
Setelah sampai di mobil, Priscillia bertanya pada teman-temannya, "Ada yang punya acara habis ini? Kalau bisa, aku sih ingin kita langsung berdiskusi menentukan rencana selanjutnya."
Tadi mereka memang berangkat setelah Rebecca dan Priscillia menyelesaikan mata kuliah terakhir di kampus masing-masing. Mereka langsung saling menghubungi sesuai dengan perjanjian yang sudah mereka bicarakan sebelumnya.
Tanpa banyak perdebatan, untuk menghemat waktu, mereka memutuskan Rebecca yang akan menjemput Priscillia dan Sharon di posisinya masing-masing, karena hanya Rebecca yang mengemudikan mobil sendiri. Sedangkan Priscillia masih menunggu dijemput sopir.
Priscillia dijemput di kampusnya, sedangkan Sharon dijemput di rumahnya. Setelah itu tanpa banyak bicara, mereka langsung menuju ke rumah Cindy.
"Aku kosong, " jawab Rebecca.
"Aku juga, " timpal Sharon.
"Oke! Kalo gitu cari tempat untuk bahas, yuk .... Enaknya di mana?" tanya Priscillia.
"Karena ini uda sore, enaknya tempat yang bisa sekalian makan malam. Jadi, habis diskusi bisa langsung makan, " ujar Sharon.
"Tetapi harus cukup tenang juga, biar diskusinya nyaman. Kasusnya agak sensitif soalnya. Ga enak kalo sampai didengar orang, " saran Priscillia.
"Tempat yang nyaman, agak sepi, dan bisa sekalian makan malam sesudahnya .... Ngg .... Ah, aku tau! Di rumahmu, Pris!" jawab Rebecca dengan wajah bangga, seolah sudah mengeluarkan jawaban yang super cerdas. Kedua sahabatnya hanya bisa melongo mendengar jawaban tak terduga itu.
"La .... Bener, kan? Kamarmu itu gede, tenang, dan pastinya nyaman. Trus, kita sekalian numpang makan di sana. Bisa ga, Pris?" ujar Rebecca sambil nyengir.
"Bisa sih..." jawab Priscillia sambil menggelengkan kepala, tidak habis pikir dengan jalan pikiran Rebecca. Sharon hanya bisa cekikikan melihat tingkah kedua sahabatnya.
"Oke! Kita gas yah ..." jawab Rebecca sambil menyalakan mesin mobil dan memasukkan gigi.
Dalam sekejap mobil sudah melaju membelah jalan menuju rumah Priscillia yang terletak di salah satu kawasan elite di kota itu. Tidak sampai setengah jam, mobil sudah kembali berhenti di depan rumah keluarga Priscillia, keluarga Angkawibawa. Di dalam garasi tampak tiga mobil sudah terparkir rapi, menandakan seluruh keluarga Priscillia ada di rumah.
"Ayo, masuk!" Priscillia mengajak kedua temannya.
Ketiganya pun masuk dengan dipimpin Priscillia sebagai tuan rumah. Ketika melewati ruang keluarga dan ingin menuju lantai atas di mana kamar Priscillia berada, di sana segenap keluarga Priscillia sedang berkumpul.
"Papa, Mama ... Hai, Kak ...." Priscillia menyapa keluarganya.
"Om, Tante, Kak Jeremy ...." Sharon dan Rebecca ikut menyapa.
Tuan Angkawibawa hanya menganggukkan kepala membalas salam dari ketiga gadis itu. Kakak laki-laki Priscillia hanya menengok sebentar, mengangkat tangan kanannya untuk membalas salam, lalu kembali sibuk dengan gadgetnya dan melanjutkan apa yang ia lakukan sebelumnya.
__ADS_1
Sedangkan mama Priscillia segera bangkit dari tempat duduknya, lalu menghampiri mereka.
"Halo Sharon dan Rebecca. Sudah lama tidak main kemari. Habis dari mana? Dari kampus?" tanya Nyonya Angkawibawa.
"Iya, Tante. Tadi dari kampus langsung jemput Priscillia di kampusnya dan ke rumah Sharon. Kita ngumpul untuk bahas sesuatu, " jawab Rebecca mewakili mereka.
"Tapi karena pembahasannya belum beres, jadinya mau sambung diskusinya di kamar Priscil. Sekalian mereka mau makan malam di sini. Boleh kan, Ma?" lanjut Priscillia
Mendengar perkataan Priscillia, Rebecca memberikan cengiran super pede kepada mama Priscillia. Sedangkan Sharon hanya bisa menundukkan kepala menahan rasa malu.
"Oh .... Tentu saja boleh. Nanti Mama bilang ke chef untuk menambah porsi masakannya, " sambut Mama Priscillia dengan ramah.
"Thank you, Mom .... Nanti kalo makanannya uda ready, panggil kami yah .... Kami mau diskusi dulu," pinta Priscillia pada mamanya.
"No problem !" jawab mamanya sambil membentuk tanda oke dengan jarinya.
"Sip! You are the best ! Priscil naik dulu yah, Ma .... Papa, Kakak, Priscil naik dulu!" pamit Priscillia.
"Kami naik dulu yah Tante, Om, Kak Jeremy!" seru Rebecca ikut pamit.
"Permisi Tante, Om, Kak ..." lanjut Sharon sambil menganggukan kepala kepada ketiga orang itu.
Sebelum naik mengikuti kedua temannya, Sharon menyempatkan diri melirik ke arah kak Jeremiah yang sering dipanggil Jeremy itu. Ia teringat pesan mamanya berkenaan dengan kakak Priscillia tersebut.
"Kamu harus berusaha menarik perhatian Jeremiah, biar kamu bisa jadi menantu keluarga Angkawibawa!" Begitulah pesan mamanya kepadanya belum lama ini.
Jujur saja, sudah sejak lama mamanya menargetkan keluarga Angkawibawa yang terkenal sebagai keluarga nomor satu di kota itu. Dan kesempatan itu tiba ketika ia mengetahui kalau Sharon dan Priscillia satu sekolah di Taman Kanak-kanak.
Ia langsung menyuruh Sharon untuk mendekati Priscillia dan menjadi temannya. Sharon yang saat itu masih kecil, hanya menurut saja dengan perintah mamanya. Ia pun mendekati Priscillia. Dan seperti gayung bersambut, Priscillia kecil pun dengan mudah menerima Sharon. Demikianlah kisah pertemanan mereka dimulai.
Sampai akhirnya ia mulai dewasa, ia mulai mengerti maksud terselubung dari mamanya. Karena seperti keinginan mamanya, begitu ia menjadi sahabat Priscillia dan kedua orang tuanya berkenalan dengan kedua orang tua Priscillia, perusahaan ayahnya mulai menjalin kerjasama dengan perusahaan A.W Grup (Angkawibawa Grup).
Awalnya, ia ingin memutuskan pertemanan mereka karena tidak ingin memanfaatkan Priscillia. Tetapi semakin ia kenal Priscillia, ia jadi tahu kalau Priscillia sedikit-banyak memiliki kemiripan dengannya.
Walaupun tidak terlihat dari luar, Priscillia ternyata rapuh di dalam karena penyakit yang dideritanya. Hampir sama dengan dirinya yang agak pendiam dan kurang memiliki kepercayaan diri. Selain itu, mereka menjalani hidup dengan mengikuti keinginan dan harapan dari orang tua masing-masing, tanpa kepercayaan diri menentukan hidup dan pilihan mereka sendiri.
Sampai mereka duduk di bangku SMP dan bertemu dengan Rebecca dan Cecilia. Kehidupan Rebecca dan Cecilia yang bebas, membuat mereka tertarik. Kemampuan Rebecca dan Cecilia menentukan hidup mereka sendiri meskipun kadang berbenturan dengan keinginan orang tua mereka, membuat Priscillia mengajak Sharon untuk bergabung dengan mereka. Saat itulah Geng Princess terbentuk.
__ADS_1
Dan sekarang, seolah belum puas dengan keakraban Geng Princess, mamanya menginginkan dia melangkah lebih maju lagi ke dalam lingkaran keluarga Angkawibawa. Pembelaannya sepele. Berdasarkan cerita mamanya, mama Priscillia pernah memuji dirinya ketika ia menghadiri pesta ulang tahun Priscillia saat kecil.
"Sharon hari ini cantik sekali, " kata Mama Priscillia saat itu.
"Priscillia lebih cantik lah, Bu ..." jawab mamanya membalas pujian Nyonya Angkawibawa.
Mama Priscillia tersenyum. Matanya tetap memperhatikan Priscillia dan Sharon yang sedang asyik bercanda di tengah riuhnya pesta. "Senang yah melihat keakraban mereka, " katanya lagi.
"Iya, " ujar mamanya yang memang senang dengan keakraban kedua anak itu dalam arti yang berbeda.
"Setelah melihat mereka akrab begini, sepertinya lucu juga kalo ujung-ujungnya kita jadi besan yah ..." celetuk Mama Priscillia.
"Eh ... Apa tadi yang Ibu katakan?" tanya Mama Sharon takut salah dengar.
Mama Priscillia tertawa. "Kan saya juga punya anak laki-laki, Bu .... Jika anak perempuan kita akrab, ga menutup kemungkinan kalau dewasa nanti Sharon juga bisa akrab sama Jeremiah, kan?"
Kalimat itulah yang menjadi hembusan angin segar baru bagi mama Sharon. Kalimat tersebut disimpannya sebagai wujud ambisinya yang berikutnya.
Dan baru-baru ini, hal tersebut dibukakan kepadanya. Awalnya mamanya ingin menunggu pihak keluarga Angkawibawa mengajukan surat lamaran untuk Sharon mengingat usia anaknya yang sudah dewasa dan siap untuk dijodohkan. Tetapi surat yang ditunggu tidak kunjung tiba. Entah karena mama Priscillia lupa dengan perkataan yang pernah diucapkannya, atau karena perkataan itu memang dilemparkan sebagai lelucon belaka, tidak ada yang tahu.
Pasalnya, mamanya terlanjur menanggapi perkataan itu dengan serius. Karena itu, mamanya mengubah strateginya dengan beralih menjadi pihak yang aktif. Ia meminta Sharon untuk maju mendekati Jeremiah. Apalagi mengingat selama ini Sharon belum punya pacar.
Sebenarnya, Sharon pernah pacaran sekali saat SMP. Itu pun secara diam-diam tanpa diketahui kedua orang tuanya. Ia mencoba keluar dari zona anak baiknya dan mencoba hidup bebas sesuai saran Rebecca. Kebetulan saat itu ada anak laki-laki dari SMP sebelah yang menyukainya.
Sayangnya hubungan itu tidak berlangsung lama. Hanya dalam waktu sebulan lebih, laki-laki tersebut memutuskannya dengan alasan Sharon cewek yang membosankan.
Tentu saja hal tersebut menimbulkan luka tersendiri bagi Sharon. Perasaan rendah dirinya makin mencuat.
Teman-temannya sudah menghibur Sharon kala itu. Mereka mengatakan agar dirinya jangan ambil pusing dengan kalimat tersebut. Mereka meyakinkan agar ia tetap menjadi dirinya sendiri dan suatu saat pasti ada laki-laki yang menerima dirinya apa adanya.
Saat itu, Sharon mencoba tersenyum dan menerima perkataan teman-temannya. Tetapi pada kenyataannya, kalimat itu tetap membekas di hatinya. Sejak saat itu, ia berkeputusan untuk tidak lagi mencoba-coba pacaran kecuali kalau ia memang benar-benar menyukai seseorang dan sudah siap berjuang mempertahankan hubungan mereka ke tahap yang serius.
Dan sekarang, dengan semua latar belakang dan sifatnya yang seperti ini, bagaimana ia harus mewujudkan harapan mamanya? Selama bertahun-tahun bersahabat dengan Priscillia, ia tidak pernah bercengkerama dengan kak Jeremy. Priscillia sendiri mengakui bahwa dirinya tidak terlalu akrab dengan Sang Kakak.
Kakak Priscillia memiliki sifat yang diturunkan dari ayah mereka yang pendiam, kaku, dan jarang bergaul. Mereka lebih banyak hidup dalam dunia dan kesibukan mereka sendiri. Pergaulan mereka sebatas karena kebutuhan. Jika tidak ada kepentingan, mereka enggan berbasa-basi dengan orang lain.
Jadi, bagaimana ia bisa menembus pertahanan kak Jeremiah yang seperti tembok tebal nan kokoh itu dengan karakternya yang seperti ini? Andaikan ia memiliki sifat ceplas-ceplos seperti Rebecca, atau setidaknya sedikit kepercayaan diri dan keceriaan seperti Cecilia. Mungkin akan lebih mudah baginya menjalankan tugas yang diberikan ibunya tersebut.
__ADS_1
Saat ini ia hanya bisa mendiamkan titah Sang Ibunda. Ia belum menemukan cara dan juga memang tidak terlalu berniat untuk melakukan dan memikirkannya lebih jauh. Ia memilih menyimpan obsesi ibunya di dalam hatinya dan membiarkan waktu yang menjawab.
...****************...