
Pagi ini, Celine dan ayahnya menikmati sarapan pagi bersama yang disediakan oleh pihak hotel. Seperti layaknya yang menjadi fasilitas hotel mewah pada umumnya, mereka menikmati sarapan dengan sistem buffet. Mereka mengambil sendiri makanan dan minuman yang disajikan sesuai selera, lalu dibawa ke meja mereka untuk dinikmati.
Celine dan ayahnya menyantap makanan dalam diam. Sampai akhirnya mereka selesai makan dan tinggal menikmati minuman di cangkir masing-masing.
"Kemarin malam Papa sudah menghubungi seorang detektif untuk memeriksa sepak terjang yang dilakukan pamanmu belakangan ini, terutama hal yang menyangkut rapat pemegang saham. Baru saja Papa mendapat laporannya.
Ternyata seperti yang dikatakan Sonic, pamanmu sudah menghubungi para pemegang saham yang tidak terlalu dekat dengan Papa ataupun yang selalu bersikap netral di rapat selama ini. Ia berusaha meyakinkan mereka untuk mendukung Darrell agar dapat menggantikan dirimu sebagai pewaris yang sah di rapat pemegang saham berikutnya. Salah satu yang ia hubungi beberapa hari yang lalu adalah bibimu sendiri.
Poin utama yang ia gunakan untuk membujuk mereka adalah prestasi Darrell yang menduduki peringkat penjualan terbaik selama empat kuartal berturut-turut. Hal itu ia jadikan bukti bahwa kemampuan manajemen dan pemasaran Darrell lebih baik daripada dirimu. Dengan alasan itu, Darrell dianggap lebih layak menjadi pemimpin perusahaan berikutnya.
Belum lagi berita tentang pertunangan Darrell dengan putri pengusaha ternama, yang memang sudah disebarluaskan pamanmu bersamaan dengan waktu penyebaran undangan. Hal itu dianggap menambah peluang Darrell untuk dapat memajukan perusahaan.
Papa tidak bermaksud menyalahkan kemampuanmu ataupun menyesali keputusanmu memilih James sebagai pasangan. Namun di mata mereka yang melihat dirimu sampai sejauh ini belum memiliki pasangan dan juga tidak aktif di kalangan sosialita atas, cakupan koneksi Darrell lebih meyakinkan daripada yang kamu miliki.
Papa memang sudah mendengar rumor tentang pengkhianatan ini sebelumnya, namun Papa memilih mengabaikannya. Papa ingin percaya kalau pamanmu sudah berubah dan itu hanyalah berita kosong dari mereka yang iri hati dengan kerjasama yang terjalin di keluarga kita.
Papa sungguh tak menyangka pamanmu begitu haus akan kekuasaan. Ia berencana mengkhianati kita untuk yang kedua kalinya. Dulu ia melakukannya sendirian, sekarang ia bahkan melibatkan putranya! Papa merasa memelihara dua ekor buaya yang menggerogoti kita dari dalam.
Yah sudahlah .... Bagaimanapun mereka sudah bertambah besar bahkan sudah berniat menancapkan giginya pada kita. Karena itu kita juga harus bersiap dan memikirkan tindakan apa yang dapat kita lakukan. Jadi bagaimana menurut pendapatmu? Dari laporan yang Papa dapat, pamanmu akan mengadakan rapat pemegang saham beberapa hari lagi." Adrian Adipratama mengakhiri pembukaan diskusinya yang tiba-tiba ia utarakan pada putrinya.
__ADS_1
Untuk sesaat, Celine tidak langsung menjawab. Ia terdiam dan matanya menerawang seolah sedang berpikir. Namun beberapa menit kemudian, ia mengambil cangkirnya, menyesap minumannya dan berkata dengan nada datar, "Tidak ada yang perlu kita lakukan."
"Kamu mau menyerah begitu saja tanpa perlawanan?!! Membiarkan mereka merebut usaha dan kerja kerasmu selama ini?!! Kamu lupa seberapa keras usahamu untuk diakui sebagai pewaris?!!" Suara ayahnya mulai meninggi. Bagaimanapun, ia terkejut dengan sikap Celine yang dinilainya terlalu santai tanpa daya juang.
Celine meletakkan cangkirnya kembali di atas meja. Dengan tenang ia menatap lurus mata ayahnya. Senyum sedih terpatri di wajah cantiknya. Melihat itu, Sang Ayah terdiam.
"Pa .... Mana mungkin Celine mengkhianati kerja keras dan usaha Celine sendiri. Namun situasi sekarang berbeda dengan pengkhianatan Om Andreas dulu. Darrell tidak menggunakan cara curang untuk berada di posisinya sekarang. Semua yang dicapainya murni dari usaha kerja keras dan kemampuannya. Masakan gantian kita yang menghadangnya dengan menghalalkan segala cara? Apa bedanya kita dengan Om Andreas?
Bagi Celine, yang penting Celine sudah melakukan yang terbaik selama ini. Perusahaan tetap berkembang dan keuntungan tetap didapat. Namun apa boleh buat jika usaha terbaik Celine tetap tidak dapat mengalahkan kemampuan Darrell. Bukankah Celine harus berbesar hati mengakui kalau Darrell yang lulusan Bisnis dan Manajemen, jelas lebih unggul dalam mencari peluang dibandingkan dengan Celine yang hanya lulusan dari jurusan Ilmu Komunikasi?
Mungkin sudah saatnya kita belajar pasrah untuk tidak selalu menjadi nomor satu, Pa .... Toh walaupun tidak menjadi pemimpin utama, kita tidak miskin atau berkekurangan. Lagipula, pada hakikatnya perusahaan tetap dipegang orang dari keluarga kita. Mungkin sudah waktunya kita mempercayai dan memberi kesempatan pada keluarga kita yang lain, " jawab Celine.
Adrian Adipratama tertegun. Ia baru disadarkan kalau prinsip hidupnya selama ini ada kesalahannya. Berusaha mencapai apa yang diinginkan dan dimimpikan jelas hal yang baik. Selalu mengupayakan untuk menjadi yang terbaik dan menjadi nomor satu tentu bukanlah hal yang salah. Namun ada kalanya kita harus berhenti berusaha. 'Belajar pasrah', itulah istilah yang tadi digunakan Celine.
Ia lupa terkadang ia perlu 'pasrah'. Banyak hal lebih bernilai daripada impian atau cita-cita yang tercapai. Persaudaraan, perdamaian, kerukunan, kekeluargaan, dan kepercayaan. Walaupun terkadang dibutuhkan kerendahan dan kebesaran hati untuk mengakui kelebihan orang lain, serta keberanian untuk menghentikan langkah kita sendiri.
Ia teringat bagaimana ambisinya untuk mempertahankan takhta kekuasaannya membuat ia terserang stroke. Sakit hati karena pengkhianatan adiknya membuatnya berpikir keras hingga melupakan kesehatannya sendiri.
Andaikan saat itu ada yang mengingatkannya tentang 'pasrah', mungkin kondisi kesehatannya akan lebih baik. Memang sakit hati karena ditikam adik sendiri dari belakang, itu pasti ada. Namun jika ia bisa mengikhlaskannya, toh yang memimpin perusahaan tetap dari keluarganya sendiri, mungkin keadaan keluarganya lebih baik. Mungkin Celine dapat lebih menikmati masa mudanya. Mungkin dan mungkin. Masih banyak kemungkinan yang dapat terjadi.
__ADS_1
Celine melihat ayahnya termenung. Kemarahan, kegusaran dan kegelisahan yang sebelumnya sempat terpancar, kini sudah sirna. Sebaliknya, ayahnya nampak lesu dan tak bersemangat. Seolah ayahnya mendadak bertambah tua dengan pesat.
Mungkin ayahnya menyadari kebenaran perkataannya dan sedikit merasa terpukul dengan itu. Terkadang kebenaran memang menyakitkan. Namun lebih baik demikian daripada hidup dalam mimpi sendiri. Apalagi jika kita sampai merugikan orang lain demi menghidupkan mimpi kita tersebut.
Celine memegang tangan Sang Ayah dan berusaha menghiburnya. "Semua ada waktunya, Papa .... Semua sudah ada yang mengatur. Jika kita dikaruniai kepercayaan untuk menjadi orang nomor satu, syukuri dan jalanilah dengan baik. Namun jika kesempatan itu sudah berakhir, tetap bersyukur dan coba fokus dengan hal yang lain.
Mungkin banyak hal di sekitar kita yang selama ini terabaikan karena kita terlalu fokus dengan hal tersebut. Mungkin kita lagi ditegur untuk menjaga kesehatan dan diminta untuk beristirahat oleh Sang Pencipta. Mungkin ini waktunya kita menghargai kebersamaan dengan orang-orang yang kita kasihi.
Jadi, Papa .... Nikmati saja. Selama kita sudah lakukan yang terbaik, itu sudah cukup. Serahkan semuanya kepada Sang Pemberi Hidup. Biarlah Dia yang mengatur. Bagian kita hanya menjalani. Dengan demikian, kita bisa lebih berbahagia dan hidup kita lebih tenang, bukan?" Celine mengakhiri ucapannya sambil tersenyum.
Adrian pun memaksakan diri untuk tersenyum. Ia tahu, putrinya sedang menghiburnya karena khawatir dengan keadaannya. Di saat yang bersamaan, ada kebanggaan disertai kepedihan yang muncul di hatinya. Bangga karena putrinya memiliki kebesaran hati dan pemikiran yang begitu bijak. Namun pedih, karena ia tahu, putrinya bisa seperti ini bukan dari hasil pengajarannya.
Rasa bersalah dan penyesalan melandanya. Ia telah gagal menjadi orang tua. Di mana selama ini ia berada di kala putrinya membutuhkannya? Bagaimana sikapnya selama ini terhadap putrinya? Apakah ia pernah menyayangi putrinya dengan tulus?
Ia sadar, semenjak putrinya lahir, ia sudah membedakannya dengan Dion. Ia sering mengabaikan Celine, bahkan kerap kali berkata kasar padanya. Ia tidak pernah benar-benar mencoba mengerti dan menerima putrinya. Ia bahkan sampai hati 'membuang' putrinya demi menjaga nama baiknya sebagai kepala keluarga Adipratama.
Namun ia masih bersyukur, Tuhan masih mengasihi putrinya dan juga dirinya. Bersyukur putrinya masih dapat bertumbuh dan menjadi seperti sekarang. Bersyukur ada orang-orang yang Tuhan pakai untuk menggantikan peran dan tanggung jawab yang selama ini ia abaikan.
Bersyukur, Tuhan memberikan kelembutan hati pada putrinya. Bersyukur, Tuhan mengirimkan putrinya kembali padanya di titik terendah dalam hidupnya. Bersyukur ia masih diberi kesempatan untuk menikmati hidup dan dalam keadaan yang cukup sehat sampai sekarang.
__ADS_1
Apalagi yang ia harapkan? Mau sampai kapan ia harus memicu dirinya untuk terus-menerus berlomba menjadi yang terbaik? Mungkin perkataan Celine benar adanya. Kita terkadang perlu belajar 'pasrah' dan mengembalikan segala sesuatunya ke tangan Sang Pencipta.
...****************...