendiri ia memberikan Celine pada pria lain?

__ADS_1


Melihat James yang hanya terdiam, Tuan Adipratama melanjutkan pertanyaannya, "Baiklah. Kita ganti pertanyaannya. Apakah kamu mencintai putri saya?"


"Iya, Om, " aku James.


"Kalau begitu, kenapa kamu susah menjawab pertanyaan saya tadi, Bocah? Bukan kah kamu tinggal bilang kalau kamu mencintai putri saya dan meminta restu dari saya? Apalagi setelah kamu dengar betapa berterima kasihnya saya karena kamu berhasil membuat Celine menjadi seperti ini?" tanya Tuan Adipratama yang tidak mengerti dengan sikap James.


"Justru karena itu, saya jadi ragu untuk mengutarakannya, Om. Saya tidak ingin memaksa Celine menerima perasaan saya ataupun mendapat restu Om karena perasaan balas budi." James mengemukakan alasannya.


"Berarti anak itu belum mengetahui perasaanmu?"


"Belum, Om."


Tuan Adipratama tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban James. "Mungkin bagi orang lain, alasanmu itu terdengar bijak dan penuh pertimbangan. Tapi maaf, Anak Muda .... Bagi saya, kamu hanya beralasan untuk menutupi kepengecutanmu yang tidak bisa mengutarakan perasaanmu! Melihatmu begini, siapa yang menyangka kalau kamu bocah ingusan yang sama yang dulu pernah menantang saya! Hahahaha ...."


Muka James merah padam mendengar ejekan dari Tuan Adipratama. Sedikit-banyak ia harus mengakui, ada kemungkinan yang dikatakan Sang Tuan Besar benar adanya. Benarkah selama ini ia hanya memakai alasan tersebut sebagai dalih untuk menutupi kepengecutannya? Ia harus memikirkannya dan mengecek perasaannya lagi nanti.


"Ya sudah .... Anggap saja cara berpikir kita memang bertolak belakang. Saya sebagai pengusaha, terbiasa memanfaatkan setiap kesempatan untuk mencapai tujuan saya. Sedangkan kamu sebagai guru, justru terbiasa mengandalkan kesabaranmu untuk mencapai tujuanmu. Bukan begitu?" Tuan Adipratama melanjutkan kalimatnya sambil tersenyum setelah tawanya reda.


"Yang saya ingin ketahui adalah langkahmu selanjutnya. Apakah kamu ingin saya yang memutuskannya? Atau kamu ingin diberi waktu untuk berpikir? Anggap saja ini cara saya membalas budi dan menghargai perasaanmu. Karena sama seperti cara berpikir Celine sebelumnya, menurut saya kamu juga berhak bersuara dalam hal ini, " terang Tuan Adipratama.


Setelah mengambil waktu untuk berpikir sejenak, James memutuskan, "Beri saya waktu untuk berpikir, Om."


"Baik. Berapa lama?"


"Ngg .... Boleh minta waktu 3 bulan, Om?" Hal ini dikatakan James setelah mempertimbangkan frekuensi komunikasi yang bisa ia jalin di antara dirinya dan Celine.


Menurutnya, hari-hari Celine ke depannya akan diisi dengan jadwal yang padat. Mungkin sulit baginya untuk menemukan waktu yang tepat untuk membahas masalah ini dengan Celine. Belum lagi sekarang mereka tinggal di kota yang berbeda. Akibatnya, mereka akan lebih sulit untuk bertemu. Komunikasi yang paling mungkin hanyalah dengan memanfaatkan jaringan telepon.


Anggap lah jadwal Celine akan lebih longgar di akhir pekan. Berarti kemungkinannya ia hanya memiliki 4 kali kesempatan dalam 1 bulan untuk bebas berkomunikasi dengan Celine. Mungkin 12 kali kesempatan cukup baginya untuk menuntaskan pembahasan tersebut. Belum lagi ia masih membutuhkan waktu untuk mengecek perasaannya sendiri dan menyiapkan hati untuk mengangkat topik ini ke Celine.


Tetapi sayang, perhitungannya itu ditolak mentah-mentah oleh Tuan Adipratama. "Tidak bisa! Terlalu lama! 1 bulan saja! Kita harus memikirkan perasaan mereka yang mengirim surat lamaran. Tidak etis jika kita membiarkan mereka menunggu jawaban terlalu lama!"

__ADS_1


Demikian lah akhirnya. James hanya bisa menyetujui tenggat waktu yang diberikan Tuan Adipratama. Dengan pikiran dan perasaan yang kacau, James izin pamit untuk meninggalkan kediaman Adipratama.


...****************...


__ADS_2