Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Dekat tapi Jauh


__ADS_3

Pagi ini James bangun pukul 05.30. Seperti biasa, ia langsung bersiap untuk keluar kamar dan menuju kamar mandi.


Tetapi, setelah ia keluar kamar, sebuah pemandangan menghentikan langkahnya. Celine ada di dapur sedang membantu mamanya menyiapkan sarapan.


Pemandangan yang indah itu menyejukkan mata dan hatinya. Angan-angannya melayang berharap melihat pemandangan seperti itu setiap hari.


Celine yang menyadari bahwa James sudah bangun dan hanya berdiri di depan pintu kamar, menegurnya sambil tersenyum. "Pagi, Bang James .... Kok cuma berdiri di situ? Masih ngelindur yah?"


Ditegur seperti itu membuat khayalan James buyar. Dengan muka kemerahan, ia segera mempercepat langkahnya.


"Pagi, Lin ..." katanya sambil lalu dan segera menutup pintu kamar mandi.


Mama Ratna hanya tertegun melihat tingkah James yang terlihat ketus pada Celine. Tapi saat ini ia memilih untuk mendiamkannya dulu.


Di kamar mandi, James memaki dirinya sendiri yang terbawa suasana. Ia harus mengakui, ia masih mencintai Celine. Ia bahagia bisa melihat Celine kembali pulang ke rumah ini. Bisa berada dekat dengan Celine lagi.


Tapi, satu kenyataan pahit membuatnya tersadar akan permainan kehidupan. Status Celine sekarang sudah berubah. Celine sekarang seorang direktur. Dan bukan hanya itu, ia sekarang seorang pewaris dari sebuah perusahaan raksasa. Seorang yang jauh di atas sana dibandingkan dirinya yang hanya seorang guru. Pantaskah dirinya bersanding dengan Celine?


Perasaan rendah diri kembali menghantam dirinya. Ia segera mengenyahkan pikiran itu dari otaknya. Saat ini ia tidak berniat untuk memikirkan hal tersebut! Lebih baik ia segera bersiap-siap dan berangkat kerja! Dengan pikiran seperti itu, ia segera menyiramkan air dingin ke atas kepalanya, berharap bisa menenangkan pikirannya.


Setelah sarapan, James segera bersiap-siap berganti pakaian. Kemudian, ia memanaskan motornya sebelum dipakai.


Saat ini James memang sudah tidak lagi menggunakan bus untuk pergi ke sekolah tempatnya mengajar. Setelah satu tahun mengajar, James membeli motor walaupun dengan cara mencicil. Dan sekarang, motornya sudah lunas dengan hasil keringatnya sendiri.


"Pergi dulu, Ma, Lin ..." katanya setelah semua siap.


"Ya. Hati-hati, " jawab kedua wanita itu.

__ADS_1


Dan tanpa menunggu lama, James segera melajukan motornya.


...****************...


Celine menikmati hari-hari di rumah dengan menempel pada Mama Ratna. Sedangkan James, berusaha menghindari Celine dengan dalih mempersiapkan acara penyuluhan yang sudah semakin dekat.


Ketika pulang kerja, James segera mengurung diri di kamarnya. Ia baru keluar ketika waktu makan malam dan acara PKW. Setelah PKW dibubarkan, ia kembali ke kamar untuk beristirahat.


Demikian juga esok paginya. James hanya melakukan rutinitas seperti biasa. Bangun, mandi, sarapan, lalu berangkat kerja.


Melihat sikap James seperti ini, membuat Mama Ratna gemas dan tidak enak hati pada Celine. Celine sendiri hanya bisa menerima sikap tersebut dengan senyum kecut. Ia merasa James masih marah karena dirinya yang pernah menghilang.


James terlihat seperti memusuhi Celine. Selama beberapa waktu Celine di rumah ini, tidak pernah terlihat James menyempatkan diri untuk menemani Celine jalan-jalan ke suatu tempat, bercanda, atau bahkan sekedar mengobrol. Keakraban mereka yang dulu seolah tidak pernah terjadi.


Mama Ratna merasa ia harus mencari waktu yang tepat untuk berbicara dengan anaknya mengenai hal ini. Sampai akhirnya kesempatan itu tiba ketika Celine sedang mandi. Buru-buru ia melipir ke kamar James.


"James, buka pintunya! Mama mau bicara sebentar."


Pintu pun dibukakan dari dalam dan Mama Ratna segera masuk.


"Ada apa, Ma?" tanya James heran melihat sikap mamanya yang tergesa-gesa.


"Kita cepat aja ya, James. Mumpung Celine lagi mandi. Kamu ini kenapa sih sama Celine? Bener kamu masih marah gara-gara dia sempat ga kasih kabar?" tanya Mama Ratna langsung.


"Ga, Ma .... Kan James uda bilang, lagi fokus mempersiapkan acara penyuluhan. Tinggal besok lho, " jawab James.


"Jangan bohongin Mama! Mama tau kamu ga sesibuk itu! Kamu sedang menghindari Celine! Jawab jujur! Kenapa? Bukannya kamu suka sama Celine?" tembak Mama Ratna.

__ADS_1


Muka James langsung memerah. "Ma- Mama tau? Ta- tau dari kapan?"


"Kalo tau mah, uda dari dulu! Jadi sekarang mending ngaku aja! Kamu kenapa? Mikir apa sampe sikapmu begini?" tanya Mama Ratna tak sabar.


Muka James langsung murung. Kepalanya tertunduk.


"Kalau Mama sudah tau perasaan James, menurut Mama, James masih pantas kah jadian sama Celine? Status Celine sekarang sudah jauh di atas kita, Ma ..." aku James.


Mama Ratna terdiam. Ia tak menyangka anaknya sudah berpikir sampai sana, walaupun itu sebenarnya merupakan pertanyaan yang sangat wajar. Banyak laki-laki yang tidak percaya diri jika mengejar wanita yang berstatus lebih tinggi darinya.


"Tapi Mama rasa Celine ga berpikir seperti itu, James .... Lihat aja sikapnya. Masih biasa aja sama kita, kan?" hibur Mama Ratna.


"Iya. James percaya Celine bukan orang yang membedakan status. Tapi, bagaimana dengan keluarganya? Lingkungannya? Terus, gimana menurut Mama dengan perasaan Celine sendiri? Kalau dia ga suka James, apa dia bisa jujur bilang gitu? Bukankah nanti hubungan kita dengannya jadi malah ga enak? Mama tau sendiri kan, perasaan Celine sesensitif apa?" James membeberkan pertimbangannya.


Mama Ratna terdiam. Semua pertimbangan James benar adanya, terutama di bagian perasaan Celine.


Jika Celine menolak cinta James, anak itu pasti akan menghindari keluarga ini. Bisa-bisa malah ia tidak akan berkunjung ke kota ini lagi. Ia pasti tidak enak hati untuk tetap dekat dengan James karena sudah menyakiti hatinya. Dan secara otomatis, ia pasti juga tidak enak kepada dirinya dan suaminya, selaku orang tua dari pria yang sudah ia tolak. Apalagi Celine merasa berhutang budi pada mereka.


Itu jika Celine berani menolak. Jika tidak? Apakah Celine akan memaksakan dirinya menerima cinta James? Bukankah itu malah lebih tidak benar lagi?


Jadi, apakah anak bungsunya ini harus terus memendam cintanya? Kasihan juga kan? Mama Ratna harus mengakui keadaan ini memang rumit dan memusingkan.


Setelah menghela napas, akhirnya Mama Ratna berkata, "Yah, doakan lah James. Semoga masing-masing diberikan hikmat untuk bersikap dan berjalan di arah yang benar sesuai kehendakNya. Yang penting untuk sekarang, coba perbaiki sikapmu ke Celine. Kamu membuat dia salah paham lho. Oke?"


"Iya, Ma ...." James menjawab lesu.


Mama Ratna hanya bisa menepuk bahu anaknya sebelum ia keluar dari kamar James. Ia tahu James sedang bingung bagaimana harus menentukan sikap ke Celine. Tapi bagaimanapun juga, hal ini merupakan bagian dari pelajaran kehidupan yang harus James lalui. Ia hanya bisa berdoa agar anak bungsunya bisa melaluinya dengan baik.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2