
Mendengar penuturan Sharon, James terdiam. Ia butuh waktu untuk memahami kejadian tersebut dan menghubungkannya dengan situasi sekarang. Setelah beberapa saat, James bertanya, "Jadi apa yang bisa saya bantu?"
"Kalau saya, sejujurnya saya membutuhkan seseorang untuk mengontrol Rebecca, Pak. Tapi kalau Priscillia .... Kurasa bagian ini kamu harus ngomong sendiri deh, Pris," kata Sharon.
"Sa-saya takut, Pak. Saya malu. Sekarang mereka semua sudah tau! Sa-saya bingung harus bersikap bagaimana. Saya takut mengetahui apa yang mereka pikirkan terhadap saya sekarang." Priscillia mengeluarkan isi hatinya dengan suara agak tercekat.
James terenyuh melihat Priscillia menjadi seperti ini. Ternyata di balik sikapnya yang percaya diri, tersimpan trauma dan kerapuhan yang ia tutup rapat-rapat. Priscillia bahkan belum sampai tahap bisa menerima dirinya sendiri.
James menarik napas panjang. Lalu ia berkata kepada sosok yang masih tersembunyi di balik selimut itu, "Orang yang menyayangimu akan tetap mengasihimu meskipun mereka mengetahui 1001 kekuranganmu. Sebaliknya, orang yang membencimu akan tetap memusuhimu, meskipun kamu sudah menunjukkan 1001 kebaikkanmu. Kesimpulannya, terimalah dirimu sendiri apa adanya, tanpa harus mengkhawatirkan pandangan orang lain."
Priscillia terdiam mendengar kalimat James. Setelah merenung beberapa saat, Priscillia bertanya, "Jadi menurut Bapak, saya harus memberitahu orang-orang tentang penyakit saya?"
"Itu terserah kamu. Katakanlah kepada orang yang kamu percayai dan kamu rasa perlu untuk mengetahui penyakitmu. Tapi jika kamu ragu, biarkanlah mereka mengira-ngira sendiri. Yang saya tekankan di sini adalah, janganlah kamu terintimidasi dengan sikap dan pandangan mereka nantinya. Tetaplah percaya diri seperti Priscillia yang biasanya," jawab James bijak.
"Bagaimana menurut Bapak dengan Cecilia dan Rebecca?" tanya Priscillia lagi.
James tersenyum, "Saya rasa, mereka layak untuk dicoba. Kalaupun akhirnya mereka tidak berespons seperti yang kamu harapkan, anggaplah ini satu keuntungan buatmu untuk memutuskan pertemanan kalian lebih awal, sebelum mereka membuatmu kecewa lebih dalam."
"Tapi menurutku Cecilia dan Rebecca tidak akan begitu sih, Pris ...." Sharon ikut mengutarakan pendapatnya.
Priscillia kembali terdiam untuk beberapa saat. Kemudian, ia kembali membuka mulutnya dan berkata pada Sharon, "Baiklah. Ayo kita beritahu Cecilia dan Rebecca. Tapi kamu yang cerita seperti tadi ya, Shar .... Aku ga siap kalo harus cerita sendiri."
"Ga masalah," jawab Sharon ringan.
"Pak, boleh tolong panggilkan Cecilia dan Rebecca?" kata Priscillia kali ini kepada James.
"Dengan senang hati, Lady Priscillia," ujar James mengikuti gaya Vivian, Sang Ketua Geng Princess Lovers.
Priscillia tersenyum mendengar ucapan guru BK-nya dari balik selimut. Ia tahu Sang Guru sedang berusaha meringankan hatinya dan ia berterima kasih untuk itu.
James pun membuka pintu ruang UKS. Pintu yang terbuka kembali membuat orang yang di luar ruangan terkejut.
__ADS_1
"Bagaimana, Pak?" serbu Rebecca dan Cecilia begitu melihat James.
"Kalian boleh masuk," jawab James sambil tersenyum.
Mata mereka berbinar mendengar kalimat itu. Tanpa berpikir lagi, mereka langsung bersiap menerobos pintu.
"Tapi Rebecca ...." Kalimat James membuat langkah mereka berdua terhenti dan kembali menghadap James.
"Tolong kontrol emosimu yah .... Ingat, Priscillia sedang ..."
"Mengalami masa sulit kan, Pak?" Rebecca melanjutkan kalimat James sambil tersenyum.
"Pintar," balas James.
"Jelas!" sahut Rebecca sambil nyengir. Lalu keduanya kembali melanjutkan langkah mereka menemui Priscillia.
Sebelum James kembali menutup pintu, dokter Lusi bertanya pada James, "Bagaimana kondisi Priscillia? Masih aman?"
"Silakan, Pak. Saya stand by di sini," jawab dokter Lusi.
"Terima kasih, Dok. Permisi, Dok. Permisi Pak Joseph." Mereka yang dipanggil namanya hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban. Setelah itu James kembali menutup pintu ruang UKS.
Setelah di dalam, Cecilia dan Rebecca tertegun melihat Priscillia hanya bersembunyi di balik selimut. Tetapi mereka berusaha menahan diri untuk tidak langsung menyerang Priscillia dengan pertanyaan.
Sharon mempersilakan mereka duduk mengelilingi Priscillia di ranjang pasien. Setelah mereka duduk, perlahan ia mulai menuturkan kalimatnya.
James mendengarkan Sharon menceritakan penyakit Priscillia pada Rebecca dan Cecilia sambil menyender di tembok. Ia sengaja menjaga jarak untuk memberikan ruang pada keempat sahabat tersebut. Ia di sini hanya untuk berjaga-jaga agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Selebihnya ia membiarkan mereka belajar menyelesaikan masalah mereka sendiri.
Cecilia dan Rebecca yang mendengarkan cerita Sharon hanya bisa terdiam. Wajah mereka menunjukkan kesedihan dan kekecewaan. Tapi mereka belum berkomentar sampai Sharon menyelesaikan kalimatnya.
Sampai akhirnya Sharon menutup kalimatnya, "Jadi begitu ceritanya. Maaf yah, selama ini kami menutupinya dari kalian."
__ADS_1
"Kenapa? Apa kamu ga percaya pada kami, Pris?" Cecilia yang merespons pertama kali.
"Maaf, Cil. A-aku takut. Aku malu. Rupaku saat ini buruk sekali. A-aku takut kalian akan menolakku begitu kalian tau. Saat Ini saja aku tidak berani menunjukkan rupa ini pada siapapun. Maaf ...." Priscillia menjawab pertanyaan Cecilia dengan suara tercekat.
"Kamu bodoh, Pris! Kamu anggap kami ini apa?! Siapa yang selama ini jadi trouble maker dan kamu cover kelakuannya? Aku kan? Taukah kamu, kalo selama ini aku sering merasa jadi beban di geng kita karena karakterku yang begini?! Tapi kali ini, izinkan aku yang cover kamu, Pris! Ga perlu terlihat perfect terus! Gini-gini, aku bisa dipercaya, kan?!" Rebecca menyuarakan isi hatinya dengan emosi. Tapi dapat terlihat air mata mulai mengalir di pipinya.
Ketiga temannya tertegun mendengar penuturan Rebecca. Mereka tidak menyangka kalau selama ini Rebecca menyimpan perasaan demikian.
"Maaf, Bec. Aku ga tau kamu sampe mikir kayak gitu ..." ujar Cecilia.
"Tapi sekalipun kami ga pernah menganggapmu jadi beban lo ..." tambah Sharon.
"Ya, aku tau," jawab Rebecca mulai terisak.
Ketiga orang tersebut terdiam ketika mereka juga mendengar isakan di balik selimut. Selimut itu bergetar akibat seseorang yang menangis di dalamnya.
"Maaf, Pris .... Aku terlalu terbawa emosi. Aku ga bermaksud menyalahkanmu. A-aku ... cuma ingin jujur ..." kata Rebecca merasa bersalah.
Selimut kembali terguncang akibat Priscillia menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Tidak, Bec .... A-aku yang harus minta maaf. Ma-maaf yah .... Maaf ... dan ... terima kasih ..." ujar Priscillia diselingi isak tangisnya.
"Sama-sama, Pris .... Kita satu tim, kan? Ki-kita masih Geng Princess, kan?" balas Rebecca dengan air mata yang mulai mengalir deras. Tangannya mulai terjulur memeluk Priscillia yang masih di dalam selimut.
"I-iya. Ki-kita satu tim. Ki-kita Geng Princess ..." kata Priscillia terbata-bata.
"Udah, Pris .... Jangan nangis .... Keadaanmu baru membaik. Jangan sampai drop lagi ..." ucap Cecilia dengan suara tercekat menahan tangis. Lalu ikut memeluk Rebecca dan Priscillia.
Sharon pun ikut menggabungkan diri memeluk ketiga sahabatnya. Keempat sahabat itu lalu mulai menangis sambil terisak-isak.
James yang melihat itu dari jauh hanya bisa ikut terharu dan tersenyum. Ia kagum dengan kuatnya ikatan di antara mereka. Ia tahu setelah ini kemungkinan besar Priscillia akan mengalami guncangan yang lebih berat dari pandangan orang-orang di sekolah. Tapi ia berharap Priscillia dapat mengatasinya dengan dukungan dari para sahabatnya.
__ADS_1
...****************...