
Bara terbangun dari tidurnya. Langit masih tampak gelap dan jam dinding baru menunjukkan pukul lima pagi. Diliriknya ke arah sofa, wanita itu masih tertidur di sana dengan nyenyak berbalut selimut tebal.
Ia mencoba menggerakkan tangannya. Sudah jauh lebih baik daripada hari-hari sebelumnya. Sementara, kondisi kaki masih sama. Kaku akibat gips yang terpasang. Dokter bilang butuh waktu sekitar satu sampai dua bulan untuk bisa sembuh total.
Perlahan Bara menurunkan kakinya ke bawah. Ia ambil penyangga tubuh untuk memudahkannya berjalan menuju kamar mandi. Bara tidak boleh menggunakan kaki kanannya untuk berjalan agar penyembuhan pasca patah tulang bisa lebih cepat. Ia hanya berjalan dengan satu kaki dibantu dengan penyangga.
Sejak memutuskan pulang dari rumah sakit, ia belajar untuk mengurus dirinya sendiri. Mulai dari makan, memakai dan melepas pakaian, sampai urusan mandi. Ia tidak perlu bingung karena hanya perlu memasang pelindung gips anti air agar kakinya tidak basah. Di kamar mandi juga ia sediakan kursi untuk memudahkan dirinya mandi.
Hari ini sepertinya ia akan tetap datang ke kantor meskipun kondisinya masih belum membaik. Ia tidak mau lebih lama lagi tertinggal pekerjaan yang seharusnya cepat ia selesaikan. Seharusnya minggu ini ia pulang untuk menemui Kenzo. Kalau pekerjaan banyak yang belum beres, mungkin sebulan kemudian ia baru bisa pulang.
"Selamat pagi, Pak," sapa Retha dari arah dapur.
Bara yang baru keluar dari kamar mandi setelah berpakaian rapi masih agak kaget melihat ada seorang wanita di kamarnya. Ia sampai lupa kalau mulai semalam, Retha akan tinggal bersamanya. Sudah biasa hidup sendiri, saat ada orang yang menemani, membuat dirinya belum terbiasa.
"Kapan kamu bangun?" tanya Bara sembari berjalan mendekat ke arah meja makan.
"Setelah Bapak bangun, saya juga ikut bangun." Retha menjawab pertanyaan sembari memotong-motong sayuran yang akan dimasaknya.
Bara menghabiskan waktunya lebih dari satu jam di kamar mandi. Ia sampai tidak menyadari kalau Retha telah bangun.
"Tadi saya menghubungi pelayan hotel, Pak. Saya minta dibelikan bahan-bahan ini karena sudah tidak ada yang bisa dimasak lagi di kulkas. Kalau nanti ada tagihan, Bapak jangan kaget, ya."
Bara tertawa kecil mendengar penjelasan dari Retha. "Untuk apa kamu repot-repot masak? Kamu bisa langsung memesan makanan kepada pelayan kamar." Bara mendudukkan p4ntatnya di atas kursi secara perlahan.
"Nanti kalau begitu setiap hari saya jadi tidak ada kerjanya. Bapak sudah mahal-mahal menyewa saya, tapi malah harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk memberi saya makan." Retha masih tampak sibuk mengurus masakannya yang ada di dalam panci dan penggorengan.
"Nanti kamu ikut saya ke kantor."
__ADS_1
Retha terdiam sejenak. Ia kaget dengan permintaan Bara yang mendadak. "Saya ikut Bapak ke kantor?" tanyanya memastikan.
"Iya. Saya butuh orang untuk mendorong kursi roda."
"Tapi Bapak kan masih sakit, bukankah lebih baik istirahat saja sampai sembuh?"
"Yang sakit kan kaki saya, otak saya masih sehat. Tidak ada alasan untuk tidak bekerja."
Retha hanya bisa tercengang mendengar perkataan Bara. Lelaki itu sungguh luar biasa etos kerjanya. "Gila bos yang satu ini. Kayaknya kalau kiamat datang baru mau libur kerja. Kaki masih pincang begitu masih memikirkan pekerjaan. Pantas saja orang kaya makin kaya saking kerja kerasnya bagai kuda," gumam Retha dengan suara lirih sembari melanjutkan masakannya.
"Bicara apa kamu?" sahut Bara.
"Saya tidak bicara apa-apa, Pak. Ini sayurannya sudah hampir matang," Retha menyunggingkan senyum ke arah Bara.
Ia memindahkan sup ayam yang baru matang ke dalam mangkuk. Perkedel daging yang ia buat juga sudah selesai digoreng. Hanya dua menu saja yang ia buat untuk sarapan pagi ini sebagai teman nasi.
Retha menaruh hasil masakanny di atas meja. Ia menyendokkan nasi ke piring milik Bara sekalian mengambilkan lauk secukupnya. Setelah itu, baru ia mengambil untuk dirinya sendiri.
Bara kembali tertegun dengan suasana pagi ini. Ada seorang wanita yang menyiapkan sarapan untuknya serta menemani dia makan dengan senyuman yang tulus. Wanita yang belum lama ia kenal melayaninya layaknya seorang istri. Bahkan, Silvia sendiri tidak pernah memasak untuknya selama dua tahun berumah tangga. Ia heran kenapa ada wanita yang sangat lembut dan keibuan seperti itu.
"Bapak tidak kesulitan makan sendiri, kan?" tanya Retha khawatir. Masakan yang dibuatnya berkuah, takut Bara kesulitan makan dengan tangan kirinya.
"Jangan khawatir, aku bisa makan sendiri," ucap Bara. Ia menggerakkan tangan kanannya untuk memegang sendok.
"Loh, tangan Bapak sudah sembuh, ya?" seru Retha yang tampak kegirangan melihatnya.
"Memangnya kamu berharap tangan saya tidak akan sembuh selamanya?" ketus Bara. Ia memaksakan diri menggunakan tangan kanannya untuk makan meskipun masih terasa sakit saat digerakkan.
__ADS_1
"Saya ikut senang kalau Bapak cepat sembuh," ucap Retha sembari mengulaskan senyuman. Ia mulai menyendokkan makanan ke dalam mulutnya dengan perasaan bahagia.
"Kalau kamu mau pulang sekarang, pulang saja. Tidak perlu memikirkan untuk mengganti uang yang sudah aku keluarkan. Anggap saja itu sebagai ucapan terima kasih telah membimbing Kenzo di sekolah selama ini."
Retha berhenti menyendok makanannya. Entah mengapa mendengar hal itu membuat n4fsu makannya menghilang. Bara, meskipun terkesan sebagai orang yang menjengkelkan, namun niatnya membantu Retha justru menunjukkan kebaikannya yang begitu besar. Ia tidak bisa terjerat dengan hutang budi kepada orang lain.
"Terima kasih atas niat baik Bapak. Tapi, saya sudah terlanjur mengambil izin satu minggu dari yayasan. Meskipun saya pulang, saya juga tidak akan bisa bekerja. Biarkan saya melakukan pekerjaan saya sesuai kesepakatan yang telah kita buat."
Bara mangguk-mangguk. "Baiklah, aku sudah memberimu kesempatan untuk lari dari pekerjaan ini. Jangan sampai mengeluh ikut kerja dengan saya, karena kamu tidak akan bisa santai. Saya tidak akan peduli meskipun kamu mengeluh kelelahan dengan pekerjaan yang saya berikan," Bara menyeringai.
Retha seketika merinding. Bos yang awalnya seperti seorang malaikan kini lebih mirip iblis kejam dengan dua tanduk di kepalanya.
"Kalau pekerjaan yang Bapak berikan masih manusiawi, saya tidak akan protes. Tolong jangan terlalu kejam kepada sesama manusia, Pak." Retha memasang wajah memelasnya.
"Uang yang sudah kamu terima itu banyak, wajar kan kalau tantangan kerjanya juga tinggi?" Bara menunjukkan senyuman devil-nya.
Retha menghela napas. "Iya juga sih, Pak." Ia tidak bisa mengelak. Apa yang Bara katakan memang faktanya.
"Saya sudah menyuruh orang untuk membelikan pakaian formal untukmu. Nanti kamu harus berpenampilan rapi saat menemaniku di kantor. Tidak perlu banyak bicara dengan orang lain, bicara saja seperlunya."
"Baik, Pak."
*****
Jangan lupa like dan komen, ya 😘
IG: Momoy Dayvis
__ADS_1
FB: Momoy Dayvis