Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Perencanaan Masa Depan


__ADS_3

James terbangun dari tidurnya. Sinar matahari sudah menembus dari balik tirai jendela. Sudah jam berapa ini? Ia bertanya dalam hatinya.


Ia melihat jam tangannya. Angka di sana sudah menunjukkan pukul sembilan lewat. Tumben Celine tidak membangunkannya.


James meregangkan badannya yang agak pegal. Kemarin malam ia tidak bisa langsung tidur. Setelah hampir subuh, baru lah ia bisa tertidur. Memang, semewah-mewahnya kamar orang, paling enak tidur di kamar sendiri, pikir James.


Kemudian James mandi untuk menyegarkan dirinya. Setelah itu, baru lah ia keluar dari kamar. Lorong di sekitar kamarnya sepi. Karenanya, ia pun menuju lantai bawah.


Setelah mencapai anak tangga terakhir, ia masih tidak menjumpai seorang pun. Ke mana Celine? Atau mbok Yani?


James memang tidak berani menanyakan letak kamar Celine demi menjaga kesopanan. Tetapi ia tidak menyangka juga kalau hal seperti ini akan terjadi. Seperti anak terbengkalai di rumah mewah tak berpenghuni.


Ia pun melanjutkan langkahnya menuju salah satu ruangan yang ia tahu, ruang makan. Begitu ia membuka pintu kayu yang menutup ruang tersebut, ia melihat Celine sedang duduk di kursi yang sama dengan tempatnya semalam. Sedangkan kursi tempat duduknya, sudah diduduki mbok Yani.


Celine tampak sedang menikmati sarapannya. Sedangkan mbok Yani lebih terlihat sedang menemani Celine makan sambil mengobrol.


"Selamat pagi, Bang James .... Ayo, sini! Sarapan bareng, " ajak Celine ketika melihat orang yang membuka pintu.


"Pagi, Lin ...." James membalas sapaan Celine sambil tersenyum.


"Pagi, Mbok ..." sapanya lagi, ketika ia sudah berada di depan meja makan.


"Pagi, Nak James .... Ayo, silakan duduk. Sarapan dulu, " ajak Mbok Yani sambil bangkit dari kursinya.


James kali ini memilih duduk di samping Celine. "Iya, Mbok. Terima kasih, " jawabnya.


"Nak James mau sarapan apa? Biar Mbok minta dibuatkan, " tanya Mbok Yani.


"Celine sarapan apa?" James balik bertanya pada Celine.


"Nasi goreng pake telur setengah matang. Bang James mau ini juga? Mau yang lain juga bisa kok. Mau mie atau bihun goreng, atau sandwich juga bisa. Atau mungkin Bang James mau pancake ..."


"Ga usah. Sama dengan Celine aja, Mbok, " potong James.


Mbok Yani tersenyum melihat kecanggungan pemuda itu. Ia pun melanjutkan pertanyaannya, "Minumnya Nak James mau apa? Susu, teh, kopi, atau jus?"


"Teh manis hangat saja, Mbok. Maaf merepotkan," ujar James.


"Jangan dipikirkan .... Memang sudah tugas Mbok. Mbok permisi dulu yah ..." kata perempuan tua itu sambil melangkah keluar ruangan.


Setelah mbok Yani pergi, tinggal mereka berdua di ruang itu.


"Bang James ga bisa tidur yah? Tuh ... matanya uda kayak mata panda ..." ujar Celine dengan tatapan khawatir.


James tersenyum. "Gapapa .... Santai aja .... Bang James memang biasa gitu kok kalau tidur di kamar baru."


"Makanya Celine tadi ga bangunin. Celine uda duga, pasti Bang James semalam susah tidur, " kata Celine sambil mengunyah makanannya.


James kembali tersenyum mendengar jawaban gadis di depannya. Ia pun membelai rambut Celine dan berkata, "Sudah ... makan dulu. Jangan makan sambil ngomong, nanti tersedak lho!"


Setelah beberapa lama, James menyadari sesuatu, "Ngomong-ngomong, papa Celine mana? Ga ikut sarapan?" tanyanya.

__ADS_1


"Kalau pagi, kami makan sendiri-sendiri, Bang James. Masing-masing punya jadwal sendiri. Apalagi hari Minggu begini. Biasanya sih kalau jam segini papa sudah makan dan lagi asyik di ruang kerjanya, " jawab Celine.


James hanya mengangguk tanda mengerti. Saat itu seorang pelayan datang membawa meja dorong dengan makanan dan minuman pesanan James di atasnya. Mbok Yani nampak berjalan di belakang pelayan itu.


Pelayan itu menghidangkan pesanan James di hadapannya. Sedangkan mbok Yani kembali duduk di kursi yang berseberangan dengan James dan Celine.


"Ayo dimakan, Nak James." Mbok Yani mempersilakan James menikmati hidangan yang sudah disajikan.


"Iya, Bang James. Jangan malu-malu, " sambung Celine.


"Iya, " jawab James pendek.


Setelah mengambil waktu untuk berdoa sejenak, James pun berkata, "Makan dulu, Mbok .... Lin ...."


"Iya .... Silakan ..." balas kedua wanita berbeda usia itu hampir bersamaan.


James pun mulai mengambil sendok dan menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya. Sebaliknya, piring Celine sudah kosong dan sekarang Celine hanya diam di tempat untuk menemani James makan.


"Jam berapa pesawat Bang James?" tanya Celine mengisi kekosongan di antara mereka.


"Jam 12-an. Rencananya habis ini, Bang James langsung berangkat. Uda check-in lewat aplikasi sih .... Jadi bisa lebih santai. Celine ada rencana mau apa dulu?" James balik bertanya.


"Ga ada. Nanti Celine antar Bang James ke bandara, " jawab Celine.


Lalu Celine membiarkan James menikmati makanannya dalam diam. Setelah James menghabiskan sarapannya, kedua muda-mudi itu pamit kepada mbok Yani dan meninggalkan ruang makan. Mereka kembali ke kamar masing-masing untuk bersiap-siap.


Setelah semua sudah rapi, mereka pun turun ke lantai bawah dan menemui papa Celine di ruang kerjanya.


"Sudah sarapan?" tanya Tuan Adipratama.


"Sudah, Om, " jawab James pendek.


"Ya. Hati-hati kalau begitu. Mulai sekarang, kalau datang ke kota ini, jangan pesan hotel. Tinggal di sini saja. Jangan lupa tanyakan kepada kedua orang tuamu tentang pembahasan kita yang kemarin." Tuan Adipratama mengingatkan James.


"Baik, Om. Terima kasih. Saya permisi dulu ..." pamit James.


"Ya, silakan, " sahut Tuan Adipratama.


Mereka pun keluar diiringi mbok Yani sampai ke depan pagar. Setelah pamit kepada mbok Yani, James dan Celine meninggalkan kediaman Adipratama menuju bandara.


...****************...


Setelah kembali ke kotanya, James mencari waktu untuk membicarakan hal yang dibahas tuan Adipratama kepada orang tuanya. Dan di waktu PKW ini lah, waktu yang tepat menurut James untuk menceritakan masalah tersebut.


"Untuk target menikah, Mama sih setuju aja. Tapi untuk lamaran atau pertunangan dengan tujuan hanya mengikat Celine, apa ga terlalu cepat? Kalian baru resmi pacaran sebulan ini, kan?" tanya Mama Ratna yang tidak habis pikir dengan permintaan tuan Adipratama.


"Buat kalangan mereka, itu biasa, Ma .... Bahkan ada yang sudah ditunangkan dari bayi hanya untuk mengokohkan bisnis antar keluarga lho ...." Papa Heru mengingatkan.


Mendengar itu, Mama Ratna hanya menghela napas. Dunia yang berbeda dengan pola pikir yang berbeda pula.


"Kamu sudah membicarakan hal ini pada Celine?" tanya Papa Heru.

__ADS_1


"Saat papa Celine menanyakan ini, Celine juga ada di sana ikut mendengarkan, Pa .... Tapi memang semua ini baru pemikiran James sendiri, karena kami belum pernah membahas sama sekali mengenai hal-hal yang tadi, " jawab James.


"Yang paling penting adalah kesepakatan di antara kalian berdua dulu. Terutama bagian domisili tadi. Itu akan jadi perbincangan yang sulit. Papa-Mama sih hanya ikut mendukung saja. Toh kami tinggal datang ke sana dan mengajukan lamaran resmi, kan?" terang Papa Heru.


James terdiam. Ia menyadari kebenaran dalam perkataan ayahnya.


"Rencanamu gimana, James?" tanya Mama Ratna.


"Seperti yang James bilang ke papanya Celine, pengennya sih Celine yang ngalah. Di mana-mana kan gitu aturannya, istri yang ikut suami. Jadi, rencananya James mau coba bujuk Celine."


"Kayaknya berat lho, James. Apalagi kita uda denger sendiri kan, perjuangan Celine agar bisa diakui menjadi pewaris itu seperti apa. Masa sekarang setelah didapat, kita malah memintanya untuk mundur?" Mama Ratna mencoba mengeluarkan opininya.


"Malah kalo mau berdasarkan logika, harusnya kamu yang ngalah, James. Bukan Papa merendahkan pekerjaan dan usahamu selama ini yah. Papa juga seorang pendidik. Tapi dibandingkan dengan Celine, pekerjaan seperti kita ini lebih mudah dicari, karena hanya menyangkut keluarga sendiri. Sedangkan Celine, dia bertanggung jawab terhadap seluruh karyawan perusahaan yang jumlahnya bisa ribuan lho, " tambah Papa Heru.


James kembali terdiam. Ia dapat mengerti pola pikir yang diutarakan papanya. Tetapi, bagaimana dengan egonya? Apakah karena posisi Celine lebih tinggi dan memiliki tanggung jawab yang lebih besar, ia harus melawan adat dan budaya Timur? Di mana nanti harus ia taruh harga dirinya sebagai seorang laki-laki?


Apalagi ia adalah anak lelaki terakhir keluarganya. Sudah menjadi aturan adat, kalau anak lelaki terakhir lah yang harus menjaga orang tuanya sampai akhir hayat mereka. Jika ia yang mengalah dan berdomisili di kota lain, bagaimana dengan orang tuanya? Apakah ia harus menyerahkan tanggung jawab tersebut pada abangnya? Bukankah itu egois juga namanya?


Melihat anaknya yang terdiam, Papa Heru menutup omongan mereka. "Ya sudah, coba kamu pikirkan dulu dan bicarakan baik-baik dengan Celine. Semoga di antara kalian dapat tercapai kesepakatan yah ...."


Karena itu lah di waktu-waktu berikutnya, James mencoba membahas masalah tersebut dengan Celine via telepon.


"Bagaimana menurut Celine dengan perkataan Bang James kemarin itu? Waktu itu kan baru pendapat Bang James pribadi. Kalau menurut Celine sendiri bagaimana?" tanya James membuka pembicaraan.


Pipi Celine bersemu merah. Ia belum pernah membayangkan hubungan mereka jika sudah menikah. Tetapi melihat kesungguhan James padanya, Celine merasa bahagia.


"Untuk menikah dan tunangan, Celine setuju aja. Menikah sekitar 2 tahun lagi dan tunangan sekitar 6 bulan lagi, kan?" jawabnya.


"Iya, " jawab James tersenyum bahagia, membayangkan Celine akan resmi menjadi miliknya.


"Terus bagaimana dengan domisili?" tanya Celine.


Senyum James mendadak lenyap. Masalah sensitif akan diungkit.


"Kalau menurut adat dan budaya Timur, harusnya kan istri yang mengikuti suami. Ya kan, Lin?" jawab James hati-hati.


"Iya. Biasanya gitu. Tapi dengan kondisi Celine sekarang, rasanya hal itu sulit dilakukan, Bang James. Karena ini menyangkut nama baik papa di kalangan para pemegang saham. Baru saja mereka mempercayai Celine, masa sekarang Celine harus mengundurkan diri? Bukankah itu namanya Celine sendiri yang mencoreng muka papa?" Celine balik bertanya.


James terdiam. Ia memang sudah memperhitungkan hal tersebut. "Jadi baiknya gimana?" tanya James lebih seperti bergumam.


"Kalo Bang James yang pindah kerja di sini, bagimana?" usul Celine hati-hati sambil membaca ekspresi James.


"Itu kan melawan adat dan budaya, Lin .... Lagipula Bang James anak lelaki terakhir. Sudah menurut aturan Bang James yang harus jagain Papa-Mama, " ucap James mengemukakan alasannya.


"Tapi setidaknya Papa-Mama masih punya bang Alex. Kalo papa Celine cuma punya Celine, Bang James, " sanggah Celine.


James terdiam. Ia mengerti kondisi Celine lebih kompleks dari pada dirinya. Tetapi ia masih ingin mencoba berargumen. "Tetap saja berarti Bang James egois kan, Lin.... Demi kepentingan sendiri menyerahkan tanggung jawab ke bang Alex."


Gantian Celine yang terdiam. Setelah beberapa saat, Celine menghela napasnya. "Ya sudah. Kita tunda aja bahas domisilinya yah. Toh masalah itu baru dipikirkan kalau sudah mau nikah, kan? Kita fokus di acara tunangan aja dulu. Pikir-pikir tinggal 6 bulan lagi lho ..." usul Celine.


James juga ikut menghela napasnya. Mau tidak mau, ia harus setuju dengan usul Celine. Untuk sementara, biarkan mengalir dulu apa adanya. Siapa tahu keadaan akan berubah. Daripada mereka harus putus sekarang karena tidak ada kesepakatan, itu lebih mengerikan bagi James. Dan sepertinya, Celine pun merasakan hal yang sama.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2