Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Berdua di Gua


__ADS_3

Sebelum pindah tempat, James bertanya pada Cindy. "Kepalamu gimana? Ada yang sakit? Berasa pusing atau bagaimana?"


Cindy meraba dahinya yang terluka. "Tidak pusing. Hanya sedikit berdenyut di sekitar sini, " jawabnya.


James menghela napas lega. "Bisa berdiri?" tanyanya sambil mengulurkan tangannya pada Cindy.


Cindy menyambut uluran tangan tersebut. Dengan bantuan James, Cindy pun bangkit berdiri.


"Bisa jalan? Karena sepertinya kita harus pindah tempat. Tempat ini mulai basah akibat angin yang makin lama makin kencang, " jelas James.


"Bisa, " jawab Cindy pendek.


James lalu melepaskan jaketnya menaungi kepala Cindy. Cindy yang melihat perhatian gurunya, tersenyum bahagia.


Mereka lalu mencari tempat untuk berteduh sambil berjalan di bawah naungan pohon yang rindang untuk menghindari tetesan hujan. Sampai akhirnya mereka menemukan sebuah ceruk di bebatuan yang membentuk seperti sebuah gua. Mereka pun memasuki ceruk tersebut.


Ceruk berbentuk gua itu tidak dalam. Dinding batu di belakangnya masih dapat terlihat dari luar. Lumayan lah untuk menjadi tempat berteduh. Setidaknya mereka tidak kebasahan.


Tetapi ceruk tersebut tidak cukup dalam untuk menghalau angin dingin yang menembus kulit. Mereka mulai kedinginan.


Cindy memang hanya mengenakan kaos tipis berlengan pendek, karena ketika ia meninggalkan area perkemahan saat itu masih tengah hari bolong. Sekarang ia sudah mengenakan jaket yang dipinjami James. Tetapi dinginnya angin tetap terasa menusuk. Jangan ditanya apa yang dirasakan James yang kondisinya sekarang menggantikan Cindy, hanya berbalutkan kaos.


"Cin, saya tinggal bentar yah .... Mau kumpulin ranting-ranting atau daun-daun yang bisa dibakar. Semoga kita bisa menyalakan sedikit perapian, " pamit James.


Cindy yang giginya mulai gemeletukan karena kedinginan, hanya bisa menganggukkan kepala dan pasrah ditinggal James.


Beberapa saat kemudian, James kembali dengan ranting-ranting dan daun-daun kering di tangannya. Ia kumpulkan daun-daun dan ranting-ranting kering tersebut dibatasi bebatuan kecil yang ada di gua. Kemudian ia mengeluarkan korek api gas dari tas pinggangnya dan memutar roda pemantik dengan ibu jarinya.


Ketika api muncul di ujung korek, James pun mendekatkan api tersebut ke arah daun dan ranting agar terbakar. Sayangnya, angin dingin yang berhembus memadamkan api di ujung korek.


James mencobanya lagi. Kali ini ia memutar roda pemantik tepat di depan sebuah ranting kering. Api menyala dan sempat membakar ranting tersebut. Tetapi kembali angin yang berhembus memadamkan ranting.


Beberapa kali James mencoba menyalakan perapian mini yang sudah disiapkannya. Tetapi semuanya gagal. Semuanya dipadamkan oleh angin yang berhasil bertiup sampai ke dalam ceruk.


James menyerah. Kulit jempolnya sudah merah dan terasa perih akibat berulang kali bergesekan dengan roda pemantik. Ia pun menyandarkan punggungnya ke dinding batu di belakangnya.


Hatchii !! Terdengar Cindy bersin di sebelahnya.


James memandang gadis itu dengan prihatin. Cindy tampak seperti anak kucing terlantar yang hanya bisa meringkuk kedinginan. Pasrah menunggu nasib.


"Cin .... Jangan salah paham. Bapak bukan mau kurang ajar sama kamu atau memanfaatkan kesempatan. Mau duduk dekat sini agar tak kedinginan? Setidaknya dengan berdekatan, kita bisa saling membantu mengusir dingin. Masalahnya Bapak gagal membuat perapian, " usul James yang mulai menggigil kedinginan.


Cindy memandang James yang jaketnya sudah ia lucuti. Jika dirinya saja yang sudah mengenakan jaket masih bisa gemeletukan, sedingin apa yang gurunya rasakan sekarang.


Cindy pun bangkit dari tempat duduknya dan pindah mendekati James. Ia duduk di depan James dan melingkarkan lengan James ke tubuhnya, membentuk posisi seperti dipeluk dari belakang.

__ADS_1


Kedua orang itu hanya terdiam dengan kehangatan baru yang mereka rasakan. Cindy bersandar di dada James agar posisinya lebih nyaman. Samar-samar ia mendengar detak jantung James yang berpacu cukup cepat.


Perasaan nyaman mengaliri hati Cindy. Ia sangat menikmati posisi seperti ini, berada di pelukan orang yang ia cintai. Tetapi sedetik kemudian, fakta bahwa kenyamanan ini hanya bersifat sementara menderanya. Orang ini bukan miliknya. Dan kenyataan pahit itu membuatnya tanpa sadar menangis.


James yang mengira Cindy menangis karena terjebak di situasi sulit bersamanya, berusaha menghibur gadis itu. Ia merangkul Cindy dengan tangan kirinya, dan membelai rambut Cindy dengan tangan kanannya.


"Sabar yah .... Hanya semalam kok .... Besok kita pasti bisa keluar dan bersama dengan teman-temanmu lagi. Sabar yah ...." ujarnya.


Mendapat perlakuan hangat seperti itu, membuat Cindy semakin membenamkan kepalanya ke dada James. Isak tangisnya makin keras. Hatinya menjerit. Tak bisa! Aku ga bisa melepas pak James! Aku ga bisa! Aku ga rela! Aku ga mauuu !!!


James yang bingung harus berbuat apa, hanya bisa terus mendekap Cindy dalam pelukannya. Tangannya terus membelai rambut Cindy dan menepuk-nepuk punggungnya sampai Cindy tenang. Keduanya tenggelam dalam perasaan dan pikiran masing-masing.


Sampai terdengar sebuah suara yang mengembalikan fokus keduanya ke dunia nyata.


Suara yang membuat muka James merah padam dan Cindy langsung terdiam.


Rrrrrr krrr krrr .... Cacing di perut James protes minta jatah.


"Maaf .... Maklumlah .... Kita kan belum sempat makan malam. Kamu tidak lapar?" tanya James sambil memegang perutnya yang masih aktif berbunyi.


Cindy tertawa melihat kecanggungan gurunya. "Tidak, saya ga lapar. Santai aja, Pak. Peristiwa alamiah itu ..." sahut Cindy.


Cindy pun teringat sesuatu yang ia bawa dalam tas pinggangnya. Ia pun membuka tas tersebut.


"Nih, gantungan kuncimu! Rupanya kamu terjatuh gara-gara mau ambil ini yah? Hati-hati lah, Non .... Walaupun Bapak bilang benda ini merupakan benda pusaka Bapak, tetap keselamatanmu lebih penting!" nasihat James.


Mata Cindy berbinar. "Iya, saya terpeleset ketika mau ngambil ini. Untung lah Bapak sempat mengambilnya, " sahut Cindy sambil mengambil gantungan kunci tersebut dari tangan James.


Ia bahagia gantungan kuncinya bisa kembali ke tangannya. Gantungan kunci itu akan menjadi kenang-kenangan setelah ia lulus.


Targetnya di acara kamping ini pun tercapai. Ia mendapatkan kesempatan berdua bersama pak James, bahkan berduanya sepanjang malam. Benar-benar menjadi kenangan manis yang akan selalu diingatnya.


Andaikan pak James menjadi miliknya. Menjadi kekasih yang membalas cintanya. Semuanya akan benar-benar sempurna.


Cindy kembali menggantungkan gantungan kunci itu di tas pinggangnya. Ia juga teringat kalau tadi ia hendak menawarkan sesuatu pada pak James, yang sempat teralihkan karena masalah gantungan kunci.


"Saya bawa coklat, Pak. Bapak mau? Lumayan, bisa ganjal perut dikit." Cindy menawarkan beberapa coklat kecil yang dibungkus seperti permen berbentuk elips.


James mengambil satu coklat dari tangan Cindy dan langsung membuka bungkusnya. Tanpa berlama-lama coklat tersebut ia masukkan ke dalam mulutnya. Begitu ia kunyah, ternyata di dalam coklat itu mengandung cairan pahit dan panas di tenggorokan.


"Ini coklat apaan, Cin? Kok rasanya aneh. Ada cairan pahit yang panas di tenggorokan, " tanya James sambil mengernyitkan keningnya.


Cindy menjawab sambil nyengir, "Coklat brandy, Pak. Dapat oleh-oleh dari temen papa. Tadinya mau bagi-bagi temen buat lucu-lucu and norak-norakan gitu. Tapi gara-gara gantungan kunci Bapak hilang, jadi lupa deh ...."


James tertegun. Kalau tidak salah, kandungan alkohol pada brandy cukup tinggi, yaitu sekitar 35-60%. Amankah untuk dirinya yang minum segelas bir saja mabuk? Padahal kandungan alkohol pada bir hanya sekitar 4-6%.

__ADS_1


"Berani-beraninya kamu bawa minuman keras di acara sekolah, yah?!" tegur James.


"Coklat loh, Pak .... Coklat! Bukan miras!" ralat Cindy.


"Sama saja! Sama-sama mengandung alkohol!"


"Ya e lah .... Beda dong, Pak .... Minum miras kan bisa mabuk. Kalo cuma makan coklat sekecil ini, siapa sih yang bisa mabuk? Kalo makannya sekarung oke lah yah .... Tapi saya kan juga ga bawa banyak-banyak. Cuma buat pamer dan norak-norakan doang, Pak ...." Cindy masih berusaha membela diri.


James terdiam. Ia sungguh berharap yang Cindy katakan benar adanya. Masa sih, ia akan mabuk hanya karena makan coklat sekecil ini? Kalau sebelum-sebelumnya, ia kan mabuk karena minum segelas bir dan segelas koktail. Dari segi volume saja sudah berbeda jauh.


Setelah berpikir demikian, James merasa tenang. Ia pun menghela napas lega. Tetapi malang, rupanya harapannya tidak terkabul. Belum sampai 30 menit, ia sudah merasakan kalau ia mulai mabuk. Mukanya memerah, badannya memanas, dan pandangannya mulai berkunang-kunang.


"Cin ... Bapak tidur dulu yah ... Bapak mulai merasa ga enak badan. Mungkin kecapean. Kalau ada apa-apa, jangan ragu bangunin Bapak yah ...." ujar James menutupi kondisinya yang sebenarnya.


Mendengar itu, Cindy jadi merasa bersalah. Ia merasa dia lah yang menjadi penyebab sampai gurunya ini kecapean bahkan sakit.


"Iya, Pak. Istirahatlah .... Biar saya yang berjaga di sini, " ujar Cindy.


"Jangan terlalu memaksakan diri yah .... Ingat, tadi pun kamu sempat pingsan, " kata James mengingatkan.


"Iya, Pak."


Setelah mendengar itu, James segera menutup matanya. Ia benar-benar sudah tidak tahan. Lebih baik ia mencoba tidur dengan harapan ketika ia bangun, mabuknya sudah reda.


Entah berapa lama James tertidur, sampai akhirnya ia terbangun karena pipinya ditepuk-tepuk seseorang.


"Pak James! Pak James! Ayo bangun!" Ia mendengar suara Pak Roy memanggil namanya.


James mengerjapkan matanya. Ia masih merasa sedikit pusing. Tetapi dipaksanya agar matanya terbuka untuk melihat situasi di sekelilingnya.


Ia melihat ternyata hari sudah terang. Mungkin hari sudah berganti dan sekarang sudah pagi. Pak Roy ada di sebelahnya. Berarti yang tadi membangunkannya dengan cara menepuk-nepuk pipinya adalah pak Roy.


Di mana Cindy ? pikir James.


Ternyata Cindy sudah keluar dari ceruk batu tempat mereka menginap semalam. Cindy sedang dipeluk Wendy dan guru pengawas kelompoknya. Selain itu masih ada 2 orang siswi lain di samping mereka.


Melihat itu, James menghela napas lega. Sekarang ia sudah yakin kalau regu penolong sudah datang menyelamatkan mereka.


Melihat James yang sepertinya sudah sadar penuh, Pak Roy langsung menanyakan pertanyaan yang tidak terduga.


"Pak James, jawab dengan jujur .... Apa yang sudah Bapak lakukan pada Cindy?" tanya Pak Roy melihat James dengan tatapan dingin.


James hanya bisa terdiam. Ia tak bisa menjawab. Ia sendiri tidak mengerti apa yang sudah terjadi. Wajahnya hanya bisa memucat begitu ia menyadari bahwa celana panjang yang ia kenakan sudah merosot sebagian dan ritsletingnya sudah terbuka.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2