Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Kisah Kasih di Sekolah (1)


__ADS_3

Priscillia membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Otaknya sedang berpikir keras. Ia tahu mamanya sedang menyembunyikan sesuatu. Dan kalau dugaannya benar, sepertinya hal itu berhubungan dengan Pak Joseph. Mungkinkah pria itu sekarang berada di sini setelah tiba-tiba pergi dari kehidupannya?


Kejadian ini membuat rasa penasarannya bangkit. Ada sesuatu yang mencurigakan. Ada sesuatu yang ditutup-tutupi. Dan hal itu tentu saja bertentangan dengan prinsipnya. Apalagi jika yang disembunyikan adalah sesuatu yang berhubungan dengannya. Baginya, sepahit apapun suatu kebenaran, ia lebih memilih untuk mengetahuinya.


Priscillia menutup matanya. Sebenarnya ia enggan mengorek-ngorek kembali masa lalu. Namun sepertinya ia harus melakukannya. Mengais ulang ingatannya demi mendapatkan kebenaran yang terselubung, atau setidaknya memastikan sesuatu yang mungkin terlewat dalam hidupnya. Dan dalam keadaan demikian, Priscillia membiarkan ingatannya mengembara.


...****************...


"Priscillia anak baik, kan? Dengar Mama yah, Dear ...."


"Kamu pasti tidak mau membuat Mama sedih kan, Honey ?"


Kalimat-kalimat seperti itu yang sering Priscillia dengar semenjak kecil dari mamanya. Awalnya hal itu ia terima dengan senang hati. Ia tahu, nasihat ataupun larangan mamanya ditujukan untuk kebaikannya.


Pernah kala kecil, Priscillia melanggar nasihat mamanya untuk membawa payung saat bermain di taman. Ia tak suka karena gerakannya dibatasi akibat payung yang ia bawa. Karena itu, payung tersebut pun ia tinggal begitu saja.


Alhasil, seperti yang sudah bisa diduga, Priscillia masuk RS. Ia sesak, pingsan, dengan kulit yang sudah memerah dan membengkak. Semenjak itu, ia belajar untuk tidak melanggar nasihat mamanya. Bahkan berikutnya, untuk membuktikan ia anak baik, ia akan menuruti apapun yang mamanya inginkan tanpa pikir panjang.


Namun seiring dengan pertumbuhannya, Priscillia mulai berpikir kritis sebagai remaja. Ia mulai tidak nyaman dengan kalimat-kalimat seperti itu. Ia merasa menjadi boneka atau robot yang dikendalikan mamanya. Dari caranya bersikap, bertutur kata, berpakaian, pola pikir, masa depan, pertemanan, hingga romansa. Semuanya diatur oleh Sang Ibunda.


Sebuah pertanyaan sering muncul di benak Priscillia. Ia ingin sekali mengetahui jawabannya, namun sampai sekarang ia tidak memiliki keberanian untuk memastikannya. Apakah jika ia mencoba mengikuti kehendak dan pilihan hidupnya sendiri, mamanya akan kecewa padanya? Tidak lagi bangga padanya? Dengan demikian ia berakhir dengan status anak nakal? Anak durhaka?


Tanpa arah, tanpa mimpi, tanpa keinginan pribadi, Priscillia menjalani hari-harinya begitu saja. Ia merasa mungkin setiap orang memang menjalani hidup seperti dirinya. Sebagai anak perempuan seorang pengusaha besar, teman kecilnya Sharon pun mengalami hal yang sama. Hidup yang mengikuti kehendak mama.


Tidak ada yang salah dengan itu. Semua perkataan mamanya yang ia turuti selama ini, benar-benar mendatangkan hal yang baik padanya. Tak ada yang bisa ia bantah. Ia tumbuh menjadi anak yang cantik, pintar, dan dikagumi banyak orang.


Priscillia mulai terbiasa dengan semua keadaan ini. Sikap tubuh yang elegan, serta kemampuannya mengatur tutur kata dan ekspresi, membuatnya disegani orang-orang di sekelilingnya. Sikapnya yang anggun sering membuatnya disamakan dengan putri kerajaan atau bangsawan.


Priscillia sendiri cukup senang dengan citra tersebut, karena dengan demikian berarti orang tidak dapat menganggapnya remeh. Dan hal itu ia manfaatkan untuk menutupi penyakitnya.


Hal yang ia sayangkan dari semua perlakuan yang ia terima adalah minimnya ketulusan. Ia tahu, sebagian besar penghormatan yang ia terima dilatar belakangi kedudukan keluarganya, bukan karena penghargaan atas kemampuan dan dirinya yang sebenarnya.


Seiring bertambahnya umur dan kedewasaannya, Priscillia semakin mudah melihat sebuah kemunafikan. Hampir semua orang di sekitarnya ia lihat sebagai seorang penjilat, baik guru maupun teman-temannya. Tidak ada yang berani menentang pendapatnya ataupun memposisikan diri berseberangan dengannya.

__ADS_1


Dengan senyum yang dibuat-buat, semua orang menerima pendapat dan kelakuannya begitu saja. Tidak ada yang berani menegurnya jika ia salah. Sikap ramah mereka hanyalah kepura-puraan tanpa ketulusan. Hal itu membuat Priscillia muak.


Hingga ia bertemu dengan Cecilia dan Rebecca di bangku SMP. Sikap mereka yang ceria, bebas, dan apa adanya, menghembuskan angin baru dalam hidup Priscillia. Untunglah gayung pertemanannya bersambut. Bersama Sharon, mereka berempat sepakat menamai kelompok mereka Geng Princess.


Bersama-sama mereka melanjutkan SMU di sekolah elite khusus putri, yang bernaung di bawah yayasan di mana orang tua Priscillia menjadi ketuanya. Status Priscillia di sekolah itu pun semakin meroket. Geng Princess menjadi kelompok yang disegani baik oleh guru maupun murid.


Di sanalah ide perpeloncoan guru kemudian dikumandangkan oleh Rebecca. Dengan alasan untuk menyeleksi kualitas guru baru, mereka mengadakan penyaringan ala mereka sendiri.


Usul itu dipandang baik oleh Priscillia. Jika ada peluang untuk mengurangi jumlah orang munafik di sekitarnya, kesempatan itu tentu akan ia ambil. Apalagi orang-orang munafik yang ia kurangi adalah guru yang akan mendidiknya. Boleh dong, bila ia memilih sendiri sesuatu yang baik untuk masa depannya?


Dengan beberapa persyaratan tertentu, akhirnya perpeloncoan tersebut dimulai. Salah satu syarat utamanya, perpeloncoan hanya boleh dilakukan di dalam kelas mereka. Hal ini dilakukan untuk mempermudah pengaturan dan menghilangkan bukti serta saksi. Perpeloncoan harus terlihat seperti sebuah ketidaksengajaan ataupun kelalaian agar tidak ada murid yang terkena sanksi berat apalagi sampai dikeluarkan dari sekolah.


Syarat lainnya, perpeloncoan fisik hanya diperlakukan untuk guru pria. Itupun tidak boleh sesuatu yang berpotensi membahayakan atau membuat terluka. Umur guru diperhitungkan, karena berbahaya jika orang yang sudah berumur sampai terjatuh. Hal inilah yang membuat Pak Arif terhindar dari perpeloncoan fisik.


Selebihnya perpeloncoan mental akan dialami oleh semua guru baru tanpa terkecuali. Pertanyaan-pertanyaan jebakan dan situasi kelas yang menyebalkan, akan menanti guru-guru baru tersebut di kelas Geng Princess.


Yang mengepalai perpeloncoan tidak lain dan tidak bukan adalah Rebecca. Gadis itulah yang memberikan ide-ide perpeloncoan dan mengatur serta membujuk teman-teman sekelas. Dibantu dengan Cecilia yang juga merasa ide itu menarik, duo jahil itu sukses membuat guru baru silih berganti datang dan pergi di sekolah mereka.


Sharon hanya menjadi pendukung. Gadis itu dengan pasif mengikuti keisengan teman-temannya dan hanya menjalankan peran jika dimintai pertolongan.


Banyak guru yang tidak tahan menerima perlakuan seperti itu. Mau protes tidak berani. Sekalinya berani, tidak ada bukti. Pilihan mereka hanyalah bersabar atau memendam amarah. Jika tidak tahan lagi, mereka dipersilakan angkat kaki.


Awalnya Priscillia merasa kasihan dengan guru-guru ini. Ia tahu, sikap mereka kurang bijak. Namun mau bagaimana lagi, saat itu hanya cara ini yang terpikirkan di benaknya untuk menyaring guru-guru yang ia percayakan untuk mendidik mereka. Hal tersebut ia lakukan sebagai bentuk andilnya selaku putri ketua yayasan yang juga ingin memajukan kualitas sekolahnya.


Namun semakin sering dilakukan, perasaan bersalah itu memudar. Terkadang ia justru bersyukur telah menyetujui usul Rebecca tersebut. Ia terlalu muak dengan sikap guru-guru yang bermanis muka dengannya hanya karena mengetahui statusnya sebagai putri ketua yayasan.


Pernah dalam suatu kesempatan Priscillia sengaja melakukan kesalahan kepada beberapa guru dengan harapan mendapatkan teguran. Namun bukannya ditegur, ironisnya Sang Guru malah yang berbalik meminta maaf ketika mengetahui bahwa murid yang hendak mereka marahi ataupun mereka tegur adalah Priscillia, Sang Putri Ketua Yayasan.


Menyedihkan, bukan? Didikan seperti apa yang ingin mereka ajarkan kepada para muridnya jika kebenaran dapat dibungkam dengan kekuasaan? Bukankah sebuah teguran justru merupakan bukti cinta kasih seorang guru kepada anak didiknya untuk menjadikan mereka manusia yang lebih baik?


Padahal dalam hal ini Priscillia tidak melakukan apapun. Ia tidak menakuti mereka ataupun mengancam mereka. Ia tidak menggunakan latar belakang keluarganya untuk menutupi semua kesalahannya. Namun tetap saja ia diistimewakan.


Karena itu, dengan senang hati akhirnya Priscillia membiarkan guru-guru seperti itu pergi. Ia tidak membutuhkan guru penjilat ataupun guru bermental tempe.

__ADS_1


Hanya beberapa guru yang ia akui karena kesan yang mereka timbulkan. Salah satunya pak Arif, guru fisika yang berumur agak lanjut. Walaupun beliau terbebas dari perpeloncoan fisik, perpeloncoan mental tetap guru tua tersebut alami.


Namun bukannya marah atau tertekan, guru itu menanggapi pertanyaan mereka dengan sangat sabar. Bahkan pertanyaan di luar konteks atau di luar nurul sekalipun.


Dalam waktu yang cukup singkat, Priscillia menyatakan guru tersebut sudah dapat dibebaskan dari perpeloncoan. Pak Arif guru yang baik. Murid-murid yang bertanya ia nilai sebagai sesuatu yang positif. Tanpa ragu beliau memuaskan anak didiknya yang memiliki rasa keingintahuan yang tinggi ataupun yang haus akan pengetahuan.


Lain lagi dengan pak Santo. Guru olahraga tersebut sudah mendapat nilai negatif dari Priscillia sejak awal. Senyum palsu dan sikap ramah yang dibuat-buat menunjukkan ia adalah seorang penjilat ulung. Satu kelebihan yang harus ia akui adalah kegigihan beliau. Walau sudah mendapat keisengan bermacam-macam dari Rebecca, guru itu tidak kunjung keluar juga.


Karena itu, permasalahan izinnya setiap ada kegiatan outdoor, justru menjadi kartu As Priscillia untuk berperkara dengan Sang Guru. Tanpa ragu Priscillia memanfaatkan hal itu dengan baik sampai akhirnya guru tersebut dikeluarkan akibat kelakuannya sendiri yang tidak bermoral.


Guru lain yang di luar prediksinya adalah pak James, guru BK baru pengganti bu Rina. Di balik sikap acuh tak acuhnya, Priscillia menyadari guru tersebut memiliki rasa penasaran dan rasa tidak mau kalah yang tinggi. Dialah guru BK pertama yang berani memanggilnya untuk menasihatinya.


Awalnya, Priscillia meladeni pak James hanya demi keisengan belaka. Namun dalam pengenalannya lebih lanjut, Priscillia makin menghormati beliau. Pak James adalah guru yang memegang prinsip kebenaran dengan baik. Beliau tidak digoyahkan dengan statusnya sebagai putri ketua yayasan. Beliau guru yang dapat dipercaya. Hingga di kemudian hari, guru tersebut bahkan menjadi penolong dirinya ketika gambar dirinya rusak.


Sama seperti kesan awalnya dengan guru-guru pria yang lain, tidak ada yang spesial dengan pak Joseph, guru olahraga pengganti pak Santo. Walaupun para siswi dan guru-guru wanita sudah pada heboh dengan kehadirannya, Priscillia masih melihatnya dengan sikap datar.


Memang harus Priscillia akui, pak Joseph memiliki wajah yang tergolong tampan. Perawakannya yang maskulin menjadi daya tariknya. Badannya yang tegap, kulitnya yang kecoklatan, dan otot-otot terlatih yang terlihat meskipun sudah ditutupi dengan kemeja, membuat para wanita itu menggila. Istilah yang digunakan mereka adalah, "Pak Joseph itu cowok banggeetttt ...."


Namun Priscillia bukanlah Cecilia yang tertarik dengan seseorang hanya dari wajah ataupun perawakan. Cecilia sendiri, kali ini tidak termasuk kelompok pengagum pak Joseph. Ia lebih menyukai pria tampan seperti pangeran daripada pendekar.


Sharon yang pemalu, jangan ditanya. Ia akan lebih memilih menghindari pria. Dan Rebecca, gadis yang nilai romansanya tiarap itu, mana mungkin terpengaruh dengan pesona pak Joseph. Dengan demikian, genaplah bahwa Geng Princess juga tidak memberi kelonggaran terhadap guru yang satu ini.


Masalah mental, Priscillia boleh memberikan jempol pada pak Joseph. Guru itu tampak tidak tergoyahkan dengan ulah mereka. Baik perpeloncoan fisik maupun perpeloncoan mental, seolah dilalui pak Joseph begitu saja tanpa beban. Rebecca yang gemas sampai mengatai beliau dengan sebutan kingkong.


Pak Joseph juga tidak terlihat takut ataupun segan dengan Geng Princess. Secara sepintas, guru tersebut nyaris lulus dari perpeloncoan dan dapat dikategorikan sebagai guru yang baik. Namun, Priscillia membiarkan waktu yang membuktikan. Ia tidak ingin terburu-buru dalam menyimpulkan.


Anehnya, semenjak pertemuan pertama mereka di kelas, Priscillia justru merasakan pak Joseph memendam amarah dan kebencian terhadap Geng Princess terutama dirinya. Guru itu seolah-olah juga sedang mencari-cari kesalahan mereka. Benarkah? Atau hal itu hanya perasaannya saja?


Jujur hal ini membuat Priscillia bingung. Apa yang ia sudah lakukan pada guru itu? Apakah guru tersebut membencinya karena merasa ia dalang dari perpeloncoan yang beliau alami? Yah .... Hal itu wajar saja. Guru-guru yang lain juga pasti menganggapnya begitu, walaupun mereka tidak menemukan buktinya.


Karena itu, Priscillia lebih memilih berhati-hati daripada menyesal di kemudian hari. Peringatan yang sama juga ia berikan pada Rebecca. Sebisa mungkin Priscillia tidak mau terlibat dalam rencana perpeloncoan. Kali ini ia memilih menjadi penasihat ataupun penonton belaka.


Untuk itu, ia meminta maaf dan meminta pengertian dari temannya tersebut. Baru kali ini Priscillia mengundurkan diri sebagai tameng yang terkadang menutupi kecerobohan Rebecca, atau menjadi pelaku kelalaian yang silih berganti diatur di kelas. Ia merasa hal itu perlu dilakukannya sampai ia memastikan karakter pak Joseph yang sebenarnya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2