
Baru saja Darrell mau membuka mulutnya untuk meninggalkan Cecilia, tiba-tiba seorang karyawati toko mendatangi mereka. "Maaf, Bu .... Di depan ada pelanggan. Ia mau membeli pakaian pria. Tapi ga yakin mengenai ukurannya. Tadi dia sempat liat Mas-nya dan izin untuk ... untuk ... meminjam Mas-nya buat mencocokkan ukuran, " katanya dengan ragu, karena takut mengganggu urusan Bos dengan 'teman' prianya.
Cecilia menatap Darrell seakan menimbang sesuatu. Lalu dengan cengiran mautnya ia berkata, "Merci de m'aider à nouveau." (arti: Tolong bantu aku lagi).
Belum sempat Darrell menjawab, tangannya sudah digandeng dan digiring ke arah depan.
Di bagian pakaian pria, sudah menunggu dua orang wanita. Keduanya terlihat berseri-seri ketika melihat Darrell. Setelah Cecilia mengajak Darrell mendekati mereka, keduanya langsung menyerbu Darrell layaknya fans fanatik.
"Maaf, Mbak .... Saya pinjem Mas-nya yah ..." kata salah seorang dari wanita tadi sambil menarik tangan Darrell hingga pegangan Cecilia ke Darrell terlepas.
"Iya .... Ukuran badan Mas-nya persis dengan saudara kami ..." kata satunya lagi, sambil mengambil salah satu pakaian yang dipajang di sana dan mencoba ukurannya ke badan Darrell.
Darrell memandang Cecilia dengan tatapan bingung dan keberatan dengan perlakuan yang ia terima. Ia tidak suka badannya dipegang sana-sini bak dia cowok apaan.
Sedangkan Cecilia, dari belakang para wanita yang sedang fokus mengagumi Darrell, hanya bisa tersenyum kecut dan melipatkan kedua tangannya di depan wajah, seolah sedang memohon pengertian Darrell dengan bahasa tak terkatakan. Darrell yang melihat respons Cecilia, hanya bisa memutar bola matanya.
Sejujurnya ia kesal dan ingin menampik tangan kedua wanita yang sedang asyik memegang-megang badannya ini. Tetapi sebagai seorang pengusaha yang tahu betapa pentingnya pelanggan dalam berbisnis, ia tidak tega mencoreng nama toko ini akibat tidak memperlakukan pelanggannya dengan baik. Toh pegang-pegangnya masih dalam tahap wajar. Karenanya, Darrell hanya bisa mencoba bersabar, sambil berharap ujian ini segera berlalu.
Namun, harapan tinggal harapan. Selesai yang satu, datang lagi yang lain. Alasan para wanita itu serupa, yang badan Darrell seukuran sama adiknya lah, anaknya lah, suaminya lah, pacarnya lah, sepupunya lah, dan entah siapa lagi. Untung tidak sampai dibilang seukuran sama kakeknya. Kalau iya, kan Darrell jadi ingin tanya, tuh kakek rahasianya apa, bisa menjaga badannya sampai tetap setegap dan sekekar Darrell.
Darrell dan Cecilia sama-sama tahu, kalau semuanya itu hanyalah modus saja. Tujuan utamanya bukan memilih dan membeli baju, tetapi bagaimana bisa dekat-dekat dengan cowok setampan Darrell yang mukanya sudah sebelas-dua belas dengan aktor. Semuanya terlihat jelas dari raut wajah dan mata mereka yang memancarkan sinar lope-lope.
Di antara mereka bahkan ada yang terang-terangan memperlihatkan ketertarikannya dengan mengajak Darrell berfoto bersama atau berbincang. Bahkan ada yang terlihat sengaja mengabaikan Cecilia untuk memonopoli Darrell.
Namun Darrell yang peka, sengaja berpura-pura tidak mengerti pembicaraan mereka. Untunglah di antara mereka yang bersikap agresif melakukan pendekatan kepada Darrell, hanya bisa berbahasa Inggris. Melihat Darrell yang planga-plongo boy, dengan terpaksa mereka kembali melibatkan Cecilia sebagai penerjemah demi mendapat informasi tentang Darrell.
Sampai akhirnya Darrell disadarkan dengan getar alarm dari HP-nya yang mengingatkannya akan jadwal pesawatnya yang akan terbang dua jam lagi. Darrell memang terbiasa memasang alarm untuk mengingatkannya akan hal-hal penting yang harus ia lakukan.
Darrell buru-buru melihat jam tangannya. Ternyata waktu begitu cepat berlalu. Ia tidak menyangka sudah terlalu banyak menghabiskan waktu di mal ini.
"Cécile .... Désolé je dois partir! J'ai failli rater l'avion!" (arti: Cecilia .... Maaf, aku harus pergi! Aku nyaris ketinggalan pesawat !) kata Darrell dengan tergesa-gesa.
Cecilia ikut melihat jam tangannya. "Combien de temps reste-t-il à partir de l'heure de départ?" (arti: Masih berapa lama lagi waktu yang tersisa dari waktu keberangkatan ?) tanya Cecilia.
"Encore deux heures. Le truc, c'est que je dois encore récupérer mes affaires à l'hôtel. Je n'ai même pas encore dîné, " (arti: dua jam lagi. Masalahnya aku masih harus mengambil barang-barang di hotel. Aku bahkan belum sempat makan malam) jawab Darrell.
__ADS_1
"Laissez-moi vous emmener à l'hôtel et à l'aéroport!" (arti: Biar aku yang antar kamu ke hotel dan bandara !) putus Cecilia.
"Maaf yah ... para Ibu-ibu dan Mbak-mbak sekalian .... Mas-nya nyaris ketinggalan pesawat. Kami izin dulu yah .... Silakan lanjutkan lihat-lihat dan berbelanjanya. Nanti biar pegawai saya yang membantu kalian semua ..." sahut Cecilia mengumumkan kepergiannya dan Darrell.
Setelah mengangguk mohon pamit kepada para penggemar dadakan Darrell dan mengajak Darrell melakukan hal yang serupa, Cecilia langsung menarik tangan Darrell dan menerobos pintu keluar. Dengan kecepatan tinggi hampir setengah berlari, mereka menuju area parkir.
"Montrez-moi le chemin de votre hôtel!" (arti: Tunjukkan jalan menuju hotelmu !) pinta Cecilia sambil menyalakan mesin mobil. Dengan arahan Darrell, mereka pun menuju ke hotel.
Karena jarak yang cukup dekat, tidak sampai lima menit mereka sudah tiba. Darrell segera meloncat dari mobil dan berlari menuju kamarnya, meninggalkan Cecilia yang menunggu di tempat parkir hotel.
Tidak sampai sepuluh menit, terlihat Darrell sudah kembali ke area parkir sambil membawa ranselnya. Untunglah barang bawaan Darrell memang tidak terlalu banyak. Lagipula, Darrell memang pria yang cukup rapi, sehingga tidak butuh waktu lama untuk membereskan semua barangnya.
"Avez-vous enregistré le billet d'avion ?" (arti: Kamu sudah check-in tiket pesawat ?) tanya Cecilia begitu Darrell sudah kembali menaiki mobil.
"Oui, heureusement je l'ai fait avant ..." (arti: Ya, untungnya sudah kulakukan sebelumnya) jawab Darrell.
"C'est bien. Nous partons maintenant. Mainmise!" (arti: Baguslah. Kita berangkat sekarang. Pegangan yang kencang !) sahut Cecilia, yang langsung menancapkan gasnya. Mobil pun kembali membelah jalan dengan kecepatan tinggi.
Masih tersisa waktu satu jam lebih ketika akhirnya Darrell menyelesaikan urusan penerbangannya di bandara. Sekarang ia tinggal menunggu boarding time (noted: waktu menaiki pesawat bagi para penumpang).
"Oui, " (arti: ya) jawab Darrell tanpa menyembunyikan kelegaannya.
"Il est encore temps de dîner, n'est-ce pas? Mangeons ensemble. Je vais vous traiter, pensez-y comme un merci, " (arti: Masih ada waktu buat makan malam, kan? Kita makan bersama yuk. Aku yang traktir. Hitung-hitung sebagai ucapan terimakasih) ajak Cecilia.
"C'est à vous, " (arti: terserah kamu saja) jawab Darrell dengan lesu. Setelah dari tadi mereka beraktivitas seperti dikejar setan, sekarang setelah lega barulah ia merasa lelah.
Cecilia hanya tersenyum melihat respons Darrell. Ia tahu mereka berdua sama-sama merasa lelah dan lega di waktu bersamaan. Setidaknya ia bersyukur, ia tidak sampai membuat Darrell ketinggalan pesawat.
Mereka memilih sebuah kafe sebagai tempat mereka menyantap makan malam. Mereka duduk di dekat jendela kaca yang menyajikan pemandangan langit malam.
Setelah memesan makanan dan minuman, mereka menunggu dalam diam. Begitu pula setelah hidangan mereka datang, mereka berfokus dengan santapan masing-masing.
Setelah makanan yang di hadapannya habis, Darrell melihat jam tangannya. Masih ada waktu sepuluh menit dari boarding time. Darrell memutuskan untuk memanfaatkan waktu tersebut dengan bersantai sambil menikmati kopinya perlahan-lahan.
Setelah menghabiskan waktu beberapa saat memandangi langit malam, Darrell mencoba melirik ke arah Cecilia. Ia baru sadar wanita yang di hadapannya ini dari tadi sama sekali tidak mengajaknya bicara. Ternyata Cecilia juga sedang menyesap kopinya sambil memandang ke arah luar jendela.
__ADS_1
"Surprise que vous ne soyez pas bruyant comme d'habitude ...." (arti: Tumben kamu tidak berisik seperti biasanya) Darrell mencoba membuka pembicaraan.
Cecilia memalingkan wajahnya dari jendela dan menatap Darrell. Lalu ia tersenyum. Ia tidak tersinggung dengan perkataan Darrell. Ia tahu Darrell bukan bermaksud menghinanya. Darrell hanya berbicara apa adanya. Mengeluarkan kesan yang ia dapat tentang Cecilia dalam pengenalannya selama ini, dengan nada sedikit menyindir dibumbui candaan.
Lalu ia kembali melihat ke arah luar jendela dan menyesap kopinya. "Je suis fatigué, " (arti: Aku lelah) katanya tanpa mengalihkan pandangannya.
"Quand je suis fatigué, j'aime regarder le ciel nocturne et voir les étoiles. Cela m'amuse. M'a fait réaliser que mon problème est très petit par rapport à la grande star, " (arti: Kalau lelah, aku suka melihat langit malam dan melihat bintang. Hal itu membuatku terhibur. Menyadarkanku bahwa masalahku sangat kecil dibandingkan bintang yang sebenarnya besar itu) katanya melanjutkan kalimatnya.
Darrell terdiam. Ia mengerti betul perasaan itu, karena dia sendiri sering melakukannya.
Dan akhirnya keduanya kembali membisu, menikmati pemandangan malam di hadapan mereka. Sampai akhirnya Darrell sadar, waktu keberangkatannya sudah tiba.
"Je vais commencer .... Merci pour la gâterie," (arti: Aku pergi dulu yah .... Terima kasih atas traktirannya) ucap Darrell sambil bangkit dari kursinya.
"Ah .... Si je peux me permettre une suggestion, il est préférable d'embaucher un employé masculin qui peut vous aider à surmonter les difficultés comme précédemment, " (arti: Ah .... Kalau boleh memberi saran, sebaiknya pekerjakanlah karyawan pria yang dapat membantumu mengatasi kesulitan seperti tadi) tambahnya.
"Merci pour le conseil. Je vais y penser. Merci aussi de m'avoir aidé cet après-midi, " (arti: Terima kasih atas sarannya. Akan kupikirkan. Terima kasih juga karena sudah membantuku sesorean ini) jawab Cecilia.
"Au fait ... puis-je avoir votre numéro? Occasionnellement je peux vous accueillir si vous revenez dans cette ville," (arti: Ngomong-ngomong ... apa boleh aku mendapat nomor teleponmu? Kali-kali aku bisa menyambutmu jika kamu ke kota ini lagi) tanya Cecilia.
Darrell tersenyum. Ia bisa menangkap dari sinar mata Cecilia kalau gadis ini menyukainya. Cara Cecilia meminta nomor teleponnya memang terkesan santai. Alasan yang dikemukakannya pun cukup dapat diterima. Namun ia tahu, sesungguhnya Cecilia sedang menahan perasaan gelisahnya. Gadis ini berusaha menyembunyikan kegugupannya dengan mengepalkan tangannya yang bergetar.
Seharian ini, pengenalannya akan Cecilia bertambah. Awalnya, kesan pertama pertemuan mereka memang kurang baik. Mungkin karena perasaannya yang sedang buruk saat itu. Tetapi hari ini, ia melihat sisi lain dari Cecilia.
Memang, gadis ini tetap berisik dan merepotkannya seperti sebelumnya. Namun ia dapat melihat bagaimana gadis itu mencoba mandiri dan bertanggung jawab dengan apa yang dilakukannya. Cecilia juga tidak berpura-pura manis hanya untuk mendapatkan perhatiannya seperti yang dilakukan para wanita yang selama ini mengejarnya. Bisa dibilang, Cecilia cukup tampil apa adanya.
"Avez-vous déjà entendu parler de cette phrase? La première rencontre est le destin. La deuxième rencontre était une coïncidence. La troisième réunion est mon pote, " (arti: Pernah mendengar kalimat ini? Pertemuan pertama adalah takdir. Pertemuan kedua adalah kebetulan. Pertemuan ketiga adalah jodoh) Cecilia terdiam mendengar jawaban yang tidak disangkanya.
"Si nous nous revoyons, je vous le ferai savoir. Au revoir, fille qui bave ..." (arti: Kalau kita bertemu lagi, aku akan memberitahukannya padamu. Sampai jumpa, Gadis Ileran ...) ujar Darrell sambil mengenakan ranselnya dan melambaikan tangannya.
Kembali Cecilia hanya bisa memandangi punggung Darrell yang menjauh. Ia tidak tahu bagaimana harus menyikapi perkataan Darrell. Harus sedih karena ditolak kah? Atau justru sebaliknya, ia harus berharap akan adanya pertemuan ketiga?
Dalam diam Cecilia melangkahkan kakinya menuju mobilnya yang ada di area parkir. Ia memilih berserah pada kehendak langit. Seperti kata Darrell, jika berjodoh, mereka pasti akan bertemu lagi.
...****************...
__ADS_1