
"Miss Retha ...," panggil Kenzo.
Retha tersenyum melihat kehadiran anak kecil itu di dalam ruang guru. "Oh, Kenzo. Kemari!" Ia menggerakkan tangan memberi kode agar anak itu mendekat padanya. Retha meninggalkan sejenak pekerjaannya untuk menyambut salah satu muridnya itu.
"Miss Retha, ini untuk Miss Retha."
Kenzo memberikan sebuah permen lolipop kepadanya. Retha hanya senyum-senyum menerima pemberiannya. "Terima kasih," ucapnya.
Anak itu terlihat sangat menyukainya. Kepala sekolah sampai memindahkan Kenzo ke kelasnya karena permintaan Kenzo sendiri. Setiap hari Kenzo selalu menemuinya saat jam istirahat dan mengajaknya bermain.
Drrt Drrt
Ponsel milik Retha berbunyi. Ada telepon masuk dari adiknya. "Em, Kenzo main dengan teman yang lain dulu, ya ... Miss Retha mau menerima telepon," ucap Retha dengan nada yang halus kepada Kenzo.
Buru-buru Retha keluar dari ruangannya menuju area taman samping untuk menerima telepion dari adiknya.
"Halo, kenapa, Edis?" tanyanya.
"Kak ... aku butuh uang lagi. Ada buku-buku yang harus aku bayar," terdengar suara dari seberang telepon.
Retha menghela napas. Baru beberapa hari lalu ia memberikan uang kepada adiknya, sekarang sudah meminta uang lagi. "Berapa?"
"Lima ratus ribu."
Retha terdiam sejenak. "Iya, nanti kakak berikan uangnya. Kamu belajar yang rajin."
"Terima kasih, Kak."
Retha menutup teleponnya. Badannya terasa lemas karena memang dirinya sudah tak memiliki uang. Jika ada uang uang ia pegang, merupakan uang milik sekolahan. Bahkan ia masih ada belasan juta yang harus dikembalikan pada kas sekolah.
"Retha, ibu kepala sekolah mencarimu!" seru Miss Lidya, salah satu rekan kerja Retha.
"Oh, iya!" sahutnya.
Retha segera berjalan menuju ruang kepala sekolah. Dalam pikirannya, ia sudah tahu apa yang kira-kira akan disampaikan oleh Ibu Jihan selaku kepala sekolah.
"Retha, sudah tahu kan, kira-kira kenapa saya memanggilmu?" tanya Ibu Jihan.
"Iya, Bu." Retha tampak menunduk.
__ADS_1
"Akhir semester segera berakhir. Ibu harap kamu segera bisa mengembalikan uang yang dipinjam dari sekolah."
Retha mengepalkan tangannya. Pikirannya begitu runyam entah dari mana ia akan bisa mendapatkan uang sebanyak itu. "Iya, Bu. Akan saya usahakan," ucapnya dengan seulas senyum.
"Ibu dengar kamu sudah pindah kontrakan?"
"Iya, Bu. Saya sudah pindah kontrakan ke tempat yang lebih murah." Retha berbohong menyembunyikan kebenarannya. Ibu Jihan akan syok jika tahu dia tinggal di tempat yang terkenal sebagai sarang wanita malam.
"Bagaimana dengan adikmu?"
"Dia sekarang tinggal di asrama, Bu. Saya ingin dia lebih fokus belajar."
"Permisi ...."
Retha dan Ibu Jihan menoleh ke arah pintu. Tampak dua orang lelaki berseragam polisi berdiri di sana.
"Bisa bertemu dengan Ibu Retha?" tanya salah seorang dari mereka.
Rasanya jantung Retha mau copot. Ia merasa sangat khawatir melihat kehadiran polisi yang menemuinya. Ia merasa tidak melakukan kesalahan apapun, bahkan selalu mengenakan kelengkapan berkendara dengan baik.
"Bu, saya peemisi dulu," pamir Retha seraya menyusul kedua polisi tersebut.
Retha dibawa ke halaman depan sekolah dekat mobil polisi agar bisa lebih leluasa membicarakan permasalahan yang ada.
Retha memijit keningnya. Lagi-lagi sang ayah membuat masalah. Ia sudah sengaja pergi agar ayahnya sadar, tapi tetap saja ia harus menanggung beban atas kesalahan yang diperbuat oleh sang ayah.
"Apa Ibu Retha bisa ikut kami sekarang?"
"Ah, iya, Pak. Saya izin dulu kepada kepala sekolah. Nanti saya akan menyusul mengendarai motor," ucap Retha.
"Baik, Bu. Kalau begitu, kami permisi dulu."
Kedua polisi tersebut pergi meninggalkan Retha. Ada banyak pasang mata yang memperhatikan ke arahnya, termasuk murid dan beberapa rekan kerjanya. Retha berusaha bersikap biasa supaya tidak ada yang khawatir dengannya.
"Ada apa, Retha?" tanya Ester.
"Tidak apa-apa, hanya masalah tilang elektronik saja. Kemarin aku pergi ke minimarket lupa memakai helm," kilah Retha. Ia tidak ingin orang-orang tahu jika ayahnya tertangkap polisi karena berjudi.
"Ah, sedang marak juga ya, tilang elektronik. Katanya kalau pakai sandal jepit juga bisa kena tilang. Aturan makin bikin ribet saja," gumam Ester.
__ADS_1
Retha tersenyum. "Berpikir positif saja, mereka pasti membuat aturan seperti itu demi keselamatan pengguna jalan."
"Aku rasa yang lebih utama menjadi penyebab kecelakaan itu jalan rusak, pohon tumbang, ya. Bukan masalah sandal jepit. Seharusnya itu dulu yang dibenahi."
Retha kembali tersenyum. "Tunggu aku jadi presiden. Nanti usulmu akan aku pertimbangkan," ucapnya.
"Hahaha ...." Ester tak bisa menahan tawanya.
***
Retha berada di kantor polisi berhadapan dengan sang ayah. Sebenci apapun ia pada ayahnya, rasanya tidak tega membiarkannya dalam kesulitan. Dia bisa saja mengabaikan panggilan polisi dan membiarkan sang ayah meringkuk di balik jeruji besi.
Retha harus mengeluarkan uang tiga juta untuk menebus kebebasan ayahnya dan ikut menandatangani surat pernyataan bahwa ayahnya tidak akan ikut lagi dalam kegiatan perjudian.
Ia sangat heran kepada ayahnya sendiri. Sudah jelas-jelas sering kalah saat main judi, punya banyak hutang dan tidak punya apa-apa. Tapi, ayahnya tidak ada kapok-kapoknya mengulangi perbuatannya. Katanya, judi satu-satunya cara agar ia cepat kaya. Menurut Retha, justru judi yang membuat mereka semakin cepat miskin dan menderita.
"Maafkan ayah," ucap Pak Agus yang tampak tak berdaya di hadapan putrinya.
"Bisakah Ayah jangan hanya meminta maaf? Kenapa hal semacam ini terus terulang? Apa Ayah sangat ingin masuk penjara? Aku juga sangat lelah mengurusi Ayah." Retha sudah kehabisan kata-kata untuk menasihati ayahnya. Ini bukan kali pertama sang ayah tertangkap karena hal yang sama. Terpaksa ia kembali harus meminjam uang sekolah untuk menebus ayahnya. Belum lagi ia harus memberikan uang kepada adiknya. Rasanya ia lebih baik mati saja.
"Ayah akan berhenti main judi. Ini terakhir kali ayah merepotkanmu."
"Kalau seperti itu, kenapa mengatakan identitas dan alamat tempat kerjaku pada polisi? Ayah mau aku dikeluarkan dari tempat kerja?" Retha bertambah geram.
"Ini yang terakhir. Ayah sudah kapok main judi. Ayah akan bekerja supaya bisa menghidupi kalian lagi seperti dulu."
Terkadang, ayahnya seperti orang yang sudah insyaf. Retha selalu percaya pada ayahnya. Apalagi kalau mengingat perjuangan sang ayah saat awal-awal ibunya meninggal. Betapa sang ayah mencurahkan segala kasih sayangnya dengan tulus.
"Ya sudah! Aku telah membayar uang jaminan Ayah. Setelah ini, hiduplah dengan baik. Kalau tidak bisa menghidupi kami, setidaknya jangan meninggalkan masalah untuk kami."
"Sekarang kamu tinggal dimana?"
"Aku tidak akan memberitahu ayah!" tegas Retha. "Aku tidak ingin lagi ada rentenir yang datang menggangguku. Ayah juga tidak usah mencari tahu. Edis sudah aman tinggal di asrama sekolah. Awas saja kalau Ayah membuat masalah lagi, aku yang akan melaporkan Ayah ke polisi!"
*****
Promo karya teman author ya, kalian bisa mampir ke sini 😘
Judul: Belenggu Benang Kusut
__ADS_1
Author: Tie Tik