Mengembalikan Senyum-Mu

Mengembalikan Senyum-Mu
Di Antara Pilihan


__ADS_3

Esok harinya di hari Minggu sekitar pukul 11.00, setelah menikmati sarapan dan bersantai-santai sejenak menikmati fasilitas hotel, Darrell memutuskan pergi ke éblouissant untuk menemui Cecilia. Ia memang sengaja menunggu waktu di mana toko-toko di dalam mal sudah buka dan mal mulai ramai didatangi pengunjung.


Ia sengaja tidak mengabari kedatangannya pada Cecilia karena takut gadis itu akan melarikan diri. Entah mengapa ia memiliki firasat bahwa Cecilia menghindarinya semenjak gadis itu mengetahui perjodohannya dengan Rebecca. Walaupun belum tentu firasatnya benar, ada baiknya lebih dahulu berjaga-jaga kan?


"Selamat Da- " ucapan Cecilia terhenti begitu melihat siapa yang datang.


"Hai .... Maaf mengganggumu. Tapi bolehkah aku minta sedikit waktumu?" tanya Darrell sambil tersenyum kecut mengutarakan tujuannya.


Cecilia teringat perkataan Rebecca kemarin bahwa target Darrell sudah berpindah kepada dirinya. Dan melihat pria itu mengunjunginya sekarang, mau tidak mau ia jadi mulai meyakini kebenaran perkataan tersebut. Kegugupan melingkupi Cecilia. Ia sama sekali belum siap dengan jawabannya.


"Ah .... Ma- maaf .... Sepertinya tidak bisa. Aku sedang sibuk sekarang, " jawab Cecilia sambil menghindari tatapan Darrell.


Darrell tersenyum mengetahui Cecilia sedang membuat-buat alasan. "Oh ya? Sibuk apa? Kulihat butikmu tidak begitu ramai saat ini, " katanya sambil mengedarkan pandangan mengitari butik di mana hanya terdapat 1-2 pengunjung yang sedang dilayani karyawan Cecilia.


"A- aku ... sedang ... sedang ... memeriksa berkas pemesanan barang!" kata Cecilia sambil buru-buru mengambil nota pemesanan yang kebetulan terlihat di depannya.


Senyum Darrell makin melebar. Walaupun hatinya sedikit pedih karena merasa firasatnya makin terbukti, namun senang rasanya melihat tingkah gugup gadis itu akibat kalimatnya. Darrell pun melanjutkan keisengannya. "Kalau begitu ... butuh bantuanku lagi?" tanyanya.


"Tidak! Jangan! Ga perlu! Aku ... aku bisa sendiri kok!" ujar Cecilia buru-buru akibat panik.


Darrell tersenyum untuk menahan tawanya. Namun hal itu tidak bertahan lama. Hanya sekian detik, senyum itu pun menghilang. Sepertinya sudah waktunya ia mengakhiri permainan ini. "Fille qui bave .... (arti: Gadis ileran) Jawab aku dengan jujur .... Apakah kau sedang menghindariku?" tanyanya dengan lembut.


"Ti- tidak! Mana mungkin?! A- aku hanya sedang sibuk. Ya ... hanya kebetulan sedang sibuk aja. Ma- maaf yah ..." ujar Cecilia sambil mengangkat wajahnya menatap Darrell, namun tidak lama kemudian, ia kembali menundukkan kepalanya dan pura-pura sedang mengerjakan hal lain.


"Cecile ..." panggil Darrell.


"Ya?" jawab Cecilia buru-buru. Ia kembali memberanikan dirinya menatap Darrell, memasang wajah seolah tidak ada kegalauan dalam dirinya demi menghindari kecurigaan dari pria itu.


"Coba katakan sekali lagi kalau kau tidak menghindariku sambil menatap diriku. Kalau kau bisa melakukannya, aku akan pergi dan tidak mengganggumu lagi, " ujar Darrell dengan lembut. Senyum sedih terukir di wajahnya, yang makin membuat Cecilia mati kutu.


"A- aku ... aku ...." Cecilia mencoba memberanikan dirinya mengucapkan kalimat yang tadi dikatakan Darrell sambil menatap wajah pria itu, demi menutupi kebohongannya.


"Aku ... aku ... tidak bisa ...." Cecilia mengakui ketidaksanggupannya sambil kembali menundukkan kepala.


"Mengapa kau menghindariku, Fille qui bave?" (arti: Gadis ileran) tanya Darrell dengan nada sedih.

__ADS_1


"Karena ... kamu ... dan Rebecca ...."


"Aku sudah memutuskan perjodohanku dengan gadis itu. Kalau kau tidak percaya, silakan tanyakan pada sahabatmu, " potong Darrell.


Cecilia tetap diam dengan kepala yang masih tertunduk. Ia memang sudah tahu hal itu. Namun yang menjadi masalah bagi dirinya sekarang bukan masalah yang itu.


"Tindak lanjut dari hal inilah yang ingin kubicarakan padamu. Karena itu aku akan bertanya sekali lagi, boleh aku minta sedikit waktumu?" Darrell mengulangi pertanyaannya, kali ini dengan wajah serius dan nada sedikit memohon.


Dengan pernyataan ini, Cecilia makin yakin dengan kebenaran perkataan Rebecca. Jika ia ingin benar-benar memastikan kebenaran tersebut, ia tinggal memberikan waktunya dan mendengarkan penjelasan tentang makna dari kata 'tindak lanjut' yang diucapkan Darrell.


Sesungguhnya ia tahu, jika ia ingin menghindari permasalahan dengan teman-temannya terutama Rebecca, lebih baik ia TIDAK memberikan kesempatan dan TIDAK mendengarkan perkataan Darrell. Hal itu juga mungkin akan membuat hidup dan perasaannya lebih tenang.


Namun ada yang menggelitik hatinya ketika ia mendengar nada bicara pria itu. Dan hatinya makin tak tega untuk menolak ketika melihat wajah Darrell yang seperti memelas. Belum lagi rasa penasaran yang meronta-ronta agar dapat terpuaskan. Ia ingin tahu jawabannya. Ia ingin benar-benar memastikannya. Benarkah Darrell memilihnya menjadi targetnya yang berikutnya? Dirinya? Bukan Sharon atau Priscillia?


Melihat Cecilia yang terdiam dengan wajah penuh kebimbangan, Darrell melanjutkan serangannya.


"Puis-je vous demander de votre temps, où pouvons-nous trouver un endroit confortable pour discuter et prendre une petite collation, Princesse ? (arti: Bolehkah saya meminta waktu Anda, di mana kita dapat menemukan tempat yang nyaman untuk mengobrol dan makan sedikit camilan, Tuan Putri ?) ujar Darrell sambil mengulurkan tangan kanannya dan menundukkan kepala, seperti seorang ksatria yang sedang meminta perkenanan dari Sang Putri.


Bak tercuci otaknya, tanpa sadar Cecilia menyambut uluran tangan itu dan menjawab, "Oui ...." (arti: Ya)


"Oui ...." (arti: Ya) Kembali Cecilia menjawab dan mengikuti arahan Darrell seperti orang bodoh.


Namun ketika Cecilia menapaki langkah ketiganya, tiba-tiba saja langkahnya terhenti. Ia seperti diingatkan akan sesuatu dan disadarkan dari sihir hipnotis yang baru saja mengikatnya. (author: sebenarnya novel ini genrenya apa sih ?)


Darrell terdiam menyadari hal itu. Perasaan tegang melandanya. Apakah Cecilia akan berubah pikiran dan kembali menolaknya? Namun yang ia bisa lakukan hanyalah menunggu kepastian datang dengan sendirinya.


Cecilia berbalik dan kembali menghadap butiknya. Lalu ia pun berkata, sesuatu yang ditunggu-tunggu Darrell dengan perasaan harap-harap cemas. "Saya pergi dulu sebentar yah .... Tolong kalian handle butik seperti biasa ..." kata Cecilia yang ternyata ditujukan untuk para karyawannya.


Mendengar itu, Darrell menghela napas lega dan tersenyum sendiri menertawai kecemasannya yang ternyata tidak beralasan.


...****************...


Darrell dan Cecilia sekarang sudah berada di kafe yang berada di lantai tiga mal. Di hadapan mereka sudah ada segelas kopi milik masing-masing yang mereka pesan. Kecanggungan meliputi mereka. Yang mereka lakukan dari tadi adalah menyesap kopi sedikit demi sedikit ataupun mengaduk-aduk kopi, walaupun tidak tahu untuk apalagi diaduk.


Entah mengapa, setelah benar-benar berhadapan dengan Cecilia seperti ini, Darrell jadi bingung harus memulainya dari mana. Sedangkan Cecilia, jangan ditanya. Jantungnya sudah berdebar dari tadi menunggu pernyataan Darrell. Ia sendiri juga mulai meragukan dirinya sendiri apakah hatinya sudah benar-benar siap mendengar apapun yang akan keluar dari mulut pria itu.

__ADS_1


"Fille qui bave ...." (arti: Gadis ileran) Darrell mulai mencoba membuka pembicaraan dengan memanggil gadis itu.


"I- iya?" jawab Cecilia gugup dan mengalihkan pandangannya sekarang menatap Darrell.


"Apakah kau menyukaiku?" tanya Darrell langsung. Pandangannya menatap lurus ke mata Cecilia.


Cecilia yang ditembak pertanyaan seperti itu, hanya bisa membatu dan perlahan-lahan wajahnya memerah. Ia benar-benar tidak menyangka akan ditanya demikian. Karena tidak tahan, ia pun kembali mengalihkan pandangannya ke gelas kopi di hadapannya.


Melihat reaksi gadis itu, Darrell tersenyum dan menyadari kekeliruannya. Ia lupa kalau ini di Timur. Pertanyaannya dapat dianggap terlalu berani untuk budaya di sini. Namun ia senang dengan reaksi Cecilia. Gadis itu cukup polos dan perasaannya terlihat jelas.


"Maaf .... Maaf .... Maksudku bukan perasaan yang dalam seperti cinta dan sebagainya. Aku sendiri tidak begitu mengerti apa itu cinta. Yang kutanyakan adalah perasaan yang ringan seperti, mungkinkah dirimu memiliki sedikit saja ketertarikan padaku? Jawab saja dengan santai dan apa adanya .... Jangan merasa terbebani ..." ujar Darrell segera meralat kata-katanya.


Suasana hening kembali meliputi mereka. Darrell menunggu jawaban Cecilia dengan harap-harap cemas, walaupun di depannya ia berusaha terlihat santai. Gadis itu masih bergeming dengan kepala tertunduk.


"I- iya ..." jawab Cecilia tersipu. Cecilia memutuskan jujur pada akhirnya. Bagaimanapun ditutupi, ia tahu perasaannya tidak bisa dibohongi.


Senyum Darrell makin melebar. Ia pun melanjutkan kalimatnya. "Kalau begitu, maukah kau jadi pasanganku?"


"Eh?" Cecilia yang tertegun tanpa sadar kembali menatap Darrell.


"Kau tidak perlu buru-buru menjawabnya, Fille qui bave .... (arti: Gadis ileran) Aku tahu masih banyak hal yang harus kaupikirkan.


Mungkin kau sudah tahu latar belakangku mencari pasangan. Aku tidak bisa menjanjikanmu cinta, karena seperti yang tadi kukatakan, aku sendiri tidak mengerti tentang cinta. Tapi yang bisa kujanjikan hanyalah komitmen. Kamu akan kujadikan ratuku dan satu-satunya wanita dalam hidupku. Akan kuusahakan untuk mengabulkan segala keinginanmu selama aku sanggup mengabulkannya.


Aku tahu masalah yang akan kau hadapi ke depannya jika menerimaku. Mungkin saja kau akan bertabrakan dengan teman-temanmu yang tidak menyukaiku dan lebih memilih mendukung Celine. Bahkan bisa saja kau dihakimi dengan hati nuranimu sendiri karena seolah mengkhianati Celine.


Aku tidak tahu sedekat apa hubungan kalian dengan sepupuku itu. Tetapi melihat reaksi Rebecca, aku merasa hubungan kalian cukup dekat. Namun bagaimanapun, inilah situasi yang ada di antara kami. Aku dan Celine berada di situasi yang saling berhadapan. Maaf kalau aku membuatmu berada di posisi yang sulit untuk memilih.


Pikirkanlah dulu, Fille qui bave .... (arti: Gadis ileran) Aku akan menunggu jawabanmu. Ikutilah kata hatimu. Jangan terbeban jika kau akhirnya memilih menolakku ..." ujar Darrell sambil tersenyum tulus pada Cecilia.


Cecilia hanya terpaku mendengarkan kata demi kata yang keluar dari mulut Darrell, sampai akhirnya ia kembali menundukkan kepalanya. Ia disadarkan kalau ini bukan cerita romansa yang dipenuhi bunga-bunga dan pelangi. Ini realita. Ada pilihan yang harus ia ambil. Setiap pilihan mengandung konsekuensi yang harus ia hadapi.


Dalam diam, mereka memutuskan untuk makan siang bersama di restoran yang masih ada di sekitar mal. Setelahnya, Darrell kembali mengantarkan Cecilia ke butiknya.


Darrell juga sekalian pamit untuk kembali ke kotanya sore nanti. Cecilia menawarkan untuk mengantar Darrell ke bandara, namun Darrell menolaknya. Pria ini tidak menginginkannya melakukan apapun untuk dirinya sampai Cecilia benar-benar memutuskan pilihannya. Ia ingin Cecilia betul-betul memikirkan pilihannya tanpa dibebani risiko yang bisa saja terjadi sebelum waktunya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2